“Erika!”
Oh, tidak. Sumpah, Aku tidak mau. Aku tidak mau!" Batin Erika, dan sedikit menambah kecepatan langkahnya.
“Erika!”
Dua panggilan itu akhirnya meluluhkan cewek itu.
“Ya?” tanyanya pada Diran yang berjalan di belakang, Cowok Prince Charming itu terengah-engah mendekatinya.
“Kau sengaja?” tuduh Diran, Alisnya terangkat.
“Aku nggak denger.” Erika mendelik.
Iih, ini cowok…" Batin Erika.
“Sejak kapan budeg?” Tanya Diran.
“Iih, jangan ngatain dong! Aku nggak denger,” Erika geram.
“Ada apa sih?” tanya Erika dengan mood enggan.
“Ah, begini..” Diran menggaruk kepala. “Sore nanti antar aku, ya?”
“Cowok kok minta diantar cewek?” sergahnya.
“Hei, aku nggak akan lakuin itu kalau emang ngerasa nggak perlu.”
“Terus?” Erika terlihat bete, bahkan sangat bete.
“Kau mau diantar ke mana?”
“Ke suatu tempat, ada yang ingin Ku beli…”
“Kenapa nggak minta Arina?”
“Nggak mungkinlah, Ka.”
Bibirnya terkatup sudah, Erika tahu kenapa Diran berkata begitu.
“Kok aku sih, Arina nanti curiga.”
“Nggaklah, Aku sudah bilang ini karena Fisika Charter.”
Mata Erika melotot. Ini cowok.. Jago ngeles rupanya!" Batin Erika kesal.
“Nggak mau?” tanyanya.
“Mau ya?”
Erika mendengus, “Baiklah.”
“Ah, syukurlah. Kalau begitu nanti sore aku jemput!” Ujar Diran, lalu Ia pergi begitu saja meninggalkan Erika.
Erika hanya tertegun melihatnya, Tatapannya lekat pada punggung Diran. Entah ini keberuntungan atau kerugian, Erika tak tahu, jauh dari ini, dirinya tak suka mengantar Diran.
Erika tahu, apa yang diinginkan Diran darinya. Erika menunduk, terpekur sejenak, lalu tekad bulat tertanam di dalam dirinya, terlihat jelas di kepalan tangan itu yang tergenggam sempurna.
°°°°°°°°
Erika berdiri di depan lemari kaca, tangan kirinya memegang hanger pakaian bermotif polkadot, dan tangan kanannya memadankannya dengan rok hitam A Line.
Erika berdecak, tak ada yang disukainya sejak memilah sepuluh menit yang lalu. Mata Erika melirik tumpukan baju di belakang, ternyata sudah menggunung di ranjang.
Erika melempar hanger di tangan kiri, mengambil satu one piece bermotif polos, lantas memadankannya kembali.
Lima belas menit kemudian, Erika ke luar dari rumah, tangannya membenarkan flat shoes yang dipakainya, detik selanjutnya Erika tercekat, Diran sudah berdiri di dekat gerbang.
“Ih, aku bilang kan–” Belum beres Erika berbicara.
“Aku bilang akan jemput kan, kenapa harus berangkat sendiri?” Ucap Diran.
Erika tak menjawab. Niat pergi sendiri lenyap di depan gerbang.
“Kita pergi bukan ngedate kan?” Ujar Diran bercanda.
Erika ternganga "Lelucon nggak lucu! Tentu saja bukan?!” Jawab Erika tegas.
"Hahaha..." Mendengar jawaban Erika, membuat Diran tertawa renyah.
“Aku juga akan pergi ke suatu tempat.” Lanjut Erika.
“Gitu?” Jawab Diran dengan nada jailnya.
Erika tidak menjawab. Tangannya membuka gerbang dan menutupnya kembali, dengusan hidungnya kentara saat Diran menyodorkan helmet, meski begitu cewek itu memakainya di kepala tanpa banyak bicara.
“Ku tegaskan sekali lagi. Kita pergi untuk persiapan FC, belanja barang-barang keperluan.” Ucap Diran sambil menghidupkan motornya.
Kepala Erika terangguk. Mengikuti arahan sutradara dadakan itu.
“Dan..” Ada jeda. “bukan ngedate.” Lanjut Diran.
Namun Erika tidak merespon ucapan Diran, Ia mengangkat kaki mungilnya, lalu naik ke atas motor Diran tanpa suara.
Diran tertawa untuk kesekian kalinya, entah apa yang ada di pikiran Diran sekarang.
"Ih, apasih?" Ucap Erika kesal.
Namun Diran malah makin asik tertawa, melihat Diran seperti itu, Erika kembali terpekur.
Cowok ini.." Batin Erika kesal.
Erika cemberut, keinginannya pergi tanpa dijemput kandas tanpa bekas, Erika merasa sangat kesal… ahh, Erika merengut.
.
Sesampainya di sebuah tempat.
Diran langsung membawa Erika masuk ke sebuah tempat yang lumayan luas, dari luar nampa tempat itu seperti gedung biasa, namun di dalamnya, ternyata itu adalah Akuarium besar.
Tapi sayangnya, walau mereka berada di Akuarium, Diran tidak mengajak Erika kesini untuk menikmati pemandangan ikan-ikan imut itu, Diran langsung melewati mereka begitu saja.
Erika tidak bisa berkata, saat dirinya hanya di tarik begitu saja oleh Diran, sebenarnya ingin sekali Ia berhenti, dan mengajak diran untuk menikmati suasana Akuarium sebentar, tapi..
"Sekarang Kamu tahukan tugasmu?" Tanya Diran setelah sampai di tempat Souvenir.
Tanp menjawab, Erika langsung memindai barang-barang yang menurutnya menarik. Sementara Diran memperhatikan satu per satu barang itu dengan mulut kecut.
Setelah berkeliling selama setengah jam tak ada barang yang menarik mata mereka, padahal tempat itu bisa dibilang sangat luas, tapi seolah mereka tidak melihat satupun yang dapat memikat mata.
“Bagaimana kalau yang ini?” Erika menunjuk satu boneka Ikan Hiu di antara deretan boneka-boneka yang dipajang, Erika menebak kali ini juga Diran pasti tidak akan suka.
“Kalian para cewek suka yang seperti ini?” Tanya Diran dengan ekspresinya yang sedikit bingung.
Tuh kan!" Erika mendelik. “Tentu saja.”
“Kita cari yang lain saja!” Diran mencari barang lain. Mata hitamnya bergulir menangkap puluhan benda-benda berwarna-warni, baik dari yang berukuran jumbo maupun seukuran miniatur.
“Adakah barang yang dia inginkan?” Tanya Diran.
“Ada, tapi aku nggak yakin kalau sekarang masih sama." Jawab Erika.
Erika berjalan getir, inilah alasan Diran memintanya mengantar, Erika tahu itu, semua ini hanya untuk memilih kado.
Kado untuk ulang tahun Arina, Cewek yang berhasil meluluhkan semangat Erika, dialah cewek ranking pertama di hati Diran.
“Apa itu?” Erika diam, namun Erika terlalu lama diam.
Dan Diran bingung dengan kelakuan Erika itu, Alis Diran terpaut, penuh tatapan heran tergambar, Diran tidak tahu apa yang dipikirkan Erika.
“Bantal Kura, Itu yang dia katakan padaku.” Ucap Erika tertegun melihat Bantal Kura di depannya.
“Bantal Kura?” Mata Diran membulat, Kesan bahwa Dia tidak percaya dengan ucapan Erika lebih besar dibanding menegaskan pendengaran.
“Iya. Katanya begitu. Bantal Kura sedang tren sekarang.”
“A, itu…”
“Aku nggak yakin, mungkin saja sekarang Dia nggak ingin lagi.”
Duuh Erika, tamat riwayatmu, alasan Arina ingin bantal Kura, pasti Dia ingin bukti yang penuh dari Diran, karena Diran bukan orang yang jujur tentang hati." Batin Erika menyesal.
Erika ingat, sebagian curhat Arina, kebanyakan tentang kekesalannya dengan sikap Diran, tidak perhatianlah, tidak romantislah.
Tapi Erika juga salut, Arina tak pernah lepas dari Diran, walaupun Arina kadang kecewa padanya, tapi Dia itu tak pernah menginginkan perpisahan.
Dua mata gelap, bentuk wajah sempurna, prestasi juga cukup menggiurkan, itu sudah menjadi poin terhebat bagi siapa pun yang mendapatkannya.
Seperti piala emas yang tergenggam di tangan para pemenang, dan bisa hadir di sisinya adalah hal yang membanggakan, tentu saja itu juga termasuk alasan Arina bahagia dekat dengan Diran.
°°°°°°°°
Selesai memilih, Erika langsung pergi keluar, menunggu Diran membayar barang pilihannya.
“Ini.”
Suaranya yang lembut tapi dibalut kesan kasar menyergap telinga, Erika yang berdiri di luar Akuarium menoleh, Diran mengacungkan kantung belanja cokelat besar di hadapannya.
Alis Erika pun terangkat, “Apa ini?” tanyanya.
“Ucapan terima kasih. Ambillah!”
“Nggak usah.” Erika menggoyangkan tangan.
“Ambil!” Goyangan tangan itu malah semakin cepat.
“Ambil!”
Diran melotot, membuat Erika segera menyergap kantung itu. Cewek itu pun mengucapkan terima kasih dan Diran tersenyum sambil melepas tali kantung.
Tatapannya beralih pada kantung di sebelah kiri, sebuah kantung yang berbeda dengan milik Erika, Kado untuk Arina.
Hari esok adalah ulang tahun Arina, dan isi kantung itu adalah hadiah yang akan diberikan Diran. Bantal Kura yang dilengkapi pengakuan.
“Kalau begitu aku pergi.” Ucap Erika lalu berjalan meninggalkan Diran.
“Yah? Apa?” Diran terkejut, karena Erika tiba-tiba pergi dari hadapannya.
“Aku pulang. Kau sudah dapat kadonya,” Jelas Erika.
Erika melangkah, “Sampai besok.”
“Hei, mau pulang sendiri?” Saut Diran bertanya.
Diran keheranan dengan tingkah Erika. Kakinya segera menyaingi langkah Erika yang gontai. Tangannya berhasil menarik Erika yang tak kunjung mendengarkan.
“Naik motorku, jangan pulang sendiri.” Ucap Diran.
“Nggak. Aku naik taksi, lagi pula aku akan pergi ke tempat lain, kau pulang saja!” Tegas Erika menolak.
“Nggak bisa begitu. Kau sudah mengantarku, mana mungkin–”
“Nggak apa-apa. Aku juga kan–”
“Ku antar. Setelah itu aku pulang, ngerti?”
Erika diam, terpekur untuk beberapa saat. Diran melangkah ke tempat parkir motor. Cowok itu beranjak setelah Erika meyakinkan Dia tak akan pergi.
Erika menunduk, keinginan terbesarnya kembali menguar, merobek tameng yang sengaja dipasang.
Erika menggigit bibir, menahan serangan besar yang memuncak. Walau sakit, Erika tahu hal ini adalah benar, Arina adalah alasan terkuatnya.
°°°°°°°°°°
“Di sini?” Tanya Diran setelah sampai di sebuah tempat.
Suara Diran memenggal lamunan, Erika mengangguk begitu tersadar.
“Kau mau bertemu siapa?” Ada nada kecewa yang didengarnya. Harapan akan itu adalah nada kecemburuan sangat besar namun itu hanya keinginan absurd saja.
“Teman.”
“Siapa?”
“Kau nggak kenal dia.” Diran terdiam sejenak.
“Baiklah. Kalau begitu aku pulang.”
Erika menatap deru motor yang dikendarai Diran. Seiring dengan kepergiannya hati Erika menciut, Arina pasti akan memberinya kabar gembira.
Arina akan bercerita dengan hati berbunga-bunga dan Erika tak yakin dia akan senang mendengarnya. Erika duduk, Tangannya meraih kantung belanja yang diberikan Diran.
Erika merogoh isinya. Sebuah boneka Hiu Imut yang pernah ditunjuknya, Mata Erika terbelalak.
Boneka ini, kapan dia membelinya?" Pikirnya bertanya-tanya.
Seingatnya Diran tidak membeli apa-apa lagi saat memutuskan untuk membeli Bantal Kura. Erika mengambil kartu yang tersimpan di dalam kantung, lalu membacanya.
“Tadinya aku akan berikan paman shark padamu, tapi sepertinya Kau suka bibi shark, jadi Ku berikan saja ini untukmu. Terima kasih sudah mengantarku. Haha.. Arina pasti juga suka hadiahnya kan?”
Oh, sempat-sempatnya dia." Batin Erika kesal, saat membaca ada nama Arina disana.
Dan itu berhasil membuat Erika cemberut. Tatapannya kecut menghujam Boneka Hiu di meja, tangannya pun lemas menyentuh pipi hiu itu.
“Sebenarnya aku suka paman shark,” ucapnya. “tapi tak apa-apa.”
Mata Erika terpejam, sesak di dada membuatnya lelah, Erika tahu dia akan selalu kalah, Arina jauh berbeda dengannya, Dia serasi dengan Diran.
Hal yang membuatnya kalah adalah Arina kawannya. “Hari ini, meski ini sepihak, tapi Aku akan bilang ini kencanku!” Erika menatap Boneka Hiu itu.
Satu butiran kecil mengalir di sudut matanya, Erika sudah bertekad, mengakhiri semua dengan pertahanan lebih besar lagi. Erika tersenyum getir.
°°°°°°°°