Sydney dulunya adalah seorang anak yang baik dan periang. Dibesarkan di keluarga kaya dan berpendidikan, Sydney tumbuh menjadi anak yang berprestasi. Bahkan semua teman kelasnya mengaguminya dan ingin bergaul dengannya. Sydney yang begitu polos tentu saja senang memiliki banyak teman.
"Hai Syd, bisakah hari ini aku meminjam uangmu? aku lapar sekali namun orangtuaku tidak memberikanku uang jajan" ujar Stella yang memasang wajah sedih saat mengatakan hal itu pada Sydney. Sydney merasa iba dan tanpa berpikir panjang ia menyerahkan selembar uang lima puluh ribu padanya.
"Ambillah uang ini, semoga uangnya cukup untukmu membeli makan. Jangan sampai sakit ya" Sydney pun memeluk Stella, dibalik pelukan itu Stella hanya memasang muka datar.
Sydney kembali ke kelas dan menghampiri Daniel, kawan lamanya sejak TK dulu. "ngasih uang ke Stella lagi? lo ga sadar apa cuma dimanfaatin dia doang!" omel Daniel yang sudah seringkali memberi peringatan pada Sydney soal sikap Stella.
"Sudahlah Daniel, yang memberi uang kan aku. Lagian aku kasihan padanya yang tidak bisa makan karena tidak diberi uang saku, aku pun ikhlas membantunya selama itu untuk kebaikan dia"
"Itu menurutmu, tapi orang seperti Stella itu berbeda! dia seperti serigala berbulu domba, aku selama ini memperhatikannya dia itu memanfaatkanmu tahu!! mulai dari barang, perlatan tulis sampai... " belum selesai Daniel bicara, Stella pun masuk ke ruang kelas.
"Sssttt sudah hentikan ocehanmu, Daniel!"
"Hai Syd, thanks ya berkat uang darimu aku bisa makan. Entah aku harus bagaimana kalau ga ada kamu" perkataan Stella hanyalah basa basi belaka, ia sengaja bicara seperti itu karena ia tau Daniel tidak suka padanya.
"Gue mau keluar aja!" Daniel pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kelas, Sydney hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap temannya itu.
"Daniel tuh kenapa sih kok dia ga suka sama aku? dia ga suka ya kalo aku dekat sama kamu"
"Eh ga gitu kok Stella, dia emang begitu orangnya. Susah untuk adaptasi sama orang baru, aslinya dia baik dan care juga kok"
"Kayaknya itu cuma berlaku buat kamu doang, ke orang lain engga. Sepertinya dia suka sama kamu loh Syd!"
"Ah ga mungkin, dia itu cuma anggap aku temannya aja ga lebih"
............
Pukul dua siang kegiatan sekolah pun berakhir, Daniel dan Sydney kini berboncengan motor menuju arah pulang.
"Makan dulu yuk niel, aku laper. Burger biasa aja, gimana?" kata Sydney yang sedikit berteriak karena hembusan angin cukup kencang.
"Yaudah" jawab Daniel singkat
Sesampainya di tempat makan, mereka segera memesan dua paket burger ukuran medium dan strawberry sundae kesukaan Sydney. Mereka memilih meja di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan jalan raya sekitar. Sepuluh menit menunggu, pesanan mereka pun tiba dan langsung disantap.
"Niel, Stella ngerasa tahu kalo kamu ga suka sama dia"
"Ya gue emang ga suka, bagus deh kalo dia sadar. Gue cuma mau bilang lo hati-hati aja sama Stella. Dia itu cewek licik!" Daniel terus bicara sambil mengunyah burgernya
"Kok kamu bisa bilang begitu? emang dia pernah ngelakuin hal apa?"
"Ya gatau, cuma dari sikapnya aja udah mencurigakan"
"Tuh kan, kamu ga bisa bilang berarti itu cuma perasaan kamu aja niel"
Saat sedang menyantap makanan, tiba-tiba Sydney melihat sosok yang tak asing baginya, "Loh itu kan Stella, kok dia disini?"
Terlihat Stella berjalan dengan seorang pria yang berumur sekitar 35 tahunan, terlihat akrab dan mesra bahkan tangan sang pria melingkar di pinggul Stella. Mereka pun masuk ke tempat makan yang sama dengan Sydney dan mulai memesan makanan. Sydney langsung menyembunyikan tubuhnya di balik badan Daniel yang tinggi.
Penampilan Stella sangat berbeda, ia masih menggunakan sepatu sekolahnya namun pakaian yang dipakai bukan pakaian yang pantas untuk anak seumurannya. Celana jeans pendek dengan kaus putih polos yang cukup ketat, wajahnya beriaskan make up tebal.
"Aku ga salah lihat orang kan? bisiknya pada Daniel
" Ngomong apa sih Syd, pelan banget"
"Itu, dibelakang kamu ada Stella sama seorang cowo lagi mesen makanan. Cowonya keliatan udah berumur gitu deh"
Daniel pun berpura-pura menjatuhkan tisu ke lantai dan ketika mengambil tisu itu matanya melirik ke arah yang Sydney maksud. Dengan cepat ia kembali ke posisi duduknya sambil menepuk keningnya.
"Itu Stella, lo ga salah lihat. Gimana? masih mau percaya sama Stella?"
............
Setelah diantar pulang oleh Daniel, Sydney merebahkan diri di kasurnya. Ia memikirkan soal Stella. Selama ini Stella selalu memasang wajah sedih dan memelas ketika membutuhkan sesuatu. Sepatu, baju bahkan uang yang sering Stella pinjam dari dirinya. Jika diingat kembali, alasannya selalu karena kondisi orangtuanya yang tidak mampu. Tapi kejadian tadi di tempat makan membuatnya bingung, siapa pria yang bersama Stella tadi.
Sydney memberanikan diri menghubungi Stella melalui pesan, ia mengajak Stella untuk bertemu. Setelah satu jam, pesan balasan dari Stella pun muncul.
"Maaf Sydney aku ga bisa keluar, aku ga punya uang. Aku ngurung diri dikamar, orangtuaku bertengkar"
Sydney yang membaca pesan itu mengerenyitkan dahinya, "kenapa dia berbohong padaku? besok akan aku tanyakan langsung saja"
........
"Maaf ya Sydney soal kemarin" lagi-lagi Stella memasang wajah memelas saat duduk disamping Sydney. Sydney hanya diam sambil menulis catatan sekolah.
"Kamu marah ya?" tanya Stella
Sydney pun menghentikan tulisannya, ia mengajak Stella ke lapangan basket untuk bicara.
"Kamu jujur sama aku, kemarin beneran orangtua kamu bertengkar atau kamu lagi mesra-mesraan sama seorang pria?"
Eskpresi Stella seketika berubah menjadi tegang, ia kesulitan merangkai kata-kata bohong untuk membalas pertanyaan Sydney. "A... aku... ga ngerti maksud dari pertanyaanmu"
"Jangan bohong!" Sydney mulai emosi
Disaat mereka sedang berbincang, segerombolan anak perempuan berjumlah tiga orang berjalan kearah mereka. Wajah Stella yang tadinya kaku berubah menjadi senyum menyeringai. Sydney makin emosi melihat tatapan temannya itu terlihat meremehkan dirinya.
"Hahahahahaha" rombongan tadi terlihat menunjuk ke arah Sydney dan menertawainya, Sydney makin tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Hahahaha rupanya memang benar lo ya Syd yang ada di restoran. Lo pikir gue ga lihat apa, pake segala ngumpet dibelakang Daniel hahahaha"
"Ternyata selama ini lo ga nyadar ya kalo gue tuh cuma manfaatin lo doang! Jujur ya, gue sebenernya malu temenan sama cewe culun kaya lo gini. Ga selevel sama gue hahaha cuma ya karena lo selalu punya apa yang gue butuhin dan lo mudah ditipu jadi lo mirip ATM berjalan gue hahahaha"
"Poor you, Sydney hahahaha" gerombolan tadi mulai mendekati Sydney, dua orang diantaranya langsung memegangi tangan Sydney dengan kuat.
"Lepasin aku! kalian siapa pake ikut campur! mmppphhhh" mulut Sydney kini ditutup lakban hitam oleh Stella dan mereka pun membawa Sydney ke gudang peralatan olahraga dengan paksa.
"Mereka inilah temen-temen asli gue, mereka selevel sama gue jadi lo ga usah macem-macem dan ikut campur urusan gue. Sedih sih gue ngelepas mesin ATM gue yang satu ini, tapi dosa gue sedikit berkurang lah ya karena ga perlu akting drama lagi hahahaha"
Byuuurrr!!! Stella mengguyur Sydney dengan seember air, kemudian mereka mencorat-coret seragam Sydney menggunakan spidol. Banyak kata-kata yang tidak pantas ditulis oleh Stella dan kawan-kawannya. Air mata Sydney sudah tak terbendung, hatinya sakit mengetahui bahwa orang yang selama ini ia anggap teman ternyata hanya memanfaatkannya saja.
"Bye Sydney, berani lo aduin kejadian ini ke sekolah maka hidup lo ga akan tenang!" setelah mengucapkan kata-kata itu Stella dan kawanannya pergi meninggalkan Sydney.
Sydney segera meraih ponsel yang ada di sakunya, dengan tangan gemetar ia menghubungi Daniel sambil menangis kencang. Tak berapa lama Daniel datang dan langsung memakaikan jaketnya ke tubuh Sydney. Daniel menuntun Sydney keluar dari gudang dan mengantarnya pulang.
Setelah kejadian itu, Sydney meminta pada kedua orangtuanya untuk pindah sekolah dengan alasan jarak sekolah yang jauh dari rumahnya. Semula orangtua Sydney curiga karena sekolah itu adalah sekolah pilihan Sydney sendiri namun akhirnya mereka menuruti permintaan putrinya. Sikap Sydney pun mulai berubah, ia lebih sering menyendiri dan tidak banyak bergaul dengan orang lain, bahkan dengan Daniel.
Dua tahun berlalu, Sydney sudah lulus sekolah dan kini masuk unversitas jurusan hukum. Daniel pun masuk universitas yang sama dengan Sydney namun berbeda jurusan.
Sydney tetap menjadi anak berprestasi, namun penampilan dan sikapnya makin berubah. Ia memotong pendek rambut kesayangannya, tatapannya selalu sinis dan terlihat meremehkan. Ia bahkan mengikuti kelas bela diri, kelas yang sangat ia hindari ketika sekolah dulu.
"Syd, lo makin kesini makin banyak berubah. Ga seperti Sydney yang gue kenal" kata Daniel saat mereka makan siang bersama di kantin kampus
"Kalo tujuan lo ngajak gue makan siang cuma buat ceramah, mendingan gue pergi dari sini. Basi banget obrolan lo!"
"Gue cuma bilang apa yang gue rasain Syd, gue pengen lo..."
Braaakkk!!! Sydney menggebrak meja makan, para mahasiswa yang ada di kantin pun kaget dan melihat ke arahnya.
"Sorry gue cabut dulu" Sydney langsung menyambar tas dan jaket disampingnya dan meninggalkan Daniel yang shock melihat sikapnya.
"Kenapa sih Daniel pusing banget sama perubahan gue? ya wajar kali namanya orang makin dewasa pasti ada perubahan" gerutu Sydney sambil berjalan, saking kesalnya ia sampai menabrak seorang wanita dari arah berlawanan.
"Woy, jalan yang bener!" omel Sydney sambil membuang pandangannya
"Eh mbaknya tuh ya jalan ga lihat-lihat! aduh baju mahal gue basah semua, tanggung jawab lo, dasar cewe aneh"
Deg! Sydney langsung menatap tajam ke arah wanita yang ia tabrak tadi. Suara wanita itu tidak asing ditelinganya, membangkitkan dendam lama yang sudah ia kubur didalam hati.
"Huh baju gue ketumpahan kopi gini, pasti susah hilang nodanya"
"Oh sorry, gue bakal ganti rugi kok. Lo ikut gue sekarang" dengan cepat Sydney menarik tangan wanita tadi dan menyeretnya ke arah belakang kampus. Wanita tadi mengaduh kesakitan lantaran cengkraman Sydney yang kuat, namun Sydney tidak peduli dan terus berjalan.
Daniel yang berada di belakang mereka pun diam-diam mengikutinya.
"Mana cepetan ganti rugi, bentar lagi gue ada kelas! baju gue harganya lima ratus ribu, lo bisa kan gantinya?" ujar wanita tadi
"Hahahaha lo pikir lo bisa nipu orang yang sama dua kali? baju murahan gini lo hargain segitu? ckckck ternyata lo ga berubah juga ya, udah berapa orang yang kena tipuan lo?"
Sydney membuka topi dan kacamatanya, kemudian ia menarik rambut wanita tadi dan mendekatkan wajahnya, "lo masih inget muka ini?"
Mendadak wajah wanita tadi menjadi pucat pasi. Keringat mulai bercucuran di wajahnya. Ya, wajah yang ada dihadapan Sydney adalah Stella, teman yang menipunya saat sekolah dulu.
"Lo... lo kan si anak cupu itu" suara Stella bergetar melihat sosok Sydney yang berubah, ia mengaduh kesakitan lantaran Sydney menarik rambutnya dengan kuat.
"Le.. lepasin gue!" ujar Stella ketakutan
"Hahaha, tidak semudah itu Stella. Lo harus terima balasan dari perbuatan yang pernah lo lakuin ke gue"
Sydney lepas kendali, pertengkaran pun terjadi. Stella hanya bisa pasrah karena tenaga Sydney sangat kuat. Beruntung Daniel segera datang dan menghentikan pertengkaran itu.
"Sydney, lo gila! Stop! tangan Daniel langsung menarik tubuh Sydney, mendorongnya agar menjauhi Stella.
Stella perlahan bangkit dan berjalan tertatih meninggalkan mereka berdua.
"Hey Stella, setelah ini gue bakal bikin hidup lo ga akan tenang. Tunggu kelanjutannya"
"Sydney!! bukan begini caranya lo balas dendam, lo bisa kena hukuman tau!"
"Daniel, alasan gue masuk fakultas hukum karena gue mau menegakan keadilan dan membersihkan orang-orang jahat. Stella salah satunya, jadi apa yang gue lakukan ini adalah hukuman untuk perbuatan dia dulu"
Daniel memeluk Sydney dengan erat, Sydney hanya diam.
"Gue sayang sama lo Syd, gue ga mau lo kenapa-kenapa. Gue tau apa yang lo rasain dulu tapi please jangan sampai dendam membutakan mata dan hati lo!"
Sydney melepaskan pelukan Daniel.
"Thanks lo udah care sama gue, gue sangat menghargai itu. Tapi ini udah jadi keputusan gue, gue bakal bales semua perbuatan Stella sampai dia bersujud didepan gue. Tenang aja, gue tau batasannya" Sydney pun pergi.
Hari-hari berikutnya, Sydney melancarkan aksi balas dendamnya. Mulai dari mengunci Stella di kamar mandi sampai membocorkan ban mobil Stella. Bahkan Sydney tak segan-segan membeberkan rumor bahwa Stella pernah berkencan dengan seorang pria yang lebih tua dari usianya. Rumor tersebut berhasil merusak reputasi Stella dikampus, orang-orang yang dulu mengagumi kecantikannya kini memandang Stella dengan tatapan sinis.
Stella mulai frustasi dengan aksi Sydney, suatu hari ia mendatangi Sydney yang tengah duduk di taman kampus. Sydney yang mengetahui kedatangan Stella hanya melirik dan melempar senyuman sinis.
"Gue mohon lo stop berbuat jahat ke gue!" isak Stella
Sydney terkekeh, "Gue? jahat sama lo? Hello! siapa yang nyulut api duluan hahahaha"
Stella terus memohon, bahkan ia berlutut di hadapan Sydney.
"Gue bakal lakuin apapun yang lo mau, asal lo berhenti teror gue"
"Yakin sanggup?" tanya Sydney
"Apapun Syd, apapun!" Stella terus memohon
"OK, deal! sekarang lo bawahan gue. Apa yang gue perintah harus lo lakuin"
Stella mengangguk, ia berterima kasih pada Sydney. Sydney pun membuat perjanjian dengan Stella dan disaksikan oleh Daniel.
"Syd, lo.."
"Calm down, Daniel. Mulai saat ini gue hanya pakai cara halus ke Stella, gue akan lakuin ini sampai Stella jera dan dendam gue terbalaskan"
THE END