Aster menjulurkan tangannya keluar dari lingkaran payung miliknya. Mengadahkan tangannya menampung air langit. Menggenggam air yang tertampung, yang pecah hilang kemudian. Dia kembali menyembunyikan tangannya ke bawah payung. Dia menghela napas seraya melanjutkan perjalanan untuk pulang. Dia masuk kembali ke dalam mobilnya, dan melipat payung kemudian.
Tiga puluh menit kemudian ...
Aster telah mencapai rumahnya. Menempatkan mobil di garasi. Dia bergegas masuk ke dalam rumah, menuju kamar. Duduk di tepi ranjang. Mengambil kalender duduk di nakas. Menatap sederet tanggal. Lalu, melingkar tanggal hari ini. Dia menghela napas. Menjatuhkan kalender ke lantai. Tampak tak perduli. Lalu, merebahkan dirinya kembali ke kasur. Dia menatap nelangsa dan bertanya pada dirinya sendiri.
"Tidak memiliki teman. Itu sangat kesepian," keluh Aster bodoh, dan detik jam terus berputar, suasana makin sepi dan sepasang matanya ikut lelah hingga akhirnya Aster terpejam tidur kemudian.
Tidur dan bermimpi.
Hanya kegelapan pekat sebagai awal yang Aster lihat. Hingga, perlahan sinar yang menyilaukan merobek kegelapan. Seorang sosok wanita terlihat datang dengan gaun putih, dan tersenyum pada Aster.
Aster tercekat. Dia ingat sosok wanita itu adalah sosok yang dia kenal, yang telah tiada. Terry.
"Terry," ujar Aster.
Sosok bernama Terry mendekat dengan wajah putih kapas, dan bibir kehilangan rona merah, sepasang lingkar hitam melingkar di bawah matanya. Lalu, dia berbisik, "Pinjam ragamu, Aster."
"Aku menolak," sahut Aster.
"Pinjam satu hari!" teriak Terry tidak ingin di bantah.
Aster bersiap menolak. Namun, angin terasa berembus kencang. Lalu, segala sesuatu terlihat berputar, dan sosok bergaun putih terlihat berjalan menabrak raganya. Lalu,perlahan hanya kegelapan dan perasaan hampa yang merundung Aster. Dirinya seakan terjebak dalam ruang asing yang hanya melihat kegelapan, dan sayup-sayup dia hanya mampu mendengar raganya berkata dan berkomunikasi dengan orang lain. Namun, dia tau itu bukanlah dirinya. Namun, Terry yang meminjam raganya.
Pukul 04.00 Wib ....
Terry dalam raga Aster membuka kelopak matanya. Dia seakan merasakan satu hari kehidupan lagi. Walau hanya satu hari. Dia ingin manfaatkan maksimal mungkin. Dia memungut kalender. Menatap tanggal dan dia teringat akan prediksi fenomena langit yang akan terjadi nanti malam.
"Malam ini, ledakan bintang biner di langit pada malam hari. Akan terjadi," ujar Terry. Dia mengedipkan matanya. Tujuannya meminjam raga Aster, adalan untuk menemui Arnold, orang yang dia puja di masa kehidupannya.
"Arnold, aku ingin menemui satu kali lagi. Setelah itu aku akan pergi menghilang untuk selamanya," ujar Terry mengambil ponsel Aster. Menjelajahi daftar kontak. Lalu, tersenyum basi kemudian.
"Rupanya Aster tidak menyimpan nomor Arnold. Untung, aku masih mengingat nomor Arnold," gumam Terry yang kemudian menekan beberapa angka dan menekan dial hijau kemudian.
Tutssss!
Dering panjang Terdengar. Sosok pria jangkung yang terlihat sedang bersiap mengendarai motornya. Terlihat merogoh ponsel dan menatap layar ponsel dengan sepasang mata yang terlihat membola gugup.
Aster. Nama yang tercetak pada layar. Wanita yang telah lama dia sukai sejak lama. Namun, dia tidak memiliki keberanian, karena di saat itu dia juga telah bersama Terry.
Deg!
'Mengapa Aster menghubungiku?' batin Arnold. Melepaskan helm. Menghela napas panjang. Menekan dial hijau. Meletakkan ponsel pada sisi telinganya. Gugup bahagia bercampur aduk.
"Ya, ini siapa?" tanya Arnold berpura-pura tidak mengenal sosok pemanggil.
Terry melengkungkan bibirnya. Walau, dia adalah hantu. Namun, detak jantungnya tetap mampu merasakan bagaimana jantungnya melompat girang mendengar suara pria itu lagi.
"Arnold, ini Ter ..., maksudku aku adalah Aster," ujar Terry di seberang sana.
Arnold menjilat kegugupannya. Jantungnya seakan menempuh lomba lari maraton. Bagaimana bisa Aster menghubunginya pertama kali.
"Ya, ada apa?" Dingin. Suara Arnold sengaja terdengar dingin. Menyembunyikan percikan api asmara yang ingin terbang ke langit.
"Aku tidak memiliki teman melihat hujan bintang biner. Apakah kau memiliki waktu malam ini?"
"Hm," Arnold teringat akan janjinya dengan beberapa temannya. Dia terlihat menimbang sesaat. Lalu, menjawab, "Melihatnya lebih bagus dari puncak. Apa kau ingin ke sana. Aku akan menjemputmu."
"Aku menunggumu."
Panggilan berakhir. Terry meletakkan ponsel di dalam dadanya. Dia menghela napas, dan bergumam pada dirinya, "Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, Arnold, dan Aster."
Pukul 22.00 wib
Sebuah motor terparkir di puncak Bogor. Dua insan yang terlihat mengenakan sweater, terlihat turun dari motor kemudian.
"Ter," seru Arnold merasa hilang dan kosong kala dekapan tangan kecil wanita itu terus melingkar pada perutnya sepanjang jalan.
"Ada apa?" tanya Terry berpaling dengan senyumnya yang merekah melihat pria yang terlihat gugup menatapnya.
Arnold kikuk, menunduk malu sesaat, dan menjawab, "Kita makan dulu. Melihat bintang akan terlihat setelah pukul 23.00 wib."
Terry menganggukkan kepala. Mengajak Arnold duduk bersamanya di salah satu pendopo yang terlihat kosong. Membuka bekal dan berbagi minum kemudian. Sesekali Arnold dan Terry bertukar cerita.
Semilir angin tampak bertiup kencang. Arnold buru-buru melepaskan syalnya dan memberikan pada leher Terry dalam raga Aster.
"Takut sakit dan dingin," ujar Arnold.
Terry tersenyum. Dia melihat langit, terlihat gelap dan penuh bintang. Untuk melihat hujan bintang. Merekapun mengenakan kacamata khusus dan dia menatap Arnold, dan berkata, "Apakah sudah mendekati pukul 11 malam?"
Arnold menganggukkan kepala, melirik jam tangan pada pergelangan tangannya, dan menjawab, "Saat ini tepat pukul 11 malam," jawab Arnold.
Mereka berdua sepakat berjalan ke arah yang lebih tinggi dan duduk di puncak. Mengatur jarak agak berjauhan dari kerumunan orang lain.
'Kala hujan bintang berakhir, waktuku pun habis,' batin Terry.
Terry memandang Arnold yang terlihat terbius dengan pesona hujan bintang yang mulai turun perlahan.
'Melihatmu terakhir kali adalah keinginanku. Aku ingin kau bersama wanita yang kau inginkan,' ujar Terry dalam hatinya, dia mendekat pada Arnold dan bertanya, "Apakah sudah mengucapkan permohonan?"
Arnold gugup akan satu pertanyaan itu. Seakan doa dalam hatinya telah tertebak wanita di sisinya.
"Apakah kau sudah mengucapkannya?"
Arnold menganggukkan kepala.
'Aku ingin bersamamu, Aster, selamanya,' jawab Arnold dalam hatinya.
"Apa yang kau inginkan?" ujar Terry mendekat, dan tangannya tiba-tiba bertengger pada bahu pria itu.
"Kau inginkan Aster ya kan?"
Deg! Arnold lebih gugup kala sepasang iris mata wanita itu terlihat menyelidik dan menerkam dalam rasa aneh. Ada setumpuk rindu dan cinta di dalam iris mata wanita itu. Sementara, hujan bintang meteor terus jatuh dengan kilat warna warni yang indah.
"Jangan menyimpan di dalam hati. Bintang akan mengabulkan permintaanmu," umpan Terry dan dia sudah tau sejak lama jika Arnold sangat menyukai Aster.
"A-ku." Arnold kikuk. Namun, perlahan satu rasa yang mendorong bibir pria itu berkata mengungkapkan perasaannya, "A-aku menginginkan Aster!"
"Terkabul!" Terry melompat dan mencium bibir pria itu.
Arnold membola sesaat. Dia tidak menyangka apa yang telah di lakukan Aster. Di luar dugaannya. Dia pun meletakkan tangannya pada pinggang wanita itu. Membalas kecupan wanita itu. Perlahan lebih lama dan lama. Hingga, akhirnya jiwa Terry terlepas keluar dari raga Aster.
Jiwa Aster terbangun, dan sekejap mendorong pria di depannya. Kikuk dia mendadak kikuk, telah berciuman dengan Arnold. Dia menatap sekeliling dan melihat hujan bintang jatuh dengan indahnya, dan dia menatap dengan kagum.
"Sangat cantik," puji Aster.
Arnold mendekat, memeluk dengan berani Aster, dan berbisik, "Kau lebih cantik."
Aster terkesiap, bersiap akan keluar dari pelukan. Namun, jiwa Terry terlihat menggelengkan kepala.
"Tetaplah di sana bersamanya. Dia mencintaimu, Aster. Aku datang hanya untuk menyampaikan perasaannya padamu."
'Tetapi ....' Aster tercekat dalam hatinya. Perlahan Jiwa Terry terangkat dan menguap hilang bersamaan dengan bintang.
'Terry.' Aster menghela napas atas jiwa yang telah pergi, hanya datang untuk menyatukan dirinya bersama Arnold.
"Aku mencintaimu, Aster," bisik Arnold.
Aster kaku. Namun, dia merasakan kehangatan dalam pelukan Arnold, dan dagu pria itu terlihat bertumpu pada pundaknya dan berbisik hal yang lain lagi, "Ijinkan aku bersamamu mulai hari ini?"
Aster menganggukkan kepala, dan mendesis, "Asal kau pria setia. Aku akan mencintaimu selamanya."
Arnold terkekeh, "Aku akan setia."
Aster berpaling dan menolehkan kepalanya, "Jangan lupa berterima kasih pada Terry. Jika bukan karena dirinya. Mungkin kita tidak akan saling menyadari perasaan aku dan kamu."
Arnold menganggukkan kepala. Walau dia tidak tahu apa alasannya harus berterimakasih pada Terry. Dia hanya tau detik ini adalah detik dirnya bersama wanita yang dia cintai dari dulu.
***