Didalam keluarga, anak adalah anugerah terbesar yang diturunkan oleh tuhan. Memiliki seorang anak adalah hal yang paling di dambakan oleh setiap pasang orang tua. Namun, sepertinya hal itu tidak terjadi dalam keluarga seorang Aurora.
Aurora adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dia memiliki sepasang adik kembar, mereka adalah Leo dan Cleona. Saat ini Aurora duduk di kelas 12 di salah satu sekolah menengah swasta, di Bandung. Sedangkan kedua adik nya, mereka duduk di kelas 10 di sekolah yang sama.
Sedangkan orang tua Aurora adalah pemilik sebuah perusahaan besar yang berbasis teknologi di kota tersebut.
Kisah sang Aurora berawal ketika Aurora
menyadari bahwa orang tua nya tidak benar-benar tulus menyayangi dia dan adik-adik nya. Pantas saja selama ini mereka tidak pernah ada untuk Aurora, mereka selalu beralasan ada hal mendesak yang harus mereka selesaikan di kantor, bahkan hanya untuk mengambil rapot sekolah pun, Aurora dan adik-adiknya harus rela orang tua nya di wakilkan oleh pekerja yang ada di rumahnya. Orang yang paling sering mengambil rapot mereka adalah mbak Nur. Mbak Nur adalah orang yang menjaga Aurora sejak kecil.
Aurora tentunya lebih dekat dengan mbak Nur, yang sudah Aurora anggap sebagai ibu sendiri, sampai-sampai Aurora berani bercerita tentang apapun perasaan yang Aurora rasakan, apalagi tentang kegiatan sehari-hari di sekolah, Aurora tidak pernah sekalipun melewatkan sesi bercerita di malam hari bersama mbak Nur.
"mbak, kenapa mama sama papa nggak pernah ada buat Aurora, Leo dan Leona?" Tiba-tiba Aurora bertanya kepada mbak Nur. (Leona adalah nama panggilan Cleona, adik kedua Aurora)
"Lho, neng Aurora itu bicara apa?" Tanya mbak Nur. Pasalnya baru kali ini mbak Nur mendengar perkataan Aurora yang menyinggung orang tuanya.
"Aurora cuma mau tau alasan kenapa mama sama papa jarang pulang, alasan kenapa mama sama papa jarang kumpul bareng, alasan kenapa mama sama papa nggak sama seperti orang tua pada umumnya yang ajak main anak-anaknya di hari libur" Aurora melanjutkan kalimat-kalimat nya dengan tenang, namun terlihat dengan jelas raut kecewa pada wajah Aurora.
Mbak Nur yang mengerti dengan apa yang Aurora rasakan, dan satu lagi, mbak Nur kini sadar, Aurora yang dulu ia jaga, Aurora yang dulu majikannya titipkan ketika mereka akan pergi ke luar kota atau bahkan luar negeri, kini sudah beranjak dewasa, Aurora kini sudah bisa bertanya apa alasan orang tuanya tidak pernah ada untuk Aurora dan adik-adiknya.
"neng Aurora gak boleh bicara seperti itu" ucap mbak Nur yang kini sudah memegang kedua tangan Aurora agar Aurora percaya dengan apa yang mbak Nur katakan
"ibu sama bapak jarang ada buat neng Aurora, itu karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka" belum selesai mbak Nur berbicara, namun Aurora sudah memotong perkataan nya
"itu yang Aurora maksud, kenapa sih mama sama papa lebih mentingin pekerjaannya, seakan-akan mereka jadiin pekerjaan itu sebagai prioritas utama dalam hidup mereka" kata Aurora yang sudah mulai menjatuhkan butiran bening dari pelupuk matanya.
"eh neng Aurora gak boleh nangis, sudah sekarang tidur saja ya, tidak boleh nangis lagi" mbak Nur menyeka air mata Aurora, kemudian Aurora hanya menuruti perintah mbak Nur, yaitu tidur, apalagi besok adalah hari pembagian rapot sekaligus pengumuman kelulusannya.
"eh mama kapan pulang? " tanya Leona yang melihat ibunya berada di dapur bersama mbak Nur yang sedang memasak
"eh cantiknya mama udah bangun, tumben pagi-pagi gini" ucap mama yang tadinya ingin bercanda dengan putri bungsunya, namun seketika niat itu sirna ketika Leona berkata
"aku biasa bangun jam segini ma" kata Leona
"m-maaf Leona, mama gak tahu kalo kamu biasa bangun sepagi ini" ucap mama dengan terbata, beliau merasa miris karena bahkan tidak mengetahui kebiasaan waktu bangun tidur anak-anaknya.
"haha iya, mama gak tahu ya" Leona berkata disertai tawa hambarnya.
Tak berapa lama Leo datang untuk mengambil air putih, sudah menjadi kebiasaan Leo meminum air putih dipagi hari sebelum beraktivitas.
"Pagi Leo" sapa mama pada anak ke-dua nya
"pagi ma" Leo menanggapi sapaan ibu nya.
"mama kapan pulang? Papa mana?" tanya Leo sekaligus
"kami pulang pukul 3 pagi, papa masih di kamar, kamu tinggal masuk aja gak apa-apa ko papa kamu udah bangun juga" Jawab mama atas pertanyaan Leo
"Leo rasa tidak perlu ma, Leo siap-siap aja buat sekolah" kata Leo selanjutnya
"oh baiklah, Leona juga akan pergi sekolah bukan?" Tanya mama pada Leona
"iya ma, Leona juga siap-siap sekarang" Jawab Leona, dan di tanggapi dengan anggukan kepala disertai senyuman mama
Mama pergi ke kamar Aurora, karena dari ketiga anaknya, hanya Aurora yang belum ia temui.
'~ceklek~' anggap saja suara pintu terbuka. Aurora yang sedang bersia-siap untuk pergi ke sekolah, seketika menoleh dan melihat sang mama sedang menatapnya dari arah pintu.
Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan, namun dengan kecepatan kilat Aurora mengalihkan pandangannya, dan kembali berfokus dengan persiapannya untuk pergi ke sekolah. Mama heran dengan Aurora kali ini, biasanya ketika mereka bertemu, Aurora akan langsung datang memeluk mama dan papa hanya untuk melepas rindu. Namun, entah kenapa saat ini Aurora tidak lagi melakukan hal yang sama.
"kak, mama hari ini pakai baju yang mana ya?" mama membuka dan mencari topik pembicaraan untuk memulai percakapan dengan Aurora.
"biasanya mama pilih baju sendiri kan kalo mau pergi?" Tanya Aurora, namun terdengar begitu dingin di telingan mama. Biasanya, Aurora akan sangat cerewet, tapi kenapa saat ini tidak lagi?.
Masih banyak pertanyaan mengenai sikap Aurora yang begitu dingin saat ini.
"iya, tapi sekarang kan beda. mama mau pergi ke acara kelulusan anak mama. Kak Ra, kamu sudah besar, tidak terasa kamu sudah mau lulus SMA saja" mama berkata sambil berjalan mendekat ke arah Aurora.
"mama baru sadar sekarang kan kalo semua anak mama udah besar. mama kemana aja selama ini? dan satu lagi. mama gak perlu datang ke sekolah hari ini" ucap Aurora dengan nada dan tatapan yang semakin dingin
"Aurora, apa kamu tidak memiliki sopan santun? beraninya kamu berbicara seperti itu. saya ini ibu kamu. apa yang sudah kamu katakan terhadap saya?" emosi mama meledak "dan apa kamu tidak menghargai kerja keras kami selama ini hah? saya dan papa kamu bekerja siang dan malam demi memberikan kehidupan yang layak untuk kamu dan adik-adik kamu. selain itu, kami berusaha pulang untuk hari ini, agar dapat hadir di hari kelulusan mu. tapi apa yang kamu lakukan? berbicara dengan nada yang tidak sopan, tatapan mata yang tidak sopan" emosi mama semakin menjadi ketika Aurora hanya pergi begitu saja meliwatinya tanpa sepatah kata pun.
Aurora pergi dengan air mata yang menggenang di kelopak matanya. Setelah sampai di sekolah, Aurora langsung naik ke atap sekolah, yang memang selalu menjadi tempat Aurora untuk menangis. tempat ini adalah tempat yang hanya di ketahui oleh Aurora, Sahara dan Bumi. Sahara dan Bumi adalah sahabat Aurora. Mereka adalah anak-anak dari teman papanya, jadi mereka juga memiliki keadaan yang sama seperti Aurora. Karena itu, mereka menjadi sahabat untuk saling menguatkan satu sama lain.
Keadaan di rumah sangat kacau, mama marah besar terhadap Aurora. Papa harus terbang ke Amerika, karena perusahaan di sana mengalami masalah terkait hak cipta robot yang sedang di rancang.
'aaaak' suara pekikan dari arah tangga.
"astaghfirullah, neng Leona" suara mbak Nur yang sedang bersiap-siap untuk pergi mewakili nyonya besar mengambil rapot anak-anak. Dengan cepat mbak Nur memanggil supir pribadi keluarga mereka untuk membantu mengangkat Leona dan membawa nya ke kamar. setelah itu, mbak Nur dengan kekhawatiran nya dengan cepat memanggil dokter pribadi keluarga agar cepat memeriksa keadaan Leona. Ya, Leona terjatuh dari tangga setelah buru-buru untuk berangkat sekolah, namun malah tergelincir karena tubuhnya tidak seimbang. Sementara itu, mama malah menyalahkan Aurora atas semua yang terjadi, padahal jelas-jelas Aurora tidak ada hubungannya dengan semua hal tersebut. Sedangkan Leo, dia berangkat ke sekolah dengan perasaan yang tidak dapat di deskripsikan, "masalah lagi" ujar Leo dalam hati.
Terdengar derap kaki mendekati Aurora. Aurora kira, itu Sahara kalau tidak berarti itu adalah Bumi. karena memang hanya terdengar suara langkah satu orang yang mendekat.
Terulur sebuah tangan yang memberikan satu set tisu kecil. Aurora merasa heran, pasalnya baik Sahara maupun Bumi, mereka tidak pernah memberikan lap untuk menyeka air mata. sudah menjadi tradisi bagi mereka, bahwa mereka akan menyeka air mata menggunakan tangan. Mereka biasa menyebut nya dengan 'No Lap-Lap Club' aneh memang, tetapi itu adalah salah satu ciri khas mereka. Setelah itu, Aurora menengadahkan kepala nya, dan memang bukan Bumi maupun Sahara yang kini berada di samping nya. Dia adalah orang yang berhasil membuat seorang Aurora penasaran dengan kepribadiannya. Ya, dia adalah Alaska Putra Wijaya, Biasa di panggil Alaska ia juga anak salah satu konglomerat di negeri ini.
"Hai Ra" sapa Alaska dengan senyum cerah-nya.
"Alaska, tempat ini?" Tanya Aurora to the point. pasalnya selama 3 tahun ini, benar benar hanya Sahara, Bumi dan dirinya yang tahu tempat ini. itupun karena mereka di bawa oleh Kak Nadhira dan Kak Dikta. Kak Nadhira adalah kakak dari Sahara, sedangkan Kak Dikta adalah teman Kak Nadhira. Mereka juga kakak kelas Aurora.
"Kenapa Ra? Lo kaget gue tahu tempat ini?" tanya Alaska masih disertai dengan senyuman. Namun Aurora masih mematung memikirkan darimana Alaska mengetahui tempat rahasia-nya, dan bagaimana caranya menjelaskan pada Sahara dan Bumi tentang Alaska yang mengetahui tempat ini. Pikiran Aurora semakin penuh, rasanya saat ini Aurora ingin mati saja.
"Gak usah ngelamun Ra" Tegur Alaska
"Jawab gue Ka, lo tahu tempat ini dari mana?" sekali lagi Aurora bertanya, Aurora kesal pada Alaska sehingga ia menggunakan bahasa yang agak kasar. Bukannya menjawab pertanyaannya, Alaska malah cengar cengir mentang mentang punya gigi rapih dan bersih.
"oke oke Ra, gue tahu tempat ini dari almarhum kakak gue" Alaska menjelaskan dengan nada serius. Mendengar itupun, sontak membuat Aurora, Sahara dan Bumi terkejut. Sahara dan Bumi ternyata mengintip pembicaraan mereka dari balik pintu, mendengar itu pun mereka langsung bergegas keluar dari persembunyian nya.
"Tunggu dulu Ka, kakak yang lo maksud itu siapa?" tanya Bumi secara tiba tiba. dan sontak membuat Aurora dan Alaska kaget dengan suara yang tiba-tiba menyambar seperti petir itu.
"Nama lo seharusnya bukan Bumi, tapi petir. maen nyambar aja lo" ucap Alaska yang kesal
"Dahlah jawab aja pertanyaan gue, sebenarnya kakak lo tuh siapa?" tanya Bumi disertai penekanan di akhir
"kakak gue Dikta, Kak Dikta temennya kakak si Sahara"
"APA??" Ucap Sahara, Aurora dan si Bumi paling kencang
"biasa aja lo semua, gausah heboh kaya ibu-ibu kalah dapet arisan" ucap Alaska yang kesal dengan teriakan teman-temannya. Setelah itu, Alaska dihujani dengan berbagai macam pertanyaan hingga tiba waktu pengumuman kelulusan dan pembagian rapot.
"Udah, turun yu" Ajak Aurora kepada teman-temannya yang masih asik bertanya perihal bagaimana bisa Alaska adalah adik dari kak Dikta yang mereka kira adalah anak tunggal, penyebab pasti kematian kak Dikta, karena yang mereka tahu kak Dikta memiliki masalah dengan usus nya, sehingga mengharuskannya menjalani operasi usus buntu dan menyebabkan seorang Bumi fobia terhadap segala hal yang berbau pedas.
"eh iya, dah mau mulai nih pengumuman hasil jerih payah kita selama sekolah di sini" timpal Alaska. Mereka merupakan murid-murid dari kelas unggulan.
"Mbak Nur lagi yang bawain rapot lo Ra?" tanya Sahara. Dan hanya di angguki oleh Aurora.
Mereka lulus dengan hasil yang memuaskan.
Alaska mendaftarkan diri di Universitas luar negeri yang sama dengan Aurora. Dan ternyata mereka berhasil diterima di Universitas tersebut. Alaska menjadi lebih dekat dengan Aurora, Sahara dan Bumi semenjak hari kelulusan waktu itu. Saat ini Alaska dan Aurora sedang mempersiapkan diri untuk keberangkatannya ke luar negeri yang bertujuan untuk 'mengejar cita-cita' kalo kata mbak Nur.
"Ra, gimana? Hubungan lo sama tante baik-baik aja kan?" tanya Alaska di sela-sela jeda makan siangnya, ngomong-ngomong tadi Alaska menelpon Aurora dan mengajaknya keluar dengan alasan 'hari terakhir di tanah kelahiran' Alaska berbicara seakan-akan tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia.
"ya gak gimana-gimana" jawab Aurora
"Lo mending minta maaf deh Ra, beliau kan ibu lo" saran Alaska
"gue gak salah Ka" Aurora tetap bersikukuh untuk tidak meminta maaf
"Ra, sebelumnya gue minta maaf kalo kesannya gue terlalu ikut campur sama urusan lo. Tapi gue saranin lo minta maaf ke mama lo sekarang mumpung masih ada kesempatan, lagian besok kita udah terbang. Udah, nanti gue anter ya Ra" bujuk Alaska
"Gue gak mau Ka" Aurora mulai kesal, dan hampir meninggalkan Alaska, namun masih berhasil di tahan.
"Ra, coba lo dengerin gue dulu" pinta Alaska dan berhasil membuat Aurora kembali duduk di kursinya "Beliau ibu lo Ra, orang yang udah ngelahirin lo, berjuang antara hidup dan mati demi lo"
"gue gak minta di lahirin Ka" jawab Aurora
"ya, maka dari itu, lo harus berterima kasih ke ibu lo, bahkan tanpa lo minta, dia kasih lo kehidupan Ra"
"Allah yang kasih gue nyawa" lagi dan lagi Aurora menjawab atas perkataan yang di lontarkan Alaska padanya
"memang tuhan yang kasih lo nyawa, tapi tetep aja jalannya lewat ibu lo Ra, Ra kalo lo nanya kenapa mama sama papa lo gak pernah ada buat lo ya itu karena mereka sibuk kerja cari uang untuk menafkahi lo dan adik-adik lo" ucap Alaska lagi
"gue gak butuh uang, gue cuma butuh kasih sayang layaknya orang tua ke anak-anaknya" Aurora mulai menangis
"oke Ra, mungkin mereka berfikir dengan memberikan semua fasilitas yang lo butuhkan, dengan memberikan harta yang gak ada habisnya walaupun lo gunakan setiap harinya mereka fikir itu adalah jalan terbaik untuk membahagiakan anak-anaknya" ucap Alaska sambil menenangkan Aurora "tapi coba lo fikir, tanpa uang hasil kerja keras mereka yang selama ini buat lo, lo gak akan tinggal di rumah lo yang sekarang, lo gak akan sekolah di sekolah terbaik, lo kecil kemungkinan untuk sekolah di luar negeri, bahkan uang pun lo bakal tabung buat beli kebutuhan hidup lo Ra".
Hening beberapa saat, hingga Aurora beranjak pergi di ikuti Alaska. Ternyata Aurora pulang ke rumah untuk meminta maaf kepada mama. Kebetulan semua orang sedang berkumpul. Permintaan maaf Aurora di terima dengan hati yang lapang oleh mama, begitupun mama dan papa, meminta maaf kepada anak-anaknya setelah selama ini dibutakan oleh pekerjaan.
Semuanya berubah dalam sekejap, keluarga Aurora menjadi keluarga yang paling bahagia setelah semua masalah dan kesalahpahaman dapat terselesaikan.
"Hati-hati ya nak" mama tidak kuat lagi menahan air matanya yang sejak tadi memaksa untuk keluar.
Sekarang keluarga Aurora sedang berada di Bandara untuk mengantarkan Aurora. mbak Nur yang sudah dianggap keluarga pun ikut mengantarkan Aurora. Sebelum pergi, Aurora memeluk mama dan papanya sambil berkata "mama sama papa sehat-sehat ya, jangan pulang larut malam, jangan banyak pikiran, jangan kecapek-an dan jangan pikirin Aurora" setelah itu Aurora pergi memeluk mbak Nur, yang sudah Aurora anggap sebagai ibu "mbak makasih udah jagain Aurora, mbak juga jaga kesehatan ya" mbak Nur menangis dalam pelukan Aurora. Terakhir, Aurora memeluk kedua adiknya Leona sudah menangis sejak tadi, bagaimana tidak, kaka perempuan nya akan pergi meninggalkannya selain itu, saat masih di rumah Aurora berkata 'tidak ingin di jenguk saat sudah di Amerika nanti, jika Aurora rindu Aurora pasti pulang' "jaga mama sama papa ya, jangan sakiti mereka, jangan tiru kakak. Kalian Juga harus saling jaga, maaf kalo kakak punya salah ke kalian" setelah itu Aurora melepaskan pelukan kedua adik-adiknya "Aurora pergi dulu ya, See U semuanya" Aurora berbalik sambil meneteskan air matanya.
"Terimakasih dan Selamat tinggal semuanya, semoga Aurora dapat menjalani hari-hari baru Aurora" Ucap Aurora di detik-detik keberangkatannya.
Hai semuanya. Sebelumnya saya meminta maaf bila ada kesamaan cerita, namun cerita ini hanya cerita fiksi karangan saya sendiri. Alurnya terlintas dalam pikiran saya secara singkat dan spontan.
Untuk NAMA TOKOH, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya menggunakan nama tokoh yang sama dengan cerita-cerita yang saya sukai. Saya jatuh cinta dengan NAMA-NAMA TOKOH tersebut. maka dari itu, saya memasukannya kedalam cerita pendek saya.
Kepada sang pemilik cerita, saya meminta maaf sebesar-besarnya, bila saya terbilang meniru nama tokoh. Tetapi saya tidak ada maksud buruk dibalik penggunaan nama tersebut, seperti yang sudah saya katakan tadi, saya sangat menyukai tokoh tokoh tersebut, sehingga saya jadikan tokoh dalam cerita pendek saya.
Sekian dan terimakasih, wassalam mualaikum warahmatullahi wabarakatuh 🙏🏼