Sebelum memasuki akhir tahun ajaran kelas 4 Theo. Siang itu Ia berkunjung ke kantor Dumbledore. Karena Dumbledore memanggilnya, ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
Di depan patung Gargoyle, Theo menyebutkan password, 'Permen nanas." Segera patung itu melompat dan membuka jalan tangga melingkar, menuju ruang kantor Dumbledore.
Sesampainya disana, Dumbledore menyapa Theo dan memintanya untuk duduk.
"Ada rencana untuk liburanmu nanti Mr. Goodson?" Tanya Dumbledore kepada Theo.
Theo menjawab, "Berkunjung ke tempat kakek dan nenekku, sudah lama aku tidak mengunjunginya." Theo menatap wajah Dumbledore, menduga-duga, lalu bertanya, "Ada apa Profesor mengundangku kesini?"
Dumbledore, menedekati Theo mencoba meramahkan ekspresi wajahnya, lalu berkata, "Ingin jalan-jalan bersamaku ke hutan terlarang?"
Mendengar itu membuatnya terkejut. Theo memang selalu merasa Dumbledore agak sedikit sinting, meski hebat. Ia akhirnya mengiyakan ajakan Dumbledore.
Dumbledore meminta Theo agar berdiri dari duduknya, mengulurkan tangan kanannya, "Peganglah tanganku."
Theo tahu, bahwa Dumbledore akan mengajaknya berdisapparate. Ia lekas berucap, "Profesor, bukankah di Hogwarts, tidak dapat melakukan Appariton?"
Dumbledore terkekeh, lalu berkata, "Tidak, jika aku yang adalah kepala sekolah. Ayo Theo, ada petualangan yang menunggu kita."
Saat Theo menempatkan telapak tangannya pada tangan kanan Dumbledore. Tubuhnya bagai tertarik keseluruh arah, lalu ia berada di hutan terlarang yang sunyi.
Theo masih merasa mual, karena ia tidak menyukai Apparition. Tidak berbeda dengan menaiki Kinght Bus. Theo berkata, "Kenapa kita pergi kesini profesor?"
Dumbledore menujuk ke sebuah jalan di tengah hutan terlarang, berkata, "Disanalah, tongkat sihirmu mendapatkan kekuatan lebih pada waktu lalu, jika aku tidak salah?"
Theo mengangguk, lalu berkata, "Pohon kehidupan. Ya... Disanalah, para Centaur memanggilku dengan keturunan Merlin. Tetapi, itu tidak benar-"
Penjelasan Theo di potong Dumbledore, "Ayo, segera kita berjalan menuju pohon kehidupan."
Mereka berdua berjalan bersama. Theo masih mempertanyakan alasan Dumbledore mengajaknya ke hutan terlarang dan membahas tongkat sihirnya.
Sesampainya di lokasi Pohon Kehidupan. Dumbledore dan Theo, melihat sebuah pohon besar dengan memiliki bentuk wajah di tengah batang kayunya. Terlihat ia sedang tertidur.
"Kenapa para Centaur tidak ada?" Tanya Theo, melihat sekeliling.
"Mereka sedang berburu saat musim ini. Hampir semuanya, beberapa dari mereka menjaga tempat persembunyian. Saat mereka datang nanti, tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah disini. Membantu mereka menyembuhkan luka-luka saat perburuan." Jelas Dumbledore.
Dumbledore meminta Theo mengeluarkan tongkat sihirnya. Segera Theo mengeluarkannya dari saku jaketnya.
Dumbledore memperhatikan tongkat sihir Theo. lalu berkata, "Lihatlah, tongkatmu bereaksi, saat berada dekat dengan Pohon Kehidupan."
Theo melihat tongkatnya sedikit mengeluarkan cahaya biru. Theo bertanya penasaran, "Sebenarnya, bagaimana bisa?"
Dumbledore menjawabnya, "Sebelumnya, Pohon Kehidupan di berikan sihir oleh Merlin yang sebagai jantung hutan di terlarang, untuk menyembuhkan mahluk hidup di sekitarnya. Dengan kata lain, Pohon Kehidupan adalah tempat persembunyian Merlin menyembuhkan lukanya. Pada masa ia hidup... Dunia sihir adalah tempat yang gelap, Theo. Kamu juga sudah mengetahuinya bukan? Jika kamu mendengarkan pelajaran sejarah Profesor Cuthbert Binns." Sambil melirik Theo.
Theo tidak berani menjawab, dan tersenyum simpul. Karena sebenarnya, ia selalu tidur atau menggambar saat pelajaran Profesor Cuthbert Binns berlangsung.
Dumbledore sekarang mulai menjelaskan kembali, alasan perjalanan ini, "Karena tongkat sihirmu membantu Pohon Kehidupan, tetap hidup. Aku yakin, sisa sihir Merlin yang terdapat pada Pohon Kehidupan, juga ikut masuk ke dalam tongkat sihirmu... Tongkat sihirmu akan menjadi sangat kuat."
Theo melihat tongkat sihirnya sendiri, lalu bertanya, "Tetapi bagaimana bisa? Aku bukan keturunan Merlin."
"Mudah saja Theo, mudah saja... Tongkatmu memiliki kesamaan dengan tongkat merlin. Dan aku berasumsi... Alasan kenapa tongkat milik Merlin tidak ikut terbaring di makamnya, karena-"
Theo melanjutkan sambil menatap Pohon Kehidupan, "Tongkat sihirnya, berada di dalam Pohon Kehidupan."
"Tepat sekali. Aku tahu kamu bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu kesini... Karena aku ingin kamu melindungi tongkat sihir Merlin yang terkubur di dalam Pohon kehidupan." jelas Dumbledore.
"Tetapi Profesor, Ada para Centaur yang menjaganya." Jelas Theo.
"Lihatlah, sekarang apakah Centaur berada disini? Tidak. Mereka tidak selalu berada disini... Aku memerlukan bantuanmu kali ini Theo. Aku mendengar rumor bahwa ada seseorang yang mencari tongkat sihir Merlin. Dan, sepertinya ia sudah mengetahui keberadaannya. Sekarang, kita kembali ke kantorku, pegang tanganku, Theo." Ajak Dumbledore.
.
Dumbledore dan Theo sekarang berada di kantornya. Membawa Theo menuju sebuah piring emas dengan air berputar-putar.
Dumbledore mengambil sebuah tabung kaca kecil dengan isi seperti cairan cahaya di rak melingkar. Dumbledore menjelaskan, "Piringan emas ini adalah Pensive Theo. Dan ini," Dumbledore menunjukan tabung kaca yang ia pegang, "Adalah kenangan. Kita akan berkunjung menemui Merlin."
Dumbledore menuangkan cairan cahaya itu kedalam Pensive, lalu meminta Theo berkata, "Masukan kepalamu Theo, Yang muda lebih dulu."
Theo segera memasukan menyelupkan kepalanya ke dalam genangan air pada Pensive. Tubuhnya seakan tertarik dan jatuh di sebuah kota malam, yang bangunannya terlihat sangat medieval atau masa abad pertengahan eropa. Dumbledore lalu muncul di belakangnya, berkata, "Pendaratanmu tidak baik-baik saja, Theo." Dumbledore membantu Theo untuk bangkit berdiri.
Di sana terlihat banyak para penduduk membawa obor dan cangkul garpu, mereka terlihat marah. Semuanya melewati Theo dan Dumbledore. Dumbledore meminta Theo untuk berjalan mengikuti para penduduk.
Disana terlihat seseorang pria tua dengan janggut dan rambut putih panjang, mengenakan kain sebagai pakaiannya. Diikat pada sebuah kayu dan di bawahnya berserakan kayu bakar. Theo memahami kondisi yang akan segera terjadi.
Salah satu pria tua, maju kedepan membawa obor, berucap kepada semua penduduk dengan lantang dan jelas, "Pria ini! adalah penyihir... Aku mengetahuinya, karena ia mengangkat sebuah tong besar yang akan menimpa salah satu warga."
Pria tua dengan janggut dan rambut panjang, yang masih diikat, berucap pasrah, "Aku hanya berusaha menyelamatlannya."
Tetapi, amarah penduduk tidak bisa mentoleransi tindakan penyihir pada masa itu. Segera pria tua yang membawa obor membakar kayu bakar yang tertumpuk di bawah penyihir tua yang diikat.
Api mulai menjalar dan membesar, Theo berjalan bergegas maju, untuk menyelamatkannya. Walau Dumbledore menariknya.
Theo berkata dengan keras, "Profesor! Ia tidak melakukan kesalahan. Kita harus menyelamatkannya!"
Dumbledore dengan tenang menjelaskan, "Jangan terbawa sikap emosionalmu Theo, di dalam Pensive. Kita hanya tamu tak terlihat. Kita tidak bisa bertindak apapun disini. Bagi seorang Muggle, mungkin dapat diistilahkan, kita sedang menonton Tv."
Theo melihat penyihir tua itu terbakar sampai kulitnya menyatu dengan kerangka tulangnya.
Dumbledore menarik Theo agar menuju sebuah lokasi hutan. Mereka masih berjalan, dan Theo tidak berbicara sedikitpun, ia masih mengingat kejadian yang baru ia lihat.
Theo yang berjalan bersama Dumbledore mendengar seseorang laki-laki berbicara, "Anda baik-baik saja, Pak tua?"
Terlihat seorang laki-laki seusia Theo mungkin lebih muda. Ia sedang mengobrol dengan penyihir tua yang sebelumnya dibakar oleh penduduk.
"Aku baik-baik saja, terima kasih, nak." Jawab Penyihir tua itu.
Laki-laki itu berkata, "Tinggalkan kota itu, aku tahu anak perempuanmu disana. Aku akan menjemputnya dan mengantarkannya padamu. Ada sebuah tempat dimana para penyihir berada, tinggal bersama."
Pria tua itu segera menuruti ajakan Merlin muda.
Bayangan kenangan berpindah menuju Hogwarts. Terlihat berbeda dari sekarang. Walau langit-langit yang disihir pada Aula besar masih terlihat sama.
Merlin datang ke Hogwarts pada masa awal-awal Hogwarts berdiri. Disana Theo melihat Godric Gryffindor, Helga Hufflepuf, Rowena Ravenclaw dan Salazar Slytherine. Duduk dibagian depan tempat pengajar.
Saat topi seleksi dipasangkan di kepala Merlin. Topi seleksi nyaris saja menempatkannya pada Gryffindor. Tetapi, Topi seleksi membuat keputusan dengan tepat, ucapnya. Bahwa Merlin di tempatkan pada asrama Slytherine. Terlihat wajah Salazar tersenyum, yang lebih mirip menyeringai.
Salazar berkata kepada Godric, "Seharusnya memang asramaku memiliki penyihir berdarah murni. Menjijikan bagiku jika ada mereka yang darah lumpur di asramaku."
Rowena dan Helga, menatap Salazar geli.
Darah lumpur adalah sebutan kasar, bagi mereka penyihir yang terlahir dari kedua orang tua manusia biasa/Muggle. Penyebutan halusnya adalah Muggle Born.
Saat berada di Hogwarts, Merlin adalah anak yang berbakat. Pintar dalam merapalkan mantra, membuat ramuan. Bahkan ilmu transfigurasinya begitu luar biasa menakjubkan. Membuat semua guru terkesan olehnya. Begitu juga murid lainnya yang memandang tinggi Merlin.
Hingga terjadi sesuatu, pada tahun ke-5 nya. Disana ada seorang gadis yang seorang Muggle Born. Ia di pilihkan topi seleksi, menjadi murid asrama Slytherin. Salazar terlihat begitu marah sekali dan pergi dari ruang Aula Besar.
Gadis itu pada tahun pertamanya, menjadi bulan-bulanan anak-anak Slytherin. Di kerjai dan di lemparkan sihir, membuat gadis itu terluka atau membuat malu. Tak jarang jika Merlin melihatnya, ia akan segera membantu gadis itu.
Theo yang melihat kenangan itu berkata, "Aku tidak salah menduga."
Dumbledore melihat Theo, bertanya, "Ada apa, Theo?"
"Banyak orang yang tidak menyukai Slytherin. Karena banyak dari mereka yang di tempatkan di sana adalah penyihir jahat. Menurutku tidak. Alex sahabatku juga berada di Slytherin. Ia adalah orang yang sangat baik." Jelas Theo.
"Terkadang aku menyukai, perspektif pandangmu, Mr. Goodson." Jawab Dumbledore.
Tahun berganti di dalam kenangan Merlin dengan cepatnya. Gadis itu dan Merlin mulai dekat dan menjalin hubungan. Saat lulus dari Hogwarts. Perang penyihir di mulai, dan Merlin berhasil menghentikan konflik. Tindakannya membuat Raja Arthur mengenalnya. Seorang penyihir pertama yang akhirnya dianggap pahlawan oleh Muggle. Merlin juga berhasil menyelesaikan banyak masalah yang terjadi pada masa abad pertengahan. Ia mendapatkan gelar First Class Order. Hingga terbentuknya kementrian sihir yang sekarang masih berdiri di London.
Meski perang antar penyihir selalu tidak pernah ada hentinya pada setiap era. Merlin harus ikut melawan tindakan gila Salazar saat itu. Membuat Salazar menginjakan kakinya keluar dari Hogwarts.
Merlin berada di sisi Godric, membantu para Muggle dan Penyihir, dari teror yang berlangsung. Banyak penyihir yang terluka saat itu dalam perang. Membuat Merlin harus menyembuhkannya dengan sulit. Terkadang kemampuan sihirnya tidak stabil karena ia yang kelelahan.
Ide mucul di kepala Merlin. Datang menuju hutan terlarang. Melihat jantung kehidupan disana. Yaitu pohon besar yang terlihat sudah tua dan akan mati. Ia membuat pohon itu menjadi Pohon Kehidupan yang dapat menyembuhkan banyak mahluk hidup yang berada disekitarnya. Hal itu juga membuat Centaur memiliki kepercayaan kepada Merlin, tunduk.
Saat Merlin berdiri di Pohon Kehidupan. Ia menoleh kebelakang dan melihat tepat di mata Theo yang berdiri bersama Dumbledore.
Theo terlempar dari Pensive, Dumbledore berada disampingnya. Sekarang mereka berada di kantor Dumbledore, kembali.
"Tuan Merlin, ia menatapku... Itu aneh..." Tanya Theo kepada Dumbledore, terkejut.
Dumbledore menjawab, "Tidak Theo, Ia hanya menghapus sisa ingatannya agar orang lain tidak dapat melihat ingatannya setelah itu."
Theo kembali tenang, mendengarnya.
"Baiklah, minum jus labumu dulu." Suguh Dumbledore kepada Theo.
Theo mengambil gelas perak yang berisikan jus labu meminumnya, menghabisinya. Lalu menghela nafas.
"Perjalan terakhir sebelum menjelang makan malam di Aula Besar. Sudah siap Theo?" Ajak Dumbledore mengulurkan kembali tangannya. Yang lalu Theo menggapainya.
.
Sekarang mereka berada di sebuah pulau yang di sisi kiri dan kanannya terdapat pegunungan.
Theo melihat disana ada dua makam. Lokasi tempat itu bagai padang rumput, hanya ada beberapa pohon ek dan batu besar.
"Makam Merlin, benar Profesor?" Tanya Theo.
Dumbledore mengangguk, lalu menjulurkan tongkat sihirnya di depan makam. Theo menghalaunya lalu berkata, "Maafkan aku Profesor, biar aku saja."
Theo membuat rangkaian bunga dengan tongkat sihirnya pada makam Merlin dan makan satu lagi, yang bertuliskan, Gwendolen Mary John.
Theo berkata, "Jika aku tidak salah menduga, makam sebelahnya adalah gadis Muggle born itu?"
"Benar Theo, mereka akhirnya menikah dan hidup bersama di penuhi cinta." Jelas Dumbledore.
Theo menatap Dumbledore, berkata, "Aku mengerti mengapa anda memperlihatkan semua itu... Ya profesore, aku akan melakukannya."
Dumbledore tersenyum kecil, berkata, "Terima kasih Theo. Kamu tidak perlu khawatir. Karena aku juga akan membantumu. Baiklah, saatnya kita kembali pulang untuk makan malam, kamu suka es krim cokelat?"
.
Sesampainya di Aula besar. Alex terlihat disana menunggu di depan pintu masuk, mengerutkan wajahnya.
"Kemana saja kamu seharian? aku mencarimu?" Tanya Alex kepada Theo.
"Maafkan aku Alex, aku pergi ke kantor Dumbledore. Ya, dari siang kami mengobrol banyak. Hingga lupa waktu." Jelas Theo.
Alex dan Theo bersama masuk ke dalam Aula besar, Alex berkata, " Pasti soal soda dan kripik lagi ya?"
Theo tertawa, menjawab, "Ya, begitulah Profesor Dumbledore."
"Dia memang sinting." Jelas Alex.
Mereka berdua duduk bersampingan, kali ini Theo yang anak Ravenclaw duduk di meja Slytherin bersama Alex. Mereka asik menikmati es krim Cokelat, yang disantap sebelum hidangan pembuka.
Dumbledore yang baru datang, melihat Theo dan Alex. Berfikir. Petualangan Theo pada tahun ke-5 nya. Mungkin akan jadi petualangan yang sangat panjang.
Selesai.
Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku ^^