Hujan deras membuat jalanan basah dan licin, belum lagi ada genangan air dimana-mana. Setiap orang memiliki payung di genggaman mereka, sesekali mereka juga akan mengumpat atau mengeluh karena hujan yang turun hari ini.
Tapi di sebuah gang tersembunyi, seorang gadis yang dipenuhi lebam dan bahkan berdarah tak menghiraukan air hujan yang membasahi tubuhnya.
Rambutnya lepek, dan menghalangi matanya. Sudut mulutnya robek akibat pukulan atau tendangan, tak ada yang tahu.
Dengan bersandar pada dinding gang itu, ia bernafas terengah-engah. Menahan segala rasa sakit yang ia rasakan dari perundungan beberapa saat lalu.
Ya, ia adalah korban perundungan teman-temannya. Karena sifatnya yang penyendiri dan misterius.
Tak ada yang mau berteman dengan siswa aneh seperti dirinya, yang membuatnya terkucilkan. Tapi, ia tak peduli. Ia bahkan memandang dunia ini dengan pandangan meremehkan, seolah-olah kehidupan itu seperti hal yang paling menjijikkan menurutnya.
Tak lama, beberapa orang dengan jas hitam menghampiri gadis itu.
"Nona, apakah anda baik-baik saja??" Tanya salah satu dari mereka.
Gadis itu mengangguk lemah, "bawa aku pulang."
"Baik." Seru mereka serentak.
Salah satu dari pria berjas itu kemudian membantu gadis itu berjalan menuju mobil hitam yang terparkir di luar gang terpencil tersebut.
"Katakan pada ayah aku akan mengambil alih posisinya mulai besok, aku berubah pikiran. Jangan khawatirkan Tartarus, aku akan mengurusnya." Ujar gadis itu.
"Ya, nona muda." Balas sekelompok pria itu.
Ia akhirnya duduk di kursi belakang mobil hitam itu, dan melesat menuju kediamannya.
Namanya Selene, putri seorang white Mafia yang bekerjasama dengan pemerintah untuk membongkar kejahatan para buronan, tikus pemerintah, atau gembong narkoba.
Sejak kecil, dirinya sudah dilatih untuk bisa bertarung antara hidup dan mati. Melihat orang mati terbunuh tepat didepan wajahnya adalah hal biasa untuknya.
Beragam senjata dari senjata tajam hingga senjata api sudah pernah ia pegang, dari yang terkecil hingga yang beratnya dua kali berat tubuhnya. Semuanya sudah pernah Selene coba.
Sejak usianya sebelas tahun, sang ayah sudah menugaskannya pada banyak misi yang berbahaya. Dengan nyawanya sebagai taruhannya. Berkali-kali, ia berada didalam situasi hidup dan mati. Ia sudah terbiasa dengan hal itu.
Namun, dua tahun yang lalu. Ketika sang ibu meninggal karena penyakit kanker rahimnya, beliau berpesan agar Selene berhenti dari pekerjaan itu. Ia tidak ingin putri semata wayangnya terlibat dalam hal-hal yang berbahaya seperti itu, dan mengotori tangannya dengan banyak darah orang lain.
Selene menurut, ia benar-benar berhenti dari menjadi seorang white Mafia dan menjadi gadis normal. Ia memasuki SMA formal walaupun sebenarnya tidak perlu.
Kenapa? Karena pengetahuannya sudah lebih dari anak-anak seusianya. Namun, karena pesan terakhir dari mendiang sang ibu, Selene tetap mengikuti sekolah formal layaknya anak lain seusianya.
Tapi, karena pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai agen white Mafia, membuatnya menjadi seorang pribadi yang penyendiri. Auranya juga berbeda dengan gadis remaja seusianya, ada sedikit ketajaman dan rasa haus darah padanya.
Namun, ia berhasil menutupi semuanya dan bertingkah seperti murid nerd. Memakai kacamata tebal, pakaian yang amat rapi, buku dalam pelukannya, dan tatanan rambut yang 'norak'.
Ia juga selalu menurunkan pandangannya agar orang lain tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, berjaga-jaga jika aura yang ia miliki selama bertahun-tahun ini bocor dan membuat orang lain menjadi waspada terhadapnya.
Namun, karena hal ini pula Selene menjadi sasaran bulan-bulanan temannya. Mereka melakukan perundungan terhadap Selene dan sering kali menyiksanya dengan cukup kejam. Menurut mereka tentunya.
Tapi bagi Selene, itu semua hanya gangguan kecil yang tidak penting. Jadi, ia mengabaikan mereka dan membiarkan mereka menyiksanya sesuka hati. Selama mereka tidak melewati batasannya.
Dan hari ini, kelakuan anak-anak ingusan itu telah melewati batasnya.
Sudah cukup baginya untuk terus bersabar menghadapi mereka, dan sekarang saatnya membalas perlakuan tak pantas anak-anak sindrom kelas sembilan itu*.
Hanya karena ia ditolong oleh pangeran sekolah mereka, sekelompok gadis-gadis tak tahu malu itu menyewa kelompok preman untuk menghajarnya hingga babak belur.
Ia bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun pada orang yang menjadi objek kesayangan mereka, tapi mereka melakukan hal ini padanya.
Benar-benar menjengkelkan! Dasar beban orang tua!
"Akan ku buat kalian menyesal telah dilahirkan ke dunia.." ujarnya dengan gigi terkatup.
Setelah tiba di mansion keluarganya, Selene langsung mendapatkan pertolongan pertama dari dokter keluarganya.
"Nona, untuk dua hari kedepan tolong istirahat dengan baik. Dua tulang rusukmu hampir patah, tidak disarankan untukmu melakukan kegiatan yang berat dan hindari luka di bagian dada. Kalau tidak, itu akan memperburuk lukamu." Jelas dr. Hong, sembari membereskan alat-alatnya.
Selene mengangguk paham,"aku mengerti paman Hong, terima kasih." Ia tersenyum tipis.
Dr. Hong balas tersenyum, lalu membungkuk singkat padanya. "Kalau begitu saya permisi nona, selamat beristirahat dan semoga lekas sembuh."
Selene hanya bergumam sebagai balasannya. Setelah dokter paruh baya itu menghilang dibalik pintu, wajah Selene menjadi dingin.
"Zack! Cari tahu latar belakang semua anak pencari masalah disekolah ku, letakkan semuanya dimeja sebelum makan malam." Titah Selene dengan wajah dinginnya.
Ini adalah langkah pertama dari pembalasannya.
Seorang pria disudut ruangan mendekat, lalu membungkuk hormat. "Ya, nona." Setelahnya, ia berlalu dan melakukan tugas yang telah diberikan tuannya.
"Dasar serangga kecil... Kalian telah menginjak ekor singa, dan sekarang singa itu marah. Jadi, bersiaplah.." monolog Selene dengan tangan terkepal di pangkuannya. Sebuah smirk yang tampak mengerikan tersemat di bibirnya, membuatnya tampak lebih menakutkan.
Dua hari kemudian, Selene berangkat ke sekolah setelah dua hari beristirahat di mansion. Namun bedanya, ia tidak mengenakan tampilan nerd seperti sebelumnya.
Ia mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda, menyingkirkan kacamata tebalnya, memperbaiki gaya pakaiannya, dan mengangkat dagunya tinggi.
Pemandangan itu membuat semua siswa siswi di Apollo Senior High School terpana, mereka tak pernah menyangka bahwa murid nerd dan norak itu bisa memiliki penampilan berwibawa dengan aura yang mengesankan.
Ia tampak seperti seseorang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Beberapa orang berusaha untuk mendekatinya dan menjilatnya, tapi mereka hanya mendapat tatapan dingin dari Selene.
Kaki jenjangnya berjalan lurus menuju lorong loker para siswa berada, disana sekelompok gadis yang telah menyewa para preman itu tengah berkumpul dan bercanda. Ada juga beberapa orang lain yang telah melecehkannya.
Mereka sadar dengan kedatangan Selene karena banyak orang yang memandang kearahnya, lalu ikut menatap gadis itu. Tercengang? Sudah pasti, mereka tak menyangka penampilan Selene akan begitu berubah saat dirinya memperbaiki penampilannya.
Belum lagi, sang pangeran sekolah juga ikut terpana melihat penampilannya. Yang mana membuat mereka geram.
"Hai, Selene.." sapa Raegan, si pangeran sekolah dengan senyuman ramah.
Selene hanya menatapnya sekilas, lalu menatap sekelompok gadis yang sudah terbakar api cemburu di kiri lorong.
"Gadis-gadis tak tahu malu, hanya karena seorang pria kalian menyewa preman untuk memukuli seorang gadis hingga nyaris tewas.." sindir Selene.
Siswa siswi yang berada disana terkesiap mendengar penuturannya.
"Berusaha mendapatkan hati seorang pangeran dengan cara kotor huh? Ayo kita lihat apakah kalian masih bisa berjalan besok..." Sambung Selene, ia mengepalkan tinjunya hingga bunyi 'krekk' terdengar oleh semua orang.
Bahkan Raegan tak sempat bereaksi saat Selene melewatinya begitu saja.
Saat tiba didepan gadis-gadis itu, tanpa aba-aba Selene menampar wajah salah satunya dengan kencang. Bahkan bunyi tamparan itu begitu nyaring, membuat orang-orang berteriak ngeri.
"Ahh!!"
"Selene!! Apa yang kau lakukan?!" Raegan baru sadar dari keterkejutannya dengan suara tamparan itu.
Selene hanya meliriknya dengan sinis, lalu kembali mengabaikannya. Wajah Raegan sedikit memerah karena malu telah diabaikan.
"Kau menyukainya kan?" Tanya Selene pada gadis yang berada disamping yang telah ia tampar sebelumnya.
Gadis itu tampak takut-takut dan waspada terhadapnya, ia beringsut mundur untuk menghindari apa yang akan terjadi. Namun sial baginya karena Selene langsung menarik rambutnya hingga gadis itu tersungkur ke lantai, dan sekali lagi orang-orang berteriak ngeri.
"Apa kau tahu bahwa jika seseorang bertanya, kau harus menjawabnya bukan? Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan?" Ujar Selene sembari menjambak kembali rambut gadis itu dan membuatnya melihat kearahnya.
"T-tidak... Kumohon maafkan aku... Tolong.." pinta gadis itu dengan air mata berlinang.
Selene tersenyum sinis, "memaafkan mu? Memang apa yang telah kau perbuat heh?"
Malu, gadis itu tidak menjawab pertanyaannya. Dia hanya bisa menutup matanya dan menangis berharap Selene bisa melepaskannya.
"Jika kau menyukainya, kenapa kau tidak katakan perasaanmu? Mungkin dia akan dengan senang hati menerimanya..." Selene kembali berujar.
Gadis itu menggeleng cepat, ia tidak mau melakukannya.
"Kenapa?? Malu karena kau menyukai seorang perempuan dan kau ternyata adalah seorang lesbian? Begitu??" Cerca Selene dengan wajah sinisnya.
Siswa lain yang mendengarnya menjadi terkejut dan menatap gadis itu dengan pandangan yang berbeda. Lalu menatap Selene dan bergidik ngeri.
Karena gadis itu tidak mau merespon, Selene berdecak dan menendang kakinya. Ia lalu berjalan pada dua gadis yang berada dibelakang dua lainnya.
"Hanya karena kau memiliki banyak uang, bukan berarti kau seorang pemenang dalam hidup. Bahkan cara orang tuamu mendapatkan kekayaannya tidak layak untuk kusebutkan!" Cibir Selene. Ia lalu menatap gadis lainnya, "dan kau! Kau rela menjilat sepatu* mereka hanya agar bisa mendapatkan ketenaran disekolah ini?? Cih!! Otak kosong dan hanya bermodal wajah serta mulut busuk, apa yang akan dikatakan orang tuamu jika mereka tahu anak gadis mereka seperti pelacur?!"
Kedua gadis itu memucat mendengar perkataannya, mereka juga marah, tapi takut untuk melawan kata-katanya. Melihat apa yang Selene lakukan pada dua teman mereka, keduanya tidak mau mengalami hal yang sama.
"Katakan padaku, apakah melakukan bullying itu menyenangkan? Kau merasa seolah-olah kau adalah ratu disekolah ini, kau yang berkuasa dan apa yang kau inginkan akan menjadi milikmu. Begitu?" Ujar Selene, sambil mendekati gadis disebelah kiri.
Tangannya mencengkram dagu gadis itu, hingga membuatnya meringis kesakitan. "Kau selalu memaksaku untuk minum air pel bukan? Lalu kau harus merasakan rasa air pel itu!" Selene menghentakkan tangannya, ia lalu berjalan menuju ember pel yang kebetulan berisi air pel yang kotor di ujung lorong.
Ia mengambilnya, lalu menyodorkannya pada gadis itu. "Minum!"
Gadis itu menggeleng takut, ia mundur selangkah kebelakang. "Tidak... Selene, maafkan aku..."
"Kubilang minum!!" Sentak Selene dengan tatapan tajam, tak ada yang berani menatapnya.
Dengan tangan bergetar, gadis itu mengambil ember ditangan Selene dan meminum airnya sedikit. Segera, ia merasa ingin muntah dan menjatuhkan ember itu hingga airnya terciprat kemana-mana.
Gadis itu segera berlari menuju toilet sambil menahan isi perutnya yang akan segera keluar.
Tinggal tersisa satu gadis yang berdiri disana, ia gemetar ketakutan dan hampir menangis. Kekejaman Selene membuatnya sadar bahwa gadis itu bukanlah gadis biasa.
Dengan pandangan putus asa, gadis itu berlutut dan menangis dengan putus asa. "Selene... Hiks... Maafkan aku... Kumohon Selene... Hiks... Aku menyesal..."
Selene tersenyum dingin, lalu mendekat kearahnya dan berjongkok dihadapan gadis itu. "Maaf? Apa kau pikir mental orang yang kalian bully bisa kembali normal setelah semua yang kalian lakukan pada mereka?"
Gadis itu menggeleng sambil terus terisak.
"Sudah berapa banyak mental siswa yang kalian hancurkan? Dan kalian... Juga harus merasakannya." Sambung Selene sambil menekankan kalimat terakhir.
Wajahnya menjadi dingin, lalu menarik tangan gadis itu kasar agar berdiri. "Minta maaflah pada orang-orang yang telah kalian lukai! Sekarang!!"
Gadis itu tersentak, dan mengangguk berulang kali. "Aku-aku mengerti, aku akan meminta maaf..."
Ia lalu berjalan menuju beberapa siswa yang dulunya merupakan korban perundungan mereka, dengan kaki bergetar dan air mata yang terus mengalir.
Karena takut Selene akan menyiksanya seperti yang dia lakukan pada yang lain, gadis itu mendekati satu persatu dari mereka dan meminta maaf dengan tulus.
Dengan tak enak hati, beberapa orang itu mengiyakan permintaan maafnya. Mereka masih terkejut dengan apa yang terjadi.
"Dengar, jika ada dari kalian yang melakukan bullying lagi. Aku tidak akan segan membuat kalian seperti mereka, mengerti?!" Ujar Selene dengan suara keras, ia lalu pergi meninggalkan kerumunan itu.
Setelah kejadian yang sangat mengejutkan ini, tak ada yang berani melakukan perundungan lagi. Karena jika ada yang melakukannya, mereka akan langsung dikeluarkan atau dipukuli oleh Selene hingga tak bisa bergerak.
____________
Catatan kecil :
- menjilat sepatu: menjilat orang lain demi sesuatu
- sindrom kelas sembilan : chuunimbyou