Perundingan para guru-guru dan kepala sekolah yang masih berlangsung, membuat para siswa-siswi masih tersantai di kelas mereka masing-masing.
Belum mendapatkan solusi tentang pembangunan lapangan Basket tersebut, namun ada salah satu guru yang memberikan solusi untuk perundingan yang sudah hampir memakan waktu 3 hari, ia bernama Bu Guru Naren, dia adalah salah satu guru di sekolah SMA negeri, Bu guru Naren menjadi guru bahasa Fisika.
Bu guru Naren segera mengeluarkan ide yang di salurkan dari otaknya.
"Tunggu pak, boleh saya mengasih pendapat!!"
"Silahkan Bu" Ucap kepala sekolah itu siap mendengar pendapat dari Bu guru Naren.
"Jadi begini pak, sekolah kita kan mempunyai kelas yang kosong dan sudah tidak terpakai lagi, bagaimana jika lapangan Basket tersebut di bangun di bekas kelas tersebut, dan sangat cocok juga tempatnya, kelasnya berada di tengah-tengah, jadi lapangan tersebut bisa terpakai dan terlihat oleh semua siswa-siswi"
"Maksud ibu kelas yang mana??" Tanya Guru lain yang masih belum tahu seluruh lingkungan sekolah nya.
"Yang ada di sebelah sana Bu, yang sudah rusak, sayang kan kalo gak di pakai, jadi gimana kalau kita buat saja jadi lapangan Basket, mereka juga kan sangat membutuhkan Lapangan Basket tersebut"
"Iya bener juga Bu, oke kalo saya setuju, bagaimana dengan guru-guru lainnya??" Tanya pak kepsek.
"Saya ikut-ikutan aja pak"
"Saya juga setuju setuju saja"
"Kalo saya ikut aja"
Jawaban dari satu persatu guru tersebut, lalu pak kepsek tersenyum dan bergegas menyuruh pak TU dan lainnya, untuk melakukan perobohan kelas tersebut. Secepat itu pak kepsek merobohkan kelas itu, belum minta ijin terlebih dahulu sudah terburu-buru.
"Tapi bentar pak, apakah ini tidak terburu-buru, kita harus meminta ijin terlebih dahulu pada penghuni kelas tersebut, karena saya yakin pasti sudah ada penunggunya, kelas itu kan sudah lama tidak di pakai dan tidak terurus, bisa jadi sudah menjadi sarang makhluk gaib"
Kekhawatiran Bu guru Naren terhadap ide nya itu, namun pak kepsek kali ini tidak satu pemikiran dengan nya, ia sekarang merasa egois dan ingin menang sendiri.
Pak kepsek merasa berkuasa di sekolah ini, ia menyuruh pekerja bangunan untuk secepatnya merobohkan kelas itu dan segera meratakan nya menjadi sebuah lapangan Basket.
Karena tukang bangunan itu tidak tahu apa-apa dan dirinya hanya menjalankan tugas, jadi mereka menuruti semua yang di minta pak kepsek, meski sesekali Bu guru Naren memperingatinya, tapi pak kepsek hanya menghiraukan perkataan ibu Naren.
"Pak saya tidak akan tanggung jawab jika terjadi sesuatu" Ucap Bu Naren merasa ketakutan, karena hatinya terus di selimuti dengan rasa khawatir.
"Tenang saja Bu, semua nya akan baik-baik saja" Ucap pak kepsek sembari terus menatap tukang bangunan merobohkan kelas lama itu.
"Ya sudah kalau gitu, saya pamit dulu, semoga lancar kerjanya"
"Hmm" jawaban itu yang keluar dari mulut pak kepsek, lalu Bu Naren pergi meninggalkan pak kepsek dengan hati yang tidak bisa di kompromi, terus saja rasa khawatir itu menggebu-gebu, karena ide ini darinya, dia takut terjadi hal buruk pada mereka.
"Aku benar-benar khawatir, tapi biarkan lah, semoga tidak terjadi hal yang tak di inginkan" Gumam Bu Naren terus melangkah menuju ruangan gurunya.
...
Beberapa Jam sudah perobohan kelas sudah selesai, kini tinggal perataan lahan itu, dengan semangat yang tinggi, pak kepsek ikut serta turun tangan dalam pembangunan ini, sampai membuat pekerjaannya semakin singkat.
Kelas tersebut sudah rata tidak tersisa bangunan sedikitpun, salah satu pekerja bangunan itu memulai mengukur besar lapangan Basket tersebut, sampai selesai, kemudian meratakan kembali lapangan itu dengan mengunakan semen dan sebagainya alat pembangunan.
Lapangan tersebut sudah di semen dan tinggal menunggu kering untuk di cat dan di beri tanda garis, sambil menunggu Lapangan itu kering, bapak-bapak memulai merakit kan jaring/ring untuk siap di pasang.
Lapangan sudah lumayan kering, bapak-bapak tersebut bergegas kembali bekerja dan segera memasang ring tersebut.
lapangan sudah di sertakan dengan ring, kini tinggal pengecetan, namun menunggu sampai lapangannya benar-benar kering dan kuat untuk di injak.
Bapak-bapak tersebut beristirahat pulang ke rumahnya, besok pembangunan lapang tersebut di mulai kembali, sebagai pekerja sudah di bayar hanya ada satu yang belum, karena dia orang yang akan mengecat lapangan besok.
...
Mempersingkat waktu, Pagi pun tiba, bapak Yadi yang di tugaskan untuk mengecet lapangan sudah tiba di sekolah dan siap untuk mewarnai lapangan dengan cat, peralatannya sudah ia pegang kini pak Yadi mencoba memulai mengecetnya dengan cat warna hijau, dilanjutkan dengan warna putih yang menjadi ciri.
Beberapa jam sudah pengecatan lapangan sudah, kini pak Yadi tinggal menunggu cat tersebut kering.
Karena pak Yadi tidak ingin hasil kerjanya gagal, ia rela menunggu lapangan itu sampai cat tersebut benar-benar kering.
Karena cuaca sangat panas sehingga lapangan itu sudah kering dan siap untuk di pakai, lalu pak Yadi memberitahu kepada pak kepsek, bahwa lapangan Basket sudah selesai.
Tokk,, Tokk,, Tokk,,
"Masuk" Ucap pak kepsek yang tersantai di kursi kesayangannya, lalu pak Yadi masuk dan langsung menghampiri pak kepsek.
"pak maaf, saya ingin memberitahukan bahwa lapangan sudah selesai, jadi saya mau pamit dulu untuk pulang"
"Ooh sudah selesai, bagus kalo gitu, mari saya lihat dulu, ini bayarannya di pak"
...
Berjalan menuju lapangan basket.
"Wah sangat bagus. tidak ada kendala apapun kan!!"
"Alhamdulillah tidak ada pak, semuanya berjalan dengan lancar" Jawab pak Yadi tersenyum, lalu pak kepsek tersenyum bangga.
"Tuh kan tidak ada apa-apa, Bu Naren sangat ke khawatiran saat pembangunan lapangan itu, padahal tidak ada apa-apa, menyebarkan mitos saja Bu Naren" Ucap pak kepsek.
...
Ke esokkan harinya, Lapangan Basket sudah siap untuk digunakan, dan kelas yang beruntung, yang menjadi pertama mencoba lapangan Basket tersebut, ialah kelas 12 MIPA 5, Dimana kelas itu terdapat seorang wanita yang bernama Diana yang mempunyai Indra ke enam.
Ketika Diana melihat lapangan Basket tersebut, tidak merasakan hal aneh di sana, namun saat Diana menginjakan kakinya ke atas lapang itu, tiba-tiba kakinya seperti terbakar oleh api yang sangat panas.
"Aw. Kenapa lapangannya sangat panas, tapi kenapa mereka tidak merasakan panas sedikitpun di kakinya, kenapa dengan kaki ku!!" Gumamnya sambil menatap teman-temannya yang biasa saja tidak merasakan hal panas apapun.
"Diana!! ayo cepat ke sini, lapangannya sangat nyaman sekali, aku rasa lapangan ini terasa tempat bersantai" Ucap temannya yang bernama Fatin.
"Apa! dia bilang seperti tempat bersantai!! dingin dong, tapi kenapa bisa panas saat aku menginjak nya!!" Gumamnya dalam hati, ia melihat di sekelilingnya untuk memastikan bahwa dia sedang di jahili oleh makhluk halus, namun tidak ada satupun makhluk halus yang ada di lapangan itu, lapangan itu terbebas dari makhluk tak kasat mata itu.
"Huh, tidak ada apa-apa di sini, tapi kenapa hanya aku saja yang merasakan panas!! akan ku coba lagi, mungkin tadi sepatuku ke panasan" Gumam Diana mencoba menginjakan kakinya kembali ke lapangan itu.
Saat kaki itu sudah menempel di lantai lapangan, Diana langsung terkejut melihat semuanya yang berada di atas lapangan itu luka-luka dan tidak berdaya.
"Ya ampun, apa sudah terjadi!! kenapa mereka semua!! Fatin!! Rey, Dona, Rafael, hey semuanya!! bangun!!" Teriaknya sambil kebingungan kenapa bisa seperti itu, ketika kakinya akan ia langkahkan tiba-tiba dari bawah kakinya di tahan oleh sesosok wanita berambut panjang dan baju berwarna putih dengan percikan darah dan kotoran tanah.
"Kenapa kaki ku, [Melihat ke bawah dan terkejut], Mbak Kun, kenapa kau ada di sini!! ada apa!!" Tanya Diana yang sudah mengenali Mbak Kun tersebut.
"Diana Tolong kami!! kami kesakitan, kepala sekolah mu tidak minta ijin terlebih dahulu pada kami, sehingga ratu penunggu di sini marah pada kami dan pada semua siswa-siswi di sekolah ini"
"Mereka semua sudah menjadi tumbal ratu ku, jika kau ingin teman mu kembali selamat, kau harus mau di ikuti oleh ratu Merah itu, dia sangat ingin menjadi pengikut mu, tapi kamu selalu menolaknya, tolong Diana selamatkan mereka, anak ku jangan sampai menjadi tumbal"
Sambung Mbak Kun itu memohon pada Diana, Diana bengong dengan apa yang di katakan Mbak Kun itu.
"Ratu merah yang mana maksud mu!! dia pernah menemui ku!! sepertinya aku tidak pernah mengenalinya"
"Masa kau lupa, dia ratu merah yang sempat pernah kau tolong saat di dia mengakhiri hidupnya" Ucap Mbak Kun itu memperjelas pikiran nya.
"Ratu merah!! siapa!! [Mengingat-ingat kejadian yang sudah lampau, tiba-tiba dia ingat dan terkejut], maksud mu, Safira yang meninggal karena pembulian dan pelecehan seksual itu" Ucap Diana sangat terkejut.
"Diman dia!! aku ingin bertemu dengan nya" Sambung Diana menjongkokkan badannya menghadap mbak Kun, lalu Mbak Kun mengajak Diana ke Safira si ratu merah.
...
Sampai di ruangan kepsek, Safira sedang menatap pak kepsek yang tersantai dengan kakinya saling menumpuk.
"Itu dia Diana, dia pernah bilang padaku, lalu dia akan membunuhnya!!"
"Apa, maksudmu pak kepsek yang kan Safira bunuh!! kenapa dia membunuh pak kepsek, apa salah pak kepsek padanya! bukannya pak kepsek yang menolong Safira, kenapa dia mau membunuh nya!?"
"Diana apakah kau tidak tahu, kalau orang yang melakukan pelecehan padanya itu adalah pak kepsek itu sendiri, dan pada saat pembelaan Safira pak kepsek membunuh Safira dan menguburnya di kelas lama itu, karena pak kepsek tidak mau berurusan dengan polisi, dia membuat Mitos bahwa Safira pergi kabur dan hilang tidak bisa di temukan, dan sekarang Safira harus kehilangan tempat tinggalnya, dan dia juga kesal karena jasadnya langsung ia semen saat pak kepsek membantu pembangunan itu"
"ooh, jadi pak kepsek yang membuat semua ini, kenapa dia tega seperti itu, ini tidak bisa di biarkan, aku harus membantu Safira, pak kepsek sudah keterlaluan" Ucap Diana melangkah menuju Safira, dan melirik Safira.
"Safira!! itu pasti kau kan! tenang aku akan membantu mu, dan akan membongkar semua keburukan pak kepsek, sekarang juga. Masuklah pada ragaku aku akan membantu mu" Ucap Diana merasa kesal juga pada pak kepsek, karena dia juga hampir pernah jebol oleh nya, namun dia di selamatkan oleh Safira, jadi sekarang dia yang akan membunuhnya.
"Diana, apakah kau yakin ingin membunuhnya, aku tidak mau, nanti kau akan masuk penjara jika sampai berurusan dengan polisi"
"Tenang Safira aku tidak takut, dan aku yakin dengan misi ini, cepat masuk tanganku sudah gatal ingin membunuhnya"
Lalu Safira masuk kedalam tubuh Diana, dan menjadi satu energi, sehingga amarah mereka bersatu, dengan pelan Aasira membawa tongkat kayu di dekatnya dan memegangnya dengan erat menghampiri pak kepsek yang tertidur santai di kursi.
"Rasakan ini!!"
Bukk,, Bukk,, Bukk,,
Brughh..
"Aw, Diana! apa yang kau lakukan! kau ingin membunuh ku"
"Aku bukan Diana, aku Safira yang pernah kau bunuh sekaligus kau lecehkan, aku ingin membunuh mu"
"Sa safira, kau jangan lakukan itu padaku, bapak minta maaf, bapak khilaf waktu itu, bapak mohon" Sambil menjauh mundur dari Safira.
"Apakah itu yang di sebut khilaf, kenapa waktu itu kau juga ingin melecehkan ku" Kini Diana yang berbicara.
"Siapa lagi kau!! aku tidak mengenal mu!"
"kau yakin tidak mengenal ku!! aku Diana target yang berhasil Lolos, namun aku juga akan membunuh mu karena kau sudah membunuh ibu ku. aku berpura-pura tidak tahu karena aku ingin balas dendam sama bapak, namun selalu saja ibuku menghalangi ku, dan kali ini aku pasti berhasil membuat mu mati" Tawa ngeri itu keluar dari bibir Diana, dan segera mengambil kater yang ada di meja guru, lalu menodongkan langsung ke lehernya.
Sretttt,,
Darah berceceran di mana-mana hingga tubuhnya Diana pun ikut terpercik oleh darah pak kepsek dari lehernya, karena ia mengulang-ulang sematan later itu sampai pak kepsek tidak berdaya dan meninggal.