Pelajaran terakhir telah berakhir. Semua siswa bersorak kegirangan karena tak perlu lagi pusing memikirkan soal matematika yang membuat otak pusing itu.
Begitu pula dengan Hani. Sangat disayangkan ketika dia sudah berada di pintu kelas, tiba-tiba saja bahunya ditepuk begitu saja oleh seseorang.
"Han, lu ditunggu kak Deva di lapangan basket."
Hani tentu saja heran kenapa tiba-tiba saja kak Deva menunggunya di lapangan basket?
Namun itu tak memungkiri hati kecilnya yang bersorak sorai kesenangan mendengar Kak Deva menunggunya. Tentu saja karena sebenarnya dia diam-diam telah menaruh hati padanya.
Tapi, ia sadar diri apalah dirinya yang bagai remahan rengginang ini dibanding dengan Kak Deva si cowo most wanted sekolah?
Tentu saja karena merasa tak pantas, ia lebih memilih mencintai dalam diam tanpa pernah berharap Kak Deva akan membalas perasaannya.
Yah sebenarnya mereka bukan berarti tak saling mengenal hingga benar-benar seperti kata pepatah seperti pungguk yang merindukan bulan, nyatanya mereka cukup saling mengenal satu sama lain kok.
Tapi daripada merasakan sakit hati karena terlalu berharap memang Hani lebih memilih untuk diam saja tak pernah menunjukkannya dan mencoba mendekati dia dengan berbagai macam cara seperti yang dilakukan cewek lain selama ini.
Makanya ia sebenarnya heran mengapa tiba-tiba ditunggu seperti ini, karena seingatnya tak ada apapun lagi yang patut dibicarakan diantara mereka.
"Ah, baiklah. Terimakasih pemberitahuannya. Aku akan ke sana sekarang." Walau begitu Hani tetap memilih untuk pergi ke sana dan melemparkan seulas senyum pada si pembawa pesan.
Ia membalikkan badan dan mulai berlari menuruni tangga menuju lapangan basket itu berada.
Tak. Tak. Tak.
Hosh. Hosh.
Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya ia sampai dan mengedarkan pandangannya ke lapangan basket yang luas itu mencari seseorang yang ditunggunya.
"Kak Deva... Ada apa memanggilku?" Setelah menemukan sosoknya, Hani perlahan mendekatinya.
Sosok yang dipanggil Kak Deva oleh Hani itu membalikkan badannya menuju Hani. Di tangannya ada sebuket bunga Lily yang indah.
Ia berlutut di depan Hani dan berkata, "Hani selama ini aku telah menyukai-ah tidak lebih tepatnya jatuh cinta padamu. Maukah kau menerimaku?"
"Apa? Kak Deva pasti bercanda kan? Ini cuman latihan nembak cewek yang disukai Kak Deva aja kan?"
Hani tidak mau mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya begitu saja sekarang ini. Ia masih tak percaya bagaimana mungkin Kak Deva yang disukainya-ah yang dicintainya itu membalas perasaannya? Tidak mungkin.
"Hani, aku sedang tidak bercanda. Kau satu-satunya wanita yang mampu menarik perhatianku tapi kau tidak seperti yang lainnya yang begitu agresif mendekatiku. Aku bingung bagaimana mendekatimu karena kau selalu hanya mau berhubungan denganku jika memang ada sesuatu yang penting. Aku bahkan sampai mencari referensi sana sini agar bisa mengungkapkan perasaanku padamu hari ini. Tapi kau tidak mempercayainya? Hani apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku?"
Melihat tatapannya yang putus asa berkata seperti itu pada Hani, membuat air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa dicegah. Hani terisak di hadapan Kak Deva.
Perlahan Kak Deva mendekati Hani dan mendekapnya dengan erat. Tangannya juga mulai mengelus rambut gelombang panjang milik Hani seolah menenangkan dirinya.
"Hiks. Hiks. Aku tak percaya ini. Karena kurasa Kak Deva tidak mungkin menyukaiku. Apa yang bisa membuat Kak Deva menyukaiku? Aku cukup sadar diri. Tapi ternyata malah sekarang Kak Deva menyatakan perasaan padaku begini. Siapa yang bisa percaya? Hiks hiks"
Terisak-isak, Hani mulai mengeluarkan suaranya. Deva sendiri hanya semakin mengeratkan pelukannya membiarkan Hani mengeluarkan isi hatinya saat ini.
"Aku menyukai Kak Deva itu pasti. Tapi aku cukup sadar diri hiks hiks. Aku yang bagaikan remahan rengginang ini bagaimana bisa mencapai sosok Kak Deva yang begitu tinggi? Tapi ternyata Kak Deva malah menyatakan perasaan padaku? Bagaimana aku bisa percaya Kak sementara aku masih memandang diriku rendah dan Kakak begitu tinggi? Hiks hiks. Bagaimana kalau misalkan ini bohongan dan ternyata Kakak hanya sedang mempermainkan aku? Huaaa."
Tak sabar lagi, Kak Deva mulai berkata, "Hani. Aku senang mendengar kau ternyata balik menyukaiku. Tapi aku sekarang benar-benar serius pada apa yang kukatakan padamu. Lihatlah mataku saat ini. Apa aku berbohong padamu?"
Melihat mata Kak Deva yang begitu jelas, tak ada satu pun kebohongan di dalamnya justru membuat Hani semakin menangis.
"Eh kok malah makin nangis sih? Aduh bagaimana ini?" Kak Deva malah makin panik melihat Hani.
Hani yang melihat itu malah tertawa sambil menangis. "Hahaha, Kak Deva. Ini tangisan terharu tahu. Aku tak menyangka kalau Kak Deva seserius ini denganku. Aku sangat terharu sampai aku tak bisa lagi menahan tangisku lagi."
Mendengar penjelasan itu Kak Deva sungguh lega kemudian kembali memeluk Hani dengan erat. "Kalau begitu apakah kita sekarang sudah bisa disebut sepasang kekasih?"
"Hm, ya. Bisa saja Kak." Hani memilih untuk menikmati pelukan Kak Deva yang hangat itu.
Ah kisah baru mereka pun dimulai sejak saat itu sebagai sepasang kekasih dibawah naungan lapangan basket yang menjadi saksi bisu kejadian ini yang terjadi setelah selesai kelas terakhir.
FIN~~
Ah, lapangan basket memiliki rahasianya sendiri. Lebih sering menjadi saksi bisu dari setiap momen yang terjadi. Apakah kalian juga pernah memiliki cerita dengan lapangan basket ini? :)