Sore itu aku pergi keluar rumah, karena pusing dengan pertengkaran orang tuaku yang tiada habisnya setiap hari, aku berlari begitu saja tanpa tau arah tujuan. Padahal ini liburan yang aku nantikan setelah beberapa tahun silam, liburan ke Seoul, Korea Selatan bersama keluargaku. Tapi tetap saja, entah dirumah atau saat ini mereka tak pernah damai. Padahal aku begitu lelah mendengar pertikaian mereka. Aku tau jika kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusan bisnisnya, tanpa ada satu diantara mereka yang menemaniku. Setiap kali bertemu selalu aja ada pertikaian. Aku lelah dengan semua itu. Liburan yang aku harapkan begitu indah, mungkin kini telah sirna.
Di Kota, bukan tepatnya negara yang tak aku kenal ini aku berjalan tanpa arah tujuan. Hanya berbekal dompet yang isinya tak seberapa dan pomsel yang sengaja aku matikan. Entah mereka peduli atau tidak denganku, aku tak mengharapkan mereka datang mencariku. Hari yang kian gelap, semakin membuatku takut untuk berjalan di gang yang remang-remang. Aku ingin kembali, tapi tak tau jalan kembali karena sudah lebih dari satu jam aku berjalan. Tiba-tiba beberapa orang pria berotot mengelilingiku. Aku sengguh takut, dan berjalan mundur hingga menabrak tembok. Tangan mereka mulai mendekat, tapi tiba-tiba terdengar suara perkelahian.
'Bug! Bug! Bug!
Dengan perlahan kuberanikan diriku untuk membuka mata. Dan betapa terkejutnya aku, kelima pria berotot itu sudah terkapar di jalanan. menyisakan pria tinggi yang berpakaian serba hitam. Aku pun berterima kasih padanya. Dia hanya mengangguk dan bertanya tujuanku. Aku hanya menjawab sekenanya karena tak tau akan pergi kemana diriku ini. Ku ceritakan secara singkat alasanku berkeliaran di malam hari ini. Dia mengerti, dan menemaniku menyusuri jalan yang cukup gelap ini. Lalu ia mengajakku berkeliling menikmati indahnya kota Seoul di malam hari. Tentu saja aku takjub. Pasalnya tak ada kata sepi di sini. Setelah melewati gang tadi, kami menyusuri jalan setapak yg disediakan untuk pejalan kaki.
Lalu ia mengajaku ke tempat seperti pasar malam menurutku. Disana penuh dengan wahana-wahana yang mampu membuat setres ku hilang. Tanpa sengaja aku menarik tangannya untuk mencoba berbagai wahana di sana, dia tak menolak dan tetap berjalan bercanda ria bersama. Sejenak aku melupakan kesedihanku. Aku berkeliling hingga kedua kaki ku pegal dan kemudian kami beristirahat. Memang tak terasa hari tengah menjelang tengah malam. Ia menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang. Namun aku masih enggan. Aku takut mereka masih tetap sama.
Tapi ia tetap membujukku. Entah sebab apa aku luluh dan membuka ponselku, aku ingin mengecek dimana tempatku menginap tadi. Betapa terkejutnya aku. Banyak pesan dan telepon di Whats App ku. dan itu dari orang tua ku. Mereka mungkin khawatir denganku, akhirnya ia mengantarkanku menggunakan taxi. Aku meremas tanganku, gugup dan takut. ia yang duduk disampingku ikut menenangkanku.
Begitu turun dari taxi. Kedua orang tuaku yang tadinya telah aku kabari langsung berhambur memelukku. meminta maaf karena membuatnya khawatir. Mereka masih setia memelukku. Aku ingin berterima kasih padanya, karena telah membujukku. tpi dia tidak ada di sana? dimana dia? siapa dia? aku bahkan belum beekenalan dgn nya.