Dengan wajah masam Andromeda membereskan ranselnya. Tenda, seragam hitam-hitam, kaos lengan panjang hitam, peralatan mandi, obat-obatan pribadi, sedikit makanan ringan dan perlengkapan lainnya masuk sudah ke dalam backpack.
Hari ini Andromeda akan berangkat ke camp untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat (UKT) dari perguruan pencak silatnya. Waktu menunjukkan pukul 10.45, masih ada waktu 45 menit lagi sebelum Andromeda berangkat ke sekolah untuk berkumpul dan berangkat bersama peserta UKT lainnya. Dari sekolah, rombongan akan berangkat ke camp menggunakan bus wisata.
"Kamu nginep berapa hari Ndra?" Mama menyambangi kamar Andra, panggilan Andromeda dengan membawa thumbler berisi jus buah naga dingin kesukaannya untuk dibawa sebagai bekal.
"Besok siang juga udah pulang Mah," jawab Andra pendek sambil merapikan seragam hitam-hitam pencak silatnya.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Mama ketika melihat wajah anak perempuannya yang ditekuk seribu.
"Harusnya sekarang ini Andra udah naik ke Pangrango Mah, jadi nanti malem bisa liat hujan meteor dari sana," jawab Andra cemberut.
"Ooh, cuma itu.. Lain kali kan bisa lagi. Kayak baru kali ini aja mau naik gunung," jawab Mama enteng.
"Naik gunungnya emang bisa berkali-kali, tapi hujan meteornya itu kan jarang banget Mah,"
Andromeda menghempas nafas kesal.
"Lagian kenapa sih jadwal UKT nya mesti dimajuin, padahal Andra sama temen-temen udah ngerencanain hari ini dari lama," Andromeda menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan kesal.
"Ya jangan tanya Mama, tanya aja sama coach kamu," jawab Mama santai.
"Kapan lagi coba Andra bisa liat hujan meteor dari atas gunung, pasti cantik banget," untuk kesekian kali Andromeda membayangkan hal itu. Dua hal yang sangat disukainya, pegunungan dan angkasa.
"Tapi kan ini lebih penting sayang, katanya kamu mau jadi atlet," bujuk Mama penuh sayang.
"Ngga jadi Mah, aku mau kerja di NASA aja,"
Mama tertawa kecil mendengar jawaban Andromeda. Meski sudah duduk di bangku SMA kelas 10, tapi Andra masih saja sering berganti cita-cita. Mulai dari guru, angkasawan, atlet, peneliti, dokter hewan, dan sekarang ingin bekerja di NASA.
"Terserah kamu aja, yang penting kamu enjoy jalaninnya," jawab Mama sambil tersenyum.
Tak lama kemudian panggilan ojek online menyegerakan Andromeda bangkit dari rebahnya.
"Kamu pake ojek online? Ngga bawa motor sendiri?" tanya Mama saat melihat driver ojol sudah berdiri di depan pintu.
"Enggak Mah, kita kumpul di sekolah terus berangkat ke camp pake bus. Aku berangkat ya Mah," Andromeda berpamitan lalu mencium punggung tangan dan juga pipi Mama.
"Nanti kabar-kabari Mama ya,"
"Maaf Mah, tapi selama disana hp harus diserahin ke pelatih,"
"Oh iya Mama lupa. Kalo gitu, hati-hati ya sayang, have fun!"
"Ok Mah, see you tomorrow. Dah Mamah.."
Dengan cepat ojek online membawa Andromeda menuju sekolahnya.
======
Camp latihan, pukul 14.00
Peserta UKT yang berjumlah kurang lebih 100 orang mulai membangun tenda. Satu tenda akan dihuni satu kelompok yang berjumlah 6 orang yang dipilih secara acak dari ke-5 cabang dan ranting perguruan.
Andra bersama kelompoknya yaitu Sisilia, Keisha, Adhisti, Cindy, dan Shita dengan kompak mendirikan tenda mereka meski tidak saling mengenal sebelumnya.
"Eh eh, itu coach cakep banget siapa ya?" Sisil mengarahkan pandangannya ke seorang pelatih muda berseragam hitam-hitam bersabuk oranye di camp khusus laki-laki yang terpisah jarak sekitar 50 meter dari camp perempuan.
Kelima anggota kelompok lainnya termasuk Andromeda mengikuti arah yang ditunjuk Sisilia.
"Eh iya cakep banget, sumpah!" timpal Adhisti dan lainnya.
Kecuali Andra. Dia tampak cuek tak bergeming. Bukan tidak tertarik, tapi dia sudah tau siapa yang dimaksud.
"Coach Danu dari cabang 4," jawab Andra cuek sambil mengikat tali tenda dengan sekuat tenaganya.
"Cabang 4?? Pelatih lo donk," tanya Cindy bersemangat.
"Kenalin napa Ndra," timpal Keisha.
"Kenalan aja sendiri," jawab Andra masih cuek.
Andra memutar ingatannya tentang Danu Mahardhika, siswa kelas XII IPA-2. Pelatih yang juga kakak kelasnya di sekolah. Tanpa seorangpun yang tau, Andra sudah jatuh hati kepada seniornya itu sejak pertama kali masuk sekolah.
Danu termasuk salah satu siswa berpotensi di sekolah. Dia tampan, pintar, dan punya banyak prestasi di bidang olahraga. Namun sayangnya, Danu bukanlah orang yang mudah didekati oleh siapapun. Dia terkenal dingin, pendiam, dan tidak senang bergaul dengan banyak orang. Bahkan di sekolah dia hanya dekat dengan seorang temannya bernama Tito.
Karena sulit didekati itulah sedikit demi sedikit Andra coba menghapus perasaannya kepada Danu. Meski sampai saat ini masih tersisa sedikit, tapi Andra selalu berusaha menutupinya. Atau jika mungkin, menghilangkannya.
----
Camp latihan, pukul 23.00
Andra mengintip dari dalam tenda melalui celah pintu. Suasana di luar gelap gulita, semua peserta sudah masuk ke tenda masing-masing usai penilaian 30 menit lalu. Sekarang sudah saatnya mereka tidur dan harus kembali bangun pukul 2 pagi nanti untuk penilaian mental dan fisik.
Tapi sampai saat ini mata Andra belum juga bisa terpejam. Sejak sore tadi terlintas di pikirannya untuk menyaksikan hujan meteor di camp ini, tapi camp ini terlalu rapat tertutup pepohonan dan langit tidak leluasa terlihat. Dia butuh tempat yang lebih terbuka.
Otaknya terus saja sibuk memikirkan bagaimana caranya dia bisa kabur dari camp ini sebentar saja, pergi ke tempat lapang untuk melihat hujan meteor yang akan diperkirakan turun tengah malam ini.
Dia juga sudah bercerita kepada kelompoknya soal hujan meteor yang ingin dilihatnya itu. Beberapa temen sekelompoknya pun ingin melihatnya. Jadilah Andra, Sisilia, dan Keisha menyusun rencana untuk kabur dari camp. Mereka sudah rapi dengan alas kaki tanpa mengganti pakaian tidur. Mereka hanya menyiapkan senter dan kompas untuk mereka bawa.
"Gimana nih? Banyak pelatih di luar," Keisha berbisik di telinga Andra.
"Sssttt.. Jangan berisik. Itu coaches lg pada ngopi, kita bisa muter lewat belakang tenda," Andra memberi isyarat supaya Keisha tidak berisik.
"Ok," bisik Sisil.
"Sekarang kita keluar pelan-pelan," ucap Andra memberi instruksi.
"Ok," dengan perlahan Andra membuka resleting tenda, mereka mengendap-ngendap keluar.
Dengan segala kehati-hatian mereka, akhirnya mereka bisa keluar dari tenda dan keluar dari area camp. Mereka baru saja hendak berjalan lebih jauh saat seorang pelatih yang sedang berjaga memergoki mereka.
"Mau kemana kalian?!"
Seketika langkah mereka terhenti dan menoleh ke asal suara. Ternyata Coach Maulana sudah berada tidak jauh di belakang mereka.
"Mau.. Buang air kecil Coach," jawab Andra salah tingkah.
"Kenapa tidak lapor pengawas?!"
"Ee.. Ee.. Itu Coach.." jawab Sisil terbata.
"Kembali ke Camp!"
Dengan iringan Coach Maulana, Andra, Sisil, dan Keisha kembali ke area camp. Setelah melalui proses interogasi yang cukup panjang akhirnya mereka mendapat hukuman push up sebanyak 50x. Sedangkan Andra sebagai otak dari rencana mereka mendapat tambahan hukuman.
"Andromeda Salma Aisha! Karena kamu sudah mengakui kesalahan, maka kami memutuskan meringankan hukuman kamu!" tegas Coach Hendry.
"Kamu tidak perlu menyiapkan semua keperluan memasak dan membersihkan area camp, tapi kamu hanya perlu mencari kayu bakar untuk memasak dan membuat api unggun saat acara pengasahan mental dan fisik pagi nanti!" lanjut Coach Hendry.
Andra sedih bukan kepalang, rencananya gagal total. Ditambah lagi dengan hukuman mencari kayu bakar, di hutan, di tengah gelapnya malam. Tapi itulah resiko yang harus ditanggung karena perbuatannya. Dan Andra sangat menyadari hal itu.
"Baik Coach," jawab Andra pelan.
"Maaf Coach Hendry, Coach Maulana, malam sudah larut sepertinya berbahaya kalau Andromeda pergi mencari kayu bakar sendiri. Kalau diperbolehkan saya izin menemani, dan supaya dia tidak berusaha kabur lagi," sela Danu sesaat sebelum Andra memulai hukumannya.
"Silahkan Danu," jawab Coach Hendry.
Terakhir Danu membungkukkan badan sebagai penghormatan dan rasa terima kasih kepada Coach Hendry dan Coach Maulana.
Dengan cepat Danu menyusul Andra masuk ke tengah hutan.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Andra kesal sembari membawa beberapa ranting kayu yang sudah ditemukannya.
Sebenarnya dia bukan kesal kepada Danu, tapi pada keadaan yang dialaminya sekarang.
Danu tidak menjawab, seperti biasa.
"Ikut gue!" ajak Danu tiba-tiba.
"Ke mana?" tanya Andra penasaran.
"Udah ikut aja," paksa Danu sembari meraih pergelangan tangan Andra.
"Kemana sih?!"
"Ngga usah banyak tanya," Danu menarik paksa lengan Andra, mengajaknya jalan cepat setengah berlari.
Cahaya senter yang dibawa Danu hanya sedikit menerangi jalan di depan mereka. Andra tidak dapat melihat apapun sepanjang jalan, hanya ada gelap dan pepohohan yang menyentuh tangan dan kakinya. Dan rasanya Andra sudah jauh berlari tapi Danu tidak juga mengajaknya berhenti.
Rasa lelah Andra sudah sampai pada puncaknya saat dia bisa melihat langit dengan leluasa. Andra merebut senter yang dibawa Danu dan menerangi sekeliling. Rupanya Danu membawa Andra ke sebuah bukit yang cukup tinggi.
"Ngapain Kak Danu bawa aku ke sini?" tanya Andra setengah ketakutan, sementara Danu mulai duduk dengan tenang.
"Lo mau liat hujan meteor kan?" tanya Danu tidak terduga.
Andra kebingungan, antara heran dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Danu. Di sisi lain dia juga hampir lupa dengan keinginannya itu.
"Masih ada waktu 5 menit, lo boleh duduk di sini kalo mau," Danu menunjuk tempat disebelahnya.
Meski sungkan dan masih sedikit takut, Andra akhirnya menuruti perintah Danu. Kakinya yang lemas pun harus diistirahatkan.
Tidak lama mereka duduk, satu meteor nampak melintas di langit. Sontak saja Andra merasa senang melihatnya. Dia segera menyatukan kedua tangan dan membuat permohonan.
Danu pun memejamkan matanya dan melakukan hal yang sama. Hening tercipta diantara keduanya, mereka hanya menikmati indahnya langit malam bertabur meteor yang jatuh ke bumi.
"Udah selesai, kita balik ke camp," Danu bangun dari duduk dan mengulurkan tangannya untuk membantu Andra berdiri.
Andra menerima uluran tangan Danu lalu berdiri seraya tersenyum. Baru kali ini selama mengenal Danu, Danu bersikap baik padanya.
"Akh!" tiba-tiba saja Andra merasakan sakit di pergelangan kaki kirinya.
Danu lantas berjongkok dan mengarahkan senter ke pergelangan kaki Andra, ternyata kaki Andra terkilir akibat berlari. Selain itu juga ada beberapa luka goresan di kaki Andra, sepertinya tergores duri pepohonan yang tadi dilaluinya.
"Kaki lo keseleo," ucap Danu.
Masih dengan berjongkok, Danu menawarkan tumpangan untuk Andra di punggungnya.
"Ayo naik,"
"Naik?"
"Lo mau cepet sampe di camp ngga?" jelas Danu.
"Tapi.."
"Lo cewe pertama yang dapet tawaran ini dari gue, gue harap lo ngga nyia-nyiain kesempatan ini,"
Andra tersenyum mendengar perkataan Danu. Dia tidak menyangka Danu bisa bersikap semanis ini.
"Tapi gue berat loh," canda Andra.
"Lebih berat hukuman dari coaches kalo kita tetep disini karena lo,"
Andra kembali tersenyum dan mulai naik ke punggung Danu.
"Sini gue yang pegang senternya," pinta Andra.
Langkah tegap Danu berjalan menuruni bukit dengan penerangan dari Andra yang berada di punggungnya.
"Gue pikir, lo selama ini orangnya cuek," ucap Andra disela perjalanan mereka.
"Gue cuma ngga mau terlibat sama banyak orang,"
"Kenapa?"
"Gue takut akan bikin mereka ngga nyaman sama apa yang gue lakukan,"
"Kata nyokap gue, sedikit senyuman bisa memperbaiki banyak hal, mungkin lo cuma perlu ngelakuin itu,"
Mereka terdiam sejenak.
"Akan gue coba," jawab Danu akhirnya.
"Gue tebak.. Lo pasti suka baca buku," tanya Andra untuk mencairkan suasana.
"Bisa dibilang, buku itu temen yang paling setia,"
"Lo juga suka olahraga,"
"Bisa dibilang begitu,"
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tanpa Andra sadari, Danu sengaja memperlambat langkah kakinya.
"Ada hal lain lagi yang gue suka," ucap Dan memecah keheningan.
"Apa?"
"Merhatiin Andromeda Salma Aisha, anak kelas X IPA-1 yang suka naik gunung, dan suka juga banget sama semua hal tentang angkasa,"
Andra tersipu malu mendengar Danu menyebut namanya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat.
"Terus?" tanya Andra penasaran.
"Terus.. Gue mau kasih dia kesempatan pertama buat jadi pacar gue,"
Lagi-lagi Andra tersipu malu, beruntung saat ini mereka berada di tengah kegelapan, kalau tidak wajah Andra yang bersemu merah pasti sudah jelas terlihat.
"Lo lagi buka lowongan pacar?"
"Cuma buat nama yang dimaksud aja,"
"Kalo gitu gue juga mau kasih kesempatan pertama buat Danu Mahardhika, anak kelas XII IPA-2 yang hobi baca buku sama olahraga, untuk jadi pacar gue yang paling baik,"
"Makasih atas kesempatannya, Andromeda Salma Aisha, PACARnya Danu Mahardhika. Gue pasti akan manfaatin kesempatan itu dengan baik,"
Andra mempererat pelukannya di leher Danu, memberi semangat Danu untuk lebih cepat membawanya ke camp.
Andra dan Danu sama-sama tersenyum. Dalam hati mereka masing-masing, mereka tidak menyangka bahwa permohonan mereka saat hujan meteor beberapa menit lalu sudah terkabul malam ini juga.
Bagi mereka, hujan meteor kali ini adalah hujan meteor terindah dan terbaik yang pernah ada.
===== END =====