Kehidupan itu tidak berlangsung lama. Aku selama ini hanya tahu jika mati pasti akan bertemu dengan Tuhan tetapi setelah aku mati akibat terjatuh dari jurang, aku justru hidup kembali di dalam tubuh seorang gadis yang sudah mati.
Aku menempati tubuh seorang gadis yang sangat jahat dan kuat. Gadis bernama Natalia Starilita Rao.
Tubuhku masih lemas karena adanya luka yang sangat parah di perutku. Aku ingin sekali bangkit dan mencari tahu apa penyebab luka di tubuhku ini. Pasti Natalia memiliki musuh di sekitarnya dan aku harus lebih berwaspada.
Saat masih dalam kondisi lemas, Aku sangat terkejut saat mendapatkan kabar bahwa aku baru saja membunuh calon istri Putra Mahkota dengan menyuruh pembunuh bayaran.
"Bagaimana bisa aku membunuh calon istrinya? Mengapa aku sejahat itu?" tanyaku heran dengan apa yang telah di lakukan oleh pemilik asli tubuh yang tengah ku tempati.
Pelayanku mencoba menenangkanku. "Mohon tenang, Nona. Anda baru saja pulih, saya takut luka-luka anda menjadi semakin buruk."
Aku menghempaskan tangannya yang ingin mengobati luka di perutku. "Sudahlah, lagi aku tidak merasakan sakit sedikit pun!"
Aku hendak berdiri namun tanganku di cegah oleh pelayan.
"Lepaskan aku! kau ini tidak sopan denganku! Jangan menyentuh tanganku atau tanganmu akan ku potong!"
Mendengar itu, Pelayanku langsung melepaskan tanganku dan memundurkan langkahnya. Tentu saja dia akan takut dengan ancamanku yang sebenarnya tidak serius ku katakan.
"beritahukan kepadaku, siapa yang melukai perutku?" tanyaku sambil melirik pelayan dengan tajam.
"Hamba tidak mengenalnya. Nona di serang saat berada di Istana."
"Kalau begitu, antarkan aku ke Istana. Aku ingin bertanya secara langsung ke semua penghuni Istana!"
"Tapi Nona, Istana sedang berduka atas kematian calon istri Putra Mahkota."
"Aku tidak peduli! Lagi pula aku tidak akan mengaku kalau aku yang membunuhnya!"
Saat hendak melangkah keluar dari kamar, lagi-lagi aku di cegah. Namun, bukan lagi Pelayanku yang mencegahnya tetapi seorang pria dengan pedang di tangannya.
"Siapa kau?" tanyaku sambil menatap matanya yang sangat tajam menatapku balik.
Aku sudah pernah mati sehingga aku tidak akan takut untuk merasakan rasa sakit lagi. Aku hanya ingin mencari tahu apa saja yang pernah di lakukan pemilik asli tubuh ini dengan caraku sendiri. Aku tidak mau hanya mendengarnya sebab aku terlalu sering mendengar ucapan palsu dari teman-temanku dulu.
"Hormat saya Yang Mulia, Maafkan Nona Natalia. Dia terlalu lancang dengan anda, Nona kehilangan ingatannya," ucap Pelayanku sambil membungkuk di depan pria yang menghalangi jalanku.
Aku menyenggol tubuh Pelayanku. "Hei, untuk apa kau membungkuk?"
"Nona, dia Putra Mahkota."
Aku mengangguk pelan, akhirnya aku bisa bertemu dengan Putra Mahkota. "Jadi kau Putra Mahkota? kebetulan sekali kau datang menjengukku, aku ingin bertanya satu hal padamu."
Aku mendekati tubuhnya lalu menunjukkan luka di perutku.
"Nona! Anda!" pekik Pelayanku terkejut saat aku membuka kain penutup luka di perutku.
Ku lihat Putra Mahkota tidak berekspresi saat melihat luka di perutku. Aku tersenyum miring, "Siapa yang melukai perutku?" tanyaku tegas.
Putra Mahkota menatap mataku, entah kenapa tatapan itu terasa menyakitkan.
"Kenapa hanya menatapku? Kau juga tidak tahu siapa yang menusuk perutku?" tanyaku lagi masih menatapnya.
Aku mulai malas saat dia hanya berdiri di depanku sambil menatap mataku saja. Aku memilih melangkah melewatinya. "Tak ada gunanya juga bertemu dengan Putra Mahkota!"
Saat hendak melangkah kembali, lagi-lagi aku di cegah. Kenapa langkahku terus menerus di cegah seperti ini?! Membuatku semakin marah saja rasanya.
Tiba-tiba sebuah pedang mengarah ke lehernya. Napasku tersenggat, aku menjadi takut melihat pedang yang mengkilap tepat di samping leherku.
"Yang Mulia! Nona!" teriak Pelayanku panik.
Aku menatap lurus ke arah matanya. "Kau mau apa?" tanyaku.
"Kau membunuh calon istriku, akan ku balas dengan nyawamu!" ucapnya yang akhirnya mengeluarkan suara.
Aku tidak membunuhnya, aku tidak merasa membunuhnya. Entah kenapa aku yakin sekali bukan aku yang membunuhnya dan bukan Natalia juga.
"Bukan aku yang membunuhnya!"
"Penipu! Kau adalah penipu! aku tidak akan mendengarkanmu lagi!"
Aku tersenyum miring. "Apa kau tidak bisa melihat luka di perutku, aku terluka hari ini dan aku seharian berada di sini! Bagaimana bisa aku membunuh calon Istri itu?!"
Aku melirik ke Pelayanku. "Kau tanya saja dia! Aku tidak bertemu dengan siapapun hari ini. Aku berani bersumpah bahwa bukan aku yang membunuhnya!"
"Apa yang di katakan Nona benar, Saya dan Nona berada disini sepanjang waktu sejak Nona terluka."
Putra Mahkota tak bergeming, dia masih mengarahkan pedangnya ke leherku. Aku sangat takut tapi aku harus berani agar dapat melindungi nyawaku.
"Kau masih tidak mau mempercayaiku?" tanyaku takut-takut tanpa menatapnya.
Tiba-tiba Pedang itu menjauh dari leherku. Aku dapat kembali bernapas lega.
Namun, aku melihat ada seseorang berada di atas genting tengah mengarahkan sebuah busur ke Putra Mahkota. Aku segera menarik Putra Mahkota dan menjauhkannya. Hampir saja Putra Mahkota terluka akibat sebuah busur.
Seseorang itu hendak kabur, aku kembali busurnya laku ku lempar ke arahnya. Aku baru pertama kali memegang busur itu tapi terasa sangat tak asing hingga aku dapat mengarahkannya secara tepat hingga mengenai kakinya dan membuatnya terjatuh dari genting.
Aku menghampirinya lalu di susul oleh Putra Mahkota di belakangku. "Siapa kau?" tanyaku sambil memasang wajah marah.
"Maafkan saya! Maafkan saya!"
Putra Mahkota menarik kerah bajunya. "Siapa yang yang menyuruhmu?"
"Maafkan hamba Yang Mulia! Maafkan hamba!" ucapnya lagi sambil terus memohon.
"Katakan, Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Putra Mahkota lagi.
"Maafkan saya Yang Mulia!" ucapnya kembali.
Aku menjadi kesal mendengarnya. Aku menyingkirkan tangan Putra Mahkota yang sedang menarik kerah baju Pemanah itu hingga membuat Pemanah itu terjatuh kembali ke tanah.
"Natalia!" seru Putra Mahkota terkejut.
"Apa! Kau ini Putra Mahkota, kenapa cara bekerjamu sangat lamban?!"
"Beraninya kau!"
"Diamlah!" tegasku kepadanya.
Aku menginjak tubuh Pemanah itu, rasanya ternyata sangat menyenangkan dapat menindas seseorang. Entah kenapa, aku merasa menjadi seperti sosok Antagonis.
"Katakan padaku atau nyawamu ku hilangkan! Beritahukan siapa yang menyuruhmu?" tanyaku masih menginjak tubuhnya.
Pemanah itu sangat ketakutan setelah mendengar ucapanku. "Saya hanya Pemanah biasa yang di perintahkan untuk memanah tubuh Yang Mulia, Saya tidak ada niat untuk membunuhnya. Mohon ampuni nyawa saya," ucapnya masih memohon.
Aku tidak merasa kasihan kepadanya. Aku mengambil pedang milik Putra Mahkota. "Jika kau tak memberitahu padaku, pedang ini akan menancap di tubuhmu!"
"Jangan Nona, saya akan beritahukannya."
"Siapa?!" tanyaku sudah tak sabar.
"Yang mulai Ratu."
"Ibunda?" tanya Putra Mahkota terkejut.
Aku tersenyum miring lalu aku tancapkan pedang di tanganku ke tubuh Pemanah itu hingga mati. Akan lebih bahaya jika dia masih hidup.
"Kau lihat, bukan aku yang bermasalah denganmu. Ibumu sendiri ingin membunuhmu, bisa saja Ibumu lah yang membunuh Calon Istrimu itu!" ucapku sambil mengembalikan pedangnya.
Putra Mahkota mengepalkan tangannya. Matanya menjadi merah seperti menahan tangis.
"Apa kau sedang marah?" tanyaku penasaran.
"Tadi kau bertanya siapa yang menusuk perutmu, aku akan beritahukan!" ucapnya membuatku antusias karena aku sangat ingin tahu hal itu.
"Siapa?"
"Ibuku. Sang Ratu."
"Apa!!"
Aku kembali mengambil pedang di tangan Putra Mahkota. "Ayok ikut aku! Tunjukkan jalan menuju Istana, akan ku bunuh Ibumu itu!"
"Hei! tapi itu pedangku! Kau gunakan pedangmu sendiri!" ujar Putra Mahkota mengejarku yang sudah melangkah keluar dari kediaman.
Aku melirik tajam kearahnya. "Apa kau takut jika pedangmu yang akan menusuk tubuh Ibumu?" tanyaku menantangnya.
Putra Mahkota merebut pedangnya yang ada di tanganku sebelumnya. "Tidak! Aku tidak akan takut! Jika tubuh Ibuku harus ku tusuk menggunakan pedang ini maka aku akan menusuknya demi menegakkan kejujuran dan keadilan."
"Bicaramu terlalu tinggi! Kalau aku hanya ingin membalas dendam atas apa yang Ibumu lakukan kepadaku!"
Dengan tekad yang membara, Aku dan Putra Mahkota melangkah bersama menuju Istana. Kita berdua memporak-porandakan Istana dan membunuh siapapun yang berani menghalangi jalan kita untuk membalas dendam. Aku merasa senang dapat menjadi Antagonis di kehidupan kedua ini. Antagonis yang di dukung oleh Putra Mahkota sangat menyenangkan.
Semoga Natalia dapat melihatku membalaskan dendam kepada orang yang membunuhnya.