Vallentine di Roppongi Academy, dengan banyak hiasan pernak-pernik hati merah muda di setiap sudut ruangan, bahkan aula sekolah. Semua murid menyambutnya dengan antusias.
Ophion sudah mendapat cukup banyak hadiah cokelat pagi itu, dari para murid perempuan. Tidak hanya itu, juga ada murid laki-laki yang memberikan cokelat kepadanya.
Keito dan Cait Sith hanya duduk di kantin sekolah, memandangi murid lain yang saling bertanya, kepada siapa mereka akan memberikan cokelat.
Aizen tidak terlihat pagi ini, mungkin ia sedang sibuk karena mendapatkan banyak cokelat fikir Keito.
"Tuan Muda, anda akan memberikan cokelat kepada siapa?" Tanya Cait Sith wajahnya tersipu.
Keito menjawab datar, "Tidak ada ide, kepada siapa aku akan memberikan coklat."
...
Saat jam istirahat kedua berlangsung, dan Keito tidak ada lagi mata pelajaran yang harus diikuti lagi setelahnya. Ia berencana akan pergi menuju mini market. Sendiran tentu, tanpa Cait Sith. Karena Cait Sith izin pergi ke sesuatu tempat.
Di sebuah mini market kecil, di pinggir kota Roppongi. Keito melihat masih saja banyak hiasan hati merah muda di seluruh bangunan toko-toko.
Awalnya Keito hanya ingin berbelanja kebutuhan, tetapi saat melihat toko cokelat, ia teringat Ose, Cait Sith dan Horus. Segera ia memasuki toko cokelat.
Seorang pelayan wanita cantik dengan pakaian pelayan dan rambut merah muda pendek bergelombang menyapanya, "Selamat siang di toko cokelat kami. Kami sekarang sedang ada menu spesial. Hanya perlu menunggu beberapa menit untuk custom hadiah bentuk coklat yang ingin anda pesan. Apa anda tertarik?"
Keito merasa, itu adalah ide yang bagus. Ia lalu membuka handphonenya. sangat bersyukur ia memiliki foto Ose, Cait Sith dan Horus bersama-sama. Keito memesan cokelat berbentuk wajah ketiga transientnya.
Pelayanannya sangat cepat dan coklat itu terbungkus dengan rapih. Coklat milik Ose di bungkus warna putih dengan pita emas. Sementara milik Cait Sith, bungkusan warna hitam dengan pita merah dan Horus, di bungkus oleh warna putih pita biru tua.
Keito melihat ada cokelat isi 6 dengan harga yang cukup murah, ia pun membelinya juga. Ya, untuk ia nikmati sendiri.
Sekarang waktunya untuk pergi ke mini market.
Disana Keito membeli beberapa keperluannya. Saat ia menunggu antrian di kasir. keito melihat Aizen sedang duduk sambil memakan ramen instan.
Usai membayar, Keito bergegas menuju Aizen.
Aizen terkejut saat Keito menyapanya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Aizen.
Keito menjawab, "Membeli beberapa keperluan... Bagaimana Vallentine mu Aizen?"
Aizen tidak menjawab dan kembali memakan ramen instannya sampai habis.
Keito membeli dua soda, memberikan satu kepada Aizen dan meminumnya.
Aizen akhirnya kembali berbicara, "Bagaimana denganmu?"
"Aku? baik-baik saja." Jawab Keito.
"Bukan, Vallentinemu. Seseorang memberimu cokelat?" Tanya Aizen.
"Tidak satupun... Hehhe, aku bukan anak yang populer di sekolah." Keito terlihat malu.
"Begitu ya..." Ucap Aizen mengehela nafas.
Keito merasa ada sesuatu yang mengganjal pikiran Aizen, terlihat jelas di wajahnya.
Keito juga melihat, bahwa di bawah meja tempat duduk Aizen dan Keito, ada sebuah bungkusan yang tidak asing. Bungkusan cokelat dari toko yang sama, saat Keito sebelumnya membeli cokelat.
Keito bertanya, "Kamu, akan memberikan hadiah cokelat?"
Aizen menyadari Keito melihat bungkusan coklat yang ia beli, lalu menyembunyikannya menjelaskan, "Tidak! ini untukku sendiri." Aizen melihat juga, bungkusan yang di bawa Keito sama seperti miliknya, ia bertanya, "Kamu, apa akan memberikannya kepada seseorang?"
"Ah! ya... Ini," Keito mengangkat bungkusan semua coklat yang ia beli, memperlihatkannya kepada Aizen, "Hadiah untuk Ose, Cait Sith dan Horus."
Aizen terlihat terkejut dan wajahnya terlihat akan marah, lalu berkata dengan lantang, "Seharusnya cokelat Vallentine, diberikan untuk satu orang yang kamu cintai! kamu membuat cinta menjadi rumit!"
Keito terkejut mendengar teriakan Aizen, lalu menjelaskan, "Bukan, ini bukan soal cinta... Inikan Vallentine, hari kasih sayang. Mereka yang mendapatkan hadiah tidak seharusnya orang yang ku cintaikan... Lagi juga aku tidak memiliki hal seperti itu, belum." Keito menundukan kepalanya.
Mereka berdua kembali meminun sodanya, hanya saling terdiam cukup lama. Hingga Aizen mulai berbicara.
"Ini... Coklat yang ku beli, sebenarnya untuk ku berikan kepada, Ophion." Jelas Aizen, ia terlihat begitu malu, lalu melanjutkan, "Aku... Sudah menyukainya sejak pertama ia memanggilku sebagai transient."
"Apa dia tahu soal perasaanmu?" Tanya Keito.
Aizen menganggukan kepalanya.
Keito berucap dengan nada gembira, "Kalau begitu, berikanlah. Aku yakin Ophion akan senang."
"Tidak, dia tahu. Tetapi, dia tidak menyukaiku... Dia... Menyukai orang lain." Jelas Aizen, matanya terlihat sayu.
Keito merasa tidak enak kepada Aizen dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Tak lama, gadis-gadis murid Roppongi Academy. melewati Aizen dan Keito. Mereka mengobrol.
"Tebak, siapa di sekolah yang tidak mendapatkan cokelat?" Tanya salah satu gadis berambut pirang.
Gadis rambut cokelat panjang, dengan kunciran panda, terlihat berfikir dan menjawab dengan nada mengejek, "Aizen kan? Semua orang tidak menyukainya hahaha, setiap tahun ia tidak pernah mendapatkan cokelat di hari Vallentine. Maka dari itu ia tidak akan ada saat hari Vallentine."
Keduanya tertawa, lalu gadis berambut pirang, kembali berbicaa, "Ku rasa akan ada dua orang yang tidak mendapatkan cokelat? menurutmu bagaimana dengan anak baru itu?"
Keito merasa, bahwa mereka sedang membicarakan dirinya.
Gadis berambut cokelat menjawab, "Yah, entahlah... Dia lumayan menurutku, mungkin transientnya akan memberikan coklat kepadanya... Tapi, apa menurutmu transient miliknya, cheetah gentleman itu, terlihat mempesona?"
"Ku dengar namanya Ose ya? Ya ku fikir juga begitu." Ucap Gadis berambut pirang, tertawa kecil.
kedua gadis itu pergi dengan suara obrolan mereka yang semakin hilang dari pendengaran Aizen dan Keito.
Mengetahui soal Aizen, membuat Keito merasa sedih, sungguh. Aizen terlihat diam saja tidak bereaksi mendengar ucapan kedua gadis tadi.
Aizen mengatakan kepada Keito, "Aku akan ke toilet sebentar, jangan pergi kemana-mana."
Aizen pergi meninggalkan Keito ke toilet di mini market. Sementara, itu Keito membeli selembar kertas dan pena, ia menuliskan sesuatu, meninggalkan sekotak cokelat isi 6 yang ia beli, beserta selembar surat diatasnya, ia taruh di meja tempat ia duduk bersama Aizen sebelumnya.
Aizen kembali dan melihat Keito sudah tidak ada. Di atas meja ada sekotak cokelat dan selembar surat. Aizen membacanya, yang bertuliskan, "Maaf Aizen, aku pergi lebih dulu. Karena membutuhkan waktu menuju tempat Horus bekerja. Dan coklat ini untukmu, aku menikmati obrolan kita, kita teman kan?" Di bagian bawah kertas tertulis, "Jangan di buang! makanlah!" Aizen membacanya tersenyum kecil.
...
Saat sampai di tempat Horus bekerja, disana ada Tengu yang Keito kenal agak mesum dengan semua orang. Ia pria tua dengan pakaian polisi, bernama Hogen.
Keito melihat dari jauh, di balik semak-semak, apakah Horus berada disana atau tidak. Karena ia tidak ingin bertemu atau berpapasan dengan Hogen.
Ternyata, Horus tidak berada disana. Saat Keito akan bangkit berbalik pergi, ia menabrak seseorang. Seseorang di hadapannya adalah polisi tua, yang bernama Hogen.
"Wah, wah~ Keito-ku... Kamu datang kesini, pasti ingin menemuiku ya?" Jelas Hogen, dengan tatapan wajah mencoba menggodanya.
Keito buru-buru bangkit, lalu mengatakan, "Aku ada janji, sampai jumpa Hogen." Ia berlari menjauhi Hogen.
...
Sesampainya di gedung asrama. Keito berjalan menuju ruang kamarnya, melewati lorong. Terlihat di depan pintu, sudah ada beberapa cokelat hadiah. Ia mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Beberapa coklat, Keito tidak mengenali pemberinya. Ia melihat, Kyoma memberikan coklat dengan bentuk beruang. Dengan surat tertulis, "Aku jalan-jalan melewati stasiun dan melihat coklat ini, jadi aku membelikannya untukmu, semoga kamu menyukainya... Kyoma Mononobe."
Keito lalu memakan cokelat yang di berikan Kyoma. Mungkin lain kali, Keito harus membalas hadiahnya. Setelah itu, Keito memanggil Ose, walau anehnya Ose tidak datang. Begitu juga Cait Sith. Bahkan Horus. Keito merasa mungkin ketiganya sedang sibuk merayakan Vallentine mereka.
Saat malam, handphone Keito berdering. Ose meneleponnya, dan memintanya ke aula Roppongi Academy sekarang juga.
Sesampainya disana. Keito melihat Ose dewasa, Cait Sith dan Horus. Membawa cokelat raksa dengan bentuk dirinya versi chibi.
Ose dewasa, mengatakan, "Selamat Vallentine Bos, Pasti bos begitu terharu melihat cokelat raksasa ini. Aku yang membuatnya... Ketahuilah, aku memang memiliki banyak bakat. Terutama seni."
Cait Sith melayang menghajar wajah Ose. Lalu berkata, "Ini Ideku Tuan Muda! Nyaaaan!"
Horus mengatakan dengan malu, "Se... Selamat Vallentine... Tuan Muda."
Keito merasa sangat senang. Tetapi, ia segera berlari menuju kamar asramanya, meminta ketiga transientnya menunggu.
Saat kembali lagi ke Aula Roppongi Academy. Keito memberikan cokelat ke masing-masing transientnya.
Saat membukanya, Ose dewasa menatap, cokelat berbentuk wajahnya, mengatakan, "Bos... Aku tidak bisa memakan ini, aku akan menyimpannya."
"Hei! Jangan!!! Itu tidak bertahan lama, makanlah Ose... Ini... Hmm... Ya, perintah!" Ucap Keito.
Ose dewasa segera memakannya dengan tersipu-sipu. Jika Keito tidak menyuruhnya memakan cokelat yang diberikannya. Ose mungkin akan mengawetkan cokelat itu dengan resin.
Cait Sith dan Horus juga sudah memakan cokelat pemberian Keito. Sekarang Keito menatap cokelat raksasa yang di hadiahkan kepadanya dari Ose, Cait Sith dan Horus, berkata, "Jadi... Bagaimana aku dapat menghabiskan ini semua..."
Selesai.