Hari ini genap satu minggu Siren masuk di SMA KATULISTIWA. Ia merupakan gadis yang terlahir dari kalangan orang kaya.
Dia pindah sekolah karena ia harus tinggal bersama nenek selama orang tuanya di luar negri. Ini lebih baik dari pada sebelumnya, dia biasanya hanya akan tinggal bersama pelayan di rumah besarnya.
Setelah satu minggu dia pindah, dia mulai memiliki banyak teman karena dia adalah orang yang humble dan pandai bergaul.
Dalam waktu yang singkat itu, dia berhasil membuat cowok sekolah heboh membicarakannya, karena perawakan dan tubuhnya.
Berbeda dengan mereka yang kagum, Mark justru enggan mencari tau atau antusias membicarakannya.
Mark adalah anak dari keluarga mafia ternama di kota itu. Ia di besarkan dengan pertumpahan darah dan dan peperangan antar geng. Sifatnya yang dingin dan kasar, membuat ia di takuti di sekolah, meskipun wajah tampannya itu membuat banyak perempuan yang terlena olehnya.
Mereka berdua memiliki sifat yang bertolak belakang, dan itu yang membuat mereka selalu bertengkar saat bertemu. Mereka sering memperdebatkan banyak Hal.
"Maaf ya gue gak sengaja." Siren meminta maaf karena ia menabrak seseorang saat terburu-buru, itu juga membuat buku yang ia bawa berantakan.
"Lo lagi?" Mark menatap perempuan yang menabraknya.
Siren tidak tau jika yang ia tabrak adalah Mark, seharusnya ia tidak maaf pada lelaki pemarah itu. Siren segera merapikan bukunya yang berceceran karena malas berdebat, ia ingin segera pergi dari hadapan lelaki ini.
"Eehh mau kemana?" Mark menarik tangan Siren yang hendak pergi.
"Gue udah minta maaf." Jawabnya ketus.
"Lo ngelawan gue terus ya." Mark menempelkan tubuh Siren ke dinding.
"Apasih Mark? Minggir ah." Siren berusaha menyingkirkan tangan Mark yang menghalangi tubuhnya.
"Eh cewek cerewet, lo tuh harus tunduk sama gue."
"Lo pikir gue takut sama lo? Minggir lo, dasar cowok gila." Siren mengumpat Mark dengan kesal.
"Lo beneran cerewet banget ya jadi cewek. Tu mulut harus di sumpel."
"Coba aja kalo bisa."
Tiba-tiba Mark menempelkan bibirnya ke bibir Siren, entah kenapa ia melakukan hal ini. Tubuhnya seperti bergerak sendiri saat menghadapi gadis ini.
Siren membulatkan matanya dan hanya mematung saking kagetnya." Marrkkkk." Siren mendorong tubuh mark.
"Kenapa lo ngambil first kiss gue." Siren memukul Mark dengan buku di tangannya.
"Maaf gue gak sengaja."
"Enak banget lo ya bilang gak sengaja, iiihhh dasar mesum." Siren terus memukuli Mark.
"Lebay banget sih lo, lo juga pasti seneng kan di cium gue. Dasar cerewet."
"Iihhh gue jijik banget sama lo. Gue sumpahin ya lo berjodoh sama cewek yang cerewet." Siren pergi meninggalkan Mark di sana.
"Eehh gue juga sumpahin lo berjodoh sama cowok mesum." Teriak Mark.
Siren yang mendengar perkataan Mark mendengus kesal. Ini adalah hari tersial baginya, niatnya ke perpustakaan malah bertemu dengan laki-laki keparat itu.
Siren duduk di bangku taman sembari meratapi nasibnya, hilang sudah ciuman pertamanya di renggut lelaki itu.
"Hiks hiks, maafin gue ya taehyung. Gue gak bisa jaga diri gue buat lo." Siren menatap wallpaper hpnya yang bergambar V bts itu.
"Gue selama ini jaga diri buat lo, maaf ya." Siren memeluk hpnya seakan memeluk suaminya saja.
"Eh pe'ak, lo kenapa?" Dinda menghampiri sahabatnya.
"Gue lagi sedih. Ciuman pertama gue udah ilang." Curhatnya dengan tampang memelas.
"Haah seriusan? Lo kalo cuman nyium V di layar gak bakal ilang goblok." Ujar Dinda yang mengetahui seberapa cintanya ia apa idolnya.
"Seharusnya gitu Din, harusnya si tetet(Taehyung) yang dapet ciuman gue. Paling nggak si Kuki (Jungkook) atau Ncim(Jimin) bisa juga bang Agus(Suga). Tapi ini malah si Mark." Rengek Siren putus asa.
"Haah? Mark yang nyium lo?" Saking kagetnya, Dinda malah berteriak.
"Jangan kenceng kenceng anjimm, ntar ketahuan mereka." Siren menatap di sekelilingnya yang ramai.
"Ya sorry gue kaget. Lo sih sering ngelawan dia, liat sendiri kan akibatnya."
"Ya tapi gak harus cium gue juga kan Din?"
"Iya juga sih, kenapa Mark malah cium lo? Biasanya kalo ada yang bantah dia, langsung di hajar. Nah lo, malah di cium. Apa dia suka sama lo?" Dinda mulai mengembangkan pikirannya.
"Dihh, mending gue di pukul dari pada di cium dia. Dia emang suka banget nyiksa gue."
"Ya buktinya, selama ini lo gak di apa-apain meskipun sering ngelawan dia."
"Aahh udahlah gue mau balik, cape gue." Siren beranjak dari duduknya meninggalkan Dinda.
"Dih, ngambek tu anak."
Siren malah semakin frustasi dengan perkataan Dinda, sahabatnya itu malah mengatakan bahwa Mark mencintainya.
Siren memilih pulang, ia tidak mau bertemu Mark lagi. Bisa darah tinggi dia jika bersama lelaki itu.
Ia segera melangkahkan kakinya ke luar gerbang menunggu taxi.
Ia terus memikirkan ciumannya sejak tadi, perasaannya terasa aneh saat mengingat kejadian itu. Seperti ada kebahagiaan kecil di hatinya.
"Pak berhenti di sini dulu ya, saya mau beli sesuatu." Ucap Siren pada supir taxi.
Sang supir langsung menghentikan mobilnya, Siren keluar untuk membeli sesuatu. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan sekolompok laki-laki yang terlihat seperti preman.
"Kita serang dia nanti malam. Menuruk info, Mark akan pergi ke taman Calfor sendirian nanti malem." Uajr lelaki bertubuh kekar dengan rambut ikal gondrong itu.
"Kita udah siapin rencana, Mark Vandra bakalan habis malam ini." Mereka berlima tertawa.
Siren segera masuk ke dalam supermarket itu setelah mendengar perbincangan mereka.
Mark Vandra?
Dia adalah Mark yang tadi menciumnya, kenapa mereka akan menyerang Mark?
"Gue gak punya nomer Mark lagi, duhhh gue juga gak tau alamatnya. Gimana kalo dia kenapa-kenapa?" Siren mulai khawatir pada Mark, ia sendiri tidak tau kalau Mark adalah anak seorang mafia.
Setelah selesai belanja, ia segera pulang.
Ia masih memikirkan masalah Mark.
"Aahh bodo amat. Terserah dia mau di apain, bukan urusan gue." Siren merebahkan tubuhnya di kasur setelah selesai mandi.
"Halo, siapa?" Siren mengangkat telfon dari nomer baru.
"Gue kangen." Ucap suara lelaki dari balik telponnya.
"Hah siapa?" Siren mulai kebingungan, ia tidak punya pacar. Siapa lelaki yang akan merindukannya?
"Lo lagi jauhi gue?" Ucapnya mengabaikan perkataan Siren.
"Mark? Lo Mark?" Siren mulai mengenali suara itu.
"Jangan jauhin gue." Ucap lelaki itu, tapi kemudian hpnya terlempar karena di tendang sesorang.
"Mark? Lo kenapa?" Siren mulai panik, ia seperti mendengar suara pertengkaran di sana.
Dengan cepat ia meraih jaketnya dan mengemudikan mobil sendiri.
Ia sangat terburu-buru untuk segera sampai di tempat itu.
Berulangkali ia mencoba menghubungi nomer Mark tapi tidak aktif.
"Mark, Maaaarrkk." Teriak Siren mencari keberadaan lelaki itu.
Ia sedikit bingung, taman ini sangat sepi dan hanya di hiasi beberapa lampu.
Saat dirinya mendengar suara keributan, ia segera berlari ke sana.
"Mark." Panggil Siren yang melihat Mark di kepung banyak sosok bertubuh kekar, di antara mereka ada segorombolan orang yang ia lihat saat belanja tadi.
Mereka menghentikan perkelahian mereka melihat kedatangan Siren.
Siren berlari menerobos segerombolan orang-orang itu dan memeluk Mark. "Mark, lo gak papa kan?" Siren menyentuh wajah Mark dengan khawatir, syukurlah lelaki itu tidak terluka.
"Lo ngapain ke sini?" Mark memandang gadis bertubuh mungil yang tadi memeluknya.
"Hajar dia." Perintah salah satu dari komplotan itu.
Mark langsung mendorong Siren keluar dari kepungan itu, ia tidak mau Siren terluka.
Mereka bertarung habis habisan. Sejauh ini, belum ada yang berhasil menyentuh Mark meskipun ia seorang diri.
Siren segera mengambil ponselnya dan menelfon kantor polisi. "Halo pak, cepat ke taman Calfor. Ia, di sini sedang terjadi keributan."
"Hey, ngapain lo." Salah satu dari mereka menghampiri Siren dan merampas hpnya kemudian melempar ke tanah.
"Anjim lo ngelempar hp gue." Siren melempari orang itu dengan batu besar di dekatnya.
"Rasain, makanya jangan macem-macem." Siren segera meraih hpnya yang tergeletak di rumput.
"Aduhh tetet maafin gue, lo pasti sakit karena di lempar." Lagi lagi siren berbicara dengan wallpaper hpnya.
Tiba-tiba dua orang memegangi tangan Siren." Ehh, lepasih gue." Teriak Siren.
Mendengar teriakan Siren, Mark langsung berhenti dan melihat ke arah Siren yang tengah ketakutan.
Melihat Mark yang lengah, mereka langsung menghantam Mark dari belakang.
"Marrkk." Teriak Siren melihat pria itu di pukul.
"Pegang dia." Mereka memegangi tubuh Mark." Kalo lo berani ngelawan, cewek lo bakalan mati." Ucapnya seraya menunjuk Siren.
Mereka menghajar Mark habis-habisan sampai babak belur.
"Maaarkk." Teriak Siren menangis, ia tidak tahan melihat pria itu di hajar.
Mark malah tersenyum melihat Siren menangis, ini pertama kalinya ada seseorang yang mengkhawatirkan dirinya.
Niuuuuuu
Niuuuuu
Niuuuuuu
Suara mobil polisi mengagetkan mereka, komplotan itu kaget.
"Cabut, lepasin mereka." Ujar seseorang memerintahkan komplotannya.
Mereka melepas Siren dan Mark. Karena tidak bisa menopang tubuhnya, Mark terjatuh.
"Markk." Siren berlari menghampiri Mark dan memeluknya.
"Hikss hiks, Markk." Siren terus menangis melihat lebam dan luka di pelipis Mark.
"Cengen banget lo." Ujar Mark masih bisa tertawa.
"Ihh, lo udah begini masih ngesselin."
"Pak Mark? Apa kita langsung ke rumah sakit?" Dua polisi datang menghampiri mereka.
"Gak usah, kalian pergi aja." Perintah Mark pada mereka.
Mendengar perintah Mark, mereka langsung pergi tidak berani membantah.
"Loh, loh, kok pergi. Ini gimana?" Siren semakin bingung.
"Gue gak papa, udah biasa." Ucap Mark menyeka darah yang mengalir di pelipisnya.
"Gak papa gimana? Lo luka begini."
"Lo bawel banget. Lagian, harusnya lo gak kesini bahaya."
"Kok gue? Harusnya lo yang kesini biar gue gak khawatir."
"Lo khawatir sama gue?"
"Gimana gue gak khawtir kalo kondisi lo begi...."
Belum sempat Siren menuntaskan kalimatnya, Mark sudah lebih dulu mencium bibirnya.
Mark melakukannya dengan Lembut dan menyesap perlahan bibir itu.
Siren merasa kaget, tapi dia sama sekali tidak bisa menolak hal itu. Darahnya seperti mengalir cepat dan tubuhnya menghangat.
Dia menyukainya.
Mark melepas ciumannya dan mengelus wajah Siren.
"Jadi cewek gue." Ucapnya spontan.
"Haaah?" Siren mengerjapkan matanya berulangkali.
"Hah hoh doang lo."
"Ihhh ya gue kagetlah." Siren menepis tangan Mark dari wajahnya.
"Gak usah sok kaget, tinggal terima aja kenapa sih."
"Ya gak bisa gitu dong Mark, setidaknya kita harus kencan baru lo nyatain perasaan. Ini, malah abis berantem malah nembak gue."
"Anggap aja ini kencan, dan Gue gak butuh jawaban lo, intinya lo udah jadi cewek gue." Mark melirik jam tangannya, ini sudah jam 11 malam.
Siren mendengus kedal dengan wajah cemberut, lelaki itu memang seenaknya memperlakukan dirinya.
"Liat ke atas." Mark mendongakkan wajah Siren.
Mata Siren berbinar melihat pemandangan di langit, begitu banyak meteor jatuh.
"Mark buruan lo buat permintaan." Ucap Siren dengan semangat, ia tidak pernah melihat langit se indah ini.
"Gue minta lo di samping gue selamanya." Mark menatap Siren dengan tulus, gadia kecil ini berhasil membuat hatinya luluh dan selalu memikirkan dirinya.
Siren menatap wajah Mark, tidak ada perasaan yang lebih indah dari hal ini.
Ia melihat hujan meteor, dan mendapatkan seseorang di waktu yang bersamaan. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu.
Mark menggenggam tangan Siren dan meraih cekuknya mendekatkan wajahnya.
Mark kembali mel**umat bibir Siren. Kali ini Siren membalasnya dengan seidkit kaku, mereka berdua hanyut dalam suasana hati mereka sendiri.
Di bawah langit yang di hujani, mereka berdua saling menyalurkan perasaan satu sama lain.
"Aku mencintaimu." Bisik Mark di telinga Siren sebelum akhirnya melanjutkan ciumannya.
.
.
.
.
.
AUTHOR NIAT BANGET NULISNYA.
HARAP LIKE KALO UDAH BACA, KIMEN JUGA BISA.