Namaku Alika, seorang siswi SMA kelas 11 MIPA-2. Tidak ada yang spesial dari diriku. Hanya gadis berparas rata-rata yang berkemampuan biasa juga.
Yah, walau beberapa temanku mengatakan kalau aku manis.
"Alika, mau kuantar pulang atau tidak? Ini sudah malam bahaya kalau kau pulang sendiri," tawar Rendi, salah satu anggota OSIS sekaligus ketua kelas di kelasku.
Aku menengok langit yang sudah gelap. Gara-gara rapat kami jadi pulang terlambat.
Aku menggeleng menolak, toh rumahku tidak jauh dari sekolah. "Tidak perlu, Ren. Rumahku cukup dekat dari sekolah, tapi tetap berlainan arah dari rumahmu, jadi tidak perlu mengantarku. Itu malah akan merepotkanmu," kataku sembari tersenyum tipis.
"Kalau begitu hati-hati di jalan, Alika," kata Rendi lalu beranjak pergi.
Dia memang sangat baik dan perhatian.
Aku menggendong tas sekolahku lalu keluar dari ruang OSIS. Aku bersenandung pelan sembari melangkahkan kaki meninggalkan sekolah.
'Ini sudah malam sebaiknya aku lewat jalan pintas saja,' batinku.
Akan ada gang kecil yang memperpendek jarak menuju rumahku. Lebih baik lewat sana saja agar mempersingkat waktu.
Krakk
Aku terkesiap, segera menoleh ke belakang. Namun, tidak ada satu pun orang yang ada disana.
Apakah ... Apakah penguntit itu lagi?
Aku panik, buru-buru berlari secepat yang aku bisa.
Beberapa hari ini aku merasa seseorang terus mengawasiku. Saat di sekolah maupun di rumah. Bahkan saat aku tertidur, aku merasa ada seseorang yang mengecup bibirku.
Aku ketakutan, tapi tidak berani mengatakannya kepada siapa pun.
Akhirnya aku melihat gang dekat rumahku. Aku mempercepat lariku sembari menoleh ke belakang, seorang lelaki berhodie hitam mengejarku dari belakang.
Brakk
Aku tanpa sadar menabrak seseorang karena tidak memperhatikan jalan.
Sekelompok pria berbadan besar di depanku menyeringai. Salah satu pria yang sepertinya pemimpin mereka menelisikku dari atas hingga bawah.
"Wah, gadis kecil tidak baik berkeliaran di tempat sepi ketika malam. Bagaimana kalau kau menemani saya saja?"
Sial! Bagaimana bisa aku lupa kalau ada sekelompok preman yang ada di gang ini ketika malam?!
Dia semakin mendekat, aku mencoba berlari kabur, namun dia mencekap pergelangan tanganku.
Aku memejamkan mata.
Siapapun tolong aku!!
Slash
"Argh!"
Bau anyir darah tercium oleh indra penciumanku. Aku merasakan wajahku terciprat darah dan cekalan tangan preman itu lepas dengan sendirinya.
Aku perlahan membuka mata. Seorang lelaki berhodie hitam berdiri di depanku. Tangannya memegang pisau tajam yang berlumuran darah, sementara preman yang tadi mencekalku bersimbah darah dengan leher dan tangan yang terpotong.
"Kau beraninya...,"
Sebelum preman yang lain menyelesaikan ucapannya, lelaki itu berlari ke arah mereka.
Dia dengan lihai memainkan pisaunya dan menghindari serangan mereka. Tujuannya bukan untuk melumpuhkan mereka, karena serangannya selalu berada di area leher dan dada kiri.
Dia ingin membunuh mereka.
Satu persatu dari mereka tumbang ke tanah dan mati. Hanya 3 menit keempat preman itu mati menyusul preman yang sebelumnya mencekalku.
Lelaki berhodie hitam itu berbalik ke belakang.
Aku terkejut melihat wajah seseorang yang kukenal di balik tudung hodie yang tersingkap itu.
Kakiku melemas sebelum akhirnya tubuhku luruh ke tanah.
Lelaki itu mendekat dengan smirk kecil di wajah tampan itu.
Dia tersenyum namun tubuhku malah merasa merinding.
Dia berjongkok, menyamakan tinggi kami.
"Bukankah kamu seharusnya berterima kasih, Sayang," kata lelaki itu.
"T-terima kasih," kataku gagap.
"Apakah kau hanya akan berterima kasih tanpa memberiku hadiah?" Lelaki itu semakin mendekatkatkan wajahnya hingga dahi kami bersentuhan.
"K-kau mau apa, Ren?"
Ya, dia Rendi! Ketua kelas yang kukira baik dan perhatian.
"Aku mau kamu, Alika,"