Aku membuka mataku perlahan. Hal yang pertama kurasakan adalah silau membuatku kembali mengerjapkan mata demi menyesuaikan dengan cahaya yang ada.
Di saat itu juga aku mendengar suara-suara yang berteriak memanggil dokter dan langkah kaki yang berlari menjauh.
Aku sendiri masih terdiam di tempat tanpa menggerakkan bagian tubuhku yang lainnya selain mata.
Apa yang kulihat dan kurasakan? Sepertinya badanku remuk, dengan berbagai selang dan alat masih menempel padaku.
Aku terdiam memikirkan hal terakhir yang terjadi sebelum aku terbangun dalam keadaan seperti ini. Tapi tidak satu pun ingatan yang muncul dalam kepalaku.
Aku mengernyit heran. Pada saat yang bersamaan terdengar suara banyak langkah kaki yang mendekat dengab cepat.
Tak lama kemudian, kulihat diantaranya orang-orang yang berpakaian dokter masuk menghampiriku juga para suster. Mereka mulai mengecek seluruh tubuhku, memastikan setiap tanda vital tak ada masalah apapun.
Setelah itu mereka mulai mencoba berbicara padaku.
"Nona, apa kau bisa mendengar kami?"
Mungkin mereka melihat aku kesusah untuk menggerakkan mulutku karena akhirnya mereka berkata, "Jika ya tolong kedipkan saja matamu."
Akhirnya aku pun mengedipkan mataku. Selanjutnya ia menanyakan terus pertanyaan-pertanyaan sejenisnya yang menyangkut saraf dan sebagainya.
Setelah selesai mereka pamit keluar dan menginstruksikan setiap anggota keluarga untuk tidak menggangguku terlebih dahulu sampai aku lebih baik lagi.
Beberapa hari kemudian aku mulai pulih dengan cepat, walaupun masih memerlukan bantuan orang lain untuk bergerak seperti duduk dan sebagainya.
Tetapi setidaknya tangan dan kakiku sudah bisa digerakkan pelan-pelan dan mulutku sudah bisa bersuara juga digunakan untuk makan walau masih bubur dan makanan lembek lainnya.
Selama beberapa hari itu juga aku hanya ditemani perawat, tak ada satupun yang datang menemuiku. Saat aku sadar pun waktu ketika ada perawat yang sengaja disewa keluargaku datang untuk mengecek keadaanku makanya langsung bisa memanggil dokter dan sebagainya.
Namun sekarang mereka tak lagi menampakkan batang hidungnya.
"Nona, bagaimana keadaan anda hari ini?" Perawat yang bertugas mengecekku pagi ini mulai menanyakan keadaanku.
"Sudah lebih baik, kak. Tapi mengapa keluargaku tak ada yang datang?" jawabku yang disertai dengan menanyakan hal yang menggelitik hatiku.
Mengingat rasanya dokter pernah mengatakan ada anggota keluarga yang selalu menungguku.
"Mungkin karena dokter masih melarang untuk mengunjungi Nona, karena keadaan nona saat ini masih rentan. Lebih baik distabilkan terlebih dahulu." Si kakak perawat itu menjawab dengan jawaban paling logis.
Aku hanya menganggukkan kepala saja. "Baiklah terimakasih, kak."
"Sama-sama, Nona."
Setelah itu, kakak perawat pun pergi dan tinggalah aku sendiri di ruang putih ini, kembali memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padaku hingga aku bisa seperti ini.
Tak terasa waktu terus berlalu hingga matahari pun tepat berada di atas kepala. Saat itu, aku sedang asyik melamun dikagetkan oleh suara pintu yang dibuka disusul dengan jeritan.
"Anakku, akhirnya aku bisa mengunjungimu juga. Huhu."
Seorang wanita paruh baya berlari masuk menghampiriku diikuti dengan lelaki paruh baya juga dibelakangnya.
Aku menatap mereka heran, "Kamu, siapa?"
Sesuatu yang tak aneh menurutku. Karena seingatku, aku adalah yatim piatu yang tinggal di panti asuhan, kemudian tiba-tiba dipanggil anak dan dipeluk erat oleh sepasang pasangan paruh baya ini? Semesta jangan bercanda padaku.
Mereka shock mendengarku yang bertanya mereka siapa? Dan langsung memanggil dokter, menanyakan apa yang terjadi padaku.
Saat itu aku baru menyadari aku sepertinya mengalami amnesia parsial. Karena aku sendiri tidak mengingat mengapa aku bisa sampai disini dan dalam kondisi seperti ini.
Mereka menangis mendengar penjelasan dokter dan berulang kali meminta maaf padaku.
Menurut penjelasan mereka, mereka akhirnya menemukan aku yang ada di panti asuhan sekitar 2 tahun lalu.
Aku adalah anak kandung mereka yang hilang di rumah sakit 1 minggu setelah kelahiranku akibat adanya kejadian tak terduga di rumah sakit tersebut dan mengakibatkan kekacauan.
Aku juga akhirnya dibawa oleh mereka ke rumah mereka dan disayang layaknya seorang putri raja.
Sebulan lalu mereka berniat menjodohkan aku dengan anak teman mereka, walau aku sudah menolak dan memberitahu mereka bahwa calon yang dipilihkan itu tak pantas untukku, mereka tetap bersikeras melanjutkannya.
Akhirnya mereka baru menyadari kebenarannya saat kecelakaan itu terjadi.
Saat itu aku dipanggil untuk membicarakan tentang acara pernikahan kami. Kami berbicara tak begitu lama mungkin hanya sekitar setengah jam lalu aku pun pulang dengan mobilku.
Namun ternyata saat pulang, rem mobil yang kubawa telah digunting dan di jalan ada beberapa mobil yang mengejarku hingga aku menabrak pembatas dan hampir terjun ke jurang.
Yang membuat lukaku parah adalah aku terlempar dan berguling-guling di jalan bebatuan sejauh 10 meter.
Suatu keajaiban aku masih dapat diselamatkan meski dalam keadaan koma selama hampir sebulan ini.
Selama itu pula, mereka menyelidiki bahwa hal ini dilakukan oleh calon yang mereka pilih karena ia tak menerima rencana pernikahan denganku tapi tak ada yang mau mendengar penolakkannya.
Akhirnya demi bisa menikahi kekasih yang dicintainya ia malah memilih untuk mencelakaiku seperti ini.
Tentu saja orangtuaku membawa hal ini ke ranah hukum dan diselesaikan oleh mereka yang berwajib.
Sementara aku masih berada di rumah sakit ini, dan akhirnya mereka mendengar aku sadar beberapa hari lalu, tetapi dokter tidak mengijinkannya.
Mereka menjelaskan sambil menangis dan selalu diselingi permintaan maaf padaku karena tidak mempercayaiku saat itu hingga aku berakhir seperti ini.
Aku menghela napas berat. "Baiklah ibu ayah, kalau memang benar kalian orang tuaku, tak apa kupanggil kalian begitu kan?"
Dengan mata tak percaya dan air mata yang masih mengalir, ibu membalas "Tentu tak apa nak. Kau memang selalu memanggil kami seperti ini."
"Kalau begitu, ayah ibu. Sudahlah semua sudah terjadi juga. Aku tak mengharapkan apapun lagi. Sekarang aku hanya ingin meminta kalian benar-benar mendampingiku hingga sembuh. Maafkan aku yang tak bisa memeluk kalian, karena sungguh aku belum bisa melakukan itu."
Selesai perkataan itu terucap dari bibirku kurasakan ibu memelukku dengan erat. "Anakku yang malang, iya nak. Kami akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhanmu kami tak akan memaksamu lagi untuk segera menikah dan sebagainya. Kami tak ingin kehilangan dirimu lagi nak. Huhuhu"
Dan kurasakan air mata ibu jatuh membasahi pundakku. Ayah yang melihat itu perlahan mendekat ke arah kami dan memeluk kami berdua.
"Oh harta berhargaku hanyalah kalian. Maafkan ayah juga nak. Terimakasih tidak mendendam pada kami yang bodoh ini. Hiks hiks."
"Ayolah yah. Kau juga jangan menangis seperti ibu. Aku sudah bilang, aku tak apa. Aku lebih baik setiap detiknya. Apalagi melihat kalian mengunjungiku seperti ini."
"Ya, mari kita membangun kembali kebahagiaan kita bersama," ujar ayah pada akhirnya seraya mengelus kepalaku dengan kasih sayang.
Dan mulai saat itu mereka terus berada di sampingku dan mendukung setiap apa yang kulakukan setelah aku berhasil sembuh meski memerlukan waktu lumayan lama mengingat kondisiku yang sangat parah itu.
Meski ingatanku belum kembali, setidaknya aku bisa membuat kembali kenanganku bersama mereka karena hatiku tetap bisa merasakan keakraban pada mereka.
FIN~~
A/N : Terkadang ketika kita terlalu keras kepada anak, kita melupakan bahwa sebenarnya anak berhak atas pilihannya sendiri dan itulah cara dia belajar bertanggung jawab. Kita mengesampingkan perasaan anak yang mungkin tidak bahagia atas apa yang kita kehendaki sebagai orang tuanya. Padahal anak juga tahu apa yang baik dan benar, tetapi kita tetap saja memaksanya sampai akhirnya tanpa sadar justru kita sendirilah yang menghancurkan dirinya. Sebenarnya sepenggal kisah ini memang fiksi yang didasarkan pada protesku pada banyaknya orang tua yang melupakan hak anak dan sangat senang mengatur kehidupan anaknya. Semoga bisa menyadarkan beberapa diantara kita yang tanpa sengaja melakukan ini pada anak kita ya. Tanpa mengurangi dan bermaksud apa-apa, selamat menikmati sepenggal kisah ini :)
See you~~