"Tisya.. " sang ibu memanggilnya. Karena tidak ada jawaban, wanita berumur 40 tahun itu melangkah menuju kamar putri sulung nya lalu membuka pintu kamar tersebut.
Dilihatnya "Tisya" sedang berada di atas kasur, duduk membelakangi pintu, dan sibuk dengan protolan beberapa bagian kerangka teropong, menyatukannya dengan lem khusus.
Sang ibu prihatin melihat pemandangan itu, dengan lesu dia berucap, "Tisya... udah malam nak, ayo makan malam dulu, nanti keburu dingin sayurnya sayang. "
Iya.. sebentar lagi bu, Tisya akan makan. " jawab gadis remaja yang masih duduk di kelas lX.
Sang ibu tidak berani berkomentar lagi, sebab wanita yang menjadi "single parent" itu tau watak putri sulung nya dan juga merasa tak berdaya. Dengan berat hati, wanita bernama Aisyah itu menutup pintu kamar putri pertama nya, dan melangkah dengan pikiran yang sedih dan bingung.
" Darimana aku dapatkan uang untuk mengganti teropong itu dengan yang baru? " bathin Aisyah sambil berlalu meninggal kan kamar anaknya.
******
Di simpannya teropong dalam kotak, lalu diletakkan benda itu ke dalam almari khusus menyimpan buku di kamarnya.
Tisya melangkah keluar dari kamar dengan sudah berpakaian seragam rapi ,menuju meja makan.
" Tatak.. " sapa suara imut dari anak yang masih berusia 3 tahun. Dialah adik Tisya, namanya Tessy.
Tisya tersenyum simpul, sembari manarik kursi, lalu duduk, dan kemudian mengambil piring untuk menempatkan nasi goreng yang sudah di hidangkan di atas meja. Di sebelah nya ada 2 iris telur dadar yang tentunya sang ibu siapkan.
" Nanti kamu pulang jam berapa Nak? " tanya Aisya kepada Tisya, putri pertamanya sembari tangan kanannya sibuk menyuapi Tessy.
" Kayaknya agak sorean bu, Tisya ada jadwal belajar kelompok di rumah Reni. " sahut Tisya dengan kini mulai menyendok nasi goreng itu ke mulutnya.
" Oh gitu, hati hati ya Nak, dan langsung pulang ya , ibu banyak pekerjaan ,harus menyetrika pakaian pelanggan yang dibawa kemarin. " pesan Aisyah kepada putri sulung nya.
" InsyaAllah ibu" Jawab Tisya sambil mengunyah nasi goreng tersebut.
Begitulah kehidupan Aisyah dengan kedua putri nya, semenjak di tinggal sang suami satu tahun yang lalu. Dengan membuka usaha loundry demi mempertahankan hidup mereka.
***
Tisya baru saja menggayuh sepedanya, dikala dirinya melihat seorang anak perempuan jatuh dari motor yang dikendarai nya sendiri.
Tisya berhenti dan memarkirkan sepedanya, lalu menghampiri anak perempuan yang sebaya dengannya.
" Kamu tidak apa apa kan? " Tanya Tisya dengan panik, karena anak perempuan itu kesulitan bangun dengan kondisi tergeletak di jalan.
Tisya mengulurkan tangan, mencoba membantu nya. Tetapi tindakannya di tolak oleh anak perempuan yang terjatuh.
" Tidak usah,.. aku bisa bangun sendiri kok" ucap anak perempuan itu.
" Oh gitu.. beneran kamu bisa bangun sendiri? " jawab Tisya meragukannya.
Anak perempuan itu segera membuka matanya lalu menghela nafas panjang, kemudian bangun lalu duduk. Kedua sikunya memar juga sedikit berdarah. Tatapi anak perempuan itu terlihat kuat dan baik baik saja.
Tisya hanya bisa meringis menyaksikan keadaan anak perempuan dihadapannya ini.
" Makasih banyak ya.. huhhh.. " kata anak perempuan itu kemudian menghela nafas panjang lagi.
Lagi lagi Tisya hanya meringis, bingung mau berbuat apa lagi.
" Oh iya.. nama kamu siapa? " lanjut anak perempuan itu bertanya pada Tisya.
"E.. namaku Tisya, aku sekolah di SMPN 1 jakarta, nama kamu siapa? "jawab Tisya tapi kemudian bertanya balik.
" Namaku Arum, aku sekolah di SMPN 2 jakarta " balas Arum sambil meringis menahan sakit akibat luka memar di kedua siku tangannya.
Tisya membantu nya berdiri, lalu membawa Arum duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari sepeda motor yang masih tergeletak di jalan.
Tisya kemudian mengambil sepeda motor milik Arum, lalu memarkirnya di tempat yang aman.
" Rumah kamu ada di mana Arum, apakah aku perlu mengantarmu? " Tisya menawarinya bantuan.
" Tidak perlu tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kok" Arum menolak tawaran Tisya. Tisya sedikit tersinggung atas penolakan, tapi itu hanya sekilas, yang penting dia sudah menawarkan bantuan. Tisya sangat suka membantu orang atau teman yang kesusahan dan memerlukan bantuan seperti keadaan Arum saat ini. itu sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk saling membantu , tolong menolong dalam kebaikan.
" Oh..ya sudah kalo begitu, aku tinggal kamu ya.. aku pulang dulu, hati hati ya Arum bawa motor nya. " balas Tisya sembari berpesan sebelum Tisya meninggalkan Arum yang sebetulnya masih kesakitan.
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil pick up berwarna hitam, datang menjemput Arum sekaligus memuat motor Arum.
****
Dua hari semenjak kejadian itu, Tisya kembali mengurung diri dalam kamar, karena sibuk memperbaiki teropong itu.
" Aduh.. kayaknya gak bisa diperbaiki... hhhh.. " gadis remaja itu menyerah dan kesal sendiri.
" Tatak isya... " suara imut masuk ke kamarnya, dengan rambut dikucir dua, Tessy memanggil Tisya sambil berlari senang hendak menghampiri.
Tisya merengut, suasana hatinya sedang sangat sedih dan kesal. Apalagi melihat si pelaku pengrusakan teropongnya saat ini ada di hadapan nya. Tisya marah kepada Tessy.
" Ini anak nakal.. kenapa kesini.. menjengkelkan tau, lihat teropong kakak gak bisa diperbaiki.. ih.. " omel Tisya pada adiknya.
Tessy menangis, sehingga Aisyah yang sedang mencuci pakaian pelanggan, terpaksa menghampiri mereka di kamar Tisya.
" Ada apa ini? " tanya Aisyah sedikit emosi.
Tisya melengos, bibirnya masih cemberut.
" Tatak natal.. huhuhu.. tatak marahi essy... huhuhu." Tessy mengeluh sambil menangis.
" Tisya.. kamu apain Tessy.. ? " hardik Aisyah.
" Gara gara dia kan , teropong Tisya jadi hancur gak bisa di perbaiki.. " balas Tisya dengan nada tinggi. dia terlampau kesal pada keadaan ini.
" Jangan gitu lah nak, adik kamu kan belum tau apa apa.. dia masih kecil. "bela Asiyah untuk Tessy.
" Trus gimana tugas Tisya, minggu depan Tisya harus datang ke observatorium, Tisya udah terlanjur bilang sama kelompok Tisya, kalo Tisya punya teropong. " jawab Tisya dengan kesal dan dengan emosi.
" kamu kan bisa bilang pada mereka kalo teropong kamu rusak , Tisya" jawab Ibu dengan tegas.
" Tapi kami masih harus sewa teropong di sana bu, dan itu mahal. " balas Tisya tak mau kalah.
" Nanti ibu usahakan buat dapatkan uang buat sewa teropong itu. " balas sang ibu dengan perasaan tak karuan.
" Ibu uang dari mana, Tisya tau kalo ibu udah bekerja keras setiap hari, nyari uang buat hidup kita. Tisya gak mau menambahi beban ibu lagi." ucap Tisya dengan nada yang mulai terisak, dan selanjutnya pecah tangisnya.
" hiks.. hiks.. huhuhu.... "
Aisyah terharu atas pengakuan anak bungsunya. bathinnya tak kuat meratapi nasib mereka lagi, tangis nya pun pecah juga. ketiga perempuan itu kini menangis meratapi nasib mereka yang tanpa figur seorang laki laki yang bisa di jadikan tumpuan bagi hidup mereka.
" Maafkan Tisya ibu.. " ujar Tisya selanjutnya, meminta maaf pada sang ibu.
***
Hari mulai gelap, saat rombongan siswa dari SMPN 1 jakarta, tiba di gedung observatorium di kawasan jakarta.
Tisya merasa bersalah, karena hanya kelompoknya yang tidak memiliki teropong. Sebetulnya Tisya dengan kelompok nya sudah mengumpulkan uang untuk menyewa teropong di gedung ini, tapi sayang sekali, jumlah teropong yang di miliki gedung terbatas, dan sudah tidak ada lagi teropong untuk di sewakan.
Tisya sengaja keluar ke halaman depan gedung, rasa malu dan juga bersalah menghinggapi hatinya. Tisya melamun, dan tanpa sepengetahuan nya, seseorang mengagetkan tisya dari belakang. Seseorang itu memukul pelan pundak Tisya.
" Hey... melamun aja... " ucap seseorang itu mengagetkan Tisya.
Tisya menoleh dan kesal, dengan wajah muram Tisya bermaksud memarahi orang itu.
Seorang anak perempuan yang sebaya dengan nya dan di kenalnya yang ternyata mengagetkannya.
" Eh.. kamu Arum.. " ucap Tisya dengan tak percaya.
" hehehe... " Arum tertawa malu malu,
" Maaf ya.. mengagetkan kamu.. eh.. ngomong ngomong kenapa kamu diluar?, bukankah sebentar lagi pengamatan hujan meteor akan di mulai?" tanya Arum polos.
" Ehmmm.... itu... kelompok kami gak punya teropong, jadi kami tidak bisa ikut untuk menyaksikan hujan meteor nya. " jawab Tisya dengan kecewa.
" ooohh.. gitu... uhhhhh... aku kira apaan.. " Sahut Arum dengan santai.
Tisya tertunduk, dia semakin merasa bersalah.
" Sudah lah jangan sedih... kebetulan ayahku bekerja di gedung ini, nanti aku bilang ke ayah, agar meminjami kamu teropong khusus milik kantor ini" ujar Arum, dan membuat wajah Tisya berbinar senang.
" Memangnya boleh kah? " tanya Tisya untuk memastikan.
" Iya.. yuk kita masuk ke dalam... kita saksikan hujan meteor bersama" ajak Arum kemudian.
***
kegiatan di gedung observatorium pun akhirnya berjalan lancar, Tisya dan teman teman nya pulang dengan membawa hasil pengamatan tersebut yang ditulis dalam buku dan dalam otak mereka.
***
setiap perbuatan baik, pasti akan berbuah manis... dan sebaliknya, setiap perbuatan jahat pasti akan mendapatkan karma yang setimpal.. bahkan bisa lebih parah.. 😁😁😁
tamat...