Dan ya! Ternyata memang sih, aku lebih merasa enjoy nulis fanfiction. Ketimbang cerita orisinil huehehe. Mungkin juga karena faktor aku terlalu berat dalam membuat mind mapping cerita, alasannya supaya nggak lost lokasi, latar belakang karakter, konflik yang tetap searus dengan poin tujuan cerita, dll. Urgh... Sementara fanfiction, selama tahu alur cerita orisinilnya, ya tinggal di kembangkan dan dibuat kisah baru sesuai versi sendiri aja. Meski begitu, aku tetap akan lanjut cerita orisinilkua yang ku tulis disini(Noveltoon) dengan judul Sang Pemanggil. Agak stuck di chapter 4. cameo ini harus memiliki perspektif yang baik, juga tokoh utama dalam bertindak pada kondisi di chapter 4. Padahal cuma diutarakan lewat kata-kata, tapi sudah buat kepala berkeringat.
Kembali ke cerita Housamo :3 Sebelumnya, aku mau buat cerita tentang Aizen. tapi, kayaknya Horus dulu deh. Karena tokoh ini punya latar belakang yang menarik. Dia adalah humanoid elang, dari mesir. Dia sangat mengaggumi pamannya yang seorang Rule makers di dunia ia berasal, Aaru. Sangat serius, menghargai kejujuran dan keadilan. Saat ia datang ke tokyo, ia menjadi seorang polisi dan sebagai elit keadilan(komunitas yang ia buat.) Menariknya lagi, dia sangat mematuhi peraturan rumah tangga, seperti bersih-bersih, mencuci piring dan baju, Menjemur, memasak dan yang berkaitan dengan itu semua. Horus juga seorang vegetarian. Jika sudah ada yang tahu, bahwa di game, kalau relationship dengan Horus sudah max. Ia akan memberikan salada yang mengungkapkan rasa cintanya, hahaha lucu gak sih. Aku suka ngebayangin kalau Horus pakai kostum dengan celemek merah muda, bagai ibu rumah tangga, eh iya... Horus itu laki-laki ya, hahahaha.
Ok lanjut ke cerita~
***
Seminggu sudah Keito berada di Roppongi Academy. Ia sudah dapat mengontrol kemampuan telekinesinya, berkat dorongan motivasi Aizen, yang membuatnya berlatih berkali lipat lebih keras.
Keito, sudah dapat membuat dirinya melayang di udara, mengambil benda dari jarak jauh dan mengangkat benda yang lebih berat, walau saat pertama kali mencobanya, Keito mendapati dirinya mimisan, karena kerja otaknya tidak stabil dengan kemampuan telekinesisnya.
Ose sering mampir ke kamar asrama Keito hanya untuk minum teh. Setelah itu Ose akan kembali pergi. Tidak sampai satu jam, sungguh. Walau ekspresi Ose belakangan, terlihat cemberut.
Saat di kelas Keito mendengar gosip dari murid sekelasnya, bahwa ada piramid raksasa muncul di tengah kota Shinjuku. Murid Shinjuku Academy, yang sebagai Summoner juga sudah mulai menyelidikinya. Mereka mengatakan, bahwa banyak masyarakat yang berubah menjadi mumi dan ikut terkurung ke dalam piramid. Mendengar itu semua, Keito segera berlari menuju kantor Lucifuge, yang sebagai kepala sekolah sementara di Roppongi Academy.
Keito meminta Lucifuge memberikan misi penyelidikan piramid misterius yang muncul di Shinjuku.
"Maaf, nak... Misi ini terlalu tinggi kelasnya untukmu. Meski kamu memiliki Ose dan Aizen. Aku tidak bisa memberikannya kepadamu. Biarkan saja para murid Shinjuku Academy yang mengurusnya." Jelas Lucifuge ketus.
Keito meyakinkan, bahwa ia melakukannya demi masyarakat, karena ia mendengar banyak masyarakat yang di culik masuk ke dalam piramid dan berubah menjadi mumi.
Lucifuge, kembali menjawab, "Kebaikanmu akan membawa masalah untuk dirimu sendiri, aku hanya memberi tahumu, baiklah jika itu kemauanmu. Aku akan membuatkan surat izin penyelidikan, misi ini."
...
Di kamar asrama, Keito menyiapkan perbekalan, seperti kompas dan tujuh butir kelereng besi.
Ose kecil seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, terlihat jelas dari raut wajahnya. Keito memintanya untuk mengungkapkan apa yang sedang Ose fikirkan.
Ose dengan ragu bertanya, "Bos, kamu tidak akan memanggil Aizen untuk misi penyelidikan inikan?"
Keito menjawab, "Aku tidak yakin... Jika penyelidikan mendapati kendala dan membutuhkan bantuan. Kita harus meminta bantuan dari Aizen."
"Apa aku tidak cukup kuat untukmu, Bos?" Tanya Ose kecil yang wajahnya terlihat cemberut.
Keito merasa aneh dengan sikap Ose belakangan ini, "Tidak benar, kamu sangat kuat Ose. Semua orang tahu akan hal itu."
Ose mengatakan hal jujur yang membuatnya merasa lebih tenang, "Aku sungguh, tidak suka melihatmu bersama Aizen. Terutama saat ia membantu latihan Bos."
"Jangan begitu Ose, kamu tetap yang terbaik." Ucap Keito meyakinkan Ose agar bersemangat, walau Ose tidak merubah raut wajahnya sama sekali.
...
Segera Keito menuju kota Shinjuku, bersama Cait Sith dan Ose. Melihat piramida besar yang mengalahkan tinggi gedung-gedung di kawasan Shinjuku.
Saat akan memasuki area priamid, disana ada transient elemen, laki-laki yang mengenakan pakaian polisi, jumlahnya cukup banyak. Salah satunya menghalang keito memasuki lokasi piramid. Hingga ia mengizinkan Keito masuk setelah menunjukan surat izin penyelidikan.
Di dalam piramid tidak ada tanda-tanda mumi. Cait Sith masih saja mengeluh akan rasa takutnya jika bertemu mumi dan memakan dirinya. Ose kecil membuat keadaan Cait Sith makin buruk, karena menakut-nakutinya.
Lorong piramid yang panjang, menanjak dan berliku, membuat Keito merasa, apakah ia akan tersesat jika kembali nanti. Mengharuskan dirinya agar membuat peta jalan yang ia lewati pada kertas. Agar tidak tersesat saat kembali.
Perjalanannya terhenti karena ada seekor elang humanoid dengan kepala putih, memakai penutup mata pada mata kirinya. Bulu yang menghiasi tubuhnya berwarna biru kobalt.
"Apa yang kalian lakukan disini? Disini berbahaya, kembalilah!" Perintah humanoid elang itu.
Keito lekas memperkenalkan dirinya dan yang lain. Elang humanoid itu juga memperkenalkan diri, bahwa ia bernama Horus, bertugas menjaga penjara piramid Aaru.
"Penjara?" Tanya Keito penasaran.
Horus menjawab, "Ya, penjara. Disini tempat transient jahat di kurung. Entah bagaimana piramid ini berpindah lokasi dari Aaru menuju tempat ini... Aku yakin, ada transient lain di luar sana yang membuatnya berpindah..."
Keito menanyakan, soal para masyarakat yang diculik dan berubah menjadi mumi. Horus menjelaskan kembali, bahwa, manusia itu berusaha mencuri artefak kuno di dalam penjara piramid. Benda dengan kemampuan hitam yang dapat memberikan pemiliknya kekuatan dasyat dengan mengambil jiwanya sebagai bayarannya.
Tak lama, gempa datang, bagian dinding piramid hancur. Seseorang dengan tutup mata muncul. Pria bertubuh kekar dengan kaki dan tangannya di borgol, Ia bernama Balor.Bersama dengan transient jahat lainnya yang berhasil melarikan diri.
"Balor!" Ucap Horus, segera menyerang Balor dengn tombak yang ia bawa.
Balor yang dalam borgolan, dapat lincah menghindari serangan Horus. Sementara Ose dan Keito membantu menyerang para tahanan lain yang terkabur. Kelereng besi yang Keito bawa mampu menjadi senjata mematikan yang efektif di tambah dengan kemampuan telekinis barunya.
Ledakan kedua muncul, kali ini atap piramid hancur, memperlihatkan biru langit siang kota Shinjuku. Seseorang pria melayang di atas sana dengan pakaian ketat berwarna hitam, garis hijau di setiap sisi pakaian dan wajahnya, rambutnya putih, di setiap sisi wajahnya di tutupi pelindung berwarna hitam. Ia bernama Noden.
Noden berusaha membuat para tawanan terlepas, ia mengatakan bahwa para tahan harus menjadi pengikutnya dalam mengusai bumi. Horus menjelaskan bahwa Noden sering berpindah-pindah semesta, dengan kata lain, ia dapat pergi melintasi ruang dan waktu.
Lawan yang cukup kuat bagi Keito. Meski begitu, Keito mencoba melawannya. Sementara Ose berubah wujud menjadi dewasa, kembali menyerang para tawanan, termakasud Balor. Cait Sith untuk pertama kalinya mengeluarkan kekuatannya untuk bertarung, membantu Ose dan Horus.
Keito melayang terbang mendekati Noden. Noden terkekeh mengerikan, berkata, "Jadi, kau... Akan melawanku, jangan bercanda."
Pertarungan keduanya di atas piramid begitu sengit. Noden mengeluarkan tinju semesta yang bagai ratusan tembakan bayangan pukulan mengarah kepada Keito, ia sebisa mungkin menghindarinya. Kelereng besi yang di gunakan Keito sebagai senjata dengan mudah di tangkap Noden dengan tangannya, lalu di remukan menjadi serpihan kecil.
Noden mendekati Keito secepat kilat, meninju wajahnya hingga terpental cukup jauh. Membentur dinding bangunan gedung hingga tembus, lebur. Keito baru pertama kalinya merasa tubuhnya sakit sekali mendapati serangan seperti ini. Noden tidak berhenti disana. Ia menyerang Keito kembali, menarik dan melemparnya, memukulnya. Ia membuat Keito seperti samsak yang mudah ia kenai hit.
Keito tidak bisa lagi merasakan sakit di tubuhnya, karena begitu sakit dan nyeri, membuatnya mati rasa.
Saat Ose akan menolong dengan kekuatan mahkota hitamnya. Noden dengan mudah menghalaunya dan melempar Ose tak berdaya.
Keito yang sadar, melihat Ose tak berdaya. Ia segera bangkit. Meski gagal karena Noden sudah datang, satu kakinya diinjakan pada kepala Keito. Ia akan meremukan kepala Keito. Menginjaknya sekuat tenaga beberapa kali. Membuat kepala Keito terluka. Keito sedikit berhalusinasi karena mati rasa. Ia membayangkan Cait Sith dan Ose tewas karena Noden.
Darah mengalir dari hidung Keito, matanya berubah menjadi putih. Oden yang menginjakan kaki di kepalanya terpental ke udara. Keito bangkit melayang mengejar Noden menangkapnya di udara dengan telekinis tanpa perlu menyentuhnya. Tangan Keito mengepal di arahkan kepada Noden. Noden merasa kesakitan seakan terhimpit sesuatu yang tidak terlihat. Tanah aspal terangkat, dan menghantam Noden membentuk seperti sebuah bola. Darah kali ini mengalir dari telinga dan mata Keito.
"Aku akan menghabisimu, karena membunuh temanku." Jelas Keito parau dalam halusinasinya sendiri.
Ose yang bangkit melihat kondisi Keito tak terkontrol. Ia meminta Cait Sith untuk menarik Keito turun, atau Keito akan mati, karena mengeluarkan kemampuan telekinesis yang membuatnya kehabisan darah.
Cait Sith melayang, dan mengayunkan tongkatnya menarik Keito turun. Tetapi Tongkat Cait Sith terlemparkan oleh energi Keito. Keito membuka kembali gundukan bola dari tanah aspal yang mengurung Noden. Sekarang Noden terlihat sudah terluka parah. Saat akan meledakan isi kepala Noden. Keito tersadar. Lemas lalu terjatuh. Horus menangkapnya.
Tawanan yang sebelumnya sudah di kalahkan oleh Horus, Cait Sith dan Ose. Para transient penjaga piramid, membawa mereka menuju tempat tahanannya.
Piramid mulai pudar menghilang, Horus sadar. bahwa Noden lah yang membuat piramid berada di Shinjuku. Horus berasumsi bahwa jika Noden tak sadarkan diri, segala bentuk besar yang di bawa berpindah dari benturan ruang dan waktu akan kembali ke asalnya.
Perlahan Keito sadar, segera bertanya, "Apakah sudah berakhir?"
Ose menjelaskan, bahwa pertarungan sudah berakhir.
Horus berusaha mengejar Noden yang telah pergi menghilang entah kemana. Sayang, Horus tidak mendapatkannya.
Piramid mulai menghilang perlahan. Horus mengatakan akan tetap berada di Shinjuku karena Noden masih berada di dunia yang sekarang Keito tempati. Memugkinkan akan kembali.
Keito dengan susah payah dalam kondisi penuh luka. Mendekati Horus, berkata, "Lepaskan mereka dulu! para masyarakat yang menjadi mumi! atau mereka akan terbawa ke dimensi lain!"
Horus tidak setuju dengan permintaan Keito, mengatakan, "Mereka adalah pencuri, mereka harus mendapatkan hukumannya."
"Tidak, hukumanmu tidak berlaku disini, mereka seharusnya mendapatkan hukuman yang sesuai dengan yang berlaku disini. Karena piramid itu sebelumnya berada disini saat mereka melakukannya... Kembalikan mereka." Jelas Keito, terlihat tidak lagi berdaya untuk berkata-kata, Ose dewasa segera merangkulnya sebelum Keito terjatuh.
Horus menuruti permintaan Keito dengan menarik kutukan semua orang yang menjadi mumi kembali menjadi wujud asli mereka. Transient polisi Shinjuku segera mengamankan mereka semua.
Piramid akhirnya lenyap. Kota Shinjuku kembali seperti semula, begitu juga kerusakan yang di timbulkan. Seakan tidak pernah terjadi kerusakan apa-apa.
...
Keito terbangun di ruang rumah sakit, masih di dalam ruang lingkup Roppongi Academy. Di dalam ruangan, Keito melihat Ose dan Cait Sith menyambutnya, karena tak sadarkan diri selama beberapa hari. Tidak hanya mereka di dalam ruangan, ada Horus disana, Aizen dan juga Ophion. Lucifuge memberikan selamat kepada Keito karena telah menyelesaikan misinya.
Keito bertanya kepada Ophion, "Kenapa lukaku tidak pulih saat misiku selesai, apa yang berbeda dari pertaungan kita sebelumnya?"
Ophion, dengan mudah menjawab, "Karena lawanmu belum seeutuhnya terkalahkan, Jadi tidak akan pulih, begitu juga dengan dirinya. Jika kamu bertanya, dengan begitu ia dapat menggunakan trik untuk menyembuhkan lukannya? Tidak bisa. Ia akan lenyap menjadi butiran debu transient."
Langit mulai sore, cahaya oranye memasuki jendela kaca ruang rumah sakit Keito terbaring. Di dalam ruangan terisisa Horus, Ose kecil dan Cait Sith.
Saat Ose dan Cait Sith keluar ruangan, dan hanya terisisa Keito dan Horus. Horus bertanya, "Apa alasanmu melakukannya? melawan Noden hingga sejauh itu?"
Keito menjawab, "Karena aku membayangkan teman-temanku mati... Aku hanya mencoba melindungi mereka, aku tidak bisa membayngkannya jika hal itu terjadi."
Horus menatap Keito dengan serius, kembali bertanya, "Kenapa kamu memintaku, menyelamatkan para pencuri itu?"
Keito memejamkan matanya, mengehela nafas. Lalu menatap Horus, menjawab, "Aku sudah mengatakannya sebelumnya padamu. Aku tahu mencuri bukanlah hal yang baik... Tetapi, dengan memberikan hukuman membawa mereka pergi dari tempat yang bukan seharusnya, maka hukuman itu tidak berlaku, karena tidak ada sama sekali... Bukankah, itu sangat tidak adil dan bijak?"
Horus, hanya membuang wajahnya, entah apa yang ia pikirkan.
"Ulurkan tangan kananmu." Horus meminta Keito, lalu Keito menurutinya.
Sebuah lambang muncul, seperti saat Lucifuge melakukannya pada Keito dulu.
Horus berkata, "Aku akan menjadi pelayanmu. Kita berdua mungkin akan dapat saling memahami makna keadilan. Aku tidak sehebat pamanku... Tetapi, kemampuanku dapat aku buktikan padamu."
...
Setelah kembali dari rumah sakit. Pagi hari yang cerah, di asrama Keito. Seragam pakaian sudah di gosok rapih, tergantung. Keito penasaran. Bagaimana bisa pakaiannya terlihat rapih. Cait Sith atau Ose tidak mungkin melakukannya. Tiba-tiba muncul Horus, berkata, "Selamat pagi Tuan Muda. Aku sudah menyiapkan seragam sekolah dan sarapanmu. Salad buah, itu bagus untuk kesehatan."
Keito merasa begitu terkejut. Bahwa perlakuan Horus kepadanya begitu tidak biasa. Horus menjelaskan ia akan pergi untuk bekerja di kepolisian. Begitu cepat Horus sudah mendapatkan pekerjaan di kota Roppongi.
Selesai.