[Part 3]
"mas, kok lama sih ? waktu istirahat saya gak lama ini ! " protes pelanggan di bangku dekat jendela.
"maaf pak saya buatin lagi ya" ucapku sambil membersihkan sisa sisa beling yang berserakan.
sudah ku pinggirkan semua pecahan kaca beling lalu aku kembali ke belakang untuk mengambil kain lap. rupanya mbak mbak yang kuajak bicara tadi sudah di sini dan memakai apron barista.
"yang namanya hari pertama kerja pasti gak enak ya.. " ucapnya dengan senyuman
"aku mau siapin V60 japanese style nya kamu yang bersihin ya"
"iya hehe... maaf nih ngerepotin jadinya" ucapku.
ku ambil ember dengan sedikit air dan juga kain lap. setelah aku menuju kedepan, pelanggan yang memesan tadi sudah tidak terlihat lagi.
"loh mbak si bapak kemana ?"
"gak ada waktu lagi katanya, tapi dia juga gak minta pengembalian uang tadi"
*mungkin orang itu terkena darah tinggi makanya emosinya sering kali tidak stabil*
kembali ku bersihkan sisa sisa air yang tercecer di lantai bekas V60 tadi, lalu aku membereskan sisa sisa beling yang sudah ku pinggirkan
"pelanggan tadi sudah pergi padahal, aku tadi baru selesai membuat V60 japanese style nya" ucap si mbak
sembari menuangkan kopinya ke gelas. lalu dia menawarkannya padaku
"nihh kamu cobain..."
"eh... hehe makasih ya"
*sluuuurrrppppp
luar biasa memang tangan seorang wanita. selalu pas untuk mengatur takaran untuk ketepatan rasa yang nikmat.
"maaf mba namanya siapa ya ?"
"aku sabby, aku dulu juga bela-, kerja maksudnya disini. kamu siapa ?"
"teuchi... panggil aja uchi. "
"uchi... maaf tadi pak samchi pergi dengan siapa ya ?"
"ahhh soal itu, dia pergi dengan mas mas yang pake kaca mata yang mampir dengan sepeda motor didepan tadi."
"apa motornya sejenis motor off road ?"
"iya... "
sabby kemudian tersenyum lagi, namun senyumnya menandakan perasaan yang lega.
"hhmm... orang itu, selalu saja"
sabby kemudian membantuku di hari pertamaku bekerja. terkadang aku yang menyiapkan pesanannya, terkadang sabby yang menyiapkan. rasanya ini tidak seperti di tempatku bekerja sebelumnya. yang mana para senior amatlah gila hormat malah aku tidak boleh menyentuh mesinnya. hanya bersih bersih, cuci gelas, isi token. yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan mesin esspreso ataupun pembuat kopi. bahkan aku tidak diberi gaji sama sekali benar benar sebuah neraka, mereka menganggap ilmu yang mereka berikan adalah sebuah penghasilan. cuiiihhhh !!! hanya menjadi babu dari senior dan bidak sebuah tempat kerja yang tidak digaji adalah sebuah pengalaman paling menjijikan yang pernah aku punya. namun semenjak mendapatkan keramahan di sini, rasanya tidak digaji pun tidak masalah. yang penting aku ingin disini dalam jangka waktu yang lama.
waktu menunjukan pukul 20.30 di jadwal, kedai tutup jam 21.00 aku dan sabby bersiap untuk menutup kedai.
"hari ini lumayan ya uchi"
"iya ka sabby"
"besok kamu dateng lagi kan ?"
"iya ka. besok kakak dateng lagi kesini kan ?"
sabby menggeleng sembari senyum
"hari ini sebetulnya aku cuma berkunjung kesini melihat keadaan pak samchi. aku bantuin kamu disini anggep aja aku sebagai senior yang nemenin hari pertama kamu kerja"
"ternyata pak samchi memang tidak pernah salah memilih..." ucap sabby pelan
"ha... ?"
"ahh.. bukan apa apa, aku pergi duluan ya.." sembari melambaikan tangan
"ahh iya hati hati ya dijalan"
jam 21.00 waktunya kedai tutup. aku mulai beberes dan mematikan semua peralatan mesin kopi, menaruh kembali biji kopi pada toples kaca lalu membersihkan mesinnya sesuai dengan yang diajarkan pada saat aku kursus.
suasana mulai sepi, angin berhembus semakin dingin. aku mulai menutup toko dan menguncinya
"massssss....... udah tutup yha....??" suara lirih perempuan di belakang.
*sial aku benci suasana horor seperti ini*
ku lirikan sedikit mataku ke pantulan kaca kedai, rupanya sosok putih ada di belakang ku
*bersambung~~~
(tenang pembaca ku. genre ini masih tetap di slice of life kok gaada horrornya 😆)