Kamu boleh mencintainya tapi jangan ambil dia dari Tuhan-nya.
Kata pepatah yang selalu dijadikan prinsip oleh beberapa orang kristiani karena mereka memang mencintai Tuhan dan berteguh pada keyakinan mereka.
♥︎♥︎♥︎
Di dunia ini, mencintai seseorang yang berbeda keyakinan tidaklah mudah. Ada tembok besar tinggi nan kokoh. Jika ingin menghancurkan tembok itu, maka ada salah satu yang harus berkorban.
Namun bagaimana jika mereka satu iman dan satu Tuhan? Jawabannya, berbeda tetaplah berbeda. Selalu ada tembok besar yang menghalangi bahkan yang seiman sekalipun.
“Sedang apa malam-malam begini Demetrena?”
Demetrena, wanita berumur dua puluh dua tahun itu tersenyum kepada ayahnya.
“Habis telfonan sama Chrison pa!” jawabnya semangat.
“Besok Demetrena jadi singer sama dia untuk ibadah di gereja lembah pujian” lanjutnya lagi.
Dametro, ayah Demetrena hanya menghela nafas berat. Sejujurnya ia tak begitu menyetujui hubungan Demetrena dengan pacarnya itu. Daniel tau mereka seiman tapi keyakinan mereka berbeda.
Katolik dan Protestan. Dua keyakinan berbeda namun satu Tuhan. Jika dijabarkan, ada banyak perbedaan pada dua agama itu. Entah itu dari cara berdoa, ibadah, bahkan gereja.
"Nak…” panggilnya lembut pada Demetrena.
“Kamu dan Chrison itu berbeda! Ada tembok besar diantara kalian”
“aku tau pa…” jawab Demetrena paham.
“Tapi apa aku salah jika bersama dengan orang yang membawaku kearah lebih baik? Karena Chrison aku jadi tau cara untuk mencintai Tuhan”
Iya Dametro tau lelaki itu telah membawa perubahan untuk Demetrena. Karena Chrison juga anak perempuan Dametro satu-satunya ini rajin pelayanan dan berguna untuk banyak orang.
Tetapi namanya seorang ayah tentu Dametro tidak mau Demetrena meninggalkan keyakinannya hanya demi seorang lelaki meski seamin sekalipun.
“Jangan lupakan keyakinanmu Demetrena!” kata Dametro pelan namun tegas.
“Jika Tuhan menginginkan kalian bersama, hanya Chrison yang bisa menghancurkan tembok besar itu. Kamu mengerti maksud papa kan?”
Demetrena mengangguk paham atas pertanyaan ayahnya. Ia tersenyum tipis lalu berucap,
“Aku akan tetap pada keyakinanku pa!” yakin Demetrena pada dirinya sendiri.
Esoknya,
“Thank you so much guys! Jangan pernah berhenti untuk melayani Tuhan”
Demetrena tersenyum penuh syukur saat melihat pacarnya itu mengucapkan terimakasih untuk para patner ibadahnya
Chrison memang hampir tak pernah gagal dalam melayani Tuhan. Dan Demetrena mengakui bahwa ia beruntung punya pacar yang bisa membawanya untuk lebih mecintai Tuhan.
Namun satu hal yang membebani hati Demetrena, keyakinan yang berbeda. Perkataan ayahnya kemarin malam masih terngiang di kepalanya. Haruskah ia berhenti disini? apakah hari ini adalah ibadahnya yang pertama dan terakhir bersama Chrison?
"Rena, ayo pulang”
Demetrena tersadar dari lamunannya dan tersenyum tipis,
“ayo”
Di perjalanan, keduanya hanya terdiam sampai Demetrena membuka suara.
“Chris, bisa kita ke tempat biasa?” tanya Demetrena pelan
“Jam segini ren? kenapa?” tanya balik Chrison sembari fokus menyetir mobil
“Ada hal yang ingin aku omongin sama kamu dan ini penting” jawab Demetrena serius.
Chrison melirik kearah Demetrena sebentar. Ada sesuatu yang memang disembunyikan Demetrena dibalik raut wajah yang terlihat baik-baik saja.
“oke” Chrison sedikit menaikkan kecepatan mobilnya menuju ketempat yang diminta Demetrena.
Rooftoop.
Memang tempat ini terletak di lantai paling atas disalah satu café di Jakarta. Café sederhana yang bahkan pengunjungnya tak banyak. Namun tempat ini akan selalu menjadi tempat bersejarah bagi Demetrena dan Chrison.
Karena di tempat ini, Demetrena bisa menemukan seseorang yang menyayanginya dengan tulus.
“Jadi kamu mau bilang apa?”
Demetrena menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
“Hubungan kita gak bisa terus berlanjut” tutur Demetrena.
Chrison menaikkan alisnya,
“Maksud kamu?”
“Papa gak setuju sama hubungan kita” jawab Demetrena cepat tanpa mau menatap wajah Christovel
“Kenapa?”Chrison memegang kedua bahu Demetrena dan menggerakkannya agar perempuan itu menghadapnya.
“Apa karena perbedaan kita?”
Demetrena memberanikan diri untuk menatap Chrison, “Iya” jawabnya
“Ren, tapi kita—”
“Hanya karena kita satu iman bukan berarti kita sama Chris!” potong Demetrena
“Kita berbeda!”
“Hanya karena kita berbeda gereja dan cara ibadah bukan berarti Tuhan kita beda kan?” bantah Chrison
“Chris…” Demetrena tanpa sadar meneteskan air matanya.
“Kalau urusannya udah tentang keyakinan, kita gak bisa melangkah terlalu jauh”
“Aku sayang sama kamu Ren” Chrison menahan air matanya.
“Aku gak mungkin ninggalin kamu gitu aja”
“Kamu pikir aku gak? karena kamu aku bisa lebih mencintai Tuhan. Aku gak pernah lupa sama apa yang udah kamu lakuin untuk hidup aku Chris tapi kita..”
“Aku akan ikut kamu!” ujar Chrison dengan suara sedikit tinggi
“Aku akan ubah keyakinan aku, aku akan bicara sama kedua orangtua kamu, aku akan belajar cara ibadah agama kamu, dan”
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Chrison. Demetrena reflek melakukan itu lantaran dadanya sudah terasa sesak akan perdebatan ini.
“Kamu yang ajarin aku untuk lebih cinta sama Tuhan tapi kamu juga yang mau ninggalin Tuhan?!” Demetrena memekik.
“Jangan karena hubungan ini Tuhan kamu tinggalin Chris!”
“Kamu harus inget kamu punya orang tua dan keluarga yang sudah ngajarin kamu banyak hal baik dengan keyakinan yang kamu anut sekarang!”
Chrison hanya diam mendengar semua penuturan Demetrena. Dirinya benar-benar tertampar atas semua realita mengenai perbedaan keyakinannya denganDemetrena.
Kenapa Tuhan mengijinkan dia mencintai perempuan ini jika sekarang semuanya harus berakhir?
“Jadi kamu mau kita selesai?” lirih Chrison pelan. “Udah sejauh ini Ren..”
“Justru karena itu kita harus selesai. Tuhan gak mungkin biarin kita saling nyakitin hanya karena perbedaan kita”
“Rena, boleh aku peluk kamu? Mungkin ini yang terakhir”
Chrison menarik Demetrena ke dalam pelukannya dan menangis tanpa suara. Ya Tuhan ini berat sekali.
Demetrena membalas pelukan itu. Ia tau Chrison sedang menangis sekarang, terasa sekali badan Chrison sedikit gemetar.
“Kita masih bisa berteman baik Chris… aku percaya kamu akan menemukan seseorang yang seiman yang jauh lebih baik”
Tuhan, untuk malam ini bisakah kau memperlambat waktu sekali saja? Karena besok mungkin aku sudah tidak memeluk orang yang sama lagi…
4 Tahun kemudian…
“Rena! Turun nak ada tamu!”
Demetrenaa menghela nafasnya sedikit jenuh. Ia benar-benar lagi pusing dengan laptopnya karena urusan kerjaan. Tapi ayahnya malah menyuruhnya turun perihal ada tamu. Mau gak mau Demetrena harus menemui tamu itu terlebih dahulu yang entah siapa orangnya. Paling keluarga jauh berkunjung.
Sesampainya di bawah Demetrena melihat seseorang menghadap kearah luar jendela. Demetrena mengerutkan dahinya. Kenapa rasanya tak asing dengan tamu ini?
“hmm.. siapa?”
Mendengar suara Demetrena orang itu berbalik.
DEG!
“Chris?”
Wajah itu… tatapan itu… semuanya masih sama. Dia Chrison. Seseorang yang dulu begitu berarti dalam hidupnya. Dan sekarang dia disini? ada apa?
“Kamu apa kabar?” tanya Chrison tersenyum. Ia berjalan mendekat kearah Demetrena.
“Aku baik. Kamu sendiri ada apa kesini?”
Beberapa detik mereka saling menatap, hingga…
“Aku udah menemukan apa yang aku cari” Chrison menunjukkan sesuatu yang tergantung di lehernya.
Sebuah kalung Rosario.
“Chris kamu…”
“Dalam tiga tahun aku mencari apa yang sebenarnya aku butuhkan dalam hidup aku. Sampai akhirnya aku temukan jawabannya”
Bibir Demetrena tersenyum bergetar menahan tangis.
“Aku selalu ingat perkataan kamu waktu itu bahwa aku gak boleh ninggalin Tuhan dan harus inget keluarga yang udah ngajarin aku hal baik tentang sebuah keyakinan”
“Tapi mama aku bilang, aku masih bisa melayani Tuhan dengan caraku sendiri meski keyakinanku tidak sama seperti sebelumnya. Kata mama, agama tidak menjadi masalah yang terpenting aku harus selalu percaya sama Tuhan”
“Tuhan kabulin doa aku. Dia kasi aku kesempatan untu memperjuangkan orang yang aku cintai”
Tangan Chrison memegang pipi kanan Demetrena.
“Mulai sekarang setiap hari minggu kita bisa beribadah sama-sama tanpa jam dan tempat yang berbeda”
“Apa kamu mau nerima aku lagi?”
Tanpa sepatah kata pun, Demetrena langsung memeluk lelaki itu erat. Melepaskan semua kerinduan yang selama ini ia pendam. Empat tahun bukanlah waktu yang mudah bagi Demetrena untuk melupakan Chrison. Dalam hati ia selalu masih menyimpan harapan bahwa orang yang ia cintai akan kembali jika memang itu untuknya. Dan Tuhan sudah memberikan jawaban-Nya sekarang.
Well, Chrison telah berhasil menghancurkan
“Tembok” besar itu.
Chrison melepaskan pelukan mereka lalu mencium wajah Demetrena berkali-kali. Di kening, di pipi kiri dan kanan. Serindu itu Chrison pada wanitanya ini.
“Aku kangen banget!” Chrison mencubit kedua pipi Demetrena gemas.
Demetrena tertawa pelan.
“Tapi sekarang udah terobati kan kangennya” ucap Demetrena mengacak pelan rambut Chrison.
“By the way kita harus beritau hal ini ke papa”
Chrison terkekeh.
“Gak perlu! Papa kamu udah tau kok. Setahun kemarin sebelum aku dibaptis, aku ketemu papa kamu di gereja. Aku udah jelasin semuanya and as you know, pastur yang baptis aku itu pastur Renald.
Pastur yang pernah baptis kamu juga kan pas masih bayi”
Demetrena memutar bola matanya. “dunia sempit sekali! jangan-jangan mama kamu ternyata temenan lagi sama pastur Reynald”
“maybe tapi semoga aja. Biar kita ntar nikah gak ribet” kode Chrison menahan tawa
“idih! Mentang-mentang kita udah gak ada perbedaan lagi langsung main ajak nikah aja”
“Ya gapapa kan? Kalau kita nikah selain aku bebas peluk dan cium kamu, aku bisa unboxing”
“CHRISON!”
“AHAHAHAHA”
Satu hal yang bisa diyakini dalam sebuah hubungan dalam hidup adalah, jika memang Tuhan mengizinkan seseorang menjadi milikmu, maka orang itu benar-benar akan menjadi milikmu.
DEMETRENA ADRIATNA AYHERY
CHRISON CAKRA PRAWIJANO
DAMETRO ARDIYANTO AYHERY
♤THE END♤