Anindita Cahya atau yang lebih akrab dipanggil Dita oleh teman dan keluarga nya adalah seorang gadis remaja yang cantik dan pintar. Kuliahnya pun di universitas ternama karena kepintarannya.
Walaupun sudah berumur 25 tahun dan memiliki kepribadian yang baik, Dita masih belum memiliki suami atau lebih dikenal dengan sebutan "jomblo".
Meski begitu, ia menyimpan perasaan pada seorang dosen di Universitasnya. Sudah 3 tahun semenjak ia menetap di universitas, ia memendam perasaan nya pada "Dosen Han".
Malam itu, 17 Oktober, menjadi hari persaksian kisah cinta Dita.
Cinta dan perasaan yang selama ini ia pendam, akhirnya dapat ia utarakan hari ini.
"Ahh... cepat-cepat! Tidak boleh terlambat!" Seru Dita yang sedang merias diri di kamar kostnya.
"Dit, kenapa buru-buru gitu sih? Emang lu mau kemana malem-malem gini?!" tanya teman sekamar Dita yang bernama Sisil itu.
"E-enggak kok! Emang aku kelihatan gugup banget ya?" tanya Dita balik.
"Iya banget Dit, kamu kayak mau ketemuan sama pacar aja" canda Sisil pada Dita.
"Hmm ya sudah aku pergi dulu ya! Kunci aja pintunya dari dalam soalnya aku bawa kunci cadangan kok" ujar Dita sambil memakai sepatu heels nya.
"Tumben banget si Dita gayanya kayak perempuan feminim.. biasanya kan dia tomboy nya minta ampunn" gumam Sisil menggeleng kepalanya.
Sementara itu, di tengah jembatan putih, jembatan yang biasanya didatangi sepasang kekasih berkumpul untuk melihat hujan meteor di pinggir jembatan. Yaa karena disana juga tempat yang cocok melihat meteor jatuh.
Disisi lain...Dita yang juga sudah janjian bertemu di jembatan dengan Dosen Han datang lebih awal.
"Hum, Pak Han sudah datang belum yah?" batin Dita bertanya-tanya.
"Apa aku WA aja kali ya?" batinnya lagi.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara terdengar dari telinga Dita. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ia merasa bahwa pria yang sangat ia cintai sepertinya sudah berada di dekatnya.
"Umm, met malam pak!" sapa Dita.
"Ya, met malam" sahut Han datar.
"Ish, jantungku kenapa berdetak kencang banget sih! Kan tadi sebelum kesini juga sudah yakin buat nembak Pak Han!!" ucap Dita dalam hatinya.
"Pak..apa kabar? Udah lama gak ketemu semenjak libur panjang, hehe" seru Dita menyengir.
"Saya baik, kamu?" jawab Han.
"Ah saya baik juga, hehe" Dita menjawab dengan tersenyum dan tawa kecil.
"Tampangnya Pak Han masih sama, tampan, tapi..kayaknya dia cuma nganggep aku sebatas murid deh! Kalau gitu ceritanya, rencana aku buat nembak Pak Han bisa berhasil gak ya?" batin Dita dengan rasa sedikit kecewa.
"Nggak! Dita...kamu harus semangat dong! Jangan pantang menyerah!" batinnya lagi.
"Umm pak, sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu..jadi---" pembicaraan Dita tiba-tiba terpotong oleh Han.
"Tunggu! Saya juga ingin mengatakan sesuatu! Biarkan saya bicara terlebih dahulu!" Sela Han.
"Emm tapi pak, ini hanya satu kalimat saja kok!" Sela Dita balik.
"Tapi--" Dita menutup mulut Han dengan tangannya.
"Bi-biarkan saya duluan pak!" ucapnya.
"Se.. sebenarnya saya"
"SAYA MENYUKAI BAPAK!" teriak Dita sambil menutup matanya.
Han terdiam dan hanya berdehem, "Hem ya.."
Dita menundukkan kepalanya, ia tahu, cintanya sudah pasti ditolak Han.
Perlahan, air matanya mengalir...antara rasa malu dan kecewa ada dalam benak hatinya.
"Kenapa kamu menangis, hum?" tanya Han.
"E-enggak papa kok pak!" jawab Dita.
"Eum..pak, maaf yang tadi, saya..saya berbicara tanpa berpikir. Sekali lagi mohon maaf pak" Air mata mengalir deras di pipi Dita.
"Apa salahmu?" Tanya Han lagi
"Itu karena saya menyukai bapak, pak" jawab Dita.
Han memeluk tubuh Dita, "Iya, aku terima" jawab Han tersenyum.
"Hah? Tadi bapak bilang apa?" Dita seperti nya belum percaya dengan kata-kata yang dilontarkan Han tadi, dosen dingin seperti es itu mana mungkin menerima Dita.
"Aku, Han Alvaro menerima mu, Anindita Cahya sebagai kekasihku!" Lagi-lagi Han tersenyum manis di hadapan Dita.
Mata Dita berkaca-kaca, "Anda sungguhan Pak? A-anda menerima saya?" Tanya Dita.
"Kenapa masih panggil Pak? Kan aku sudah menerimamu!" sahut Han bercanda.
"Lalu, saya panggil anda apa?" tanya Dita kembali.
"Han! Panggil namaku!" ucap Han.
Han duduk bersimpuh di hadapan Dita, ia mengeluarkan sebuah kotak cincin dan memberikannya langsung pada Dita.
"Apa kamu bersedia menjadi kekasihku? Calon istriku.." tanya Han.
"Ca-calon istrimu? Tapi pak..eem maksud ku Han!" seru Dita terbata-bata.
"Umurmu sudah 25 tahun, sudah cukup umur untuk menikah bukan? Umurku juga sudah 30 tahun! Lebih cepat lebih baik jika kita menikah daripada lama-lama berpacaran banyak rumor tidak jelas nantinya!" jelas Han.
"Eeh iya, tapi..tapi saya belum siap!" Dita menggeleng kepalanya.
"Ah saking senangnya aku lupa menanyakannya! Tidak apa-apa, aku akan menunggumu! Menunggu sampai kau siap menerima ku!" ujar Han tersenyum dan membuat pipi putih Dita menjadi merah karena tersipu.
Wushh..hujan meteor turun, semua orang disana bersorak Sorai melihat meteor itu. Meteor yang sangat indah, seperti cinta Han dan Dita yang baru dimulai saat itu.