"Abian, tadi bianka tanyain kamu! Itu, Bianka anak pemilik perusahaan besar yang ada di Jakarta.” Goda Rian mengejek Abian. Abiah hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Rian yang tidak penting.
“Sebenarnya ada apa, Bian! Kamu seperti orang yang sedang merasa gunda.”
“tolong kamu baca, apa kamu paham isi puisi ini?” Abian memberikan kertas berisi puisi yang akan Abian tampilkan bulan depan nanti.
“bukannya ini karya dari Bianka! Jutek siih boleh, Yan! Tapi kamu harus memikirkannya.”
Abian hanya menganggukan kepalanya.
Tanpa dikata, kekasih ya tetaplah kekasih, hatimu indah, aku mengagumimu.
"Aku selalu takjub dengan pandanganmu, namun entah kenapa pandanganmu itu membuatku resah. Sebab pandanganmu tidak lagi indah, apakah ini sebuah pertanda! Kasih sayangmu untukku telah kau hilangkan? Aku tidak ingin kamu pergi. Aku selalu merasa ingin menyerah, namun hatiku mengatakan jangan, namun dengan melihat wajahmu semalam, aku tahu kau telah menyimpulkan bahwa hatimu tidak lagi untukku. Mungkin semua ini akan sulit, tetapi aku akan mengikhlaskannya. Berbahagialah kekasihku."
“aku yakin, ini pasti pesan untukku dari Bianka. Aku yakin dia pasti tahu, dengan pesan ini dia memintaku untuk mundur?” Tanya Abian kepada Rianyang membacakan puisi itu.
“Entah, aku pun bingung, kok kamu bisa jatuh hati pada siih jutek dan reseh itu.”
“dia itu berbeda dengan yang lain, dia itu unik, dia itu nggak suka membicarakan perasaan. Aku pun heran, aku pernah dikecewakannya, tapi kenapa masih ingin bertahan dengannya?” tutr Abian.
“Kalian berdua itu butuh waktu untuk menghilangkan ego kalian masing-masing.” Sahut Rian.
Setelah beberapa hari telah ia lewati, Abian susdah tidak tahan ingin berbicara dengan Bianka.
“Ada apa, Yan?” Tanya Bianka singkat.
“Ehhmm, Aku hanya ingin berbicara denganmu.” Sambung Abian grogi.
“Maaf, Yan! Aku ada urusan lain. Besok aja ya.” Sambung Bianka, dan meninggalkan Abian.
“Aku Sangat Mencintaimu, Bianka.” Teriak Abian nyaring. Bianka lalu menghentikan langkahnya tanpa melihat kebelakng dan tidak menjawab apapun. Bianka bahkan melanjutkan langkahnya. Menurut anggapan Abian, Bianka tidak lagi memiliki rasa yang sama dengannya. Kedua orang tua Abian ada di kosan-Nya.
“Tadi ada seorang wanita menitipkan sebuah surat untukmu, nak, dia terlihat seperti anak yang baik, sepertinya penting.
“Ya udah, nanti Abian baca.” Jelas Abian, kemudian meninggalkan ruang kecil itu.
“Namanya Bianka.” Sahut ibunya lagi.
Abian yang mendengar nama tersebut langsung bergejolak, rasanya senang sekali. Dengan cepat Abian membuka isi surat itu dan membacanya.
“Beneran ini bu?”
“Iya, beneran Abian.” Di dalam isi surat itu, Bianka meminta Abian menemui kedua orang tuanya, jika Abian benar-benar serius dengannya. Abian pun tersenyum bahagia..!!