LAPANGAN BASKET SETELAH KELAS
(Day 4)
24 Oktober 2021
Lapangan itu sangat luas. Berada diseberang kelas. Diantara tembok tinggi gedung.
Dan di ujung lain pada satu ruang utama administrasi dimana sebelum menjangkau ada tangga. Tangga-tangga penghubung itu terdiri dari trap-trap yang lumayan tinggi untuk menjangkau ke atasnya.
Beberapa waktu berlalu. Lapangan itu selalu menjadi ajang yang mengerikan kala ada pertandingan antar kelas. Selalu terjadi tragedy. Anak-anak yang bermain senantiasa adu kuat. Sehingga saling sikut dan saling jegal. Tak perduli itu semula rekan. Kalau sudah berada di lapangan, maka akan di hajar. Segala sesuatu jika berada di tengah pertandingan akan dianggap suatu kecelakaan.
Sehingga tak jarang ada anak yang mendendam maka akan dilampiaskan di lapangan itu. Entah itu hanya satu lontaran bola keras. Atau suatu dorongan yang membuat terjerembab. Karena kuat dan kerasnya lantai, tak jarag membuat pemain menjadi terkapar. Lebih jauh lagi akan kesakitan hingga pingsan. Lalu beramai-ramai di bawa ke UKS. Dimana jika tak membaik akan langsung dibawa ke puskesmas terdekat. Maklum desa berkabut. Jauh dari kota. Dan akan menjadi sebuah kesulitan tersendiri kalau mesti membawanya ke Rumah Sakit Kota yang sangat mahal. Meskipun tak jarang banyak yang memanfaatkan bantuan dari pemerintah dengan BPJS gratis yang dibagi percuma. Hanya ada kalanya semua itu tak ditanggung oleh fasilitas yang tersedia. Mesti ada beberapa obat yang lumayan mahal untuk ditebus. Belum lagi kalau sampai menginap dan naik kelas. Maka akan ada biaya tambahan demi sesuatu yang tak berada dalam tanggungan layanan itu.
Rumah Sakit juga enggan menanggung sisanya. Karena akan rugi banyak untuk membiayai satu orang dengan obat yang mahal. Bahkan tak jarang jika mesti pulang belum usai pengobatan, karena tak tertanggung biaya mahal tersebut.
Semua karena lapangan aneh di tengah-tengah sekolah itu. Dimana berbagai kenangan sudah ada semenjak dibangunnya tempat itu. Yang menjadikan selain asik buat bermain, juga ada banyak tragedy tercipta. Lapangan yang tak setiap waktu dipakai oleh anak-anak sekolah. Terkadang anak-anak luar juga ikut berain. Memanfaatkan jam kosong sembari menunggu senja. Dan akan merasa sehat jika telah memainkan beberapa game setelahnya.
Tapi sudahlah semua akan sirna seiring berjalannya waktu. Dimana tanpa perlu memikirkannya, dan membiarkan angan-angan tentang perainan disana juga lenyap.
Ah, aku tertegun. Kakiku berdarah. Pada ujung batu bersudut di tengah lapangan.
Kakiku tersobek.
Ada yang menyeringai setelahnya.
Saat main ini, belum usai setengah pertandingan, sudah terjadi adu kekuatan. Tak menunggu waktu lama guna memanaskan situasi. Semua langsung berebut. Akupun demikian. Mencoba menghalau bola. Atau merebut bola yang tengah di pivot lawan yang tinggi kuat. Seperti kali ini bola itu tak berhasil aku rebut.
Lawanku yang tinggi besar itu dengan asiknya mengangkat tangannya yang bau. Aku mencoba meraih. Tapi tak kena. Hingga kakiku yang ramping melompat-lompat demi meraihnya. Tak kena juga. Hingga di ujung kekesalannya, dia melemparkan bola kea rah rekan satu team nya dengan menjatuhkan bola itu sebagai pantulan sekali sebelum sampai pada tangan rekannya. Kemudian rekan itu membawa lari menuju jaring kami. Saat terlepas bola tadi, tangannya yang kuat mendorongku. Akupun tak kuasa, hingga terdorong beberapa langkah untuk berikutnya membentur tiang bendera dengan ujung dasar yang sedikit runcing berbentuk kotak.
Akupun sedih.