Shinjou Itsuyachi, itulah namaku. Entah mengapa, author memberiku nama seperti itu padaku, Shinjou artinya perasaan. Padahal kalau di dunia nyata, aku seperti orang tak berperasaan, tak punya aura. Aku selalu diam, diam, dan diam. Kalau tidak ditanya, aku tak akan bicara. Bukan hanya itu, aku orangnya seratus persen introvert, sosialisasi adalah kegiatan yang paling kubenci daripada membersihkan toilet setiap hari.
Pagi ini, aku berjalan santai menuju kelas. Kelas 1 B. Aku selalu menundukkan pandanganku, aku sangat tak tertarik dengan kepopuleran. Aku berusaha menghindar hal seperti itu.
Saat aku memasuki kelasku, banyak siswa-siswi yang berkerumun di bangkunya Sachiko Hayashi, salah satu murid yang populer.
Setelah masuk ke kelas, aku langsung duduk saja di bangkuku, karena hari ini bukan jatahku piket. Memandang ke luar kelas yang bersuasana damai, namun suasana di dalam kelas inilah yang tidak damai. Mereka berisik sekali. Tentu saja aku risih, tapi aku tak mau membuat masalah dengan Sachiko. Aku hanya memasang headphone untuk mendengarkan suara yang lebih teratur.
Tidak lama setelahnya, ada seorang perempuan seusiaku yang duduk di depanku, dia terus tersenyum sambil memandangi wajahku.
"Nande?" tanyaku sambil melepas headphoneku. Kemudian, bukannya dia menjawab, senyumannya malah semakin lebar, "tidak apa-apa, ohayou Shi-kun!" ucapnya tanpa mengubah senyumannya.
"Ohayou mo." balasku singkat.
"Ara ara.. Pagi-pagi kau sudah lesu saja. Cobalah untuk tersenyum. Smile!" ucapnya sambil menarik sudut bibirku ke atas, "nah kan kau jadi semakin tampan kalau tersenyum." sambungnya.
"Hmm jadi kalau aku tampan, kau mau ya, aku direbut oleh orang lain?" tanyaku. Yah, dia adalah Amaya Okamoto sebagai.. kekasihku. Aneh kan? Tapi jangan berpikir kalau aku yang menyukainya. Justru sebaliknya, dia duluan lah yang menyatakan perasaannya padaku beberapa pekan yang lalu.
"Apa yang terjadi di sana?" gumamku, namun Amaya dapat mendengarnya.
"Aku tidak tau. Tapi mereka bilang, lembar tugas milik Sachiko dirobek." jawab Amaya sambil membenarkan jepet rambutnya yang berbentuk semanggi berdaun empat. Kalau dipikir-pikir, dia memang seperti cosplay-nya Kuroha Shida.
"Dirobek?" tanyaku lagi dengan sedikit ekspresi yang diubah.
"He'em." jawabnya dengan deheman disertai anggukan kecil.
"Bagaimana bisa kertas tugasnya disobek?" batinku sambil berpikir.
"Hey, Shi-kun, kenapa kau diam saja?" tanyanya yang menyadarkan aku dari lamunan.
"Hmm tidak apa-apa." balasku dengan nada datar.
"Jangan-jangan, kau menyukai dia, ya?" tubuhnya sambil memasang ekspresi merajuk.
"Tidak mungkin! Aku bahkan lebih menyukai kucingku daripada kalian." balasku sambil kembali memasang headphone dan kemudian mengalihkan pandangan.
"Kau yakin?" tanyanya sambil melepas headphoneku, dan kemudian memakainya. Menyebalkan sekali orang yang satu ini.
"Tentu saja aku yakin."
"Amaya! Shinjou!" panggil Sachiko sambil berjalan menghampiri kami berdua. Dan dia berhasil merebut pusat perhatian kami.
"Ada apa, Sachi-chan?" tanya Amaya.
"Apa kau tau siapa yang berada di kelas beberapa saat yang lalu? Hari ini kau berangkat pagi, kan?" tanyanya.
"Hmm iya. Aku memang berangkat lebih pagi untuk piket kelas, dan tadi belum ada siapa-siapa di dalam sini."
"Lalu, siapa yang menyobek tugasku?"
"Tidak tau."
"Benarkah?" tanya Sachiko sambil memincingkan matanya saat menatap Amaya.
"Untuk apa aku berbohong padamu?"
"Sudahlah. Mungkin kau sendiri yang menyobeknya, lalu menghilangkannya." ucapku menengahi mereka sebelum perdebatan panjang benar-benar pecah.
"Hey, kau jangan asal bicara, Shinjou. Kalau aku yang melakukannya, untuk apa aku bertanya?" ucapnya lagi, sedangkan aku menghela nafas pelan sembari memasang ekspresi datar.
Krek!
Aku bangkit dari dudukku, kursiku tergeser dan menimbulkan suara gesekan.
"Buku tugas apa yang disobek?" tanyaku dengan nada dan ekspresi datar.
"Buku tugas prakarya." jawab Sachiko.
"Buku tugas prakarya? Pelajaran prakarya berlangsung setelah jam istirahat pertama, masih ada waktu untuk menyelidikinya." gumamku, namun mereka berdua dapat mendengarnya.
"Maksudmu, kita akan menyelidikinya?" Amaya bertanya setelah dia juga ikut berdiri.
"Hmm kita coba saja." balasku singkat, kemudian berjalan ke arah meja tempat Sachiko yang sudah sepi.
"Coba lihat bukunya." aku berucap sembari melihat sekeliling, siapa tau aku menemukan petunjuk.
"Ini," Sachiko memberikannya bukunya yang bersampul warna coklat, dan luarnya dilapisi dengan plastik. Aku pun mulai membuka-buka halaman buku tersebut dengan hati-hati.
Aku membuka halaman buku yang dirobek, yah meskipun tidak ada halamannya. Tapi, terdapat bekas robekan di pinggirannya.
"Hmm apa kejadian seperti ini sebelumnya pernah terjadi?" tanyaku pada mereka berdua.
"Kalau tidak salah, memang pernah. Tapi dari kelas 2 E kalau tidak salah." balas Amaya, dia merupakan salah satu anggota OSIS, jadi dia punya banyak informasi tentang kejadian yang terjadi di sekolah ini.
"Lalu, bagaimana mereka menyelesaikan kasus ini?" tanyaku lagi.
"Sepertinya tidak diselesaikan. Mereka membiarkannya begitu saja dan menerima akibatnya."
Setelah mengajukan dua pertanyaan, aku kembali mengamati buku milik Sachiko.
"Pelakunya begitu cerdik. Tangannya bersih saat sedang beraksi. Dia tidak meninggalkan bekas sidik jari." gumamku setelah dengan teliti mengamati halaman sebelum dan setelahnya pada lembaran bukunya Sachiko. Masih bersih.
"Sachiko, di mana kau menyimpan buku ini?" tanyaku lagi.
"Di dalam tas." jawabnya sambil menunjuk ke arah tas yang dia masukkan ke dalam laci.
"Ehm.. Amaya. Kau membawa bedak tabur?" dengan sedikit keraguan, aku bertanya padanya.
"Bedak tabur? Untuk apa? Mau kau pakai di wajahmu, kah?" Amaya malah bertanya. Sudah kuduga dia akan bertanya hal itu. Aku memberikan tatapan datar padanya sebagai bentuk jawaban.
"I-iya aku bawa kok. Aku ambilkan di tas." tanpa pikir panjang, Amaya pun melakukan apa yang aku mau. Dia segera berjalan cepat ke kelasnya, kelas 1 D. Tidak butuh waktu lama, dia telah kembali.
"Ini," ucapnya sambil memberikan sewadah kecil yang berisi bedak tabur. Aku pun menerimanya.
"Pinjam dulu."
"Okey,"
"Sachiko, kau membawa kuas? Kuas untuk melukis?" kali ini, aku ingin menggunakan properti dari Sachiko.
"Tentu saja. Ini."
Setelah Sachiko meminjamkan kuas lukisnya padaku, aku pun mulai mengambil tindakan.
Aku menaburkan sedikit bedak tabur milik Amaya pada sampul buku Sachiko. Kemudian meratakannya dengan kuas. Tampak ada beberapa sidik jari.
"Sachiko, lihat tanganmu." ucapku pada Sachiko. Dia menatapku bingung, sembari menunjukkan telapak tangan kanannya padaku.
"Kau mau meramal kah?" tanyanya. Aku kembali memasang tatapan datar, dia terdiam, yang sepertinya dia sudah tau maksudku untuk tidak banyak tanya.
Ternyata ada tiga sidik jari yang berbeda. Berdasarkan pengamatanku, tiga sidik jari tadi milik dua orang yang berbeda, dua di antaranya adalah milik Sachiko sendiri, dan satunya milik orang lain.
"Hmm pelakunya hanya menggunakan satu jari untuk membuka bukumu." ungkapku sembari mengelus daguku yang masih mulus.
"Apa? Satu jari? Berarti dia melakukannya dengan sangat hati-hati." Sachiko menyahut.
"Iya. Dia orang yang cukup pintar."
"Tunggu, kenapa kau malah memujinya, Shi-kun?" Amaya menanggapi dengan ekspresi sedikit tidak suka.
"Iya, tapi kan aku lebih pintar pastinya. Ahaha.. ha.." balasku disertai tawa yang canggung.
"Ah sudahlah! Aku punya rencana." aku berucap untuk mengalihkan topik. Mereka berdua menatapku dengan tatapan tertarik.
"Apa rencananya?" mereka berdua hampir kompak saat menanyakan hal yang sama.
"Rencananya adalah.. Kita akan melanjutkan misinya saat jam istirahat nanti."
"Tunggu, kenapa tidak sekarang saja?" Amaya memasang wajah kecewa, begitupun dengan Sachiko. Tentu saja penyebabnya adalah perkataanku.
"Apa kalian tidak dengar, bel masuk sudah berbunyi lho."
----------
Singkat cerita setelah jam pelajaran berakhir, dan saat waktu istirahat.
"Shi-kun!" panggil Amaya dari depan kelasku. Cepat sekali dia, padahal aku belum selesai membereskan alat tulis dan buku pelajaran milikku.
Setelah selesai, aku pun menghampirinya.
"Apakah pacarku ini akan jadi detektif lagi?" tanyanya saat aku masih berjalan ke arahnya.
"Tidak tau," aku malas menjawabnya, dari aku bilang saja tidak tau.
"Jangan begitu donk. Kamu ini dingin sekali sih? Apa mau kuberi hadiah cinta dulu?" Amaya bertanya sembari menangkupkan telapak tangannya di kedua pipiku.
"Psst! Jangan keras-keras!" bisikku sembari memegang pergelangan tangannya. Pasalnya, beberapa pasang mata mulai menatap ke arah kami, tentu saja aku malu.
"Hayo, hadiah cinta apa?" ucap seseorang dari arah belakangku. Dia adalah Sachiko. Mengejutkan saja.
"Hmm mau tau saja, kau." balas Amaya sembari menatap Sachiko dengan sinis.
"Kenapa aku tidak boleh tau? Biarkan aku mencontohnya jika aku pun pacar baru nanti, hehe.." jawab Sachiko disertai kekehan kecil.
"Oh iya, Shi-kun, apa kau mau melanjutkan misi yang tadi?" Sachiko bertanya padaku.
"Hmm boleh." balasku sembari mengangguk pelan. Kemudian, aku berjalan menunju lorong dan meninggalkan mereka berdua.
"Eh, kau mau ke mana, Shinjou?" panggil Amaya yang membuatku menghentikan langkah.
"Kantin,"
"He! Hey! Tunggu aku!" Amaya segera berlari dan menyusul langkahku. Begitupun dengan Sachiko, dia juga berjalan di sampingku. Hah.. rasanya bagaikan mempunyai dua kekasih.
----------
Di kantin, kami duduk dalam satu meja yang sama. Aku duduk bersebelahan dengan Amaya, dan di depan kami hanya ada Sachiko. Aku makan dengan tenang, sedangkan mereka berdua, selalu saja mencari bahan perdebatan.
Hingga, aku melihat suatu kejanggalan, ada seseorang yang melihat suatu kertas yang dia sembunyikan di bawah meja. Dia menatap sekeliling, seketika dia memalingkan wajahnya ketika melihat aku yang memperhatikan dirinya. Aneh..
Tidak lama kemudian, dia segera melipat kertasnya dan memasukannya ke dalam saku, dan lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kalian berdua, tunggu di sini." ucapku sembari berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Tak peduli dengan panggilan kedua cewek itu yang menyuruhku untuk tetap duduk dan menghabiskan makanan yang telah kupesan.
----------
Diam-diam, aku terus membuntuti orang itu. Aku memang pendiam dan penyendiri, jadi mudah saja bagiku untuk melakukan ini. Orang itu berjalan ke halaman belakang sekolah. Lalu, aku melihatnya membuang sesuatu ke dalam tempat sampah. Kemudian pergi begitu saja.
Aku yang masih di sini pun merasa curiga. Dengan hati-hati, aku pun mencoba mencari apa yang dia buang tadi.
"Hoekk!" aku sedikit mau muntah ketika membuka tempat sampah. Dengan ekspresi jijik, aku pun mulai mencari. Bukan lebay atau apa, tapi ini memanglah hal wajar bagi manusia.
"Nah! Ini.." gumamku setelah menemukan sobekan kertas yang tidak utuh. Setelah ku baca, kertas itu adalah lembaran tugas milik Sachiko yang tadi hilang.
"Semoga masalah ini cepat selesai.." gumamku sembari berjalan meninggalkan tempat itu, menuju ke arah tempat yang dia lewati.
Aku memandang sekeliling dengan jeli supaya tidak melewatkan bukti sekecil apapun.
Aku mempertajam pandanganku ketika melihat sesuatu berwarna putih yang terletak di antara ranting pohon. Aku mendekatinya dan kemudian mengambilnya.
"Ini sisanya! Bukti telah ditemukan. Tinggal mencari si pelaku."
----------
"Shi-kun!" ucap Amaya yang iseng untuk mengagetkan aku. Aku sama sekali tidak kaget. Aku hanya menatapnya datar.
"Nande?" tanyaku pada mereka berdua.
"Sudah selesai?" Sachiko bertanya. Aku menghela nafas.
"Tinggal mencari si pelaku. Ini bukti sudah ditemukan." ucapku sembari menunjukkan dua robekan kertas pada mereka berdua.
"Eh itu punyaku!" Sachiko menanggapi sembari mencoba meraihnya dari tanganku.
"Eits! Jangan. Aku masih memerlukannya. Aku akan menggunakan ini sebagai barang bukti." balasku sambil memasukkan kedua robekan tadi ke dalam saku. Dan kemudian, berjalan pergi meninggalkan mereka, lagi..
----------
"Hey kau! Jangan mencoba kabur!" teriakku setelah menemukan orang tadi tepat di depan gudang.
Namun, orang tadi sama sekali tidak takut. Dia menatapku dengan tatapan biasa.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya layaknya orang tak bersalah.
"Bisa.. aku lihat telapak tanganmu?" tanyaku, dan kemudian tanpa ragu, dia pun melakukan apa yang kuminta.
Aku mengambil sesuatu dari dalam saku. Sesuatu berwarna putih yang terbungkus kertas. Itu adalah sisa bedak tabur punya Amaya. Aku memintanya sedikit.
Ketika aku hendak menaburkannya di telapak tangannya, tiba-tiba dia menarik kembali tangannya dan kemudian berjalan cepat dari sini. Dia kabur!
Sebelum dia kabur, ada seseorang yang terjadi dengannya..
Bruk!
Seseorang menabraknya dengan lumayan keras dan seketika membuatnya terjatuh. Orang itu adalah Amaya!
"Jangan mencoba lari, wahai pelaku!" ucapnya sembari memegang kedua tangannya dan meletakkannya di belakang tubuhnya.
"Aku.. aku sama sekali tidak mengerti apa yang kalian bicarakan." ucapnya mencoba menyangkal.
"Hmm jadi namamu itu Utsomiya Toshiro? Toshiro-san.. Kau benar-benar tidak tau apa yang sudah kau lakukan?" kini giliran Sachiko yang muncul dan berhasil menghalangi pergerakan si pelaku.
"Hmm tidak.." jawabnya sembari menggeleng. Tapi aku yakin, pada hati terdalamnya, dia takut.
"Jawab atau kau akan kami laporkan.." ucapku dengan nada dingin. Aku sengaja menerornya supaya dia mau mengaku.
"Aku.. aku disuruh oleh seseorang.. Tolong lepaskan aku.." ucapnya, dia mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Hmm baiklah, kami akan melepaskanmu setelah kau mau memberi tau siapa yang menyuruhmu." balasku sembari menatapnya dari dekat.
"Shi-kun, jangan terlalu dekat!" kata Amaya memprotes.
"Ayolah Amaya, aku hanya mau-"
"Hey, dia kabur!" ucap Sachiko memotong ucapanku. Toshiro berhasil melepaskan diri akibat Amaya lengah.
"Huh! Seharusnya kau tidak bicara tadi.." gumamku menggerutu.
"Gomenee.."
----------
"HEY YANG DI SANA! TOLONG CEGAT DIA!!"sembari terus berlari, aku berteriak. Tanpa pikir panjang, semua orang yang merasa terpanggil langsung mencegat dan menangkap Toshiro.
"Nah akhirnya, kau kembali tertangkap. Terima kasih ya.." ucapku kemudian pergi sembari memegangi tangannya di belakang.
Aku membawanya ke tempat sepi, bersama dengan Sachiko dan Amaya.
"I-iya.. A-Aku melakukannya karena satu alasan.." ucapnya gugup sembari menundukkan kepalanya. Sedangkan aku masih diam memegangi kedua tangannya.
"Bisa kau sebutkan alasanmu?" tanya Sachiko sambil melipat tangannya.
"Aku.. Aku sebenarnya.. Disuruh olehnya."
"Siapa yang menyuruhmu?" Amaya bertanya dengan nada menginterogasi. Yah, memang dia sedang diinterogasi.
"Maaf a-aku tidak bisa menyebutkan namanya. Jika aku memberi tau kalian, dan kemudian kalian melaporkannya, maka dia tidak akan segan-segan untuk menghancurkan kehidupanku." ucapnya. Dia merasa bersalah.
"Ooh ternyata kau korban pembullyan. Apa sebelumnya kau pernah melakukan hal ini?" tanyaku tanpa mengendurkan cengkraman-ku.
"I-iya. Di kelas 2 E."
"Kau bahkan masuk ke ruangan kakak kelas?"
"Hmm." jawabnya dengan gumaman sembari mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Dia berada dalam situasi yang sulit.
"Orang yang kau maksud, dari kelas apa? Apakah sama denganmu?"
"Ti-tidak. Dia kelas 1 C, aku kelas 1 D."
"Apakah hari ini orangnya berangkat?"
"Memangnya apa yang akan kalian lakukan?"
"Tidak ada, hanya memastikan."
"Dia tidak berangkat. Tapi dia tetap menyuruhku."
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, akhirnya aku mendapat kesimpulan. Toshiro ada korban pembullyan. Dia juga diancam jika tidak menuruti keinginan si pembully. Hah.. ada-ada saja.
"Hmm bagaimana kalau sekarang kau menjadi temanku? Kau tinggal putus hubungan saja dengan orang itu. Bagaimana?" tanyaku untuk mengambil keputusan.
"Tapi.."
"Jika terjadi sesuatu, aku akan membantumu." jawabku untuk meyakinkan dirinya. Tapi..
"Ekhem! Kamu tidak menganggap kami?" Amaya berdeham, kemudian bertanya dengan nada yang aneh.
"Oh, maksudku.. kami akan membantumu jika terjadi sesuatu." aku mengulangi perkataanku.
"Baiklah, masalah sudah selesai. Untuk kali ini, aku memaafkan kamu, Toshiro-san. Dan Shi-kun, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu hebat sekali.." ucap Sachiko berterima kasih sembari ingin memegang tanganku. Namun...
"Tentu saja! Pacarku ini memang hebat! Tidak rugi aku memilih kamu, Shinjou.." ucap Amaya menyela.
"I.. I-iya, tapi-"
CUP!
"Amaya! Kau ini benar-benar tidak sopan!" ucap Sachiko dengan keras.
"Memangnya kenapa? Terserah aku lah!"
"Kau tidak boleh seperti itu, kau membuat Shinjou jadi malu!"
Selagi mereka berdebat, aku hanya menghela nafas sembari menggeleng pelan.
"Eh, namamu Shinjou?" tanya Toshiro.
"Iya," jawabku.
"Dan dia pacarmu?"
"Anggap saja begitu.."
Begitulah akhir dari cerita ini. Intinya, jangan suka membully dan tolonglah korban pembullyan jikalau kalian bisa. Jika kalian dibully, maka jangan diam saja. Kalian tau maksudku kan?
------------
Terima kasih sudah membaca ceritaku! Jangan lupa like dan komen ya.
Oh iya, Nino bikin chat story lho, mampir ya! Arigatou!