Jin pov
Klik ... Klik ...
Suara jepretan kamera yang sedang memotretku berbunyi. Aku sedang berada di studio tv.
Fotografer yang memotretku adalah Hana. Ia adalah sahabatku. Kami bersahabat dari kecil.
Apa aku menyukainya?
Sangat. Aku sangat menyukainya.
Bahkan saat ia bercita-cita menjadi fotografer, aku mengubah impianku dari menjadi dokter menjadi model (untunglah wajahku tampan), aktor sekaligus penyanyi. Semata-mata supaya ia bisa selalu memotretku.
Apakah aku pernah menyatakan cinta padanya?
Pernah. Tapi ia tolak mentah-mentah.
Hana mengira aku selalu memintanya menjadi fotograferku karena kasihan.
Padahal itu karena hasil fotonya yang bagus dan juga supaya aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.
Hana pov
Aku selalu menjadi fotografer untuk setiap pemotretan Jin. Mungkin ia merasa kasihan denganku yang sepi job.
Dulu saat ia menyatakan cinta padaku, aku menolaknya. Aku merasa tidak pantas untuknya. Banyak wanita yang lebih cantik yang lebih pantas untuknya.
Saat ini aku berada di panggung musik dan memotret Jin. Sebentar lagi ia akan menyanyikan lagu di panggung ini.
Tiba-tiba Jin mendorongku. Aku terjatuh. Aku melihat Jin tertimpa lampu sorot yang jatuh dari atas.
"JIN." Aku berteriak. Darah dari kepalanya mulai mengalir.
Ambulans datang. Aku menangis. Aku takut Jin meninggalkan diriku.
Aku menemaninya sampai ia sadar.
"Jin. Mengapa engkau menolongku?" tanyaku.
"Aku rela kehilangan wajah tampanku. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu."