Di sebuah desa, hiduplah seorang ibu bernama Delsie. Delsie tinggal bersama anak perempuannya yang bernama Aster. Suaminya telah meninggal saat Aster masih kecil. Sejak saat itu, Delsie berperan sebagai ibu sekaligus ayah untuk Aster. Delsie bekerja keras membanting tulang setiap hari. Ia sangat menyayangi putrinya itu. Delsie tak ingin Aster hidup kekurangan.
Suatu hari, Delsie dan Aster sedang menyantap sarapan seperti biasanya. Tapi ada yang aneh dengan sikap Aster. Ia tampak tak berselera makan. Delsie menyadari sikap anaknya itu. Ia pun bertanya.
“Kenapa kamu terlihat tak berselera makan?” tanya Delsie.
“Aku sedang bosan makan sayur. Aku ingin makan yang lain,” kata Aster.
“Makanlah apa yang ada sekarang. Masih banyak diluar sana orang yang tidak bisa makan seperti kita,”Delsie memberi nasihat pada Aster.
“Iya bu,” kata Delsie. Ia pun menghabiskan makanannya meski tidak berselera. Setelah sarapan, Aster pamit menuju sekolah. Sedangkan Delsie berangkat untuk berjualan di pasar.
Matahari bersinar dengan terik.
Pasar yang tadinya penuh sesak kini sudah sepi pengunjung. Sudah waktunya, Delsie membereskan jualannya dan pulang ke rumah. Saat berjalan pulang, Delsie melihat penjual ayam goreng di dekat pintu masuk pasar. Ia teringat akan Aster. Ia takut Aster tidak ingin makan jika hanya ada sayur di rumah. Delsie tidak setega itu membiarkan Aster kelaparan. Ia memutuskan untuk membeli ayam goreng untuk Aster. Sesekali tak apa, pikirnya. Ia yakin Aster akan senang melihat apa yang dia bawa.
“Aster, coba lihat apa yang ibu bawa!” seru Delsie pada Aster. Aster yang merasa dipanggil menoleh ke arah Delsie. Aster langsung tersenyum senang ketika melihat apa yang dibawa oleh Ibunya.
“Ayam goreng!” teriak Aster senang.
“Sekarang kamu siapkan piring dulu. Ibu ingin ganti baju sebentar,” kata Delsie memberikan bungkusan ayam goreng itu pada Aster. Aster menerimanya dengan sukacita.
“Siap bu,” kata Aster semangat. Ia bergegas mengambil piring dan nasi lalu mulai makan. Delsie tersenyum melihatnya. Meskipun hanya sepotong ayam namun bisa membuat Aster tersenyum.
“Ibu mau?” tanya Aster pada Delsie yang hanya memandanginya tanpa ikut makan.
“Tidak, habiskan saja,” jawab Delsie tersenyum. Aster pun menghabiskan makanannya dengan lahap.
“Ayamnya enak sekali. Ibu memang yang terbaik,” kata Aster memeluk Ibunya. Delsie membalasnya dengan pelukan hangat. Sungguh besar kasih sayang Delsie pada Aster. Hanya Aster yang Ia punya. Delsie senang jika Aster dapat bertumbuh dengan baik, walaupun tanpa seorang ayah.
Beberapa tahun kemudian, Aster bertumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Setiap hari ia rajin belajar. Saat lulus SMA, Aster memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di kota untuk meraih cita-citanya. Karena usahanya, Ia berhasil mendapatkan beasiswa di kota. Aster sudah mempersiapkan semua dengan baik sampai hari keberangkatannya ke kota. Delsie mengantar kepergian Aster hingga terminal bus.
“Bu, aku pamit ya. Doakan aku,” pamit Aster.
“Ibu akan selalu mendoakanmu. Maaf ibu tidak bisa memberimu uang. Ibu hanya bisa membawakanmu bekal makanan,” kata Delsie memeluk Aster. Aster membalas pelukan Delsie dengan erat.
“Tidak apa-apa. Ibu selalu jaga kesehatan ya,” kata Aster.
Tak lama, bus yang akan ditumpanginya pun tiba. Aster melambaikan tangan pada Delsie saat bus mulai berjalan. Sementara Delsie yang menyaksikan kepergian Aster ke kota merasa bangga sekaligus sedih. Ia bangga karena Aster bisa pergi ke kota untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi ia sedih karena Aster akan meninggalkannya seorang diri. Tapi rasa sedihnya tidak lebih besar dari rasa bangganya.
Di kota, Aster belajar dengan sungguh-sungguh. Pada tahun awalnya tinggal di kota, Ia masih sering memberi kabar pada ibunya. Tapi lama kelamaan Aster mulai sibuk dan jarang memberi kabar. Delsie yang khawatir pun menelepon Aster.
“Halo, Aster?” kata Delsie saat telepon baru terhubung.
“Halo ibu? Ada apa?” balas Aster.
“Ibu hanya khawatir terjadi sesuatu padamu. Kamu sudah lama tidak menelpon ibu,” kata Delsie,
“Apa ibu mengganggumu?” tanyanya.
“Tidak juga. Aku baik-baik saja,” jawab Aster, “Sudah dulu ya bu, ada yang harus aku kerjakan,”
“Ya sudah, jaga kesehatanmu dan jangan lupa makan,” kata Delsie.
“Ya bu,” jawab Aster sebelum mengakhiri panggilan telepon itu. Panggilan yang biasanya lebih lama.
Kini menjadi sesingkat itu karena Aster sibuk berkuliah sekaligus bekerja paruh waktu. Delsie hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Aater. Begitulah waktu berlalu. Sampai tiba waktunya Aster lulus kuliah. Aster lulus dengan nilai yang baik dan mendapat pekerjaan di perusahaan besar di kota. Semenjak bekerja, Aster semakin sibuk dan sangat jarang menelepon Delsie. Mungkin sebulan hanya sekali atau dua kali. Itu pun Delsie yang menelepon lebih dulu.
Lagit sudah gelap.
Aster baru saja menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Saat perjalanan pulang, Aster melihat seorang ibu yang menjual gorengan. Ibu itu terlihat lelah karena berjualan keliling sambil menggendong anaknya yang masih kecil.
Aster yang merasa kasihan menghampiri ibu itu. Ia membeli beberapa gorengan yang belum terjual. Ibu itu berterima kasih karena Aster membeli gorengan yang dijualnya. Melihat ibu itu, Aster jadi teringat Delsie di desa. Sudah lama Aster tidak menghubungi Delsie. Ia rindu Ibunya dan kampung halamannya. Astee berencana akan pulang ke desa akhir pekan nanti.
Tiba saatnya akhir pekan. Aster pulang ke desanya. Tak banyak yang berubah di desanya selama Ia ke kota. Rumahnya pun masih sama seperti dulu. Aster mengetuk pintu rumahnya. Tak lama pintu terbuka. Delsie keluar dari rumah. Tanpa aba-aba Astee segera meminta maaf kepada Ibunya.
“Maaf ya bu, Aster baru pulang sekarang,” kata Aster menangis. Delsie yang melihatnya ikut menangis bahagia.
“Ibu senang kamu pulang,” kata Delsie.
“Ayo masuk, Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu,”
“Ayam goreng?” tanya Aster semangat.
“Iya ayam goreng,” kata Delsie. Mereka pun makan bersama sambil melepas rindu
.
Aster menceritakan tentang pekerjaannya di kota. Ia juga membeli rumah sendiri dengan gajinya. Aster mengajak Delsie untuk tinggal bersama di kota. Delsie dengan senang hati menerima ajakan Aster. Ia senang dapat tinggal bersama-sama lagi dengan Aster.
Delsie Rowell
Aster Efigenia Namesio
😇THE END😉