sang rembulan berada di atas kepala
berputar waktu berputar menjadi malam
tak terasa sudah hampir dua jam shinra berdiri di dalam lava panas, perlahan tubuh nya melepuh
ingatan tentang dirinya masa lalu berputar tak tentu arah.
kilasan ingatan tentang pembunuhan ibunya serta ayah nya membuat shinra dengan sekejab mata ter sadar. sudah hampir sepuluh tahun setelah peristiwa itu namun dia belum bisa melupakan masa lalu " kenapa ingatan sepuluh tahun itu membuat ku lemah.. tega sekali kakak, kenapa kau membunuh ayah ibu di saat umurku 7 tahun aku sungguh benci tatapan mata mu itu kakak..!" shinra mengejapkan beberapa kali kelopak matanya
perlahan tubuh nya mulai menyambung kembali
dia terperangah saat tanpa segaja ada sosok berambut putih yang diam menjulang tinggi di depan nya.
" tubuh mu sudah ku buat ulang shinra " pemuda itu menyiratkan hawa menakutkan namun terkesan sedikit bersinar shinra menatap nya lalu memegang ujung baju pemuda itu.
Shinra terdiam sesaat meremas ujung baju nya " kamu mereka ulang tubuh ku? bagaimana dengan darah ku?
aku bisakah meminta sesuatu dari mu jika kamu memang benar menyukai ku moro, tolong bawa reva kembali ke negara nya.. aku tak bisa menyelamatkan dia karna ayah ku, aku lemah soal dia moro tolong dia teman pertama ku..!! shinra menegadah ke atas sesekali terdengar suara napas moro yang bingung harus apa.
" sebagai seorang gadis kenapa kamu lemah pada gadis lain??"
shinra semakin ketakutan dia pun mencengkeram erat tangan moro membuat kuku tajam milik nya masuk menusuk ke dalam daging moro.
" itu permintaan ku moro dia teman ku..." ucap shinra finis.
shinra perlahan berjalan ke alam bawah sadar nya, semakin ia berjalan udara di sana semakin tipis
rambutnya memajang, matanya mengkilap memacarkan aura membunuh yang kuat pola aneh keluar dari dalam tubuhnya.
perlahan tapi pasti terlihat sebuah bayangan mulai datang ke arah nya, sesosok burung berwarna putih dengan rahang yang tajam mendarat di depan nya
shinra mengelus kepala burung itu
" papa memerintahkan untuk membawa mu pulang membuat kontrak untuk kita berdua.. terima kasih kamu mau bersama ku walaupun aku memaksa mu !"
burung itu terdiam lalu terbang menjauh
semakin jauh meningalkan shinra dalam balutan keheningan malam.
pukul 23.00
shinra berjalan di jalanan yang ramai, dia menutupi wajahnya mengunakan tudung jaket
sesekali ia melempar kan jarum ke arah orang-orang membuat mereka terkapar tak berdaya sepanjang perjalan tak luput dari suara benda jatuh yaitu mayat mereka.
senyuman pelan shinra membuat bulu Punduk berdiri. dia tersenyum sesekali menjilat darah yang menempel di tangan nya. kibasan Pedang hampir membuat shinra terluka dia melihat ke depan teryata sosok yang selama ini ia rindukan
zen dan juga lancelot yang gagah berani.
" lama tak jumpa shinra!" sapa zen dengan tatapan mata yang menyala.
" juga zen...."" balas shinra dengan tatapan maut nya...
ketiga orang diam dalam keheningan tanpa ada yang memulai pembicaraan. shinra menegadah ke atas" aku membunuh banyak orang" sedih bercampur senang membuat lancelot membulatkan tekad akan membunuh kekasih yang selama ini ia cintai.
berbeda dengan lancelot, zen malah semakin tertarik dengan gadis yang sudah menjadi psikopat itu dia berbeda sekali batin zen menerawang apa yang akan terjadi ke depan nya.