Nam Joon pov
Saat ini aku sedang berada di dalam kereta. Kereta yang berisi kenanganku bersamanya.
Masih teringat jelas di ingatanku saat ia membuka kotak bekal. Saat ia menyuapkan masakan buatannya ke dalam mulutku. Saat kami tertawa di sini. Saat aku melihatnya tersenyum.
Saat itu seolah-olah dunia hanya milik kami berdua.
Kereta ini juga yang akan membawaku ke tempat kenanganku bersamanya.
Aku melihat foto-foto kami berdua yang masih tersimpan di ponselku. Walaupun kami sudah berpisah tapi aku masih belum bisa melupakannya.
Aku sangat merindukannya. Semakin aku melihat fotonya, semakin aku merindukannya.
Kami berpisah karena kesibukanku. Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk bersamanya.
Lambat laun cinta kami memudar dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.
Boleh dibilang aku lebih memilih karirku daripada dirinya.
Walaupun aku tetap ingin bersamanya tapi aku harus merelakannya. Berpisah adalah yang terbaik bagi kami berdua.
Kereta berhenti. Tanda aku harus segera keluar.
Aku menuju ke pantai. Aku pernah ke pantai ini bersamanya.
Pantai ini penuh dengan kenanganku dengannya. Ciuman pertama kami terjadi di sini.
Masih teringat jelas sentuhan bibirnya di bibirku. Masih teringat jelas mukanya yang memerah karena malu setelah kami berciuman. Masih teringat jelas saat kami bergandengan tangan sambil berjalan menyusuri pantai.
Ada anak laki-laki kecil berlari melewatiku.
"Joon." Aku mendengar suara yang tidak asing lagi.
Aku menoleh ke samping.
"Eomma," seru anak lelaki itu seraya menghampiri ibunya.
"Appa." Ia berlari ke arah pelukan ayahnya.
Aku pun berjalan melewatinya. Walaupun aku ingin memeluknya. Walaupun aku ingin bersamanya. Semua sudah terlambat.
Saat ini ia sudah bersama dengan pria lain.
My greatest regret is when I let you go