seorang gadis bernama Rara lestari adalah gadis lemah lembut dan cantik jelita . kulit putih bersinar yang selembut kain sutra, mata bulat berwarna biru langit dengan bulu mata yang lentik, bibi kecil yang imut berwarna kemerahan, pipi yang berseri, rambut yang panjang dan sedikit ikal berwarna coklat terang, pinggang kecil, dan tubuh setinggi 155 cm dan berat 45 kg. Rara seorang gadis yang masih berumur 12 tahun dan bersekolah di SMPN Widyawati di kota Bandung. Gadis yang pintar dan cantik itu menjadi kebanggaan sekolahnya dan selalu menjadi incaran para lelaki di dalam sekolah maupun luar sekolah. Dia tidak mempunyai teman karna para gadis iri akan kecantikannya dan menjauhi Rara. Rara yang terus teguh untuk tetap belajar demi masa depannya kini menyadari bahwa ia sangat kesepian. Dia menyadarinya saat ia sakit DBD dan dibawakan ke RS terdekat, saking kesepiannya dia selalu menangis saat dirumah sakit. Ruangan putih dan bersih membuat Rara tertekan, saat sakit tidak ada satupun yang menemaninya kecuali perawat pribadinya yang bernama Sean. Pria dengan kulit sawo matang yang bersinar dan terlihat terawat dengan luka di alis kirinya, berambut panjang yang sedang terikat rapih dan berwarna hitam pekat yang berkilap, bermata sipit dengan warna coklat dan bulu matanya yang lentik, bibirnya yang agak kemerahan membuatnya terlihat seperti wanita yang cantik, tubuhnya yang gagah dengan pakaian yang rapi. Seorang pria yang gagah dan cantik itu membuat Rara terpana, setiap Sean berada di dekat Rara , jantungnya selalu berdebar, pipi kemerahan dan salah tingkah. Rara tidak pernah merasakan hal itu sama sekali dalam hidupnya dan ini pertama kalinya dia merasakan nya. "Rara? Rara?" ucap Sean. " ah, iya!" balasnya Rara. "tidak melamun lho, hahaha. kau sedang memikirkan sesuatu?" ucap Sean kembali dengan nada ramah. "eh.. hmm.. hahaha, ti-tidak kok! aku tidak melamun, sama sekali tidak!" ucap Rara dengan tingkah aneh tapi imut dalam penglihatan Sean. " bohong, pipimu kemerahan , apa Rara demam?" ucap Sean kembali dan meletakkan tangan dan dahinya pada dahi Rara. pipi dan wajah Rara semakin memerah bahkan tubuhnya sedikit bergetar. "ahahahaha! kau imut Rara! baiklah, aku akan berhenti mengganggu mu, maaf ya" ucap Sean dengan tawa yang terbahak bahak, dia juga pergi keluar dari ruangan itu. kini Rara mulai agak tenang dan kembali merasakan kesepiannya, akhir akhir ini dia juga tidak bisa tertidur dengan tenang. setiap malam hari, Rara diam² meminum obat tidur. tubuhnya mulai tidak fit dan penyakitnya alih alih semakin membaik malah semakin buruk. efek dari obat tidur itu membuatnya merasakan sakit pada kepala dan dadanya. Sean merasa khawatir dan merasa aneh akan hal ini, dia membawa Rara ke rumah sakit yang lebih besar untuk memeriksa kondisi Rara dan ternyata Rara memiliki penyakit jantung bawaan dari ibunya. dulu penyakit ini tidak bereksi apa pun sampai dia sakit DBD dan meminum obat-obatan tidur itu. Rara mengatakan hal yang sebenarnya itu pada Sean, dia merasa kecewa pada Rara karna telah berbohong dan menyembunyikan hal ini darinya, Rara juga tidak ingin dirawat lagi dirumah sakit, Sean juga tidak bisa bersamanya dan merawatnya karna dia bekerja untuk rumah sakit. beberapa Minggu ini penyakit Rara semakin parah, setiap semingu sekali Sean selalu mengunjungi rumah Rara untuk menjenguknya. saat dia sudah sampai di rumah Rara, terlihat Rara terbaring lemah di ruang tamu dengan keadaan ruang tamu seperti kapal pecah, keadaannya benar benar berantakan dengan Rara yang terbaring lemah dengan beberapa rintihan kecilnya. Sean menggendong Rara ke kamar Rara dan hendak menelepon ambulan, sebelum itu Rara menghentikan Sean yang ingin menelepon ambulan dan mengucapkan beberapa kata, " hei.. Sean.. aku merasa bahagia dan jantungku selalu semakin sakit dan berdebar kencang saat melihatmu, mungkin.. karna itu penyakit ku semakin parah.. haha.. ha..". "Rara.. apa kau mencintaiku?"ucap Sean. "apa itu cint..?" Rara menutup matanya dengan perlahan dan kehilangan nyawanya. "dasar bodoh! hahaha! haha.. ha" ucap Sean dengan keras dan menangis dalam keheningan. beberapa kenangan indah tentang kebersamaan mereka membawa Rara ke tempat yang aneh, tidak ada seorang pun disana hanya sosok putih yang bersinar dengan terang di rerumputan hijau yang terlihat tidak ada batasan nya, tampat yang sangat luas dengan langit biru tanpa awan dan matahari. Rara mencoba menghampiri salah satu cahaya itu dan cahaya itu mengucapkan sesuatu, "kau jiwa baru?" ucap salah satu cahaya, "kalian itu adalah jiwa?" ucap Rara dengan nada takut, jiwa yang lain berkumpul dan mengelilingi Rara dan itu membuat Rara bergidik ketakutan. sebuah cahaya datang dari langit dan mengeluarkan sosok baru yang bercahaya, Rara mendekati tempat sosok baru itu dan melihat Sean yang sedang tertidur lelap, Rara tidak percaya akan hal ini, Rara melihat ke sekelilingnya, dia melihat ibu dan neneknya dari kejauhan, dia juga melihat anak kecil yang dulu pernah ia bantu untuk mencari jalan pulang. rupanya tempat ini adalah tempat perkumpulan jiwa² suci yang telah berpisah dari tubuh masing-masing. Rara mulai mengeluarkan air mata, dia menyadari kalau dia baru saja mati dan tidak disangka beberapa menit kemudian Sean datang ke tempat ini yang berarti Sean juga sudah mati. Sean terbangun dari tidurnya dan terdapat Rara yang sedang memeluknya sambil menangis sesegukan, "kau.. hik..hik.. kenapa kau harus mati!" ucap Rara sambil menangis, "apa kau mencintaiku? Rara?" tanya Sean dengan wajah musam, " apa itu cinta? aku kan hanya Mesa bahwa jantungku berdebar kencang saat bersamamu bahkan walau sekarang aku tidak bersama tubuh ku aku juga masih merasa berdebar saat bersamamu" ucap Rara , tangisan Rara mulai terhenti dan menatap lurus ke mata Sean. "dasar bodoh, hahaha! itu namanya cinta, saat aku tidak ada apa kau merindukanku? " ucap Sean. " aku selalu merindukanmu Sean, tapi aku tidak menyangka bahwa inilah yang namanya cinta, ini benar² menyakitkan dan merepotkan, aku masih belum terbiasa akan hal ini, hum!" ucap Rara sambil tersenyum. "puft.. hahaha! dasar polos, kau gadis pertama yg membuat ku merasakan hal ini" ucap Sean sambil tertawa dan tersenyum dengan lebar dan terlihat bahwa ia sangat bersyukur karna dipertemukan kembali Dengan Rara.
sekian, terima kasih
penulis: Aura
ide dari: Aura
baca juga cerpen lainnya dari ku
sampai jumpa..