Wuuushhh...
Angin kencang di tengah kota membuat rambut Karin yang awalnya tertata rapi menjadi tidak karuan. Kebetulan ada kaca yang menyerupai cermin di depannya, Karin segera merapikan rambut sembari merapikan bedak yang sedikit luntur. Tanpa ia sadari, di dalam ruangan berkaca tadi terdapat seseorang yang sedang bermain gawai dengan rasa jenuh, adalah Kala. "Apaansih orang itu, heii disini ada orang." Kala bergumam sedikit kesal tetapi tidak sampai terdengar di luar.
Setelah merapikan rambut dan bedak, Karin melanjutkan perjalanan menuju sekolah.
Di tengah perjalanan, Karin menemukan kartu pelajar yang tergeletak di jalanan. Tertera nama "Kalana Daniswara" beserta nama sekolahnya. Ternyata kartu pelajar tersebut satu sekolahan dengannya.
Karin mengambilnya, tetapi tidak diberikan langsung ke ruang BK melainkan ia memberikan kartu pelajar miliknya sendiri ke ruang BK karena ia menebak Kala akan mencari kartunya ke ruang BK.
Karin melnjutkan berjalan menuju kelas. "Hey, Karin kau ngapain ke ruang BK?" seseorang berlarian dari belakang menghampirinya. Yena teman sekelasku. "Heii Yena, dapat mangsa baru nih, sengaja kutaruh kartu pelajarku di ruang BK biar menerima itu, kekekekee..." aku menjawab dengan sedikit tertawa. "Jahil banget manusia satu ini, udah bel masuk nih, ayo kita bareng." Yena menarik tangan Karin sembari berlari kecil menuju kelas. Kita berpisah saat memasuki kelas, karena kelasnya beda.
Kala datang ke sekolah langsung menghampiri ruang BK saat sadar kartu pelajarnya menghilang. "Assalamualaikum Bu. Apakah ada orang yang menitipkan kartu pelajar ke ruang BK? sepertinya saya meninggalkan kartu saya di taman." Kala menanyakan itu pada guru BK. "Ada Nak, murid perempuan tadi baru saja memberikan kartu pelajar atas nama Karina Thifa." guru BK menjawab sembari menunjukkan kartu pelajar pada Kala. Kala menerima kartu pelajar tersebut lalu berjalan menuju kelas.
Di tengah perjalanan, Kala melihat anak kelas lain yang mirip dengan wajah di kartu pelajar Karin. Kala ingin menghampirinya tetapi tidak ada waktu karena kelas hampir dimulai.
Suara langkah kaki guru semakin terdengar dari dalam kelas.
Ceklek... Dubrak...
Guru datang membuka pintu lalu ditutup kembali dengan suara sedikit keras.
"Anak-anak keluarkan selembar kertas, kita ulangan matematika."
Tiba-tiba kelas gaduh, mengucapkan bermacam-macam kalimat andalan seperti;
'kenapa mendadak sih'
'aku belum belajar padahal'
'aduh pasrah aja deh'
'belum paham rumusnya'
Karin pun mulai resah, tetapi ia hanya merenungkan nasib dan pasrah.
Satu demi satu soal matematika yang sudah tertulis di selembar kertasnya mulai ia kerjakan menggunakan berbagai cara. Berpuluh-puluh persen kinerja otaknya digunakan untuk mengingat rumus matematika yang sesuai untuk menjawab soal.
Akhirnya, jam pelajaran matematika selesai. Setelah mengikuti beberapa pelajaran, bel pulang berbunyi.
Triingg Tuitutitutittuitittt!!!!
Murid-murid mulai berdoa dan keluar kelas. Karin menemukan Yena yang sudah menunggu di depan pintu kelas dan menghadap kelas lain.
"Duaarrr Yenaa, ngapain kamu? Nungguin ya? Beli bakso yooww!" Karin mengageti Yena dari belakang. "WOOAHH AIGOO KAMCHAGIYAA AKU KAGET SEKALI! kau berharap aku ngomong begitu? sayangnya aku engga kaget sama sekali, wlee. Ayoo makan bakso bareng, udah laper nih." timpal Yena dengan sedikit candaan.
Mereka berdua menuju ke warung bakso dan memilih meja terdepan. "Mbak, baksonya dua yang satu gapake sawi ya!" Yena memesan bakso ke gerobak penjual lalu kembali ke meja untuk menunggu pesanan.
"Heii my besprenn, Kalaa!!! Hisashiburii..." Ezra yang merupakan anak kelas sebelah menghampiri Kala yang sedang menunggu pesanan di meja barisan kedua sendiri.
"Apaansih sok Jepang banget euh, bukannya kamu tadi lagi kejar-kejaran sama kucing di taman?" Kala menjawab Ezra sedikit kesal karena kaget.
"Hehehee kucingnya kabur... Btw, gimana nasib kartu pelajarmu?" Ezra duduk di sebelah Kala dengan santai. "Tadi udah aku cari di BK, tapi ketemunya malah kartu pelajar lain."
Karin yang mendengar pembicaraan mereka mulai menyadari bahwa kartu yang ia temukan tadi adalah milik anak itu. "Na, itu orang yang punya kartu pelajar ini, ekekekekee..." Karin memberitahu Yena sembari menunjukkan kartu itu ke bawah meja agar tidak ketahuan. "Terus kau mau ngapain sama kartunya itu? kembalikan langsung aja." Yena menjawab dengan bisik-bisik. "Ih Yena, jangan terburu-buru dong, bentar masih seru nih, kita lanjutkan aja." seru Karin tapi sedikit berbisik.
15 menit kemudian, mereka sudah selesai makan bakso dan berencana untuk pulang bareng karena rumahnya searah.
Tanpa Karin sadari, ia meninggalkan kartu pelajar tersebut di bangku bawah.
Ezra yang menuju gerobak penjual untuk membayar baksonya, matanya tertuju pada sebuah kartu pelajar milik Kala di bawah bangku meja depan lalu mengambilnya.
Sesampai di rumah, aku menyadari kartu pelajar yang ku tunjukkan pada Yena tidak ada di saku seragamku. "OMG BISAA GAWAAT KALO DIAA YANG NEMUIN KARTUNYA!!!" Aku tiba-tiba berteriak karena shock dan khawatir. Sejak saat itu, malamnya aku tidak bisa tidur nyenyak karena terus kepikiran kartu pelajar tersebut.
Room Chat (Ezra x Kala)
Ezra : Kala oyyy!
Kala : Ada apa nih, pasti ada apa-apa.
Ezra : Aku ada kabar baik dan kabar buruk.
Kala : Apaan? cepet to the point aja.
Ezra : Kamu mah ga sabaran. Jadi gini Laa... kabar baiknya, aku nemuin kartu pelajarmu yang hilang.
Kala : Kenapa kartuku ada di kamu? Lalu kabar buruknya apa?
Ezra : Kabar buruknya kamu harus belikan aku Keychain Pokémon yang dijual di depan sekolah. Ehehehehheheh...
Kala : Yaudah besok di luar sekolah, berikan kartu pelajar padaku dan aku kasih kamu Pokémon.
Ezra : Kalaa... /emot terharu
Kala : Dih najis.
Dengan begitu, chat Ezra dan Kala pun berakhir.
[DI SEKOLAH]
"Yenaaa!!! Kartu pelajarnyaa hilaangg!!" Karin menghampiri Yena yang berada di depan aula.
"Kamu hobi banget teriak ya. Lalu gimana nasib kartunya sekarang?" Ucap Yena dengan santai. "Tanya tuh sama kartu, aku kan engga-" pembicaraanku terpotong setelah melihat Ezra dan Kala menaiki tangga membawa kartu pelajar. "Yena, bukannya itu orang yang kumaksud kemarin?"
"Eh iya, kenapa kartu pelajarnya ada di dia?"
"Dia nemuin kartunya yang aku tinggal kemarin di kantin."
"Aduuhh, jadi misimu berakhir?"
"Belum, aku ada rencana."
"Apa rencananya?" tanya Yena dengan penasaran. "Ada deh hahahahha." Karin menjawab dengan tawa jahat. Setelah pembicaraan selesai, mereka masuk kelas hingga pelajaran selesai.
Sepulang sekolah, mereka berjalan menuju gerbang. Karin berjalan mundur dengan mengikuti langkah Yena. Tiba-tiba tersandung batu kecil yang ada di lapangan. Bruakk!!! badannya terhuyung ke belakang dan tidak sengaja mengenai orang yang ada di depannya. Ezra dan Kala. Ezra berhasil menghindar tapi tidak dengan Kala. "Aduuhh, eh ada Kala. Maaf Kala aku ga sengaja, ini semua salah batu." Karin meminta maaf sembari membantu Kala berdiri. "Kamu? kok kayak ga asing ya, Kenapa bisa tau namaku? Kita pernah kenal?" Kala menjawab dengan rasa penasaran. "Oohh itu anuu, aku Karina Thifa yang menukar kartumu dengan kartuku di ruang BK, makanya aku tau kamu, hehehe." Karin menjawabnya dengan sedikit ragu. "Jadi kamu pelakunya." Kala menjawab dengan raut muka datar. "Hei Karin, aku berterima kasih padamu. Berkat kamu, aku mendapat ini dari Kala." Ucap Ezra dengan ria sembari menunjukkan Keychain Pokémon. "Kamu memanfaatkan kartu pelajar Kala untuk mendapatkan Pokémon?" tanya Yena untuk memastikan. Ezra menyengir seperti tidak ada rasa salah sama sekali.
*****
Sepulang sekolah, Karin sangat lega karena Kala tidak marah setelah mengetahui kartu pelajarnya ditukar dengan sengaja olehnya di ruang BK.
*****
Hari-hari setelah kejadian itu, mereka jadi lebih sering berpapasan.