Sudah satu jam aku duduk terdiam memandangi kanvas yang ada di hadapanku ini. Warna nya masih putih polos, bahkan sama sekali belum ada bercak cat yang tercoret. Hal itu menandakan bahwa aku belum memolesnya sama sekali. Aku belum menemukan inspirasi untuk melukis. Aku ini pelukis terhebat seantero sekolah. Masa' memikirkan apa yang hendak ku coret saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Bagaimana jika sekarang sedang ada di perlombaan, pasti aku sudah kalah. Mereka yang bisanya melukis dengan sempurna, bahkan hampir terlihat seperti nyata dan dengan waktu yang singkat, adalah orang yang paling kukagumi didunia ini.
Sudah cukup, aku lelah memikirkan hal apa yang hendak ku lukis. Dengan lesu, kuraih benda pipih yang ada diatas nakas samping tempat tidur, handphone. Ku tekan satu nama dan menelfonnya. Rara.
Pangggilan tersambung..
"Ra, gua mau main" Ujarku.
"Haha, Kayak biasa, lu gak suka basa-basi ya Kirana" Ucapnya dari sebrang sana.
"Gua mau nyari seseorang yang lukisannya bagus dan bisa ngasih pencerahan buat gua" Jujur saja, melihat lukisan orang lain yang lebih sempurna memberiku dorongan tersendiri agar aku lebih serius dalam melukis.
"Yaudah, gua ada seseorang yang punya lukisan paling sempurna. Sempurna banget. Sampe lu gak nyangka sama karya seni nya itu" Rara terdengar sangat antusias.
"Serius? Sesempurna itu? Sejak kapan lu punya temen yang jago lukis?" Tanyaku tak kalah antusiasnya.
"Bukan temen, tapi dia deket banget sama gua. Merhatiin gua terus, pokoknya paling tau tentang hidup gua"
"Keluarga lu? " Tanyaku lagi penasaran. Siapa orang itu, apa dia pelukis internasional dan terkenal?
"Pokoknya nanti sore jam lima siap-siap ya, gua kenalin sama pembuat seni paling sempurna. Tapi gua gak bisa mempertemukan lu sama dia" Omongannya sulit dicerna, apa dia berbohong? Ah mana mungkin. Rara orangnya selalu jujur.
"Gajelas lu, jadi yang mau lu tunjukin ke gua cuman lukisannya atau kita ketemuan sama orangnya juga?" Aku sangat ingin tahu siapa orang itu.
Tutt... Tutt...
Sambungan terputus, buat penasaran saja.
16.50, sepuluh menit lagi Rara datang menjemput. Aku sudah siap-siap sejak setengah jam yang lalu. Dengan modal kanvas dan peralatan melukis yang akan ku bawa, lalu catatan kecil yang ku selipkan di tas. Semoga aku dapat melukis lebih baik dan menjadi pelukis terhebat se nasional, atau bahkan internasional. Dengan cara melihat karya orang lain yang dapat membuatku tergugah untuk lebih bersemangat. Jadi penasaran, sesempurna itukan karya seni buatannya.
Tinn.. Tinnn..
Mobil pajero sport berhenti dihalaman rumahku. Buru-buru ku masukkan peralatan melukis ku ke bagasi. Dan aku langsung duduk di samping Rara.
"Semangat banget" Ujar Rara sambil menjalankan kembali mobilnya dan melesat cepat dari halamanku.
"Kita bakal kemana?" Tanyaku
"Ya mau nunjukin ke elu, kalo ada yang bisa bikin karya seni yang sangat sempurna bahkan semua karyanya itu gak ada yang gagal" Ujar Rara.
"gua harus bisa kaya dia, keren banget" Aku tak sabar ingin berjumpa denganNya.
"Gak bakal deh kayaknya" Rara terlihat sangat yakin.
"Yee, lu ngeremehin gua, kayak lu bisa nyaingin gua aja, disekolah siapa lagi yang bisa ngelukis lebih hebat dari gua, bahkan bu arlina (pembimbing klub seni lukis) aja lukisannya gak sebagus gua" Ujarku mantap. Memang, siapa lagi yang bisa menandingi ku, akupun telah memenangkan berbagai kejuaraan melukis, meskipun tidak pernah sampai menjadi perwakilan untuk pertandingan nasional.
Tak terasa, Rara memberhentikan mobilnya di sebuah pos, dan terlihat sangat sepi. Apa kami akan janjian di pantai? Karena setelah memintanya izin pada petugas untuk masuk ke area pantai, aku disuruh Rara untuk mengambil peralatanku.
Rara berjalan dan membuka sneaker nya saat menginjak pasir-pasir yang terlihat halus dan bersih, aku pun melepas sepatu selop warna grey yang kugunakan. Benar, pasirnya halus.
Kuletakkan peralatanku dan mulai menunggu siapa orang yang dibicarakan Rara sambil menatap langit jingga yang tenang. Terlihat burung-burung berterbangan hendak pulang pada sarang mereka masing-masing. Keadaan pantai sangat sepi, sepertinya hanya kami berdua yang ada disini. Lalu mana orang itu.
"Woii" Seruku
"Kaget anjirr" Rara tersentak saat aku mengeluarkan suara keras.
"Mana orangnya? Bohong lu ya?"
"Dia bukan orang, dia Tuhan" Ujar Rara dengan santai.
"Ha? Masa iya Tuhan bisa ngelukis" Aku kecewa dengan Rara. Alih-alih memperkenalkan ku dengan orang yang hebat melukis dan karya seninya tidak pernah gagal. Ia malah mempermainkan ku
"Lu gak liat langitnya?" Tanya Rara
"Liat, kan gua punya mata" Jawabku
"Indah gak?" Tanyanya lagi
"Indah lahh" Ketus ku
"Langit ciptaan siapa?"
"Tu-tuhan" Ucapanku terbata
"Itu lu tau. Lu itu terlalu menyombongkan diri karena hebat melukis. Begitu juga orang yang lu kagumi karena lukisannya hampir terlihat nyata. Tapi lu lupa sama pemilik seni paling sempurna. Tuhan. Karena sesempurna nya karya buatan manusia, gak ada yang lebih sempurna dari ciptaan Tuhan yang gak pernah gagal" Jelas Rara. Aku lupa, kalau selama ini aku terlalu sombong dan terlalu mengagumi orang-orang dengan karyanya yang luar biasa.
Memang benar, manusia itu hanya diberi bakat oleh Tuhan untuk dikembangkan agar bisa bermanfaat untuk masa yang akan datang, bukannya untuk di sombongkan dan ingin di agung-angungkan.