"Mell..", tiba - tiba Evan memanggilku. Dia berada sekitar 5 langkah di belakangku.
"Iya", aku menghentikan langkahku lalu berbalik ke arah Evan.
"Kemari lah"
Akupun berjalan menuju Evan. Tangan kanan Evan menjambak pelan rambutku yang ku kuncir kuda, sementara tangan kirinya mendorong pinggulku agar merapat di tubuhnya.
Evan mencium bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang pernah aku lakukan dengan seorang cowok.
Hatiku berdebar, kupu - kupu di perutku beterbangan. Bahkan ada yang sampai melahirkan.
Sejak ciuman pertama Evan, aku semakin bucin. Setiap ingat dia, aku tersenyum. Bahkan Disa dan Desi juga sering memergoki aku saat ngobrol dengan Evan lewat telpon. Kata mereka, aku seperti orang gila yang ngobrol dan senyum sendiri nggak jelas.
Evan juga sering datang datang ke rumah buat apel malam minggu. Tentu saja jalan kaki. Karena kami bertetangga. Evan romantis banget. Aku semakin mencintai dia. Dia juga berkata begitu kepadaku.
***
Sudah semester terakhir di kelas tiga. Ini berarti sudah saatnya kami menentukan mau dibawa kemana hubungan yang sudah berjalan selama ini.
Hubunganku dengan Evan tetap baik, tetap romantis. Kami juga sering jalan bersama. Karena ternyata, keluargaku tidak membenci Evan.
"Jalan yuk"
"Kemana?", tanyaku.
"Kosong nggak?"
"Aku mau ketemu Ronald"
"Oh.."
"Mau anterin?"
"Enggak deh kalo gitu. Aku gak paham tentang tanaman"
"Oke. Kita jalan besok aja, mau?"
"Ketemu Ronald lagi?"
"Hahaha.. Ya enggak laahhh.."
Tiba - tiba suasana hening.
"Mell"
"Apa?"
"Umm.. Kamu itu sebenarnya gimana sih sama Ronald? Kamu terlalu sering ketemu dia. Sementara di sini ada aku juga"
"Lah, kamu kan tau sendiri, tiap kali sama Ronald aku ngapain. Ya cuma karena bahas dan beli tanaman kan? Bunga, sayur, pupuk, udah. Nggak ada yang lain"
"Tapi kalian sering ketemu dan kamu nggak sungkan sama aku"
"Ya emangnya aku harus gimana Van? Aku uda kenal dia jauh sebelum aku kenal kamu. Aku juga uda ngenalin kamu sama dia kan? Aku nggak pernah sembunyi - sembunyi pas mau ketemu dia. Aku selalu bilang kamu kan? Kamu jangan nethink sama aku dong"
"Oh, jadi gitu"
"Maksud kamu apa sih sebenarnya tanya gitu?"
"Nggak papa", Evan pergi ninggalin aku sendiri.
Seingatku, selama ini aku dan dia baik - baik saja. Tidak pernah ada curiga atau cemburu berlebihan. Tapi tiba - tiba semua berubah. Sikap Evan juga berubah.
Semenjak pertanyaan itu, aku jadi jarang jalan bareng sama Evan. Tapi meskipun begitu, kami masih ngobrol di sekolah. Selain itu, kami harus konsentrasi pada ujian kahir kami. Tentu saja para orangtua tidak akan mau kalau nilai anaknya jeblog atau bahkan tidak lulus SMA gara - gara urusan pacaran.
"Van, kamu lulus?"
"Iya Mell. Alhamdulillah, kamu?", jawab Evan lewat telepon.
"Sama. Nilaiku juga lumayan, setidaknya nggak ada angka 5. Syukurlah.."
"Mell, udah dulu ya, aku mau bantu - bantu ayah dulu. Semenjak pulang ke rumah, aku jarang bantu ayah. Soalnya repot ngurus surat pindah"
"Pindah?", tanyaku kaget.
"Iya. Aku mau pindah. Orangtuaku pengen aku sekolah pelayaran. Di kota kita nggak ada kan? Ya udah aku pindah, ikut keluarga adik ibuk"
"Terus aku gimana?"
"Sabar dulu Mell. Ini demi masa depan juga kan? Maaf aku nggak kasih tau kamu sebelumnya. Aku..."
Aku marah, aku sebal sama Evan. Kumatikan telpinnya sebelum dia selesai berbicara. Evan sialaaannn...!!