Pada Tanggal 26 Februari 2021, Aku bertemu dengan dirinya. Sosok seperti matahari yang telah lama kudambakan. Dia perempuan yang baik. Bisa dibilang sangat sempurna. Aku mengenalnya lewat media sosial hingga menjadi dekat.
Tepat pada pukul 09.00, aku menyatakan perasaanku padanya. Dia menerimaku. Kita resmi pacaran. Hari demi hari kita lalui. Mungkin aku tidak pandai membuat kata - kata romantis, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku sangat menyayanginya.
Semuanya berjalan normal hingga seorang laki-laki berusaha mengambil wanitaku. Dia menyatakan akan bersaing denganku untuk mendapatkan Wanitaku. Tapi dia bisa apa? Sekarang wanita itu telah menjadi milikku. Dia mencintaiku, aku pun mencintainya.
Karena kesibukanku yang sangat padat dan mulai banyak ujian-ujian sekolah, aku hampir tidak memiliki waktu untuknya. Tapi setidaknya saat aku ada waktu luang, aku selalu menghabiskan waktuku bersamanya. Dalam kesibukanku, aku selalu memikirkannya. Melihat fotonya selalu membuatku bersemangat menjalani hariku. Dia selalu ada untukku. Dia selalu memprioritaskanku. Aku tahu, tapi aku terlalu sibuk dengan sekolah dan tuntutan Ayahku yang mengharuskanku untuk selalu juara satu bukan menjadi juara dua atau tiga. Maafkan aku.
Aku menjelaskan masalah mengapa aku terlalu sibuk sekolah dibanding menghabiskan waktu dengannya, dia mau mengerti. Bahkan dia menyemangatiku. Saat aku bercerita sedikit tentang prestasiku selama masih SMP dulu, dia berkata,
"Aku bangga padamu."
Dia satu-satunya orang yang mau memahamiku dan selalu menyemangatiku. Wanita yang luar biasa.
Terkadang aku merasa tidak pantas untuknya. Aku emosional yang sering tidak terkendali, dia wanita baik yang lembut. Hanya dia yang bisa meluluhkanku. Dia yang membuatku bisa menahan emosiku.
Candaannya mewarnai hariku. Aku tak pernah membayangkan apa jadinya bila dia tidak hadir menemaniku, tentu aku setengah mati kehilangan dia.
Aku pernah cemburu saat melihatnya bercanda dengan sahabat laki-lakinya. Terkadang aku merasa dia tidak mempercayaiku sebagai teman untuk bercerita, dia memilih sahabatnya sebagai teman berceritanya. Bukankah wajar? Dia wanitaku, tapi dia lebih dekat pada sahabat laki-lakinya daripada aku. Mungkin memang aku sibuk dengan sekolah dan tuntutan ayahku, tapi sejujurnya aku sangat mencintainya melebihi apapun.
Sahabatnya mengetahui kecemburuanku. Dia berkata, bahwa dia dan wanitaku hanya teman tidak lebih. Lalu dia berkata lagi akan menjauhi wanitaku. Terlintas dalam pikiranku bahwa aku terlalu kejam menjauhkan wanitaku dengan sahabatnya. Namun sebelum aku menyetujuinya, dia benar-benar melakukannya tanpa persetujuan dariku.
Aku meluangkan waktu untuk wanitaku. Bahkan hingga aku sering lupa waktu, dan selalu lupa untuk mengatakan,
"Aku mencintaimu."
Jujur saja, dulu aku membenci perempuan karena terlalu banyak kode yang sulit dimengerti. Tapi semua itu berubah setelah aku bertemu wanitaku. Dia sederhana, cenderung to the point. Tak ada kode yang keluar dari mulutnya. Baguslah, aku jadi mudah memahaminya.
Aku sering menyanyikan lagu Sempurna untuknya, dengan permainan gitarku. Untuk mewakili perasaanku padanya dan memudahkanku untuk mengatakannya karena aku kesulitan untuk membuat kata-kata romantis.
Telah masuk bulan pertengahan Maret. Banyak yang telah terjadi. Terkadang aku bertengkar dengan wanitaku, karena lagi-lagi aku tidak bisa mengontrol emosiku. Bodoh, padahal sudah 3 minggu aku menjalani hidupku dengan tenang. Sekarang malah kesulitan mengontrol emosi lagi. Sejenak setelah menyadari apa yang terjadi, aku meminta maaf padanya. Dia menangis. Aku memeluknya. Berharap dia mau memaafkanku. Dia diam saat berada dalam pelukanku. Hingga akhirnya dia membalas pelukanku dan mau memaafkanku. Dia memaafkanku.
Aku benar-benar mencintainya.
Hingga, saat pertengahan April. Aku mendapat kabar dari Ibunya, bahwa dia meninggal karena kanker. Ibunya berkata, wanitaku sudah dimakamkan. Aku tidak percaya. Aku menitikan air mata. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Sahabatnya datang padaku, dan berkata aku harus sabar melewati ini. Wanitaku benar-benar telah tiada.
Kenapa begitu cepat? Aku sangat mencintainya. Tak ada lagi yang bisa memahamiku, atau menyemangatiku. Kenapa begitu cepat?
Nb : Ide dari curhatan temen, yg ngatur kata aku. Plis sedih banget ini. Aku ngetik aja hampir nangis😭