~~~~~*****~~~~~
"Please! Beberapa hari lagi yah, By," lirih seorang gadis. Ia merengek sambil menarik-narik ujung kaos yang dipakai kekasihnya.
"Gak bisa, Yang. Orang tua aku maksa banget harus hari ini juga. Aku janji akan hadir saat kamu ujian nanti." Naldi mencoba membujuk kekasihnya, mengusap surai hitam nan indah gadis cantik yang ada dalam dekapannya.
Sepasang kekasih tengah bermesraan dengan sedikit drama nelangsa. Drama yang dibumbui rengekan manja di sore menjelang malam, di depan kontrakan si gadis, dimana si cowok ingin keluar kota mengunjungi orang tuanya.
Momen perpisahan itu diabadikan oleh seseorang lewat kamera ponsel, dari balik pagar rumah tersebut.
Bukan untuk beberapa hari, tetapi selamanya. Cih, dasar bodoh! Kita lihat saja nanti.
**********
Kenyataan sekarang ini, banyak kaum hawa saling berlomba merias wajah serta memperindah tubuh dengan beragam treatment. Tentunya menguras kocek yang tak sedikit. Fokus untuk memanjakan diri membuat sebagian wanita lupa diri.
Tanpa disadari, cantik saja tidaklah cukup. Masih banyak hal lain yang mestinya dapat seorang wanita kolaborasikan dengan fisiknya agar menjadi satu paket komplit. Salah satunya, 'kecakapan' dalam menanggapi keadaan sekitar dengan realita zaman yang kian menghanyutkan.
Hal inilah yang tengah dihadapi oleh seorang Zevanya Nathalie. Gadis cantik yang merupakan mahasiswa semester akhir, jurusan manajemen bisnis.
Latar belakang kehidupan keluarga yang tidak baik, dengan persoalan ekonomi yang minim, membuat si cantik ini harus bekerja keras sambil melanjutkan kuliahnya.
Anya, begitulah ia disapa. Dia cantik dan pintar, tetapi kehidupan kelas menengah, membuat ia dipandang sebelah mata karena penampilannya yang terkesan tidak modis.
Alhasil dari jerih lelahnya, ia mulai berdandan merawat tubuh dan mengubah tampilannya dengan stylish kekinian, hanya untuk membeli sebuah pujian dan pertemanan. Anya berupaya keras memantaskan diri.
**********
Saat ini, Anya tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti sidang skripsi tiga hari lagi.
"Des, kok gue gak liat si Freya sejak kemarin yah. Kemana sih dia?" tanya Anya pada Desi.
"Sibuk kali. Atau mungkin liburan lagi, kek gak tau dia aja. Biasalah!" sahut Desi dengan santai sembari terus berjalan.
Kedua gadis itu baru saja keluar dari ruangan dosen, tetapi desi hanya menemani Anya. Ya, kedua temannya itu kebanyakan bermain dan menggantung mata kuliah, sehingga belum bisa mengejar Anya dengan segala usahanya selama ini.
Rasa iri dan ketidaksukaan pasti ada di benak kedua temannya. Namun, topeng kebaikan itu mereka pasang dengan sempurna.
"Yah, berapa lama sih perginya? Kenapa bersamaan dengan Naldi juga? Terus yang nemenin gue ujian, siapa dong?" keluh Anya dengan lesu.
"Lah, gue jadi apa? Patung, hah?" hardik Desi.
"Iya, iya! Tapi gue bakal lebih senang lagi kalo ada kalian bertiga!" seru Anya dengan wajah cemberutnya.
"Tenang aja. Mungkin … mereka punya kejutan buat kamu," ucap Desi dengan senyum tipis yang terkesan misterius.
**********
Dua hari berlalu sudah. Penguasa malam telah tiba membalut Anya dalam kegundahan dan kecemasan. Gadis cantik itu tidak dapat memejamkan mata walau untuk sesaat, kegelisahan terus saja merundungnya sampai pagi menjelang.
Sang fajar mulai mengintip di ufuk timur, bersiap menyoroti bumi dengan nur nan hangat. Ini hari dimana Anya siap untuk mengikuti sidang akhir perjuangannya.
Semalam ia begitu gugup dalam menyambut hari yang akan menjadi sejarah dalam hidupnya. Selain itu juga, ia gundah karena tak ada kabar sama sekali dari sang kekasih. Dua hari ia pergi, dan selama itu pula no communication di antara mereka.
Tentu saja ia gelisah, dukungan sang kekasihlah yang ia harapkan. Namun, nihil. Ini membuatnya tak mampu terpejam, dan baru saja lelap ketika pagi hampir tiba.
Mesin waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Anya sudah bersiap untuk jam 09.00 nanti, ia mempresentasikan tulisan akhirnya selama empat tahun menimba ilmu.
Si cantik itu menutupi wajah kantuknya dengan riasan make up yang menyamarkan mata pandanya. Setelan rok span hitam dengan blouse putih yang disisipkan ke dalam roknya, disertai blazer berwarna hitam, dengan rambut panjang yang di kuncir rapi, menyempurnakan penampilannya saat itu.
Gadis cantik itu memesan sebuah taksi yang membawanya menuju kampus. Tiba di sana, Desy sudah menunggunya.
"Cie, yang bentar lagi udah dapet S.Mb.," goda Desy begitu Anya menghampirinya.
"Apa sih, Des? Deg-degan nih, mana gak ada Naldi lagi," sahut Anya sambil menggenggam tangan Desi.
"Astaga! Belum apa-apa udah keringetan aja, ha-ha-ha. Sans aja, Nya, ada gue!" seru Desi menyemangati Anya.
"Iya. Huh, huh, gue pasti bisa. Doain gue supaya bisa lulus yah, Des!" Anya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
Tidak lama setelah itu, Anya pun melangkah masuk ke dalam ruangan sidang, setelah ia berhasil menenangkan dirinya.
Satu setengah jam lebih sudah berlalu, dan pintu ruang sidang kini terbuka. Terlihat seorang gadis cantik melangkah keluar dari sana dengan sebuah selempang bertengger di bahunya, melilit ke pinggang rampingnya, dengan ukiran 'Zevanya Natalie, S.Mb.'. Tergambar jelas raut bahagia serta haru di wajah cantiknya. Ia menghampiri Desi yang masih setia menunggu.
"Congrats, Say!" Desi menyambut Anya dengan senyum dan tangan terbuka.
Anya pun langsung memeluk temannya. "Aaaakkkkhh! Akhirnya selesai sudah, Des! Gue seneng banget. Thanks, udah nungguin gue, walaupun gak ada Naldi dan Mega, gue tetep bahagia."
Anya mengeratkan pelukannya, seolah membagi sukacita yang ia rasakan bersama temannya.
"Siapa bilang kita gak ada?" sahut sebuah suara. Suara berat yang sudah sangat familiar bagi Anya.
Gadis itu kaget dan refleks melepaskan pelukannya. Kebahagiaan di hatinya berlipat ganda dengan kehadiran dua orang yang baru saja bergabung.
Namun, tidak! Momen bahagia itu hanya sesaat dan berganti luka yang menyakitkan, ketika dilihatnya dua orang itu bergandengan tangan begitu mesra. Anya mengernyit untuk sesaat, tetapi kemudian ia mencoba menepis dugaan yang tidak mungkin menurutnya.
"By!" Anya sedikit melonjak senang lalu menghampiri kekasihnya dan ingin memeluknya.
Belum juga hal itu terjadi, Mega sudah lebih dulu berdiri di depan Naldi menghalangi aksi Anya.
Langkah Anya terhenti saat itu juga dengan kening yang berkerut.
"Kenapa, Ga? Ada apa?" tanya Anya tak sabaran.
Tidak langsung menjawab pertanyaan temannya, Mega memberikan sebuket bunga artifisial yang dihiasi beberapa bungkusan coklat serta kartu ucapan selamat, dan juga sebuah kolase foto dalam bingkai berukuran sedang. Anya pun menerimanya dengan wajah bingung karena pertanyaannya belum terjawab.
"Selamat yah, Nya! Itu hadiah dari gue dan Naldi!" ucap Mega sambil memeluk Anya sekilas.
Ia kembali ke samping Naldi dengan bergelayut manja di lengan lelaki itu. Melihat itu Anya merasakan debaran di dalam dirinya hampir mendobrak rongga dadanya.
"Maksud kalian apa?" tanya Anya dengan suara tertahan.
"Oh iya lupa. Naldi bukan lagi kekasih Lo! Dia sekarang tunangan gue, dan sebentar lagi kita akan menikah. Orang tua kita sudah saling kenal, lalu kita dijodohkan. Iya kan, Sayang?" ucap Mega pada Anya. Ia mendongak sambil bertanya pada Naldi yang membisu sejak tadi.
"Iya! Maaf, Anya! Kita gak bisa bersama, karena sekuat apapun usahamu untuk memantaskan diri, kamu gak akan diterima keluargaku. Aku minta maaf untuk itu!"
Ucapan Naldi seketika itu juga meruntuhkan seluruh dunia Anya. Detak jantungnya semakin keras membenturkan kekecewaan, meluncurkan tetesan bening yang sedari tadi terasa perih di netranya.
"Jadi ini kejutan yang Lo maksud kemarin, Des?" tanya Anya pada Desi. Gadis itu pun mengangguk.
"Jadi kalian bertiga sudah mengatur ini semua?"
Tidak ada yang menjawab.
"Terima kasih untuk kejutannya! Sungguh gue sangat terkejut! Dan terima kasih untuk hadiahnya. This is the 'bad gift' that i ever got!"
Anya pun berlari meninggalkan tempat itu dengan membawa luka dan penyesalan yang menyiksanya tanpa ampun.
🌾
🌾
🌾
🌾
🌾
I'm poor, i'm stupid, i'm ugly, but … i'm not fake!
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
_Jangan pernah berubah untuk orang lain. Be yourself_
_____💕💕💕💕💕_____