klek..
pintu terbuka dan Rura langsung masuk ke dalam, betapa terkejutnya dia saat melihat ada sandal yang tidak dia kenal di lantai rumahnya.
" wah... rura kau sudah pulang". ucap tiba-tiba seorang lelaki parubaya. yah.. siapa lagi kalo bukan pamannya.
Rura langsung di selimuti ketakutan akan paman nya.
dia memang tidak menyukai paman nya itu, karena setiap ada acara kumpul-kumpul keluarga, pamannya selalu melihat nya dengan tatapan yang aneh dan mesum.
rura mulai Mundur perlahan saat paman nya itu mendekat
" maaf yah rura ... paman tidak bisa hadir di pemakaman kaka ku karna paman punya banyak urusan tadi ". ucapnya dengan wajah sedih yang di buat-buat.
" ti... tidak apa-apa paman ". jawab Rura menunduk
" kau pasti lapar kan... ayo kita makan. paman tadi udah pesan makanan". ajaknya dan membimbing rura menuju meja makan.
rura yang melihat tingkah paman nya yang berubah, tidak mempunyai rasa curiga sama sekali.
' mungkin dia berubah jadi baik dan perhatian begini, karna simpati akan kepergian orang tuaku '. yah itulah yang dipikirkan rura akan perubahan pamannya.
Mereka duduk berhadapan di meja makan sambil menikmati pizza yang di pesan pamannya tadi.
Dengan lahap rura memakannya.
" Bagaimana ru?.. apa enak ?". Tanyanya sambil memberi lagi pizza ke rura
Rura hanya mengangguk menanggapi pamannya
Dan pamannya tersenyum melihat rura.
" Makan yang banyak yah ". Berdiri hendak ke dapur
" Aku ke dapur dulu yah. Habiskan pizza itu ". Tunjuk nya ke arah Pizza
Rura masih hanya mengangguk.
*****
setelah selesai makan, rura kembali ke kamarnya untuk istirahat.
****
Selesai mandi rura berbaring di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya dan beralih melihat ke jam dinding, saat itu masih pukul 5 sore.
Sekarang tepat jam 9 malam. Rura masih belum bisa tidur di karenakan dia masih bersedih mengingat kedua orangtuanya. Lagi-lagi dia melihat dan menatap langit-langit kamarnya sambil berkhayal, yang terdengar hanya bunyi dari jam dinding.
"Tik.. tik... Tik... ".
Dia beralih melihat jam dinding dan lagi-lagi menatap lekat jam tersebut hingga
" KLEK "...
Pandangannya teralihkan dan membuat nya menatap pintu kamarnya yang terbuka secara tiba-tiba.
" Tap... Tap.. "
Langkah kaki seseorang terdengar yang membuat suara jam dinding tidak terdengar lagi.
Rura terduduk dan dengan sedikit keberanian dia menyalakan lampu kamarnya.
" Pa.. paman...?.. apa yang paman lakukan?". Tanya Rura tanpa curiga sama sekali
" Oh... Paman hanya ingin makan ". Santai dia menjawab dan melangkah mendekati rura
" Makan?.. bukannya tadi paman sudah makan yah.. lagipula kalo ingin makan kenapa harus ke kamar rura ?". Polos rura
" Heheheh ". Tersenyum dan tertawa penuh arti.
Yang membuat rura sedikit gemetar dan ngeri.
" Tapi paman pengen makan yang lainnya". Menangkap kedua pundak rura dengan senyum mesumnya
" A... Apa maksud paman.. "
"Ru.. rura gak paham ". Tanya nya gugup dan mengalihkan pandangannya.
"Hehe". dengan cepat pamanya mendorong tubuh rura dan membuatnya terbaring di atas kasur.
Dia menekan tubuh mungil rura dan menatap wajahnya dengan tatapan mesum.
Melucuti pakaian rura sambil meraba-raba buah dada rura yang masih belum tumbuh.
" Ahk... Le.. lepaskan paman". Teriak rura di barengi dengan desah nya.
" Melepas kan mu?... Hahahhahah mimpi!!. Sudah lama aku menginginkan tubuhmu. Apalagi saat kau menatap ku dengan tatapan dingin mu.".
" Uh... Membuatku semakin ingin memakanmu". Hendak mencium bibir mungil rura.
Rura langsung saja memalingkan wajahnya kekanan, saat pamannya hendak menciumnya lagi.
Lagi-lagi rura memalingkan wajahnya ke kiri, begitu seterusnya...
Hingga membuat Paman nya itu marah dan
" Plak ".
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Rura yang membuat rura menangis sejadi-jadinya...
" Hua.... Paman jahat.... ". Teriaknya memaki pamanya.
" Itu akibatnya kalo kau melawan terus!". Bentak nya.
Rura yang masih tidak terima di perlakukan seperti itu, menggigit lengan paman nya yang membuat pamanya lagi-lagi menampar pipi Rura.
" Dasar anak tak tau diri!!.. kau sudah tidak punya siapa-siapa!! Harusnya kau bersyukur aku masih mau menerima mu!!". Bentak nya lagi-lagi
Yang membuat rura takut dan hanya terdiam sambil menangis tersedu-sedu.
" Hu...uu. Mama.. papa.. hu... ". Tangis nya dalam tindihan tubuh besar pamannya.
" Hahaha sudah lah diam saja ". Melanjutkan aksinya.
Dia mengusap-usap bijinya dan...
" Jleb"...
Dia menghentakkan pinggulnya agar bisa masuk ke dalam lubang rura.
" Ahk... Paman sakit... ". Pekik nya
" Ugh.. ini sempit tapi memuaskan ". Ucapnya penuh gairah
Saat semua bijinya masuk. Dia mulai menghentak-hentakkan pinggulnya dan menggoyangkan-goyangkannya
Rura hanya mengangis tanpa suara.
Tatapan nya kosong....
Dia melihat langit-langit kamarnya yang tampak buram karena lelehan air matanya.
*****
Pagi harinya....
" Ugh.. ". Keluh rura saat bangun dari tidur nya dan mendapati pinggang nya yang sakit apalagi di daerah bagian sensitif nya.
Tiba-tiba dia teringat akan malamnya yang panas itu. dia kembali akan menangis tapi di urungkan nya, saat mengingat perkataan pamannya semalam.
Di dekat pintu pamannya berhenti dan berbalik
" Jangan pernah kau katakan hal ini kepada orang lain. Kalo sampai aku tau kau mengumbarnya...... Makam kakakku yang tersayang itu akan hilang!!!". Ancamnya dengan senyum sinis nya.
Dengan tawanya dia keluar dari kamar rura.
Apalagi saat melihat wajah ketakutan rura, tawanya makin dia perkeras.
" Hu.... Hu.... Mama... Papa... Rura takut... Hu... ". Tangis rura.
*******
" Apa sarapannya sudah jadi?". Duduknya di meja makan sambil melihat rura yang menata makanan.
" Ayo cepat ambilkan paman mu ini nasi ". Dengan sombongnya membalik piring yang ada di depannya.
Dan dengan sigap dan takut serta sedikit keberanian..
Rura mengambil kan nasi untuk paman nya itu beserta lauk pauknya.
" Kau juga makan ". Membalikkan piring untuk rura
Rura mulai mengambil makanan yang ada di depannya.
Dan memakan makanan yang dia buat sendiri.
" Nanti... Pipi mu di kompres agar tidak bengkak". Meminum air putih tanda dia selesai makan
Rura hanya diam dan menggaguk
" Dan satu lagi.... Jangan pernah keluar rumah. Kalo soal sekolah, kau tidak usah sekolah. Lagipula kita tidak punya uang".
Lagi-lagi rura hanya diam dan mengangguk, yang membuat pamannya itu muak melihat tingkah rura yang seperti tidak mendengarkan.
" Brak..".
Pukulan di meja membuat rura terkejut dan memandang pamannya.
" Apa kau bisu hah!! ". Bentak paman nya
Rura hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.
Pamannya yang melihat rura hanya diam, langsung saja berjalan mendekat yang membuat rura mundur perlahan.
Di cekiknya leher rura hingga membuat rura kesulitan bernapas.
" Ma.. maaf ...".
" Pa... Paman... Lepas kan...". Ucapnya terbata bata.
Pamannya yang melihat keponakan nya itu kesulitan bernapas akhirnya melepaskan cekikannya.
" Lain kali kalo ditanya itu di jawab. Jangan cuma diam saja. Cih..". Kesalnya dan melangkah menuju ruang keluarga untuk menonton tv.
****
Hari-hari rura selalu seperti itu. Setiap malam dia selalu waspada akan pamannya. Tapi tetap saja kecolongan, yang membuat mental rura semakin tidak stabil.
Tidak terasa sudah 1 tahun rura menjalani kehidupan nya bersama paman nya di rumah peninggalan orangtuanya.
Rura bagaikan makan untuk pamanya itu.
Sekarang rura sedang membersihkan piring di dapur, sedangkan pamannya sedang duduk menonton tv.
Tidak ada senyuman di wajah rura, Hanya ada tatapan kosong nya. Tidak pernah keluar rumah, hanya di dalam rumah yang bagaikan neraka baginya.
Hanya ada satu hal baik di dalam rumah itu. Itu adalah kucing peliharaan rura yang sempat di pungut nya.
" Ini.. makan makanan sisa ini yah... Ocha". Memberikan mangkuk yang penuh makanan sisa untuk kucing nya.
"Meong... Meong...". Seakan-akan berterima kasih kepada rura.
Malam pukul 7.30.
Rura hendak ke kamarnya yang dekat dengan ruang keluarga nya, yang saat ini seorang iblis tengah duduk sambil menonton acara tv.
"Tap... Krek... Tap.. krek..". Bunyi langkah kakinya dan di barengi dengan bunyi lantai kayu yang di injaknya.
Rura mengendap-endap untuk kekamarnya agar tidak ketahuan oleh pamannya.
"Kr....ek ". Bunyi pintu kamarnya yang dia buka perlahan.
Rura masuk dan lega karena sepertinya dia tidak ketahuan oleh pamannya.
Tapi tiba tiba...
" Klek "...
Pintu terbuka dan yah... Siapa lagi yang masuk kalo bukan pamannya itu.
Lagi-lagi dia membuat tubuh keponakannya itu hancur. Bahkan hatinya sekalipun tidak dia sisakan.
*****
Keesokan harinya....
" Ini makan yang banyak yah... ". Menyodorkan mangkuk yang sudah penuh dengan makanan ke kucingnya. Yah... semacam rutinitasnya setelah makan malam.
Dia mengambil pisau nya dan mencuci nya hingga bersih.
Pisau itu tadi sempat dia gunakan untuk membuat makanan.
Dia memandangi pisau itu yang mengkilap di bawah lampu dan di guyur air kran.
Untuk pertama kalinya,
Senyuman rura tiba-tiba mengembang.
Walaupun bukan senyuman manis, melainkan kebalikannya.
Dia mengendap - endap menuju ruang keluarga tempat pamannya duduk sambil menonton tv.
Pisau yang dia pegang di sembunyikan di belakang nya.
" Tap... Krek... Tap.. krek.. ".
Dia berhenti tepat di depan pamannya dan mengahalangi tv.
" Ada apa?. Apa yang kau inginkan". Tanyanya berdelik kesal
Rura yang ditanya malah tersenyum lebar, dan maju mendekati paman nya.
Pamannya yang melihatnya juga mengembangkan senyumnya..
" Oh... Apa kau mulai agresif". Ucapnya salah paham.
Rura hanya mengangguk dan memanggil pamannya.
Pamannya itu pun condong ke arah tubuh rura dan tiba tiba...
" Ahk..... Apa yang kau lakukan... ." Teriak pamannya, yang menutup satu matanya yang keluar penuh dengan darah.
Rura tersenyum lebar dan menancapkan pisau itu lagi ke satu mata pamannya, yang membuat pamanya berteriak histeris..
" Brengsek... Dasar tak tau diri ahhkkkk ".
"Ahkkkk.... " Pekiknya lagi, karena rura menusuk pisau itu ke perut paman nya.
Pamannya yang sudah tidak bisa melihat lagi, ditambah dengan luka di Perut nya. Membuat nya mundur perlahan.
" Ja.. jangan mendekat". Teriaknya
"Hihihi.". Tawa psikopat rura.
Dia malah semakin mendekat kearah paman nya, sambil menjilati pisau yang penuh darah itu.
Pamannya yang mendengar langkah kaki rura, menjadi berteriak histeris.
Sampai...
" Krek... ".
Rura mengiris mulut pamannya, hingga membuat rahang bawah nya bergantung dan mengeluarkan banyak darah.
"Ahk ....". Pekik pamannya, tapi sudah tidak sekeras sebelumnya.
Rura yang melihatnya hanya tersenyum puas dan sampai ....
"Krek..". Dia memotong leher pamanya itu dan membuat kepalanya bergantung.
Ruangan itu sudah penuh dengan darah.
Rura yang melihat pamannya sudah tidak bergerak dan bernyawa.
Mulai melakukan aksinya dengan memotong-motong tubuh pamannya dan menjadikannya kecil-kecil.
****
Keesokan harinya...
" Ini makan yang banyak yah.. ". Tersenyum sambil menyodorkan mangkuk yang penuh makanan. Tapi bukan makan biasa, mangkuk itu penuh dengan daging mentah yang di potong kecil-kecil.
Terlihat sesuatu yang mirip dengan lidah, sedang di makan dan dimainkan oleh lidah kucingnya itu.
Rura untuk pertama kalinya dalam satu tahun ini merasa sangat lega dan bahagia...
Dia melihat kearah ruang keluarga...
Dan masih banyak cairan warna merah disana.
Yang membuatnya tersenyum lebar psikopat.
THE END