HARI HARI YANG AKAN DI LUPAKAN
Author: ZMU
Sinopsis : Kiran bertemu dengan Damara di sebuah toko musik rilisan fisik di Bandung. Mereka sama-sama menyukai musik, hanya saja Damara lebih menyukai musik jadul dengan fisiknya seperti kaset atau Vinyl. Damara tidak menyukai musik digital, bahkan ia tidak memiliki telepon genggam, karena ia juga tidak menyukai hal-hal yang berbau modern. Kiran tertarik dengan pribadi Damara yang unik dan easy going ini. Selama di Bandung, Damara mengajak Kiran menelusuri tempat-tempat di mana dulu pernah ada café-café musik yang pernah membesarkan nama-nama band seperti Peter Pan, Java Jive, dll.
Kiran harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan kuliahnya. Mereka berpisah. Suatu hari karena rindu dan cintanya Kiran kembali mengunjungi Damara di Bandung. Sebuah kisah cinta yang berlatar belakang musik-musik dari band-band tahun 90-an.
AWALNYA
Di bola mata pria muda itu tampak bayangan seseorang. Tak bergerak hanya berdiri mematung di depannya. Tak bicara karena tidak tahu harus berkata apa. Mereka hanya saling pandang di pinggir jalan yang dinaungi pohon-pohon tinggi. Tidak perduli keramaian lalu lintas kendaraan di jalanan saat jam padat, tidak perduli tatapan mata lalu lalang orang-orang. Menjelang sore waktu itu, saat daun-daun dari ranting tertinggi pohon Damar menguning dan mulai berjatuhan tersapu angin.
Tak berapa lama bola mata pria muda itu pun bergetar-getar.
***
Hari minggu di sebuah toko musik.
Ribuan kaset terlihat memenuhi rak-rak kayu yang memanjang dari ujung ke ujung ruang. Terdapat empat rak panjang di dalam toko tersebut. Dua rak berada di kiri kanan dan menempel pada dinding sedang dua rak berada di tengah ruangan. Rak-rak kayu yang menempel di dinding itu tingginya sampai ke langit-langit ruangan, sedang dua rak kayu yang berada di tengah ruang memiliki tinggi hanya sedada orang dewasa dan semua rak itu dipenuhi oleh koleksi-koleksi kaset dari berbagai jenis musik.
Di antara rak-rak kayu tersebut terdapat jarak yang bisa dilalui oleh dua orang, ini memberikan ruang bagi pengunjung untuk berdiri dan memilih-milih kaset yang diinginkannya. Sebuah rak dan lemari khusus yang diletakkan terpisah di pojok ruang tampak diperuntukkan hanya untuk koleksi-koleksi compact disc dan piringan hitam saja.
Selain itu berbagai poster dari band-band lokal menempel memenuhi dinding-dindingnya, tak ketinggalan dua buah pengeras suara yang diletakkan di dekat pintu masuk sedang memutar sebuah lagu untuk menyambut dan menemani para pengunjung toko.
Weyeyeyeye, weyowowowowo. Weyeyeyeye, weyowowowowo. Saat ini ku mencoba ingkari hari dengan janji untuk wujudkan semua impian yang selalu menggoda, selalu menggoda. (Gigi – Janji, 1995.)
Kiran memandangi isi toko musik itu, ia terkesima dengan banyaknya koleksi rilisan fisik yang dimiliki oleh toko ini. Ia memandang berkeliling, toko sedang tidak banyak pengunjung saat itu. Hanya ada dua orang laki-laki yang tampaknya mahasiswa sedang asyik memilih-milih kaset, kemudian seorang pria dewasa yang sedang membayar beberapa kaset yang telah dibelinya pada kasir yang hanya mencatatnya dalam buku di atas sebuah meja kayu dan seorang gadis muda dengan headphone tergantung di lehernya sedang serius membolak-balik piringan hitam. Kiran melangkah masuk dan berjalan di antara rak-rak tengah ruangan.
Ia melihat-lihat kaset-kaset yang berjajar itu, kemudian mulai memilih. Satu kaset ditariknya keluar dari rak. Ia membuka kasetnya lalu mengeluarkan cover-nya, membuka lipatan-lipatan cover itu sehingga menjadi panjang untuk melihat isi, membaca lirik lagu juga daftar lagunya. Tak lama, ia menggeleng, ia lipat lagi covernya dan dimasukkan kembali ke dalam kasetnya, tak tertarik. Ia letakkan kembali kaset itu di rak dan mulai mencari lagi. Cukup lama Kiran melakukan hal tersebut. Memilih, mengambil, membuka, membaca isinya, menggeleng lalu diletakkannya lagi pada rak. Ia menggaruk-garuk kepalanya tampak bingung memilih kemudian ia berpindah pada rak kaset lain. Akhirnya, Kiran mengambil sebuah kaset dan memandangi kaset itu untuk beberapa lama. Setelah ia lihat isi covernya, kali ini ia menimbang-nimbang akan membelinya.
“Pilihan album yang bagus, tapi ga terlalu bagus.”
Kiran menoleh mendengar ada yang mengatakan hal itu padanya. Ia melihat seorang gadis yang tadi dilihatnya sedang serius membolak-balik piringan hitam di pojok ruang, kini telah berada di sampingnya. Kiran yakin gadis itulah yang bicara, dan ia yakin gadis itu bicara padanya, karena tidak ada siapa-siapa lagi di sini selain dirinya.
“Sori, maksudmu bagus tapi ga terlalu bagus itu apa ya?” tanya Kiran.
Gadis itu tersenyum, berkata, “Album the best, memang bagus … tapi itu curang.”
Kiran mengerutkan kening, “Curang?”
Gadis itu mengangguk, berkata, “Seperti mengambil sebuah jalan pintas tanpa mau bersusah payah mengikuti prosesnya.”
Kiran masih mengerutkan kening tak mengerti.
“Kalau kamu menyukai sebuah band atau seorang penyanyi maka kamu perlu menghargai pencarian musik yang mereka lalui. Album the best itu kayak gado-gado, apalagi lagu-lagu dalam album the best yang kamu pegang itu, tidak sesuai urutan rilisnya, itu berantakan,” sambung gadis itu. Kiran menatap gadis itu, ia mulai mengerti maksudnya.
“Terus saranmu gimana?” tanya Kiran.
“Kamu harus menggali lagi lebih dalam … untuk band ini, kebanyakan orang mulai dengan album Bintang Lima, yah semua orang juga tau kalau album itu meraih multiplatinum, album sejuta umat, meski buatku terlalu mainstream … tapi ketahuilah, ada tiga album sebelumnya yang menunjukkan akar mereka sebenarnya. Bagaimana musik mereka berevolusi. Saranku adalah kembali ke titik awal, dengarkan album pertama mereka lalu ke album Terbaik Terbaik, selanjutnya nikmati album Pandawa Lima, setelah itu baru ke album-album berikutnya … album the best? Ga penting,” urai gadis itu.
Kiran manggut-manggut. “Eh sori, aku ga bermaksud mengganggu pilihanmu loh,” sahut gadis itu tertawa melihat Kiran terdiam. “Ga apa-apa, malah aku pikir apa yang kamu sarankan itu betul, tadi awalnya aku kira kamu pegawai sini, karena tau soal musik … tapi kamu benar bukan pegawai sini ‘kan?” tanya Kiran. Gadis itu tertawa lagi dan menggeleng, “Bukan, aku hanya pelanggan biasa, seperti kamu.”
Kiran nyengir, berbisik, “Aku bukan pelanggan, malah sebetulnya ini kali pertamaku masuk ke toko kaset, aku biasanya denger lagu dari hape, di Spotify.” Gadis itu mengangkat kedua alis tebalnya, lalu berkata, “Ohh, digital boy ….” Kiran mengangguk. “Itu menjelaskan kenapa dari tadi kamu tampak kebingungan ya?” lanjut gadis itu.
“Karena itu, aku butuh rekomendasimu, plis?” harap Kiran. Gadis itu menggeleng, “Rasanya ga mungkin, harusnya kamu yang lebih tahu banyak soal rekomendasi musik dibanding aku.”
“Ga buat musik-musik legend seperti ini,” balas Kiran seraya merentangkan tangannya di antara rak-rak yang berisikan ribuan kaset itu. Gadis itu tertawa, berpikir sebentar kemudian berkata, “Baiklah, tunggu sebentar.” Maka gadis itu berjalan menyusuri rak, mencari, lalu dengan cepat ia menarik beberapa kaset dari dalam rak. Kiran memperhatikannya. Tak lama ia telah kembali dengan membawa setumpuk kaset dan menyerahkannya pada Kiran.
“Nih, sebagian harta karun musik Indonesia yang harus kamu dengar,” cetusnya. Kiran menerima tumpukan kaset itu dengan kerutan di dahi. “Ini album-album dari Humania, Singiku dan tiga album Gigi dari tahun sembilan puluhan,” terang gadis itu melihat Kiran tampak bingung. “Oiya, ada yang lupa,” cetus gadis itu lalu menyusuri rak kaset kembali, mencari-cari dan menarik beberapa kaset lagi. Kiran terkejut karena gadis itu telah menambahi lagi tumpukan kaset yang sudah berada di tangannya.
“Itu, Kidnap Katrina, Andy Liany dan Club Eighties,” cetus gadis itu menyebut kaset-kaset yang baru saja diberikannya pada Kiran, “mereka itu musik-musik keren yang sulit kamu temui lagi di jaman sekarang.” Kiran manggut-manggut. “Oh ya, ada lagi!” serunya lalu ia membalikkan badan akan mencari kaset lagi. “Hey, hey, stop! Udah ini udah kebanyakan banget!” seru Kiran menghentikan langkah gadis itu.
Gadis itu nyengir, “Soriii, kebanyakan ya?” Kiran mengangguk lalu menunjukkan kedua tangannya yang penuh dengan kaset. “Makasih kamu sudah kasih rekomendasi musik buatku, tapi ga sebanyak ini juga, bahkan aku nyaris ga tau sama band-band yang kamu kasih ini, kecuali Gigi dan Dewa,” sahut Kiran. Gadis itu tertawa.
“Trus kamu ga jadi beli vinyl-nya?” tanya Kiran melihat kedua tangan gadis itu tidak membawa apa-apa. Gadis itu menggeleng, “Ga, tadi kesini emang cuma mau lihat-lihat aja … ok kalau gitu, tugasku sudah selesai, aku harus pergi, selamat mendengarkan.” Kemudian gadis itu memakai headphonenya lagi yang tampak menyambung pada pemutar kaset di pinggangnya, lalu tersenyum pada Kiran dan membalikkan badannya. Kiran mau membuka mulutnya tapi gadis itu telah berjalan keluar toko, maka Kiran bergegas menuju kasir untuk membayar kaset-kaset yang dibawanya, setelah itu ia langsung berlari keluar.
Di depan toko musik, Kiran mencari-cari gadis tadi.
Dilihatnya gadis itu sedang berjalan di depan sana. Kiran berjalan cepat untuk menyusulnya dan ketika langkahnya telah sejajar dengan gadis itu, Kiran menepuk bahunya. Gadis itu menjerit kaget. Ia menoleh dan melebarkan matanya tak menyangka melihat Kiranlah yang telah menepuk bahunya. Ia menghentikan langkahnya, membuka headphonenya sambil menatap bingung pada Kiran.
“Hai, iya aku cowok yang tadi di toko kaset,” cengir Kiran.
“Iya aku tau, masa lupa, ‘kan baru beberapa menit yang lalu, tapi ada apa kamu ngejar aku? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?” tanya gadis itu.
“Ga, kamu ga melakukan hal yang salah kok, aku cuma mau bilang terimakasih,” jelas Kiran. Gadis itu melepas nafas lega sambil mengusap dahinya seakan ada keringat yang mengucurinya, “Pfiuuhh, syukurlah, kirain …. sama-sama.” Kiran tertawa lalu memperkenalkan dirinya, “Aku Kiran, boleh aku traktir minum? Untuk rasa terimakasihku telah diberi harta karun musik Indonesia.”
Gadis itu terkekeh, “Sekalian makannya ya?”
Kiran mengangguk tertawa.
“Sori, aku bercanda,” cengir gadis itu.
“Ga apa-apa kok, mau makan juga ayo aku traktir,” cetus Kiran, “tapi dari tadi aku nungguin siapa nama kamu?”
Gadis itu menepuk jidatnya, “Oh nungguin ya?”
Kiran mengangguk tersenyum.
“Aku Damara,” sahut gadis itu.
“Ok Damara … senang berkenalan denganmu … nogomong-ngomong lagu apa yang sedang kamu dengar di headphonemu itu? Sepertinya menarik,” ujar Kiran. “Mau dengar?” tawar Damara. Kiran mengangguk. Gadis itu memasangkan headphone-nya pada kepala Kiran lalu ia menekan tombol play pada pemutar kaset di pinggangnya. Terdengar sebuah lagu di telinga Kiran.
Saat terasa waktu t’lah hilang. Ku terdiam oh. Saat hanya gundah yang bertentangan. Ku bernyanyi. Cinta … cita, harapan. Dan kuterbawa dalam kisah yang lama. Cinta … cita harapan.
Kiran membuka headphonenya dan menatap Damara. “Sepertinya kamu ga tau lagu siapa ini ya?” tebak Damara tertawa. Ia paham dengan tatapan mata Kiran yang bingung itu. “Judul lagunya, Tentang Aku, dari Jingga, tahun sembilan belas sembilan lima,” lanjut Damara seraya mengalungkan kembali headphone itu di lehernya dan mematikan pemutar kasetnya. Kiran manggut-manggut, “Lagunya enak, pas banget buat sore-sore teduh kayak gini ya.” Damara mengangguk, “Tentu saja.”
“Jadi, kita mau makan di mana nih? Mungkin kamu yang lebih tau daerah sini, coba rekomendasikan,” ujar Kiran. Damara menatap Kiran, “Kamu bukan orang sini ya?” Kiran mengangguk. “Coba aku tebak, Jakarta?” tebak Damara, Kiran mengangguk lagi. “Sudah kudagu,” timpal Damara membuat Kiran tertawa. “Ok ikuti aku kalau gitu, ada tempat nongkrong enak dan murah, ga jauh dari sini, yuk,” ajak Damara melangkah di depan diikuti Kiran.
Malam menjelang menyalakan lampu-lampu di sisi kanan kiri jalan.
Tidak ada kunang-kunang, tidak ada bulan purnama, tidak ada bunga-bunga bermekaran, hanya ada kemacetan di sepanjang jalan, kesumpekan para penumpang angkutan umum yang ingin cepat pulang dan umpatan-umpatan kesal ala jalanan. Semua orang ingin pulang, semua orang ingin cepat sampai. Tidak sabar, saling salip membuat kemacetan semakin kusut saja. Kiran dan Damara sedang berada di sebuah kedai susu murni yang berada di pinggir jalan tak jauh dari kemacetan itu.
“Macetnya parah juga ya di sini? Ga kalah sama Jakarta,” cetus Kiran memandang pada jalan di depannya. “Baru tau ya? Selamat datang di jalan Dipati Ukur Bandung, di mana angkotnya seneng ngetem dan pemotornya ga sabaran,” sahut Damara menanggapi komentar Kiran sambil meneguk susu strawberry khas Pangalengan itu. “Jadi Kiran, apa yang membawamu ke Bandung?” lanjut Damara setelah meletakkan gelas susu itu. Kiran mengalihkan pandangannya pada Damara, ia tidak memedulikan kemacetan lagi, untuk apa memperhatikan kemacetan yang tak guna itu sedangkan di depannya duduk seorang gadis menarik yang membuat hatinya terusik.
“Liburan … menenangkan pikiran sebelum menyelesaikan bab-bab akhir skripsi,” terang Kiran. ‘Wah keren, anak mahasiswa plus digital boy,” seloroh Damara membuat Kiran tertawa. “Rencana berapa lama di Bandung?” sambung Damara lagi.
“Mmm, belum tau … tergantung sih … mmm, kalau udah ga ruwet … siap ngerjain skripsi lagi … ya balik,” jawab Kiran. “Hey, aku tidak menginterogasimu, jadi santai aja hehehe,” kekeh Damara melihat Kiran terbata-bata menjawabnya. Kiran meringis.
“Kamu juga boleh bertanya apa aja,” tambah Damara.
“Hmm, seperti games jawab cepat, jawab jujur gitu ya?” ujar Kiran memastikan.
Damara mengangguk, “Bertanyalah dan aku akan menjawab.”
Kiran tersenyum dan menatap lekat mata Damara yang bulat bening itu. “Apa makanan favoritmu?” tanya Kiran. “Sudah pasti, seblak,” jawab Damara seraya mengangguk-ngangguk. Kiran menunjukkan wajah aneh. “Kenapa? Ada yang aneh dengan seblak?” tanya Damara. “Ada apa sih antara perempuan dan seblak? Kenapa kalian doyan banget sama kerupuk yang lembek dan tulang ayam yang ga ada daging-dagingnya itu?” Damara tertawa, “Susah dijelaskan dengan kata-kata ….”
Tatapan Kiran terus menikmati wajah gadis di depannya ini dan ia suka melihatnya tertawa.
“Siapa musisi favoritmu?” balas Damara bertanya.
“Weird Genius,” jawab cepat Kiran.
“Mmm, sudah kuduga,” tanggap Damara. “Bukan kudagu?” timpal Kiran, Damara tertawa.
“Bukan makanan favorit?” tanya Kiran lagi.
“Kurma … apalagi yang lembek dan kulitnya kering … iiighhh,” jawab Damara dengan wajah geli. “Tapi itu banyak gizinya loh,” sela Kiran, Damara hanya menggeleng.
“Mmm, nanya apa lagi ya … ok, harta yang paling berharga?” tanya Damara.
“Telepon genggam,” jawab Kiran.
“Hah? Telepon genggam?” cetus Damara tertawa.
Kiran pun tertawa, “Ya terlintas begitu aja, apalagi harus jawab cepat … tapi memang di telepon genggamku ada banyak hal tersimpan sih.”
Damara mengangguk-ngangguk, “Masuk akal.”
“Apa keinginan terbesarmu?” lanjut Kiran bertanya.
“Menjadi bebas dan menjadi guru les musik,” jawab Damara yakin.
“Wah mantap,” gumam Kiran, ia makin terpesona saja, “memang sekarang kamu belum menjadi guru musik?”
“Belum … aku masih mempelajari, belum siap mengajar,” jawab Damara.
“Kenapa jadi guru les? Kenapa ga jadi dosen musik misalnya,” ujar Kiran.
“Kenapa harus selalu bermimpi besar kalau bermimpi sederhana saja sudah cukup? Aku bukan pengejar mimpi besar Kiran, yang penting buatku adalah cukup dan membuatku senang,” balas Damara. Kiran tersenyum.
“Momen favorit tahun ini?” Damara melempar pertanyaan lagi.
“Sekarang,” jawab Kiran yakin.
Damara terdiam menatap Kiran.
“Eh, eung … itu kalau kamu ga keberatan sih,” ujar Kiran jadi canggung.
Damara tersenyum, “Its ok … eh tau ga lagu ini?”
Terdengar sebuah intro lagu yang diputar dari sebuah toko distro di sebelah kedai susu. Kiran mengangguk, “Aku pernah denger lagu ini di Spotify! The Fly, judulnya Terbang!”
Bias sinar di matamu. Indah tebarkan cinta. Semerbak kasihmu. Luluhkan relung hitam. Oh melati mekar mewangi. Menebarkan sari. Masa indah masa biru. Masa bersemi.
Mereka pun ikut bernyanyi saat lagu masuk reffrainnya.
Kuingin terbang bersamamu dan gapai mentari. Tak ingin lepas tak menentu jiwa dan batinku.
Tak perduli orang memperhatikan, mereka tertawa dan terus bernyanyi.
Malam terus larut, mereka masih terlibat percakapan-percakapan ringan yang menyenangkan hingga waktu pertemuan harus disudahi. “Baiklah, karena sudah malam, sebaiknya aku pulang,” ucap Damara tersenyum lalu berdiri dari duduknya, “terimakasih telah mentraktirku dan bernyanyi bersamaku Kiran.”
“Eh … kapan kita bisa ketemu lagi?” Kiran bertanya spontan. Damara tak menjawab ia hanya mengulas senyum saja lalu berbalik berjalan. “Ra, Damara!” panggil Kiran, Damara menoleh. “Boleh aku tahu nomer teleponmu?” cetus Kiran. Damara menggeleng lalu kembali berjalan. Kiran menghelas nafas tak bisa memaksa, ia hanya bisa melihat Damara telah pergi menghilang di belokan jalan.
***
Matahari pagi telah meninggi.
Lalu lalang kendaraan telah ramai sedari tadi. Kesibukan orang-orang tampak jelas terlihat di sepanjang jalan ini. Tidak ada yang diam semua bergerak, bergegas dan tak ingin terlambat. Di antara mereka terlihat Kiran yang sejak tadi telah bolak balik di depan toko musik hingga kedai susu, tak lupa ia juga memperhatikan belokan jalan. Kiran gelisah, ia belum melihat tanda-tandanya. Jam-jam berlalu, Kiran masih berada di sekitar situ. Kadang berdiri melihat ke kanan kiri, kadang duduk memantau kondisi atau berjalan menyusuri jalan Dipati Ukur dari Monumen Perjuangan hingga ke perempatan Simpang Dago. Tak sedikit pun Kiran lengah, matanya terus jeli mencari.
Ya, hari ini, Kiran sedang mencari dan berharap ia bisa bertemu lagi dengan Damara.
Gadis yang mengusik hatinya dan mulai mengisi pikirannya.
Secepat itu? Ya, kita tidak pernah tahu kapan rasa suka itu datang menubrukmu begitu saja.
Hari mulai berganti malam, Kiran tak tampak lelah, ia masih saja mencari dan menunggu. Hingga sebuah angkutan kota berhenti di depan jalan Sekeloa dan turun seorang gadis tepat di seberang Kiran berdiri. Hati Kiran berdegup senang, ia bisa mengenali headphone yang berada di kepalanya. Kiran segera menyeberangi jalan. Ia mengejar gadis itu lalu menyamai langkahnya dan menepuk bahunya. Gadis itu terpekik terkejut. Matanya melebar tak menyangka siapa yang menepuk bahunya.
“Digital boy!” serunya.
Kiran tertawa senang. “Ya ampun, aku pikir siapa,” ucapnya lagi sambil mengalungkan headphonenya di leher. “Selamat malam Damara,” sapa Kiran. “Kamu tidak mudah menyerah rupanya ya? Aku pikir kamu sudah kembali ke Jakarta,” ujar Damara lalu melanjutkan langkahnya. Kiran berjalan di sampingnya. “Ga akan pulang sebelum dapat nomer telepon kamu,” cetus Kiran. Damara tertawa seraya menggeleng-geleng pelan.
“Memang kenapa sih aku ga boleh tahu nomer telepon kamu?” tanya Kiran penasaran, “apakah kamu sudah punya pacar?”
Damara balik bertanya, “Menurutmu?”
Kiran mengangkat bahunya, “Yah, aku sih berharap belum.” Damara tertawa.
“Ngomong-ngomong selama di Bandung, kamu tinggal di mana? Hotel?” tanya Damara.
“Aku nebeng di rumah teman, kebetulan rumahnya kosong, ortunya lagi tugas di Semarang … hotel cukup mahal buat kantong mahasiswa sepertiku,” jawab Kiran, “eh keberatan ga kalau sekarang aku mau ngajak kamu minum susu di kedai susu kemarin lagi? Belum terlalu malam ‘kan?” Damara terdiam seraya menimbang-nimbang.
“Ayolah … soalnya, aku belum pernah menemui susu seenak itu di Jakarta,” bujuk Kiran.
“Bohong banget,” balas Damara, Kiran nyengir, “mmm, baiklah, segelas susu hangat sebelum tidur, akan membantuku tidur nyenyak.”
Kiran mengepalkan tangannya, “Yes!”
***
Dua gelas susu hangat diletakkan di hadapan mereka, sedang mereka duduk berhadap-hadapan.
Damara mengambil gelas susunya lalu meneguknya perlahan. “Gimana sudah didengar kaset-kaset yang aku rekomendasikan kemarin?” tanya Damara setelah menikmati hangatnya susu strawberry yang mengaliri tenggorokannya itu. Kiran mengangguk, “Aku sudah dengar Kidnap Katrina … aku baru tau di Indonesia ada nama band ini loh, sungguh itu satu album lagunya keren semua, klasik! Seperti genre funk bercampur rock, makasih kamu sudah rekomendasikan band ini Ra.”
“Saat pertama aku dengar lagu-lagu dari band ini, aku juga terpukau, wow mereka punya skill yang ga semua band sekarang punya. Bagian-bagian dari tiap lagunya juga memberikan kejutan buatku. Memang, membuat musik saat ini berbeda dengan bagaimana seharusnya, pada jaman dulu mereka semua bermain live … vokal, gitar, drums, bass, keyboard semuanya direkam live tapi di situlah ditemukan keajaiban, ada rasa yang bisa kita rasakan saat mendengar lagunya, semua menyatu membuat rekaman jadi hidup. Hari ini? Semua sudah disediakan di dalam satu aplikasi, tinggal pencet keluar musik … sumbang? Tinggal diatur aja, ga usah rekaman lagi … pijit sana pijit sini, woala! Jadilah musik instan tanpa rasa,” urai Damara.
Kiran mendengarkan uraian itu tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Damara, sungguh ia senang melihat Damara yang antusias seperti ini. “Humania dan Singiku, mereka juga betul-betul oke musiknya … betul kamu bilang, mereka adalah harta karun musik Indonesia,” tambah Kiran.
Damara tersenyum, “Syukurlah kalau kamu suka … sebetulnya banyak banget musik-musik dulu yang bagus dan layak disebut harta karun … sayangnya mereka kadang hanya menjadi one hit wonder aja, artinya bikin satu album trus selesai … sehingga generasi sekarang banyak yang ga tau kalau dulu pernah ada band-band bagus.”
“Betul, harusnya musik mereka bisa didigitalisasi, sehingga bisa muncul di Spotify atau iTunes, sehingga generasi digital sekarang, seperti aku misalnya, bisa mendengarkan harta karun musik tersebut,” sela Kiran.
“Dan menghilangkan nilai klasiknya? No way, mereka tetap harus berada dalam kaset, atau piringan hitam atau compact disc, itu yang membuat nilainya tetap lebih tinggi,” tolak Damara akan pendapat Kiran tersebut.
“Omong-omong, kenapa ya, sekarang sudah ga bermunculan lagi band-band berkualitas seperti mereka?” tanya Kiran. Damara mengangkat bahunya, “Entahlah … mungkin jamannnya sudah berbeda, pendengar musiknya juga sudah berbeda selera … jaman keemasan mereka sudah lewat, ada saatnya semua memang harus dilupakan.”
“Berarti orang-orang kayak kamu yang hari ini masih mendengarkan dan menyukai musik-musik mereka itu langka ya? Wah kamu harus dilestarikan!” canda Kiran. Damara tertawa seraya meninju bahu Kiran, “Reseh! Kamu pikir aku Raflesia Arnoldi apa harus dilestarikan?” Kiran tertawa sambil memegangi bahunya.
“Baiklah Kiran, segelas susu sudah habis, saatnya aku pulang,” ujar Damara kemudian berdiri dari duduknya. “Aku boleh menemani kamu sampai rumah?” tanya Kiran, Damara mengangguk. Setelah membayar dua gelas susu tersebut mereka pun berjalan berdampingan.
Sepanjang berjalan, Kiran tak sungkan lagi untuk menatap wajah Damara lalu menikmatinya dalam rasa yang menggugah. Tatapan Kiran begitu lekat, menunjukkan besarnya rasa sayang yang bagaimana caranya bisa muncul begitu saja di hatinya. Mereka berjalan tak banyak bicara. Damara sesekali melirik pada Kiran di sampingnya lalu tersenyum. “Kenapa? Kok kamu senyum-senyum gitu?” cetus Kiran ingin tahu. Damara hanya menggeleng-geleng dengan sisa senyum di ujung bibirnya, ia merasa tak perlu untuk mengatakan apa yang dirasakannya.
Kemudian Damara menghentikan langkahnya. “Ok Kiran, sampai di sini, aku sudah sampai di kosanku,” ujar Damara di depan gerbang sebuah rumah, “bukan tak ingin mengajakmu masuk tapi sori, aku cukup lelah hari ini.” Kiran melihat sekilas rumah bertingkat bercat putih itu dan mengangguk.
“Baiklah, terimakasih untuk waktu dan percakapan yang lagi-lagi menyenangkan malam ini … tapi, mmm, boleh ga besok aku datang kesini lagi?” harap Kiran.
Damara tersenyum, bertanya “Apakah aku bisa melarangmu?”
Kiran menggeleng.
“Sudah kudagu, besok pagi kamu boleh kesini lagi, aku akan mengajakmu ke beberapa tempat yang mungkin menarik buatmu,” lanjut Damara.
Mata Kiran melebar senang, “Besok??” Damara mengangguk. “Dan kamu mau mengajakku ke tempat-tempat yang menarik? Betulan?” tanya Kiran lagi memastikan. Damara mengangguk lagi maka hati Kiran dipenuhi gejolak senang.
Malam kian terasa melarutkan dingin. Hasrat pun ingin terus bersama. Sinar bulan yang terang berbayang. Terbias indah di matamu.
Kiran mengepalkan tangannya, yes! Damara tertawa melihatnya. “Tapi bolehkan aku minta nomer teleponmu?” pinta Kiran. Damara menggeleng, menjawab singkat, “Aku ga punya hape.” Kiran menampakkan wajah terkejut, “Ah kamu becanda ….” Damara tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya, seperti berkata, terserah mau percaya atau tidak. Kemudian ia membalikkan badannya memasuki pintu gerbang rumah bertingkat itu. Kiran masih tampak tak percaya.
Hingga tiada satu kata yang bisa kuucapkan. Biar kau tahu yang kurasakan. Getar jiwa terguncang buaikan. Bersatu genggam di jarimu. Kutahu jawabnya.
“Pulang Kiran, sudah malam … besok kamu akan tahu alasannya,” ucap Damara dari balik pintu gerbang. “Kamu memang langka Damara! Kamu harus dilestarikan,” seru Kiran. Damara melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah tapi sebelum masuk, Damara telah memberikan senyum termanisnya untuk Kiran malam itu.
Inikah gerangan cinta yang menghiasi kisah manusia. Sepanjang masa. Gairah pun dibuai terlena. Nikmati manis kata asmara. Damainya terasa di dalam jiwa. (Java Jive – Gerangan Cinta, 1995)
MASALAHNYA, CINTA
Kiran telah mengendarai motornya.
Memacu cepat melalui jalanan. Hari ini ia begitu bersemangat untuk bertemu lagi dengan Damara. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya bersiul. Hatinya sedang senang. Motor itu pun sampai di depan rumah bertingkat dengan cat putih. Di depan pintu gerbangnya, tampak Damara telah berdiri menunggu. Bibir Kiran tak bisa berkata-kata melihat Damara, hanya hatinya yang berbisik, “Pagi ini dia cantik sekali.”
Damara tertawa menyambut Kiran. “Selamat pagi Pak Kiran, tepat waktu sekali … biar kutebak, motor punya temanmu ya?” ujar Damara. Kiran nyengir dan mengangguk, “Pengennya sih bawa tank baja tapi bingung parkirnya hehehe … tapi pake motor ga masalah ‘kan?” Kiran menjadi was-was seraya menyerahkan helm pada Damara. “Ya enggalah, masalah itu kalau kamu bawa sepeda roda satu,” sahut Damara santai. “Emangnya aku beruang sirkus,” balas Kiran. Mereka pun tertawa.
Roda motor berputar lagi. Berjalan sedang di atas aspal, Kiran tak ingin terburu-buru, ia ingin menikmati saat-saat ini. Angin sejuk masih bisa terasa di wajah meski matahari mulai tinggi. Di Bandung, angin pagi yang sejuk masih bisa kau rasakan meski jalanan telah ramai dan matahari telah bersinar terang.
“Kemana kita?” tanya Kiran, “katanya mau mengajakku ke tempat yang menarik.” Damara menjawab, “Tapi aku bilang mungkin loh ya … bisa jadi tidak menarik buatmu.” Kiran menggeleng, “Ga mungkin, pasti menarik juga buatku, tunjukkin arahnya ya.” Damara mengangguk.
Beberapa saat kemudian motor telah sampai di jalan Cihampelas lalu Damara meminta Kiran untuk berhenti dan memarkirkan motornya di depan sebuah apotik. Kiran mengerutkan keningnya, “Ngapain kita parkir di depan apotik Ra? Kamu mau beli obat?” Damara turun dari motor dan tertawa.
“Inilah salah satu tempat menarik yang aku sampaikan itu,” sahut Damara.
Kiran melihat sekelilingnya, berkata, “Perasaan ini apotik sama aja kayak apotik-apotik lainnya deh, apanya yang menarik?” Damara berdiri membelakangi apotik itu lalu ia mulai bercerita pada Kiran yang berada di hadapannya.
“Dulu, dua puluh satu tahun lalu, tepat dibelakangku ini adalah sebuah café, namanya Sapu Lidi,” ujar Damara memulai ceritanya pada Kiran yang masih duduk di jok motornya. “Di café inilah, sebuah band fenomenal di negeri ini, yang aku yakin kamu juga tahu, yaitu Peterpan manggung dan nyari job … jadi tempat ini adalah tempat mereka tampil di awal-awal karir musik mereka Kiran! Dan di sinilah impian mereka menjadi nyata yaitu mendapat kesempatan untuk tampil di sebuah album musik kompilasi yang bakal merubah nasib mereka ke depannya!” seru Damara bersemangat. Kiran terkesiap baru menyadari.
“Wah betulan?” cetus Kiran sambil menengok ke arah apotik tersebut, Damara mengangguk yakin. “Seru ya kayaknya kalau bisa lihat Peterpan tampil di saat itu, pasti mereka masih culun-culun tuh dan pasti dulu di café itu banyak banget musisi-musisi Bandung yang tampil ya?” lanjut Kiran seraya membayangi betapa ramainya tempat itu waktu dulu .
“Hampir semua band dari Bandung pernah tampil di tempat itu, beberapa bahkan sukses secara nasional … selain Peterpan, ada band Kahitna dan Java Jive juga rutin tampil di situ di awal karir mereka,” tambah Damara.
“Aku baru tau nih … jadi di sinilah awal Peterpan tampil,” gumam Kiran. “Bukan, kalau tempat awal mereka tampil, bukan di sini,” koreksi Damara, “kamu mau tau?” dengan cepat Kiran menganggukkan kepalanya. Damara melompat naik ke boncengan motornya lagi. “Yuk, sekarang kita ke jalan Sudirman, nanti aku tunjukkin tempatnya,” cetus Damara. Dengan bersemangat Kiran segera menjalankan motornya lagi dengan sebelumnya membayar uang parkir saat keluar dari tempat tersebut.
Perjalanan dari Cihampelas sampai ke jalan Sudirman cukup memakan waktu karena jalanan yang macet. Hari pun sudah semakin siang, dengan cahaya matahari yang mulai bersinar terik tapi Kiran dan Damara tak tampak lelah atau kepanasan mereka masih saja bersemangat dan bersenang. Dalam perjalanan sesekali Damara berpegangan pada pinggang Kiran dan Kiran bisa merasakan hatinya berdesir senang setiap kali jemari Damara itu menyentuhnya. Ia berharap Damara tidak sekadar memegangnya tapi juga memeluknya dari belakang seperti orang-orang yang sedang kasmaran bila naik motor berduaan. Kalau itu terjadi, sungguh akan menjadi kebahagiaan yang tak terperi.
“Stop, stop di sini Kiran!” seru Damara mengagetkan Kiran dari lamunanya. Kiran segera ke pinggir jalan dan menghentikan motornya. Ia melihat mereka berhenti di depan sebuah bank berlantai dua. “Aku yakin ini bukan sembarang bank,” tebak Kiran.
Damara tidak turun dari boncengan motornya, ia hanya berkata dengan dagu yang menempel di bahu kiri Kiran, “Tebakan yang bagus! Betul, dulu sebelum jadi bank itu, sekitar tahun dua ribuan, itu adalah sebuah café yang cukup terkenal di Bandung, Café O’hara namanya. Di situlah Noah atau dulu namanya Peterpan, pertama kali tampil.”
Kiran memandangi bank itu.
“Lima orang anak muda yang masih berusia belia, memainkan musik-musik beraliran british menggebrak panggung di café legenda itu, lima anak muda yang tidak pernah tahu, nanti mereka akan menjadi sebuah band fenomenal di negeri ini,” lanjut Damara. Kiran terbawa dengan kalimat Damara hingga ia bisa membayangkan bank tersebut berubah menjadi sebuah café musik dan lima personil Peterpan yang masih muda-muda itu sedang bermain di sana.
“Hoy! Ngapain kalian di situ?!” sentak satpam bank bertolak pinggang.
Kiran dan Damara baru tersadar sejak tadi ternyata mereka diawasi satpam. “Punten Kang, lagi ngaso,” cengir Kiran. “Ngaso-ngaso! Mingggir, eta aya mobil mau masuk!” sentak satpam lagi seraya menunjuk pada sebuah mobil di belakang mereka. Satpam itu melangkah menghampiri, kumis tebalnya tertiup angin melambai-lambai.
“Cabut, cabut,” bisik Damara sedikit panik.
Kiran langsung memacu pergi motornya.
“Mangga Kang ah,” teriak Kiran dan berlalu cepat.
“Hey malah kabur! Bedegul!” umpat satpam itu.
Kiran dan Damara tertawa-tawa.
Hari itu mereka berkeliling-keliling kota Bandung. Damara tidak hanya menjelaskan tempat-tempat di mana band-band Bandung yang sekarang ternama tampil di awal-awal karir mereka, tetapi ia juga menunjukkan tempat-tempat nongkrong asyik pada jaman dulu yang sekarang telah beralih fungsi. Kiran sungguh menikmati tur kecil yang mereka lakukan ini, terlebih ia bisa bersama Damara.
Tak terasa waktu telah menjelang malam.
“Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukkan,” ujar Damara, “kamu capek ga?” Kiran mengeleng, “Ayo aku mau tau!” Damara tersenyum dan menunjukkan jalannya, motor pun melesat.
Beberapa saat kemudian Kiran memarkirkan motornya di parkiran pinggir jalan. Kiran mengerutkan kening, di sini ia tak melihat sebuah gedung atau ciri-ciri sebuah tempat yang dulunya menunjukkan tanda-tanda bekas sebuah café ataupun studio musik, yang tampak di depannya hanyalah sebuah warung makan dengan kursi-kursi meja plastiknya yang berada di sisi jalan.
Damara turun dari motor dan berjalan menuju warung makan ini. “Apakah ini dulunya sebuah café atau tempat lahirnya sebuah band legend di Bandung? Seperti The Changcuters?” tanya Kiran penasaran. “Maksudmu warung makan ini?” sahut Damara, Kiran mengangguk. Damara menggeleng, “Bukan, ini memang dari dulu ya warung makan.” Kiran melihat sekelilingnya, bertanya, “Trus ngapain kita kesini?” Damara nyengir, “Aku laper ih!” Kiran menepuk jidatnya, “Ya ampun hahaha … iya ya kita belum makan dari tadi!”
Tak lama mereka pun memesan makanan dan duduk berhadap-hadapan di sebuah meja yang tak jauh dari jalanan. Deru mobil, motor atau angkutan umum yang lewat tidak menganggu mereka yang lahap menyantap makanan. Sambil menyuap makanannya Damara bertanya, “Kamu pernah makan di sini?” Kiran menggeleng. “Sebagai catatan, ini bukan warung makan biasa loh … kalau kamu beruntung, kamu bisa bertemu artis-artis atau musisi-musisi top Bandung di sini,” sambung Damara. “Oya?” cetus Kiran, Damara mengangguk-ngangguk. “Apa nama warung ini?” tanya Kiran. “Warung Ce’Mar,” jawab Damara. Kiran langsung memperhatikan satu-persatu pengunjung yang ramai makan di situ. Damara tertawa melihatnya.
“Oya, band terakhir yang kamu sebutin tadi saat kita masuk ke warung ini, mereka itu tidak pernah tampil pertama kali di café, tapi mereka tampil pertama kali di pentas seni sekolah, mereka itu rajanya pensi pada jamannya,” sahut Damara. “The Changcuters?” tanya Kiran, Damara mengangguk. “Oooh gitu … omong-omong, kamu tau dari mana sih semua hal itu? Sampai tahu ke tempat-tempat legend bekas mereka tampil, padahal semua tempat itu ‘kan sekarang sudah beralih fungsi,” tanya Kiran heran.
Damara menatap Kiran sambil menelan makanannya, lalu meletakkan sendoknya, berkata serius, “Kamu betulan mau tahu aku tahu dari mana itu semua?” Kiran mengangguk. Damara menggerakan jemarinya memberi kode pada Kiran untuk mendekatkan wajahnya. Kiran menuruti. Setelah wajah Kiran dekat, Damara pun mendekatkan bibirnya pada telinga Kiran.
“Aku sebetulnya sudah berusia lima puluh lima tahun … dan, semua itu aku alami sendiri,” bisik Damara. Kiran menarik kepalanya sambil mengerutkan keningnya. Damara mengangguk-ngangguk serius. “Ta … tapi kamu masih terlihat muda ah … ga keliatan kayak yang telah berusia lima puluh lima tahun!” cetus Kiran tak percaya.
“Aku sudah punya lima anak dan sepuluh cucu Kiran,” lanjut Damara serius.
Mata Kiran membelalak terkejut tak menyangka itu.
“Jangan becanda Ra!” tukas Kiran.
“Apakah aku terlihat seperti yang bercanda?” sahut Damara tanpa senyuman, “baiklah, aku akan tunjukkan KTP-ku kalau begitu.” Damara mengambil dompet dari dalam tasnya dan membukanya mencari KTP. Hati Kiran menjadi was-was, menunggu Damara menunjukkan KTP-nya. Tiba-tiba Damara menepuk jidatnya cukup keras sambil memejamkan mata.
“Ada apa??” cetus Kiran terkejut.
Damara membuka matanya, menatap Kiran, “Ada yang berbohong!”
Kiran mengerutkan keningnya, “Siapa?”
Damara mengacungkan telunjuknya, “Aku, hahahaha.”
Kiran menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Apa maksudmu??” Damara masih tertawa, “Ya Tuhan Kiran, kamu percaya kalau aku sudah berusia lima puluh lima tahun gitu?! Hahaha.” Kiran berdecak keras, ia kena dikerjai “Hidupmu serius amat sih! Anak Jakarta memang butuh banyak becanda, kotanya bikin stress ya?” ledek Damara melanjutkan makannya. Kiran geleng-geleng lalu mau tak mau tertawa juga.
“Trus tau dari mana dong?” tanya Kiran masih penasaran.
“Iqra, Kiran … bacalah … baca buku, ke perpustakaan,” terang Damara.
Kiran manggut-manggut, “Soalnya kita tau apa-apa itu biasanya dari gogel, tapi sejak kamu bilang kamu ga punya hape, aku jadi penasaran kamu tau dari mana semua itu … tapi setelah kamu bilang baca buku, perpustakaan, ya aku jadi ngerti.”
Damara tersenyum, “Sumber informasi ada di sekitar kita Kiran, ga harus gogel.”
“Tapi Ra, apa betul kamu memang ga punya hape?” selidik Kiran lagi.
Damara mengangguk, “Aku sudah mengatakannya Kiran, ya aku memang ga punya hape … kenapa?” Kiran mengangkat bahunya, “Ya ga apa-apa juga sih, tapi agak sulit buatku memahami kalau di jaman sekarang yang serba digital ini, ada orang yang ga punya hape, ga punya sosial media. Lihat, semua orang di sini sedang memainkan hape mereka.” Kiran menunjukkan orang-orang di warung makan tersebut.
“Lalu kehilangan momen untuk bicara dengan orang yang berada di depan atau sekitar mereka? Coba lihat lagi,” balas Damara. Kiran memperhatikan kembali sekelilingnya, Damara benar, semua orang menjadi sibuk dengan telepon genggam mereka masing-masing meski mereka berada di satu meja.
“Apakah itu alasan kamu untuk tidak memiliki telepon genggam?” sahut Kiran.
Damara menyelesaikan makan dan minumnya terlebih dulu, lalu menatap Kiran. “Mungkin … atau aku hanya ga mau diatur-atur sama hape dan sosial media … tidak tertekan dengan komentar, tidak terkekang dengan kecanduan akan like, love … kecanduan untuk memamerkan apa yang kita punya atau nyandu kepoin kehidupan orang lain … aku ingin bebas … aku ingin menikmati sebuah kehadiran … tanpa harus sekali-sekali terganggu untuk mencek hape atau memposting segala sesuatunya, padahal kita sedang memiliki waktu bercakap-cakap atau menikmati momen yang mungkin ga kejadian lagi … tapi hilang karena kita sibuk dengan hape kita dan sosial media kita masing-masing … seperti yang membuang-buang waktu berharga saja buatku,” jelas Damara.
Kiran terdiam sejenak, setelah itu baru berkata, “Wah … aku ga bisa berkata-kata … buatku itu pendapat yang bagus banget … tapi sekarang ‘kan semua dihubungkan dengan hape, sosial media … tanpa itu kamu bisa disebut ketinggalan---”
“Jadi menurutmu, orang yang ga punya hape atau ga punya sosial media, maka dia disebut orang yang ketinggalan jaman atau ketinggalan berita?” potong Damara.
“Ya mungkin begitu,” jawab Kiran.
“Ok, ga apa-apa kalau begitu, masukkan aku kelompok itu,” sahut Damara.
“Kamu ga merasa terusik dengan sebutan itu?” tanya Kiran penasaran dengan Damara yang santai saja. “Hahaha, memang harus gimana? Biar saja … nah sekarang jelasin padaku kenapa seorang yang menyukai musik digital, datang ke Bandung terus kepikiran buat datang ke toko kaset?” tanya balik Damara.
“Awalnya hanya ingin tau aja,” jawab Kiran.
“Setelah tau dan beli kaset, menurutmu gimana?” lanjut Damara.
“Aku masih suka digital sih karena praktis, semua bisa tersimpan di hape, kalau mau dengar tinggal putar, trus kita ga memerlukan tempat lagi untuk menyimpan kaset, piringan hitam atau compact disc itu, apalagi bentuk fisik seperti itu bisa cepat rusak malah jadi sampah,” jawab Kiran lugas.
Damara menatap serius Kiran.
“Kenapa? Ada yang salah dengan kalimatku barusan?” tanya Kiran melihat tatapan Damara itu.
“Serius? Kamu menganggap album musik dalam bentuk fisik itu adalah sampah?” tukas Damara.
“Hey, aku ga bilang gitu, maksudku, mereka itu rentan rusak karena cuaca, suhu atau jamur, kalau sudah rusak ya ga bisa diputar lagi, harus dibuang ke tempat sampah,” jelas Kiran merasa tak enak.
“Itu karena kamu ga tau bagaimana cara merawatnya,” sergah Damara.
Kiran terdiam.
Damara pun membuka tasnya lalu mengeluarkan beberapa kaset dari dalamnya.
“Lihat ini,” cetus Damara seraya membuka beberapa kaset dari album Slank yang berjudul Suit, Suit, Hehehe, Kampungan dan Piss. Ia mengeluarkan cover albumnya dari dalam kaset. “Kamu ga akan menemukan yang kayak gini dalam format digitalmu,” lanjut Damara dengan antusias menunjukkan cover-cover unik album tersebut, “ini adalah ide, puisi, frasa, karya seni.”
Kiran menatap cover-cover album tersebut.
“Semua nilai itu ada di dalam sebuah kaset, piringan hitam atau compact disc! Kamu harus membukanya untuk menemukannya,” sambung Damara, “ini sebuah petunjuk untuk membantu orang memahami albumnya pada level yang lebih dalam, ga cuma sekadar mendengarkan saja.”
Kini Kiran menatap Damara yang sedang serius itu.
“Sebut aku kuno atau ketinggalan jaman karena masih menyukai rekaman dalam bentuk fisik seperti ini, tapi aku pikir ini bagus, berfungsi, hidup, seperti manusia dengan daging dan darahnya,” tegas Damara, “untuk dapat memegang sesuatu yang nyata di tanganmu.” Damara meraih jemari Kiran dan menuntunnya untuk menyentuh telapak tangannya, jemarinya. Kiran menuruti dan mengikuti, ia tenggelam dalam sima Damara yang memukaunya.
“Untuk menghargai teksturnya,” lanjut Damara seraya meremas lembut jemari Kiran, “untuk berinteraksi dengan sesuatu berupa fisik dan nyata.” Damara menatap mata Kiran sedang jemari mereka saling meremas bersentuhan. “Kamu tidak akan mendapatkan sensasi ini saat mengunduh musik dari dunia maya,” pungkas Damara.
Damara kemudian menarik jemarinya lalu melipat kembali cover-cover album tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam kaset. Kiran menghela nafas dan mengangguk. “Ya kamu benar …” gumam Kiran. “Kamu tau? Aku selalu membawa kaset-kaset dan pemutar kasetnya dalam tas ini, buat berjaga-jaga kalau aku ingin mendengarkan musik sambil menikmati karya seni dari cover albumnya … tapi aku tidak bisa memaksamu untuk menyukai apa yang aku sukai,” ujar Damara.
“Yap, seperti yang kamu bilang, aku adalah digital boy bukan?” cengir Kiran, Damara mengangguk. “Setelah ini kita akan kemana?” sambung Kiran mengalihkan topik pembicaraan, “aku harap sih jangan pulang dulu, aku masih ingin bersamamu.”
Damara menatap Kiran, bertanya, “Pernah melihat kota Bandung dari atas bukit?” Kiran menggeleng cepat dan menjawab, “Belum, belum … plis, bawa aku kesana Ra, pliiiis.” Damara tertawa melihat Kiran memohon-mohon seperti itu.
Maka malam itu mereka melanjutkannya dengan menikmati lampu-lampu kota Bandung dari atas sebuah bukit.
Kiran memeluk Damara dari belakang. Damara pun membiarkan lengan Kiran yang kokoh itu melingkari pinggangnya. Ia bisa merasakan jantung Kiran berdetak di kulit punggungnya. Entah bagaimana Damara menyukainya. Angin dingin berhembus dari punggung Bukit Bintang menyapu kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Damara merapatkan tubuhnya pada Kiran mencari hangat dan Kiran tidak ingin melepaskan pelukannya. Gemerlap bintang berpadu dengan gemerlap lampu-lampu kota jauh di sana.
“Ra, kata orang kita tidak bisa melihat masa depan ya … tapi aku bisa,” bisik Kiran di telinga Damara. Damara tersenyum, “Oya? Coba tunjukkan.” Kiran memutar tubuh Damara hingga wajah mereka saling berhadapan. Kiran menatap mata Damara lama dan lekat.
“Ini aku sedang melihat masa depan …” bisik Kiran, “masa depan besamamu.” Damara tertawa, berkata, “Gombal sih … tapi aku suka.” Kemudian Damara memeluk Kiran lebih erat lagi. Kiran mengecup dahi Damara, Damara menatap lembut Kiran, bibir mereka merekah dan mendekat lalu perlahan-lahan mereka tenggelam dalam keagungan asmara.
Hanya cinta sejati yang bisa bertahan tanpa mengenal waktu. Tak’kan pernah sirna bagai karang di samudera. ‘Kan abadi ‘tuk selamanya. Seperti itulah cintaku untuk dirimu. Tulus dan apa adanya. Datang dari sebuah rasa sucinya hati. Atas nama cinta sejati. (Elements – Cinta Sejati, 2014)
APA YANG TERJADI?
Waktu terus bergulir.
Setiap saat, setiap waktu, mereka habiskan bersama. Menikmati sore, menikmati malam. Menjalani hari, menjalani minggu tak pernah tak bersama. Berkali-kali Kiran meragu dan meyakini dirinya apakah betul yang dirasakannya ini adalah sebuah cinta atau hanya rasa suka sementara saja? Apakah ini hanya dirinya saja yang mencinta atau ini cinta terlewat begitu saja? Tapi berkali-kali juga Kiran mendapatkan jawabannya saat itu juga, diyakini oleh apa yang dilakukan Damara padanya. Tatap mata Damara, genggaman erat jemari Damara, pelukan hangat Damara, kecupan-kecupan lembut Damara, semua yang tak pernah ia minta diberikan Damara dan semua itu memberikan rasa yakin, bahwa cinta memang hadir untuk mereka berdua.
Tak terasa Kiran harus kembali ke Jakarta.
Kiran melangkah keluar dari kamar dengan tas ransel di bahunya. Ia berjalan keluar rumah dengan tawa lebar melihat Tisna, temannya telah menunggu di atas motor dengan mesin menyala. “Ckckckck yang lagi kasmaran wajahnya seger amat,” ledek Tisna. “Jomblo jangan iri,” sindir Kiran membuat Tisna mendengus sebal, Kiran pun tertawa.
Motor berjalan keluar halaman rumah kemudian menyusuri jalan-jalan ramai.
“Gue mah ga ngerti da, gue seumur-umur di Bandung tapi ga pernah dapet cewek, nah lu baru datang eh udah dapet cewek … sial amat hidup gue ya,” rutuk Tisna di atas motornya. “Lo bukan sial Tis, tapi kurang ganteng aja sih,” timpal Kiran. “Sialan lo!” umpat Tisna. Kiran tertawa.
Motor berjalan menyusuri jalan Dago yang dipenuhi pohon-pohon damar nan rindang membuat udara menjadi sejuk.
“Cuma sampe sekarang gue mah ga ngerti da, kenapa masih ada orang ga mau punya hape dan sosial media ya? Antik pisan eta cewek,” sahut Tisna. “Antik jeung langka Bray,” tambah Kiran. Tisna mengangguk, “Bener, cik cewek mana di jaman sekarang yang ga punya sosial media? Apalagi kalau cantik, geus pasti punya sosial media apalagi Tok Tik … beneran gue mah ga ngerti da.”
“Itulah yang gue suka dari dia Tis, cewek ini kayak yang ga perduli sama perubahan jaman, dia ga khawatir kalau disebut kolot, jadul, atau apalah … gue suka lihat dia nyaman jadi dirinya sendiri, anaknya juga easy going, buat teman bicara, enak banget,” tambah Kiran.
“Tapi susah atuh ya kalau ga punya hape, gimana kalau mau tanya kabar? Trus kemana mau nanya kabarnya? Gue mah ga ngerti da,” sahut Tisna.
“Yah cuma itu kekurangannya … gue kayak pacaran di tahun sembilan puluhan, tapi seru sih Tis, apalagi kalau kita lagi berdua … quality time banget … karena dia betul-betul fokus cuma sama gue,” balas Kiran.
“Apa jangan-jangan dia ga punya hape, karena ga mau terikat Ran? Ga mau terganggu? Soalnya gue mah ga ngerti da kalau alasannya dia itu cuma ga mau terkekang dengan sosmed, ‘kan kita bisa atur diri kita sendiri untuk kapan mau bersosmed, kapan engga …” tukas Tisna. Kalimat Tisna ini membuat Kiran terdiam.
Beberapa saat kemudian, motor berhenti di parkiran depan sebuah rumah yang menjadi tempat kursus musik.
“Ini bukan tempatnya Ran?” tanya Tisna ragu. Kiran melihat tulisan di kertasnya, “Iya betul, tadi pagi, waktu kita abis dari Lembang dia sendiri yang nulis alamat ini. Ini tempat dia belajar dan akan menjadi guru les musik nanti … Tis tungguin ya, gue bentaran da.” Tisna mangut-manggut. Kiran turun dari boncengan motor dan melangkah menuju rumah kursus musik itu tapi belum lagi sampai pintu masuknya, Damara telah keluar dari dalam menyambut Kiran.
“Ga nyasar ‘kan?” sambut Damara dengan senyum yang membuat pagi menjadi bergairah. Kiran menggeleng lalu memeluk erat Damara. “Belum-belum aku sudah kangen kamu,” bisik Kiran. “Maaf membuatmu begadang sampai pagi tadi,” bisik Damara dalam pelukan Kiran, “aku ga tau kalau kamu harus kembali ke Jakarta hari ini.” Kiran terkekeh menggeleng, “Ga apa-apa, mau begadang setiap malam sama kamu aku siap hehehe … ini juga dadakan sih, tiba-tiba dosen nelpon minta aku segera beresin skripsi … huh! Padahal aku masih betah di Bandung, sama kamu.”
Damara tertawa, mengusap pipi Kiran dengan ujung jemarinya seraya berkata, “Skripsi penting Kiran … kamu harus urus itu dulu … soal yang lainnya biarkan saja, fokuslah pada apa yang nyata.”
Kiran mengangguk, “Bolehkah aku menciummu sebelum aku pergi?” lalu memajukan bibirnya. Damara memundurkan kepalanya lalu menahan bibir Kiran dengan jarinya, “Ga di sini Kiran … ini di tempat kursus dan di parkiran terbuka!”
Kiran tertawa, “Katanya kamu mau jadi bebas dan ga perduli kata orang?”
Damara menghela nafas, lalu melepaskan pelukan Kiran, “Ya bukan bebas dalam arti seharafiah itu kali dan itu temen kamu ngeliatin kita terus … sampe mangap gitu mulutnya.”
Kiran menoleh dan tertawa melihat Tisna.
“Tis! Mingkem!” teriak Kiran mengagetkan Tisna yang langsung menutup mulutnya dan nyengir. “Itu Tisna temen baikku, dulu kita SMA bareng di Jakarta, pas kuliah dia milih balik ke kotanya ini … selama di Bandung aku tinggal di rumah dia,” lanjut Kiran pada Damara. Damara melambaikan tangannya pada Tisna. “Halo Tisna salam kenal ya,” seru Damara ramah. Tisna mengangguk dan membalas lambaian tangan Damara.
“Kereta api jam berapa?” tanya Damara pada Kiran. “Setengah jam lagi,” jawab Kiran. “Kalau gitu kamu sebaiknya bergegas, dari pada terlambat nanti,” Damara mengingatkan. Kiran menatap mata Damara dengan ribuan rasa sayang yang dilepaskannya.
“Aku mencintaimu Damara,” ucap Kiran lembut dan sehangat mentari pagi.
“Sepagi ini sudah bilang cinta, kamu sudah ngopi belum?” seloroh Damara, Kiran tertawa.
Kiran memegang jemari Damara, berkata meski sedikit ragu, “Ra, aku tau ini akan membuatmu ga nyaman atau apalah, tapi aku ingin membelikanmu hape setelah sampai di Jakarta nanti, supaya kita bisa tetap berkomu---“
“Ga perlu Kiran …” potong Damara cepat, “plis hormati caraku dalam menjalani hidupku.”
Kiran terdiam lalu mengangguk. Ia tak bisa memaksa lalu ia mengecup dahi Damara. “Aku pulang dulu ya,” bisik Kiran. “Hati-hati Pak Kiran, fokus ke skripsimu ya,” balas Damara tersenyum.
Tisna menyalakan motornya, Kiran pun melangkah menuju parkiran dan naik ke boncengan motor. “Hey Digital Boy, jaga ya kaset-kaset kamu itu, itu harta karun loh!” seru Damara. Motor mulai perlahan berjalan, tetapi Kiran melompat turun dari boncengannya lalu berlari memeluk Damara lagi kemudian ia menciumnya tepat di bibir. Lama dan dalam. Damara terkejut, tetapi ia tak bisa menampik aksi Kiran ini, karena ada rasa yang juga terkait di situ.
Tisna membunyikan klakson motor membuat Kiran melepaskan ciumannya. “Nah sekarang aku baru bisa pulang,” cengir Kiran lalu kembali berlari dan melompat naik ke boncengan motor lagi. Damara menggeleng-geleng tak menyangka Kiran akan senekat itu. Kiran tertawa lalu melambaikan tangannya pada Damara. Motor pun berlalu meninggalkan Damara yang menatap punggung Kiran hingga hilang di kejauhan.
***
Kala kita masih bersama. Dunia pun terasa indah. Waktu kita habiskan berdua. Tawa. Canda. Malam itu. Oh indahnya. Sejujurnya ku berharap semua itu dapat terulang. Kini kau telah jauh dariku. Daku cemas akan dirimu. Tapi kupercaya akan cintaku. Rindu. Biru. Suasana hatiku. Oh resahnya. (Kidnap Katrina – Biru, 1993).
Di Jakarta.
Hari-hari terus berganti. Minggu ke minggu terus berlalu.
Kiran memang mengerjakan bab-bab akhir dari skripsinya itu tapi alih-alih fokus ia malah banyak memikirkan Damara. Hingga hari itu ia dipanggil oleh dosen pembimbingnya. “Ini apa Kiran?” tanya dosen pembimbing seraya menunjukkan kertas-kertas skripsinya, “bukan seperti ini analisa dan perbandingan yang kamu gunakan di awal skripsimu itu, ini anak SMA juga bisa bikin!” lalu kertas itu dilemparkan ke hadapan Kiran yang duduk di depan dosen pembimbingnya. Kiran melihat hampir semua yang ditulis di kertas pengajuan bab akhir itu dicoret-coret.
“Apa yang terjadi sama kamu? Di awal skripsi itu semua kamu tulis dengan baik dan relevan dengan studi yang kamu lakukan … tapi kamu seperti yang tidak fokus di bab-bab akhir ini? Ada apa?” sambung dosen pembimbingnya. Kiran menunduk, “Maaf Pak, akhir-akhir ini pikiran saya memang sedang terganggu.” Dosen pembimbingnya berkata, “Kamu harus back on the track Kiran, apa pun yang sedang mengganggu pikiranmu tolong dipinggirkan dulu, skirpsi ini penting buat kamu.” Kiran mengangguk. “Bawa itu semua lalu perbaiki lagi, Bapak tunggu tiga hari ya, trus ajukan kesini lagi,” tunjuk dosen pembimbingnya pada kertas-kertas di atas meja.
Kiran keluar dari ruang dosen menuju taman kampus. Ia duduk di kursi taman mengeluarkan telepon genggamnya. Ingin sekali ia menghubungi Damara mengatakan kangen atau ingin sekali ia menerima telepon dari Damara ditanyakan kabar atau berharap ada notif di WA atau DM dari Damara. Kiran menghela nafasnya tapi itu tidak mungkin terjadi.
Kadang ada saat-saat Kiran gemas pada Damara untuk satu hal ini. Sungguh dalam hubungan jarak jauh seperti ini, komunikasi adalah hal yang maha penting. Untuk menjaga irama, menjaga keseimbangan perasaan, menghilangkan kecurigaan. Tetapi, bagaimana bisa berkomunikasi kalau telepon genggam saja tidak punya? Arrrghh! Kesal Kiran. Tidak tahu kabarnya, tidak tahu dia sedang apa, tidak tahu apakah dia rindu juga atau tidak, semua hanya bisa disimpan di hati. Damara memijit sebuah nomer lalu menempelkan telepon genggamnya di telinga. Telepon itu menyambung.
“Tis? Halo Tis, iya ini gue Kiran. Lagi sibuk ga lo? Gue bisa minta tolong ga sama lo?” cetus Kiran. “Kalau bisa, gue bantu Ran,” sahut Tisna. “Lo bisa cek Damara ke tempat kosnya atau ke tempat kursusnya ga? Sudah lama gue ga tau kabarnya. Gue pengen tahu apakah dia baik-baik aja, plis?” pinta Kiran. “Waduh, buat itu gue ga berani, gue yakin Damara pasti marah, karena itu seperti lo ga percaya sama dia,” tolak Tisna. Kiran mendengus resah.
“Ran, gue mah ga ngerti da sama elo, kalau lo mau ketemu Damara lagi, ya udah beresin skripsinya cepet, trus kesini lagi. Damara juga bilang gitu ‘kan, fokus ke skripsi lo dulu.” Apa yang dikatakan Tisna ada benarnya. Kiran mematikan telepon genggamnya, ia berpikir, sepertinya memang itu yang harus dilakukannya sekarang.
Maka bulan berganti bulan berganti bulan. Terus begitu hingga enam bulan berlalu.
ENAM BULAN KEMUDIAN.
Kiran melangkah cepat keluar dari stasiun timur kereta api di Bandung menuju parkiran. Ia melihat Tisna telah menunggunya di samping motor dengan tawa lebarnya. “Halo sarjana! Selamat datang kembali di Paris Van Java, where the grass is green and the girls are pretty,” sambut Tisna. Kiran tertawa lalu mereka berangkulan. “Gimana rasanya jadi sarjana? Pecah bisul ya?” sambung Tisna.
“Biasa aja,” jawab Kiran.
“Kok biasa? Itu ‘kan perjuangan. Gue mah ga ngerti da sama---“
“Ah! Maneh mah loba teu ngartina, matakna kuliah maneh can beres wae tah!” potong Kiran membuat Tisna nyengir. (Terjemahan : Ah! Kamu mah banyak ga ngertinya, makanya kuliahmu ga beres-beres aja tuh!). “Udah sekarang anter gue ke Sekeloa,” lanjut Kiran. “Sepertinya ada yang sudah kangen berat nih,” ledek Tisna sambil menyalakan motornya. “Bukan berat lagi Tis, tapi udah di ubun-ubun, mau meledak, duarr!!” cetus Kiran. Tisna tertawa. Motor pun melesat keluar dari parkiran.
Beberapa saat kemudian.
Motor berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah bertingkat yang bercat putih itu. Kiran menatap sekelilingnya yang sepi. Ia turun dari boncengan motor, lalu mengetuk-ngetuk pintu gerbangnya karena tidak memiliki bel. Setelah lama mengetuk, keluar seorang pria tua yang memandang curiga pada Kiran. “Punten Pak, saya bukan sales … saya hanya mau bertanya, kalau Damaranya ada ga ya?” ujar Kiran sopan. Pria tua itu tak lagi memandang curiga tapi sekarang ia tampak seperti yang sedang mengingat-ngingat. “Damara?” gumamnya.
“Iya Pak, Damara, perempuan, dia kos di sini,” ujar Kiran lagi menambahkan penjelasannya. “Oooh Neng Damara ya?” seru pria tua itu teringat. Kiran mengangguk cepat. “Neng Damara mah sudah tidak di sini … dia sudah pindah,” jelas pria tua itu. Kiran terkejut. “Pindah? Pindah kemana Pak?” tanya Kiran dengan suara bergetar. “Ga tau ya, ga ngomong, udah lama da pindahnya, sudah dari dua bulan yang lalu …” jawab pria tua itu lalu membalikkan badannya kembali ke dalam rumah meninggalkan Kiran yang termangu di depan pintu gerbang.
Pindah? Kenapa dia ga bilang? Batin Kiran.
Tisna yang mendengar itu segera menyadarkan Kiran. “Kiran! Kita ke Dago aja, ke tempat kursusnya! Ayo!” ajak Tisna. Kiran mengangguk. Motor pun melesat kembali. Sepanjang perjalanan Kiran tak banyak bicara, ia hanya menatap kosong jalan-jalan, kendaraan dan pohon-pohon di pinggir-pinggir jalan. Entah kenapa hatinya menjadi begitu gelisah.
Akhirnya motor mereka sampai juga di depan rumah tempat kursus musik. Kiran segera melompat dari boncengan motor saat motor bahkan belum lagi terparkir. Ia bergegas masuk. Di ruang penerima tamu tampak seorang gadis muda menyambut kedatangan Kiran.
“Selamat sore Pak, selamat datang di rumah musik Dago, apakah ada yang bisa kami bantu?” sapa gadis itu ramah, “kami sedang ada harga khusus untuk kursus gitar dan vokal.” Kiran menggeleng, “Maaf Mbak, saya kesini hanya mau bertanya, apakah di sini ada murid yang bernama Damara?” Gadis itu terdiam sambil mengerutkan kening. “Katanya … katanya, dia mau jadi guru les di sini kalau sudah selesai kursusnya,” sambung Kiran lagi. “Punten, coba cari di daftar muridnya Mbak,” tambah Tisna yang sudah menyusul dan berdiri di samping Kiran.
Gadis itu menuruti dan mengeluarkan buku besar catatannya. Ia menelusuri nama-nama di buku tersebut, tak menunggu lama, matanya berhenti di sebuah nama.
“Ya, ternyata ada … Damara,” cetusnya membuat Kiran dan Tia menghela nafas lega.
“Tapi … di sini tertanda, dia sudah ga kursus lagi sejak dua bulan lalu,” lanjut gadis muda penerima tamu itu.
Lemas sudah persendian tulang Kiran mendengarnya. Pandangannya nanar.
Ada apa? Apa yang terjadi? Lagi-lagi batin Kiran bertanya-tanya.
“Lo ga apa-apa Ran?” tanya Tisna cemas. “Gue ga apa-apa,” jawab Kiran berusaha untuk tetap berdiri lalu mencari kursi dan duduk tercenung. Tisna ikut duduk di sampingnya. “Gue mah ga ngerti da sama Damara, kenapa dia pergi gitu aja ya?” gumam Tisna.
“Kemana gue harus nyarinya Tis?” lirih Kiran.
Tisna hanya menggeleng seraya menepuk-nepuk bahu Kiran.
AKHIRNYA
Setelah itu semua maka hari-hari berjalan menjadi hitam putih dan kelabu.
Kiran bolak balik menunggu di depan toko musik jalan Dipati Ukur. Ia memandangi setiap orang yang keluar masuk toko musik itu, tetapi ia tak menemukan apa yang dicarinya. Lalu Kiran memperhatikan orang yang berlalu lalang di trotoar atau yang baru turun dari angkutan umum, tapi wajah yang dirindukannya tidak kunjung muncul. Beberapa kali juga ia mengejar perempuan yang menggunakan headphones di kepala tetapi ternyata salah orang, atau ia menghabiskan berjam-jam menunggu di kedai susu pinggir jalan. Jika itu semua tidak memberikan hasil yang memuaskannya maka ia akan menunggu di depan rumah kursus musik di Dago, berharap barangkali Damara mampir kesitu.
Kuterbayang semua tawa dan candamu saat kita masih bersama jalin ikatan cinta. Kini, kau tak di sisiku lagi. Kau telah pergi. Hampa, rasa karna tanpa cintamu lagi. Mengapa ini harus terjadi. Kini sendiri. (J-Rocks – Berharap Kau Kembali, 2005).
Semua itu dilakukan Kiran terus menerus setiap hari, berhari-hari, berminggu-minggu. Ia tidak perduli lagi panas yang membakar siang, ia juga tak perduli hujan yang mengguyur bumi. Ia terus menunggu dan mencari Damara. Di saat semua orang berlarian menghindari hujan, Kiran tetap berdiri di sana di antara mereka yang berlarian, membiarkan derasnya memandikan sedihnya. Air yang membasahi tubuhnya dibiarkan mengalir dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Linangan airmatanya bercampur dengan hujan yang dibiarkan turun menggenangi jalanan. Hingga gemuruh di dadanya tak sanggup ia tahan dan meledakkan teriakan yang pecah bersama petir yang menggelegar.
Tisna khawatir melihat kondisi sahabatnya. Ia membujuk Kiran untuk duduk bersamanya di sebuah café yang sepi pengunjung saat itu. Ia menatap sahabatnya yang duduk di depannya, tampak wajah Kiran yang pucat dan sayu, kurang tidur, begitu pun dengan tubuhnya yang terlihat lebih kurus. Tisna menghela nafas, ia tak bisa merasakan sedalam apa Kiran kehilangan karena hanya Kiran yang tahu, tapi ia bisa melihat betapa berat Kiran harus berhadapan dengan perasaan sedihnya itu. Sebelum Tisna membuka mulutnya, Kiran telah mendahuluinya bicara.
“Gue benci Damara.”
Tisna terkejut mendengar kalimat itu tapi ia tidak bermaksud untuk menanggapi, sejak awal ia memang mengajak Kiran untuk duduk bersamanya hanya untuk mendengarkan saja. Ia ingin membiarkan Kiran berkata apa saja tanpa memcampuri. Ia ingin membuat Kiran melepaskan semua beban di hatinya . Maka Tisna hanya mengangguk.
“Gue benci senyumnya yang lebar … gue benci matanya yang bening … gue benci antusiasnya pada musik … gue benci cara dia menggelung rambutnya … atau saat rambutnya dibiarkannya jatuh di bahu.”
Tisna manggut-manggut.
“Dan gue benci semua kaset yang dia rekomendasikan ke gue!!” teriak Kiran.
“Tenang Ran … tenang,” sahut Tisna menggerakkan kedua tangannya mengingatkan kalau mereka sedang berada di tempat umum.
“Intinya … gue kacau Tis … gue mencintainya, gue pengen membencinya tapi ga bisa, terus gue kenang kembali saat bersama dirinya, membayangkannya lagi dan lagi … apakah dia ga punya perasaan atau dia sebuah robot?”
Tisna menantikan kelanjutan kalimat Kiran yang sedang mengusap-ngusap rambutnya yang acak-acakan itu.
“Sifatnya yang easy going … tentang kebebasan, tentang hari-hari yang akan dilupakan … itu tanda masalah,” lanjut Kiran dan matanya menatap jauh, pikirannya teringat pada saat ia bersama Damara.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Apakah kamu pernah pacaran sebelumnya?” tanya Kiran suatu hari dan Damara tertawa. “Serius kamu mau menanyakan hal ini?” Damara bertanya balik untuk memastikan.
Kiran mengangguk.
“Ok … ini kamu yang nanya loh ya … ya aku pernah punya pacar,” ujar Damara. Kiran tampak sedikit kecewa mendengarnya tapi ia berusaha tak menunjukkannya. “Ceritain dong,” pinta Kiran.
“Mmm … pacarku dulu seorang penyanyi dalam sebuah band … waktu itu aku masih sekolah menengah atas, kamu taulah ya anak seumur itu lagi terpukau-terpukaunya sama yang namanya vokalis band …” ungkap Damara. “Pastinya ganteng,” timpal Kiran. “Ya, itu salah satu hal yang membuat aku menyukainya hehehe,” kekeh Damara. Kiran ikut terkekeh juga.
“Kemudian saat aku lulus, aku punya pacar lagi,” lanjut Damara. “Waw, berarti kamu punya pacar dua?” cetus Kiran. “Ga, ga … sama yang vokalis aku sudah putus, kemudian aku berpacaran lagi sama pegawai kantoran,” terang Damara. “Pacar kedua berarti?” sela Kiran, Damara mengangguk.
“Kamu punya berapa pacar?” tanya Kiran.
“Ya cuma dua itu,” jawab Damara.
“Apa yang terjadi? Kenapa hubunganmu dengan mereka ga jalan?” tanya Kiran lagi.
Damara mengangkat bahunya, menjawab enteng, “Ya gatau, biasa hidup punya alasan … ga usah dipikirkan, ada hari-hari yang akan dilupakan Kiran.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kiran kembali menatap Tisna di hadapannya.
“Apa artinya cinta Tis?”
Tisna gelagapan ditanya hal itu, ia hanya bisa mengangkat bahunya saja.
“Semua hal tentang cinta, film, lagu pop … semuanya patut disalahkan atas semua kebohongan dan sakit hati. Cinta tidak ada maknanya, semuanya bullshit … kita harusnya bertanggung jawab untuk setiap perasaan yang muncul bukan? Lalu kenapa memberikan luka?” ujar Kiran lalu menundukkan kepalanya, menempelkan jidatnya pada meja.
Tisna hanya bisa menghela panjang nafasnya melihat Kiran.
***
Pucuk-pucuk daun masih terlihat basah pagi itu.
Koloni embun telah mendudukinya sejak mentari belum lagi bersinar. Angin masih berhembus dingin menerpa wajah. Kiran duduk di boncengan motor dengan tatapan kosong menatap pohon-pohon, kendaraan, jalanan. Beberapa kali Tisna mengajaknya bicara tapi ia tak menanggapi, ia sibuk dengan pikirannya yang tidak memikirkan apa-apa. Hanya kosong. Motor pun berbelok masuk parkiran stasiun timur kereta api. Kiran turun dan berjalan menuju stasiun, Tisna kemudian menyusulnya setelah memarkirkan motornya. Suasana stasiun sudah ramai. Kereta api sudah tampak menunggu penumpang di rel-rel yang sesuai tujuan. Kiran menghela nafas.
“Perasaan lo sudah lebih baik ‘kah?” tanya Tisna.
“Gue ga tau …” jawab Kiran, “… tapi makasih ya Tis, buat semuanya.”
“Ga masalah … pintu gue selalu terbuka kapan aja lo mau ke Bandung,” jawab Tisna
Kiran tersenyum. Mereka berangkulan. Kemudian Kiran berjalan menuju gerbang masuk.
“Ran, gue mah ga ngerti da sama yang namanya cinta, kita pikir cuma dia satu-satunya, tapi sebetulnya ga … menurut gue mah kita cuma mengingat hal-hal yang indah sama dia … padahal kalau kita inget-inget lebih dalam lagi, kita akan lebih paham,” celetuk Tisna.
Kiran menghentikan langkahnya, ia memutar badannya menatap Tisna untuk beberapa saat. “Kenapa Ran? Gue salah ngomong?” tanya Tisna. Kiran menggeleng, “Ga … gue cabut dulu ya Tis.” Tisna mengangguk. Kiran berbalik, memberikan tiket keretanya pada penjaga gerbang masuk. Selama melangkah ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya itu, bahkan hingga ia duduk di kursi kereta. Apa yang dikatakan Tisna tadi menjadi pemikirannya.
Kiran melempar pandangan keluar jendela saat sinar mentari menghangatkan wajahnya dan saat kereta api mulai berjalan perlahan.
Di luar sekelebat pandangan Kiran, ia melihat sebentuk wajah yang sangat ia kenal. Ia tak mungkin salah. Jantung Kiran serasa berhenti berdetak. Ia menajamkan pandangannya lagi. Ini ga mungkin! Seru hati Kiran terkejut. Ia melihat Damara!
Kereta mulai berjalan tidak perlahan.
Kiran segera bangkit dari kursinya. Ia berjalan cepat di gang antara kursi-kursi dengan matanya terus melihat keluar jendela pada satu titik, pada satu wajah. Ia betul, itu Damara! Tapi … tapi siapa pria yang berada di sampingnya itu!? Hati Kiran bertanya-tanya. Sayang, ia tak bisa melihat lebih jelas lagi karena kereta api telah berjalan cepat, meninggalkan stasiun kereta Bandung.
Kiran berjalan lesu kembali duduk di kursinya.
Ia melemparkan pandangan jauh keluar. Kelebatan-kelebatan pemandangan di luar membawanya kembali pada kenangan-kenangan saat bersama Damara, lalu gema suara sahabatnya terdengar, “Kita pikir cuma dia satu-satunya, tapi sebetulnya ga … menurut gue mah kita cuma mengingat hal-hal yang indah sama dia … padahal kalau kita inget-inget lebih dalam lagi, kita akan lebih paham.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Kita berdua itu dua hal yang berbeda Kiran,” cetus Damara di suatu sore saat mereka sedang berjalan-jalan. “Maksudmu?” tanya Kiran tak mengerti. “Aku jadul, kamu modern … aku pita kaset, kamu digital boy, itu dua hal yang ga mungkin seiring sejalan loh,” seloroh Damara, Kiran tertawa.
“Apa keinginan terbesarmu?” Kiran bertanya. “Menjadi bebas …” jawab Damara yakin.
“Apa yang terjadi? Kenapa hubunganmu dengan mereka ga jalan?” tanya Kiran pada Damara saat ia menanyakan tentang hubungannya yang kandas dengan pacar-pacar sebelumnya. Damara hanya mengangkat bahunya, menjawab enteng, “Ya gatau, biasa hidup punya alasan … ga usah dipikirkan, ada hari-hari yang akan dilupakan Kiran.”
Lalu ada saat Damara menarik tangannya saat jemarinya akan digenggam oleh Kiran saat mereka sedang makan malam bersama. Kiran menatap Damara, sedang Damara terus menyantap makanannya seakan tak terjadi apa-apa.
Damara tertawa, mengusap pipi Kiran dengan ujung jemarinya seraya berkata, “Skripsi penting Kiran … kamu harus urus itu dulu … soal yang lainnya biarkan saja, fokuslah pada apa yang nyata.”
“Aku mencintaimu Damara,” ucap Kiran lembut dan sehangat mentari pagi. Damara tersenyum. “Sepagi ini sudah bilang cinta, kamu sudah ngopi belum?” seloroh Damara, Kiran tertawa. Kalimat cinta itu tak berbalas hanya menepuk udara hampa yang lalu membias hilang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kiran teringat semua itu di sepanjang perjalanan keretanya menuju Jakarta. Seharusnya ia melakukan ini lebih awal, mengingat-ngingatnya lebih dalam maka ia akan paham kemana arahnya. Ada kata-kata dan bahasa tubuh dari Damara yang sudah memberikan tanda kalau semua ini tak akan bertahan lama. Ternyata ia sudah kehilangan Damara dari sejak awal.
Pelan-pelan kubenamkan pikiranku. Bahwa aku pun tak salah melepasmu. Selamat tinggal kisah indah bersamamu. Selamat tinggal cinta yang sudah berlalu. Sempat kurasakan sepi tapi ternyata hanya pikiranku saja. Masih banyak pilihan ada di depan mata. Ku tak salah melepasmu. Lambat-lambat waktu makin memacuku. Setidaknya aku masih mengingatmu. (Anji – Ku Tak Salah Melepasmu, 2012).
Sesampainya di Jakarta hanya satu yang ingin Kiran lakukan pertama kali adalah, mengeluarkan Damara dari pikirannya. Maka Kiran mulai sibuk mengirimkan lamaran-lamaran kerja. Ia bolak-balik dipanggil untuk interview dan tes kerja. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk memikirkan Damara atau kisah cintanya yang hampa. Kiran menyibukkan diri dengan terus mencari kerja. Ia kembali mendengarkan musik melalui telepon genggamnya, sedang kaset-kaset itu sudah ditumpuk dan disimpannya dalam lemari tak disentuhnya lagi. Usaha dan upaya Kiran tak sia-sia. Pada akhirnya memang, setiap kerja keras itu akan menghasilkan, Kiran pun berhasil diterima di sebuah perusahaan besar. Ia bersorak-sorak senang.
Hari-hari di bab baru dalam hidupnya mulai dijalaninya.
SETAHUN KEMUDIAN.
Kiran berjalan di trotoar yang lebar.
Di bawah pohon-pohon tinggi nan rindang. Ia menikmati jalan sore selepas pulang kerja. Kota ini pernah memberikan kisah cinta yang patah buat dirinya tapi meski begitu entah kenapa ia selalu ingin kembali ke kota ini, seperti sekarang. Entah bagaimana caranya kota ini selalu bisa menyisakan rindu untuk minta dikunjungi kembali. Kiran sedang menyusuri sepanjang jalan Dago. Meski kendaraan begitu ramai dan matahari bersinar tapi cuaca sore hari di kota Bandung masih nyaman untuk dipakai berjalan kaki. Kiran memutuskan untuk berjalan mulai dari Dago bawah. Melihat daun-daun pohon tinggi yang mulai menguning, merasakan angin sore yang berhembus.
Hingga ia terpaku menatap sebuah rumah di seberang jalan.
Kiran menatap rumah itu. Dulunya rumah itu adalah tempat kursus musik yang sekarang telah beralih menjadi rumah biasa lagi. Ada sebuah cerita di situ. Kiran menghela nafas, berdecak pelan. Ia bermaksud untuk melanjutkan langkahnya lagi menuju simpang Dago tapi tubuh Kiran membeku. Matanya tak berkedip. Bibirnya mengatup rapat.
Di bola mata pria muda itu tampak bayangan seseorang. Tak bergerak hanya berdiri mematung di depannya. Tak bicara karena tidak tahu harus berkata apa. Mereka hanya saling pandang di pinggir jalan yang dinaungi pohon-pohon tinggi. Tidak perduli keramaian lalu lintas kendaraan di jalanan saat jam padat, tidak perduli tatapan mata lalu lalang orang-orang. Menjelang sore waktu itu, saat daun-daun dari ranting tertinggi pohon damar menguning dan mulai berjatuhan tersapu angin.
Tak berapa lama bola mata pria muda itu pun bergetar-getar.
Setelah semua ini berlalu, kini dirinya hadir begitu saja di hadapannya.
Senyum mengulas pada wajah orang itu, ia melangkah mendekat, menyebut namanya, “Kiran?” dan Kiran tak pernah lupa akan suaranya. Kiran diam beberapa saat, menelan ludahnya, lalu ia baru bisa bicara, membalas menyebut namanya, “Damara?” Keduanya menyebut nama dalam nada yang nyaris sama, tak percaya mereka akan bertemu lagi di sini.
Damara tersenyum, serta menatap Kiran dari bawah ke atas. “Waah … aku suka dengan setelanmu, kamu keliatan gagah, Pak Kiran,” ujar Damara. “Terimakasih … mmm, rambut kamu juga lebih panjang sekarang dan kamu masih ga berubah … tetap cantik,” balas Kiran. “Makasih,” tanggap Damara dengan senyum lebarnya. Kiran menatap Damara.
“Hey, kita duduk di kursi itu yuk, udah lama ga ngobrol,” ajak Damara.
Kiran mengangguk. Mereka duduk bersampingan pada sebuah kursi di trotoar yang terhalang pohon-pohon besar sehingga tidak terlalu bising dengan lalu lalang kendaraan.
“Aku sudah kerja sekarang Ra,” ujar Kiran.
“Ya … aku bisa lihat dari setelanmu itu … kerja di Bandung?” tanya Damara.
“Ga … di Bandung kebetulan lagi ada tugas aja,” jawab Kiran, “dan kamu … apakah sudah mencapai keinginan terbesarmu? Menjadi bebas dan guru les?”
Damara tertawa, dan menggeleng, “Ga … ternyata aku hanya bakat menjadi penikmat musik aja … bebas? Ya begitulah.” Kiran manggut-manggut.
“Aku … waktu itu aku datang ke tempat kursusmu itu,” tunjuk Kiran pada rumah di seberangnya, “tapi kamu udah ga les di situ.”
Damara melebarkan matanya, “Oya? Mungkin itu saat aku sudah ga les lagi kali ya.”
“Aku juga datang ke kosanmu di Sekeloa waktu itu … tapi kamu sudah pindah,” timpal Kiran.
“Oya? Ya aku memang ga betahan kalau hanya di tempat itu-itu aja,” jelas Damara. Kiran menatap Damara. Ia mengatakannya tanpa rasa bersalah sama sekali padahal saat itu aku terus mencari dan menunggunya, batin Kiran.
“Masih mendengarkan kaset-kaset?” lontar Damara.
Kiran menggeleng, “Aku ‘kan Digital Boy ingat?”
Damara tertawa.
“Masih anti modern, hidup tanpa hape dan sosial media?” balas Kiran.
Damara mengangguk, “Ya … aku ‘kan kelompok ketinggalan jaman, ingat?”
Kiran tersenyum.
Kemudian mereka sama-sama terdiam.
Angin memainkan rambut Damara. Kiran menatapnya dari samping. Perasaan campur aduk yang menjadi satu di hatinya saat ini membuatnya bingung untuk memutuskan apa yang harus dirasakannya terlebih dulu. Mana yang harus diletakkannya di urutan pertama. Kecewa? Marah? Rindu? Hampa? Terabaikan?
“Kamu harusnya bilang … saat mau pindah,” cetus Kiran, “jadi aku tak mencari-carimu.”
Damara manggut-manggut, “Aku tahu tapi aku pikir, kamu sudah kembali ke Jakarta, ya sudah … dan aku tidak harus ijin juga ‘kan?”
Kiran menatap Damara, tak mengerti, “Sebetulnya apa sih yang kamu rasain saat kita sedang bersama?”
Damara menjawab pendek, “Senang.”
Kiran menatap Damara tak percaya, “Hanya itu?”
Damara mengangguk, Kiran mendesah pelan.
“Kamu sering memelukku erat ‘kan?” tanya Kiran, “dan aku pikir itu bukan sekadar senang.”
“Itu karena … aku ingin,” jawab Damara seraya menatap Kiran.
“Jadi … kamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan begitu saja … bukan begitu?” cetus Kiran. Damara hanya tersenyum tak menjawab. “Kamu memang tak pernah ingin menjadi pacar siapa pun, kamu menyukai kebebasan,” lanjut Kiran. Damara masih tersenyum.
“Tapi, aku pernah melihatmu di stasiun kereta bersama seorang pria … apakah itu juga sekarang sudah selesai?” tanya Kiran.
Damara menggeleng, “Ga … sampai hari ini kita masih jalan kok.”
Kiran mengerutkan kening, “Tapi … kenapa bisa? Sedang bersamaku tidak … aku ga ngerti.”
Damara menatap Kiran, “Ya itulah hidup … aku juga ga menduganya … kamu tahu, saat aku bangun di suatu pagi tiba-tiba aku menyadari.”
“Menyadari apa?” tanya Kiran.
“Aku tak pernah yakin kalau hidupku adalah bersamamu,” jawab Damara.
Jantung Kiran seakan berhenti mendengar ucapan itu. Kiran menunduk dan terdiam lalu berusaha mengatur nafasnya yang mendadak kekurangan udara. Dulu hatinya patah saat ia kehilangan gadis ini, kini hatinya patah lagi setelah mendengarkan penjelasan gadis ini. Kiran menggeleng-geleng pelan tak menyangka ternyata ia salah telah meyakini ini semua. Kiran kembali menatap Damara.
“Kamu tahu apa yang menyakitkan?” cetus Kiran, Damara menggeleng. “Menyadari apa yang kamu yakini hanyalah diberi harapan palsu belaka,” sambung Kiran.
“Maksudmu?” tanya Damara.
“Kata-kata cinta dari lagu pop, belahan hati, cinta sejati … itu semua dongeng … kamu benar harusnya aku mendengarkanmu … ada hari-hari yang akan dilupakan,” tutur Kiran sendu.
“Ga Kiran … bukan begitu,” balas Damara menggelengkan kepala.
“Lalu harusnya bagaimana?” timpal Kiran.
“Itu semua sudah ditakdirkan … aku hanya bukan orang yang tepat untukmu,” pungkas Damara.
Berdesir sedih hati Kiran mendengarnya. Ia menatap Damara. Bola matanya bergetar beradu pandang dengan bola mata bening Damara. Kiran menghelakan nafasnya pelan dan berat. Dua buah daun putus dari tangkal pohon damar. Terombang ambing tertiup angin lalu terberai terpisah, jatuh berjauhan satu sama lain di atas trotoar.
Damara menggeser pelan jemarinya, dengan lembut ia meletakkannya di atas jemari Kiran. Kiran hanya bisa tercenung melihat jemari Damara yang menggenggamnya itu lalu ia kembali menatap Damara tak bisa berkata, seakan semua perasaannya sia-sia saja.
“Aku harus pergi Kiran, tapi aku senang melihatmu sehat dan baik-baik saja,” ucap Damara seraya melebarkan senyumnya lalu berdiri dan melangkah pergi.
“Damara,” panggil Kiran, Damara menghentikan langkahnya, menoleh pada Kiran. Kiran berdiri dari duduknya, menatap dalam dan lekat mata Damara.
“Aku harap kamu bahagia bersama dia,” ucap Kiran bersungguh-sungguh.
Damara mengangguk, tersenyum kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali.
Itu adalah hari terakhir Kiran bertemu dengan Damara. Kiran tak tahu apakah ia bisa bertemu dengan Damara lagi atau tidak. Ia tak pernah berharap lagi. Kita tak pernah menduga, hari-hari dalam setahun bisa saja mempertemukan kita dengan orang-orang yang seharusnya sudah kita tak ingat-ingat lagi atau sama sekali tidak. Tetapi, itu semua sudah tak berpengaruh lagi.
Karena, sejatinya memang ada hari-hari yang akan dilupakan.
Bila itu keputusan yang lebih baik.
Banyak tempat kau lalui. Seribu saat kau alami. Menjadi pelangi di langit hatimu. Seolah tak pernah berlalu. Di sana kau berdiri dalam bayang kelabu mengharapkan dia kembali. Namun kau ‘kan sadari segera atau nanti semua tinggal indah kenangan. Dan senyumlah seperti mentari. Tiada satu pun yang abadi. Biarkanlah kenangan itu menghias hatimu. (Sinikini – Dan Senyumlah, 1997)
TAMAT