"Zevan?" Aku beralari menuruni tangga, sesekali aku memastikan tidak ada seseorang yang melihat kami.
Aku segera menghampiri Zevan, dia adalah sahabatku sejak 2 tahun yang lalu. Dia terbiasa telat atau bolos sekolah, seperti hari ini. Ini sudah jam 10 dan dia baru datang.
"Lo mabuk lagi?" Aku menghampiri tubuh Zevan dan mencium bau alkohol di tubuhnya.
Tidak seharusnya dia pergi ke sekolah dengan kondisi yang seperti ini.
"Lo masuk aja sana."
Zevan mendorong tubuhku menjauh darinya, entah apa yang sudah merasuki pikirannya kali ini.
"Ikut gue." Aku menariknya pergi dari lorong sekolah menuju ruang musik.
Setelah menaruh anak itu di sana, aku pergi ke kantin memesan es jeruk untuk lelaki itu.
"Nih minum dulu." Aku memberikan es itu kepadanya.
Dia hanya diam menatapku, aku merasa tatapannya mulai berubah akhir akhir ini. Dia seperti menatapku dengan cara yang berbeda.
"Ziva, lo harus jauhin gue." Ucapnya mengangetkan ku.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Gue buruk, lo gak boleh punya sahabat kayak gue." Dia menidurkan tubuhnya di atas meja menatap langit langit ruangan ini.
"Gue udah tau dari dulu. Udahlah, lo kebanyakan minum." Aku beranjak dari sampingnya, tapi dia malah menarik lenganku hingga wajah ku dekat sekali dengan wajahnya.
Aku mencoba menenangkan debar di dadaku, ini adalah alasanku menjauhi laki-laki lain. Aku begitu mencintai pria ini mata coklat dan senyumnya selalu membuatku gagal untuk melupakan manusia ini.
Sudah dua tahun aku melewati suka dan duka, bahkan aku sudah tau semua sisi terburuknya. Namun hal itu tak membuatku jauh darinya,aku sendiri tidak tau sejak kapan perasaanku mulai berubah kepadanya.
"Aku mencintaimu." Kalimat itu berhasil membuatku membulatkan mata karena kaget, aku begitu susah mencerna apa yang baru saja zevan katakan.
Dengan jarak sedekat ini, dia menyatakan cintanya sembari mengusap rambutku dengan lembut.
Kemudian dia menempelkan bibirnya ke bibirku, dengar sedikit gigitan ia berhasil masuk ke dalam mulutku dan memperdalamnya.
Ini yang pertama bagiku, tentu saja aku malah kaget dan hanya mematung.
"Lo beneran banyak minum." Aku membuat jarak di antara kami.
Segera aku bangkit dan berniat meninggalkannya. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Karena rasa cintaku yang begitu besar, aku terlalu takut kehilangan pria ini. Aku tidak mau mengubah hubungan kami yang hanya akan berujung saling benci.
"Gue tau gue gak pantes buat lo." Teriak zevan membuatku menghentikan langkahku.
"Gue gak mau jadi pelampiasan buat lo." Aku menjawabnya tanpa berbalik. Sungguh, aku benar-benar takut jika perasaan Zevan hanya sementara, hanya karena ia baru seminggu putus dari pacarnya.
"Gue cinta sama lo jauh sebelum kenal sama dia." Zevan memelukku dari belakang.
Entah mengapa aku mulai kehilangan kendali atas perasaanku, sekuat apapun aku mencoba membentenginya, tetap saja aku ingin sekali di cintai sosok ini.
Aku malah berbalik dan memeluk dia. Kami saling memeluk dalam waktu yang cukup lama, menenggelamkan perasaan kami masing-masing.
Aku melepas pelukanku dan menatapnya." Aku masuk kelas dulu." Aku meninggalkannya dengan senyuman yang penuh di wajahku.
Hari ini adalah hari terbaik bagiku, aku mendengar hal baik dari orang yang sangat aku cintai.
~~~~~~~~
Matahari menyapa di ufuk timur, sinarnya menembus tubuhku menyisakan ke hangatan. Angin bertiup lembut mengusik anak rambutku yang beterbangan.
Aku tidak sabar bertemu seseorang di sana. Segera ku oercepat langkah kaki supaya tiba lebih cepat.
Aku memang belum menyatakan perasaanku, tapi aku berniat untuk menyatakannya hari ini. Aku sudah memikirkannya semalaman dan inilah keputusanku, mungkin aku akan mencoba memulai hubungan yang baru dengannya.
"Lo kenapa senyum-senyum?" Tanya Vira. Dia adalah teman dekatku selain Zevan, dan kami satu kelas.
Aku, Zevan dan Vira satu kelas, dan dia satu-satunya manusia yang tau tentang perasaanku.
"Zevan nembak gue." Aku memberitahunya dengan penuh semangat.
"Lo gak bohong?" Dia meragukan ku.
"Nggak lah, pokoknya hari ini gue bakalan nyatain perasaan gue." Ucapku dengan sangat yakin.
"Lo yakin dia gak bercanda? Dia baru putus."
Ucapnya lagi mengingatkanku.
"Udahlah, gue mau nyapu dulu." Aku segera mencari sapu yang di pinjam kelas sebelah, hari ini adalah piket ku.
"Ziva, kemarin lo telfonan sama Zevan?" Tanya Aldi, dia adalah kakak kelas yang lumayan akrab denganku.
"Nggak tuh? Emang kenapa kak?" Tanyaku penasaran.
"Kemaren dia pinjem hp sama gue, dari suaranya sih cewek. Gue pikir itu lo."
"Mungkin ibunya kak, udah ya gue mau nyapu." Aku melambaikan tanganku.
Aku memang tidak memusingkan hal itu, karena menurutku pasti Zevan menelfon ibunya atau saudaranya, karena dia memiliki adik perempuan dan ibu perempuan tentunya.
Aku melihat kedatangan Zevan saat aku selesai menyapu kelas. Entah mengapa jantungku seperti berpacu, aku tidak sabar mengatakan isi hatiku padanya. Segera aku menghampirinya yang sudah berdiri di luar kelas.
"Ziva gue mau ngomong sesuatu."
"Apa?" Aku menahan sedikit keinginanku karena aku penasaran dengan apa yang akan Zevan bicarakan.
"Lo harus jauhin gue."
"Kenapa?" Aku mulai merasa sesak atas ucapan Zevan.
"Gue gak pantes buat lo." Ucapnya membelakangi ku.
"Lo nelfon siapa kemaren?" Tanyaku dengan rasa sakit yang memenuhi ruang hatiku.
"Cewek gue."
Jleeebbb..
Jawaban itu berhasil meluncur ke dalam hatiku tanpa halangan. Begitu banya pertanyaan di otakku yang tidak bisa aku suarakan.
Satu air mata berhasil lolos membasahi pipiku, terasa perih.
Sungguh.
"Jadi lo pantesnya sama Tiara?" Aku berusaha tidak membuat suara tangis karena Zevan masih memunggungi ku.
"Gue cinta sama lo." Teriaknya menatap ku.
"Bulshitt."
Aku pergi dari sana tanpa mendengar apapun lagi yang di katakan Zevan. Bodohnya aku, tidak seharusnya aku menanggapi seirius perkataan manusia mabuk itu. Bodohnya aku malah memikirkan hal bahagia yang akan ku lakukan bersamanya. Bodohnya aku malah berpikir dia akan mencintaiku.
Jika tidak bisa mencintaiku, setidaknya jangan membuatku berharap. Tidak seharusnya kau membuatku begitu menginginkanmu.
Aku manarik nafasku dalam-dalam dan mengehambuskannya kasar, lelaki itu benar-benar membuat pertahan yang selama ini ku bangun menjadi hancur. Semudah itu dia mengatakan cinta dan membalikkannya.
Rasanya seperti ribuan belati tertancap di hatimu dan kau mencabutnya satu persatu. Seperti luka yang di lumuri air garam.
Apa kau bisa memahaminya?
.
.
.
.
.
.
SILAHKAN LIKE DAN KOMEN BUAT AUTHOR.❤❤
#romansa