Ku ceritakan tentang sebuah perjalanan hidup seseorang yang menjadi bagian pilu dalam kisahnya. Cerita ini juga sekaligus menjadi penggalan kisah pilu dalam perjalanan hidupku. Sebut saja aku Adel dan dia Arya.
Kami memiliki ikatan yang sangat erat dan tak terpisahkan, yaitu ikatan darah. Aku adalah Adel seorang anak perempuan yang mempunyai ayah bernama Arya, beliau adalah ayah terhebat sepanjang masa yang takkan pernah kumiliki lagi sebelum dan sesudahnya.
Laki-laki yang tidak pernah menggoreskan luka sedikitpun dibenakku, tidak pernah memarahiku sekalipun selama aku bernapas, jangankan marah, satu patah kata kasarpun tidak pernah terlontar darinya, bahkan tidak pernah mengeluh apapun tentang diriku, tidak pernah sekalipun mempertanyakan tentang jalan yang sedang, ingin, dan telah aku lalui, beliau hanya selalu setuju dan mendukung tentang apa saja yang aku inginkan, pertanyaannya selayaknya seorang ayah yang selalu mendukung putrinya, seperti; Adel ingin apa?, Adel bagaimana lagi selanjutnya?, Adel butuh apa?, Adel, keinginan Adel apa?. Kiranya itulah kata yang selalu terlontar darinya. Dia yang selalu membersamaiku disetiap napas dan langkah hidupku. Sungguh betapa santunnya beliau kepadaku, sampai detik ini pun belum ada laki-laki dihidupku seperti beliau, dan kalaupun ada mungkin laki-laki itu hanyalah mirip, karena aku percaya tidak akan ada satu orang pun yang memiliki karakter yang benar-benar sama di dunia ini.
***
Alasan itulah yang membuatku kesal, sedih, dan kecewa kepada diriku. Ketika aku mendapat telephone dari ayahku yang menceritakan bahwa ia sedang mengalami masalah, seketika itu aku merasa beliau ingin membagi luka dan dukanya kepadaku, selayaknya seseorang yang ingin mengeluarkan beban yang ada di hatinya dengan segala keluh kesahnya.
Selesai beliau menceritakannya panjang lebar, kemudian beliau meminta pendapatku, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan?, karena saat ini aku juga sedang berada dalam posisi sulit.
Aku dan ayahku, kami benar-benar berada dalam posisi yang sangat-sangat sulit, bagaimana tidak!, karena orang tua ku sedang mengalami permasalahan rumah tangga yang sangat besar, sangat pelik.
***
Yang aku sesalkan, kenapa saat itu aku tidak bisa menurunkan keegoisanku sebagai seorang anak yang kondisi keluarganya sedang berantakan? Kenapa aku tidak bisa menjadi teman bicaranya yang baik? teman bertukar pikiran dan pendapat yang sangat-sangat beliau butuhkan?
Padahal saat itu adalah pertama kalinya beliau berbagi kepadaku tentang hal pedih yang beliau alami, sebelumnya tidak pernah sedikitpun beliau membagikan kepedihannya kepadaku. Walaupun aku tahu, beliau telah beberapa kali mengalami luka yang sangat dalam dan telah aku saksikan sendiri, dan saat ini adalah klimaksnya, klimaks yang membuat beliau akhirnya berbicara kepadaku.
Harusnya saat itu aku bisa menjadi versi terbaik dari diriku, tentang seperti apa seseorang yang sangat beliau butuhkan waktu itu, seperti menjadi seorang yang bisa memberikan beliau ketenangan, memberikan saran dan masukan, semangat dll.
***
Bodohnya aku hanya mendengarkan perkataan beliau, beliau mengatakan dengan nada bicara yang lesu dan beliau sedang duduk disebuah taman beralaskan rumput, duduk dan bersandar tepat di bawah pohon rindang, sambil melihat langit berwarna biru muda dan berhiaskan awan putih.
Tidak hanya sekali dua kali beliau bertanya kepadaku, tapi beberapa kali. Pertanyaan itu terus diulang, pertanyaan itu adalah; Adel, bagaimana ini? Adel, apa yang harus ayah lakukan? Adel, ayah bisa apa lagi? Adel, ayah sudah berusaha melakukan segalanya? Adel, menurut Adel bagaimana?
Dan yang ku katakan hanyalah; oh begitu ya yah, oh iyakah yah, iya yah, iya, lalu bagaimana lagi yah, Adel juga tidak tahu yah, Adel juga tidak bisa apa-apa yah, ya mau bagaimana lagi yah.
***
Padahal saat itu aku sedang berada dikamarku sendirian dan tidak ada seorangpun yang tahu aku sedang menerima telepon, harusnya hal ini menguntungkan bagiku karena aku tidak harus khawatir tentang orang lain, dan seharusnya aku bisa memberikan hal yang benar-benar beliau butuhkan seperti yang telah ku katakan di atas.
Bahkan apabila sama sekali tidak bisapun, setidaknya aku bisa menenangkannya, menghiburnya, menyemangatinya, dan berkata hal-hal yang baik, meskipun perkataan itu bukanlah yang ingin beliau dengar, tapi setidaknya aku mengucapkan suatu hal positif yang memiliki makna.
Mungkin saat itu aku kurang dewasa dan tidak berpikir jernih, harusnya aku bisa menjadi tempat beliau bersandar, dengan beliau menelponku saat itu berarti beliau memilih dan mempercayaiku untuk bisa menjadi seorang teman yang bisa meringankan bebannya, tapi saat itu tidak ada yang bisa ku lakukan.
***
Pelajaran yang bisa ku ambil adalah; harus selalu mencoba dan berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri dalam hal apapun, selama hal itu positif.
***
TAMAT