~~~~~*****~~~~~
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga,
Mutiara tiada tara, adalah keluarga
[ BCL - Keluarga ]
Sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan oleh salah satu musisi terkenal tanah air ini, sangatlah cukup untuk mewakili seluruh kata pujangga hebat yang menggambarkan arti sebuah kata yaitu 'keluarga'.
Hubungan sekuat apapun, tidak akan mampu untuk menyamai ikatan sebuah keluarga. Saat dunia menolak kita, keluarga akan selalu menjadi tempat untuk kita kembali dan berteduh.
*****
Malam bertabur bintang ditemani bulan, seolah mencerminkan betapa bahagianya hati seorang gadis malam itu. Ia berhasil kabur dari rumahnya. Freedom!
"Kamu yakin?" tanya seorang pria pada gadis cantik yang sedang berada di bawah kungkungannya.
Meski sedikit ragu, tapi gadis itu mengangguk, dan malam panjang pun dimulai dengan kamar dan seisinya jadi saksi petualangan baru bagi keduanya.
Malam yang disangkanya adalah malam kebebasan, tanpa ia sadari akan menjadi malam kelam dalam kisah hidupnya.
*****
Sebulan lebih berlalu sudah. Queenza, gadis cantik yang merupakan mahasiswa akhir pada salah satu universitas ternama, jurusan pariwisata. Kini tengah menyibukkan diri dengan skripsi.
"Selamat sore, bebs!" sapa Queen ketika baru pulang dari kampus. Gadis itu lalu masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Eh, tumben pulang jam segini, sendirian lagi. Vano kemana?" tanya Sisi heran.
Pasalnya, Queen selalu pulang malam dan itu pun selalu bersama Devano kekasihnya.
"Kayaknya sibuk, bebs. Aku juga kek gak enak badan, kecapean kali yah," ucap Queen sambil memejamkan matanya.
Sisi melihat sahabatnya itu dengan seksama. "Kamu baik-baik aja kan, Queen?" tanya Sisi.
"Gak apa-apa bebs," Ia masih saja terpejam.
"Udah makan?" tanya Sisi sekali lagi dan Queen menggeleng.
"Cepetan, sebelum aku nelpon mamamu bilang jemput kamu ke sini." ancam Sisi yang sukses membangunkan Queen dari tidurnya.
"Iya, iya. Bawel banget sih, main ngancem-ngancem segala." Queen menggerutu, sambil berjalan menuju dapur.
Setelah mengambil piring, ia hendak membuka magic com. Tapi baru saja ia membuka penutupnya, uap yang mengepul keluar dengan aroma yang khas dari nasi panas itu, seketika membuatnya menutup kembali penutup magic com itu dengan kuat.
Brak!!! Pranggg!!!
Piring yang berada di tangannya pun terlepas begitu saja dan pecah berserakan di lantai. Sisi yang mendengar keributan itu pun segera berlari ke arah dapur. Betapa kagetnya ia melihat kekacauan yang tercipta di sana.
"Queen!" panggil Sisi sedikit keras. Bukan marah, tetapi khawatir dengan kondisi sahabatnya.
"Qu …." Sekali lagi ia hendak memanggil sahabatnya, tetapi tertahan begitu ia mendengar suara yang sangat mengganggu pendengarannya.
Huwek, huwek, huwek!
"Queen." gumam Sisi dan berlari menuju kamar mandi. Di sana, ia melihat sahabatnya nampak lemah. Sisi membantu memapahnya kembali ke kamar.
"Ini karena kamu belum makan masuk angin. Tunggu di sini, aku ambilkan makanan untukmu," ucap Sisi hendak berbalik, tapi Queen menahan tangannya.
"Si, aku … aku boleh minta tolong gak?"
*****
Tik, tik, tik!
Sepi, hanya terdengar bunyi jarum jam yang berdetak. Lima belas menit berlalu hanya terdengar isakan kecil. Sisi pun memaksa Queen keluar dan ia mulai mengintrogasi gadis itu habis-habisan. Malam itu, Queen dan Sisi bergantian menghubungi Devano. Tapi nihil. Tak satupun panggilan maupun pesan yang dibalas pria itu.
*****
Dua minggu sudah berlalu, dan selama itu pula, tidak ada kabar dari Devano sama sekali. Kecewa, cemas, khawatir, serta bimbang, berbaur menjadi satu rasa yang menyiksa Queen setiap detik tanpa ampun.
Hingga suatu hari ...
"Maaf Queen, tapi kamu gak bisa tinggal disini lagi. Aku harap kamu ngerti. Maaf banget Queen!"
Sedih dan terluka, itulah yang dirasakan Queen. Tidak ada yang dapat ia lakukan, selain menerima takdir yang sudah terjadi. Di tengah kegelisahannya, satu harapan terbesit dalam hatinya yaitu pulang. Ia tidak punya pilihan lain. Setelah hubungan cinta dan persahabatan mulai merenggang, satu hubungan yang ia ingat, hubungan 'keluarga'. Hubungan yang kental dan lebih kuat dari hubungan apapun.
Apa ayah dan ibu akan menerimaku lagi dengan kondisiku yang seperti ini?
Dengan penuh keyakinan, ia memantapkan langkahnya kembali ke rumah. Rumah dengan sejuta cinta dan kenyamanan.
*****
Gelap menyelimuti bumi, ditemani rintik hujan yang meluncur manja, menyisahkan bunga-bunga sebening kristal menghiasi rambut serta kulit putihnya. Gadis itu kini berdiri di depan rumahnya, masih ragu untuk melangkah masuk. Lama ia hanya mematung di tempatnya, sampai suara petir menggelegar dari langit. Gadis itu tersentak dan menengadah, membiarkan wajah cantiknya dibasuh riak hujan yang kian deras.
Tanpa ia sadari, seseorang telah membuka pintu dan menatapnya penuh rindu.
"Queen!"
Queen terperanjat dan langsung menatap lurus ke depan. "Ibu," lirih gadis itu dengan wajah haru yang kini dipenuhi air mata bercampur hujan.
Segera Queen berhambur ke pelukan sang ibu. Dinginnya udara malam, tak mampu mendinginkan hati seorang Queenza. Rasa hangat menjalarinya, rasa nyaman memanjakannya.
Pelukan ini yang aku rindukan, pelukan ini yang aku butuhkan.
Keluarga tetaplah keluarga. Tidak ada hal apapun yang dapat meruntuhkan ikatan ini.
*****
Setahun berlalu sudah. Seorang wanita cantik tengah bersiap-siap untuk pulang setelah lelah bekerja seharian. Ia tak sabar menemui putra semata wayangnya di rumah. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang di masa lalunya. Orang itu meminta maaf. Dengan besar hati Queen menjawab, "Aku sudah memaafkanmu dari dulu," balas Queen dan hendak berjalan pergi namun lagi-lagi pria itu menahannya.
"Aku ingin melihat anakku," kata Devano yang membuat Queen begitu murka. Tajam ia menatap lelaki di hadapannya, "bangunlah dari mimpi indahmu, itu tidak akan pernah menjadi nyata. Dia hanya anakku!"
Queen berlalu pergi tetap bergeming, berjalan terus dan menghilang dari sana.
*****
"Jika nanti suatu saat semesta bercanda dan mempertemukan kita lagi, segeralah menghindar. Sebab kamu bukan lagi sesuatu yang menarik, meski rindu tidak sepenuhnya memudar"
_Boy Chandra_
*
*
*
*
❤️