~~~%%%~~~
Kisya tersentak dan langsung bangun dari tidurnya. Ia menyingkap selimut tebal yang membalutnya sedari malam. Terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di sekujur tubuhnya, disertai deru nafas yang memburu.
Sejenak ia berdiam diri menormalkan degup jantung, mengatur jalannya pernafasan yang sempat tak beraturan tadi. Begitu ia merasa sudah cukup lebih baik, gadis berparas cantik itu mulai duduk bersila dengan jemari tangan yang saling bertaut menyatu, serta mata yang kembali terpejam.
Sejenak ia menyapa Tuhannya, lewat lantunan doa yang terlafal. Kisya memohon jika boleh, mimpi buruk tadi kiranya hanyalah bagian dari bunga tidur semu. Setelah kata amin terucap dari bibir mungilnya sebagai bentuk iman dan percaya, ia pun beranjak dari tempat tidur.
Ia menoleh sejenak pada mesin waktu. Di sana, waktu baru menunjukkan pukul 05.00.
Sebelum keluar dari kamar, gadis manis itu terlebih dulu merapikan tempat ternyaman kedua baginya setelah pelukan sang kekasih yang pertama. Itu versi Kisya seorang.
Ia pun keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan menuju dapur. Begitu sampai di sana, ia kaget dengan keberadaan ART yang sedang bersih-bersih.
"Bibi!" sapanya sedikit kaget. "Kok bangunnya pagi bener. Gak tidur semalaman yah, Bi?"
"Eh, Selamat pagi, Non! Bibi mah emang selalu bangun jam segini. Non Kisya aja yang baru tau. Hehe."
"Jadi tiap hari, Bibi bangun jam segini?"
"Iya, Non! Tumben Non bangun lebih awal pagi ini? Gak sama biasanya."
"Gak tau juga, Bi," Jawabnya singkat dengan sedikit gelisah.
Si cantik itu termenung sejenak, kemudian ia menuangkan air putih ke dalam gelas dan meneguknya hingga tandas.
"Bi, tolong buatkan Kisya nasi goreng dan omelette yah. Nanti selesai siap-siap baru Kisya sarapan."
"Asiiap, Non!"
Sesudah itu, ia kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah menyelesaikan ritual mandinya, dan kini mulai berpakaian. Sesudah itu, ia berdandan ala kadarnya saja. Kecantikan natural yang ia miliki, sudah sangatlah cukup untuk menunjukkan pada siapa saja bahwa, terlalu indah maha karya Sang Pencipta yang satu ini.
Gadis cantik berlesung pipi itu kemudian turun untuk sarapan. Tiba di ruang makan, terlihat di sana sudah ada sang mama yang sedang menyiapkan sarapan.
"Good morning, Mom!" sapanya, disertai satu kecupan di pipi sang mama.
Wanita paruh baya yang masih saja cantik di usianya yang tak lagi muda itu terperanjat. "Wah, siapa ini? Princess Mommy kah?" kelakar sang mama.
"Bukan! Anak tetangga!" Kisya cemberut dan langsung duduk.
"Puji Tuhan! Anak gadis Mommy udah bisa bangun pagi. Pekerjaan Mommy kan jadi berkurang."
Kisya hanya memutar bola matanya malas sambil mengambil menu sarapan yang disediakan Bi Anni tadi, dan ia memulai sarapannya dengan doa seperti biasa.
Setelah acara sarapannya selesai, Kisya langsung bergegas ke kampus.
Sebenarnya sedari tadi perasaannya sudah tak enak, tetapi dia mencoba menepiskan jauh-jauh hal itu.
Detik bergulir ke menit, dan tanpa terasa penguasa siang mulai berangsur-angsur mendekati peraduannya. Semburat jingga mulai nampak di ujung cakrawala.
Kisya sedang berdiri dan bersandar pada pembatas tangga yang berada di lantai dua, gedung fakultas MIPA. Dia menunggu kekasihnya yang muncul setelah lumayan lama membunuh waktu untuk sekedar parkir di sana.
"Hai, cantik! Liatnya biasa aja dong," mengusap lembut pipi Kisya. "Maaf! Udah buat kamu menunggu. Yuk!"
Kisya menerima uluran tangan kekasihnya dan mereka manaiki tangga bersama menuju roof top. Di sebuah bangku panjang yang ada di sana, sepasang kekasih itu duduk dengan Kisya yang bersandar damai dalam pelukan hangat Gilang.
Ini tempat favorit mereka, tempat ketika kisah cinta mereka dimulai. Tempat bersejarah bagi keduanya dalam merajut benang asa dan cinta.
"Yang! Jika malam tiba, dan kamu lagi kangen sama aku, pandanglah bintang yang paling terang. Aku ada di sana, serta ada rindu yang sama untukmu!"
Kisya mendongak dan menatap sepasang mata elang yang dikaguminya selama ini.
"Gak perlu! Tinggal telepon aja suruh ke rumah. Kalo gak, bisa video call-an. Ngapain repot segala pandangi bintang? Aku lebih senang pandangi wajah menyebalkanmu," ucap Kisya dengan senyuman kecil.
Entah keberanian apa yang mendorong Gilang untuk mencium Kisya saat itu. Kisya terpaku dengan degup jantung yang bertalu dan darah yang berdesir.
"Thank you for this moment. Lemme be your last first kiss, honey!" bisik Gilang mesra. Ia kembali melanjutkan momen first kiss ever bagi Kisya.
"I promise! You are the one, and only one. Tak akan tergantikan oleh siapa pun!"
Ikrar Kisya pada sang kekasih, selepas momen first kiss mereka. Langit sore serta bangku panjang itu, kembali menjadi saksi dua insan mengukir kenangan di sana.
Hari berangsur gelap dan Gilang pun mengantarkan kekasihnya pulang ke rumah, dengan mengendarai kawasaki ninja berwarna hijau miliknya.
Entah mengapa sore itu Kisya memeluk kekasihnya itu begitu erat, seakan takut kehilangannya.
Begitu sampai di rumah Kisya, Gilang hanya bertamu sebentar dan sesudah itu ia pun pamit pulang.
Kisya masuk ke kamarnya dan hendak menuju kamar mandi. Namun, langkahnya tertahan saat tidak sengaja pigura kecil yang terletak di atas nakas, jatuh pecah dan berserakan.
Kisya mendekat dan melihat bingkai dirinya dan Gilang di sana sudah tak utuh lagi. Hatinya mendadak kacau dan gelisah seperti pagi tadi.
Bersamaan dengan itu, suara sang mama menariknya dari lamunan.
"Kis! Di depan ada Gilang!"
Baru juga 15 menit dia pergi, sudah balik lagi?
Batin Kisya, dan cepat-cepat turun menemui kekasihnya.
"Gil! Ada yang ketinggalan?"
Tanpa menjawab, lelaki itu langsung berdiri dan memeluk tubuh mungil kekasihnya, serta memberikan kecupan yang di rasakan Kisya begitu dingin di keningnya.
"Hanya itu yang tertinggal!"
Sesudah itu dia kembali pergi, meninggalkan Kisya, dengan senyuman yang berbeda dari biasanya.
Baru saja hendak berbalik setelah pandangannya tak lagi melihat sosok yang baru pergi itu, dering ponsel menyambutnya.
"Halo!"
" ... "
Seketika ponsel itu terlepas dari genggamannya. Tubunya limbung, pijakannya goyah.
Inikah arti mimpi itu?
Inikah jawaban dari gundah ku?
Inikah arti dari ucapanmu, Gil?
Sebulan berlalu sudah, tetapi Kisya masih saja larut dalam eleginya.
Don't wanna feel another touch
Don't wanna start another fire
Don't wanna know another kiss
No other name falling of my lips
Don't wanna give my heart away to another stranger
No, i'll never love again ….
Lantunan itu yang selalu memenuhi ruang kamarnya, menemaninya di setiap waktu lara.
_______&&&&_______