Katie mendongak sekilas ketika mendengar suara ketukan yang cukup keras. Ia mengabaikan gangguan itu dan kembali fokus pada percobaan yang sedang dilakukannya. Dengan sangat perlahan, gadis itu menuangkan cairan berwarna kekuningan ke dalam tabung yang berisi cairan bening yang sedikit berbuih.
"Katie, buka pintu. Aku tahu kau ada di dalam!"
Teriakan itu bergema dari balik dinding putih yang memisahkannya dengan Sherly, gadis semampai berdarah Spanyol yang telah menjadi rekannya selama dua tahun ini.
Katie mendengkus lalu melirik jam besar bergaya Eropa yang menempel di dinding, baru pukul 06.30, tidak mungkin Sherly mengganggunya sepagi ini jika tidak ada hal yang benar-benar penting. Jadi, Katie meletakkan semua peralatannya ke tempat semula, lalu melangkah ke depan untuk membuka pintu.
"Kenapa lama sekali?" cecar Sherly begitu pintu terbuka lebar di hadapannya. "Ada klien yang ingin bertemu denganmu."
Katie memperhatikan seorang pemuda berwajah tampan yang berdiri di samping kanan Sherly. Tingginya sekitar 185 sentimeter, dengan postur tubuh yang tegap dan sempurna. Hanya saja, sorot mata itu sangat redup
"Masuk," ujar Katie. Ia membuka pintu lebih lebar kemudian beranjak ke dalam. “Duduk,” ujarnya lagi sebelum membuka kulkas dan mengambil minuman dingin.
Ia dapat melihat pemuda yang sedikit gugup dan gelisah itu mengedarkan pandangan dan mengamati apartemennya yang sederhana.
"Ada anggota keluarga yang baru saja meninggal?" tanya Katie seraya menyodorkan kaleng minuman kepada tamunya.
Pemuda itu tertegun sejenak, menatap Katie dengan maniknya yang berwarna kecokelatan.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya.
"Setelan serba hitam yang kau kenakan, juga bercak lumpur di sepatumu yang mahal, tentunya berasal dari tanah pemakaman."
"Itu ... itu memang benar. Aku James, dan ...." Pemuda itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "Jimmy, saudara kembarku, baru saja meninggal. Sebelumnya semua baik-baik saja, sebelum salah seorang pria yang bertugas memandikan jenazah mengatakan kalau saudaraku itu dibunuh. Kemungkinan diracuni. Jadi, pemakaman ditunda sementara."
"Menarik," ujar Katie. "Apa kalian tinggal bersama?"
"Ya. Kami tinggal di rumah peninggalan ayah, bersama Laureen, ibu tiri kami. Ia seorang dokter gigi." James tampak termenung, raut kesedihan tergambar jelas dari wajahnya.
"Kenapa kau datang ke sini, dan bukannya meminta polisi untuk menyelidiki?" tanya Sherly.
"Polisi sudah menangani kasus ini sejak kematian adikku dua hari lalu, sampai sekarang belum menemukan titik terang." James memutar-mutar botol minuman di tangannya. Ia menatap Katie dan Sherly bergantian.
"Apakah dilakukan otopsi pada jasad saudaramu?" tanya Katie.
"Makanan yang kami makan sama, dan aku baik-baik saja. Hasil otopsi menemukan residu obat bius dalam jumlah sedikit, tetapi itu seharusnya hanya membuatnya tidak sadar, tidak mungkin bisa membunuhnya, begitu penjelasan yang diberikan oleh ahli forensik. Jadi kami mengira, ia meninggal karena serangan jantung," jelas James dengan raut menderita. "Seharusnya ia menjadi pengantin, dua minggu lagi."
Katie mengangkat telunjuknya, "Maksudmu, ia akan menikah? Berapa jumlah warisan yang akan kalian terima setelah menikah?"
"Itu ... sepenuhnya akan diberikan pada kami. Jika kami menikah, Laureen tidak berhak menerima apa pun lagi dari peninggalan ayah.”
“Begitu ....” Katie menatap Sherly sekilas dan bertanya, “Bagaimana menurutmu? Bukankah kita harus melihat tempat kejadian perkara agar dapat memahami apa yang sedang terjadi?”
"Yah, aku hanya mengikuti apa yang kau katakan. Jika kau berkata berangkat, maka mari kita pergi berkabung.
James menarik napas lega. Ia segera bangkit dan mendahului menuju pintu.
"Antarkan kami menuju tempat saudaramu mengembuskan napasnya yang terakhir!" perintah Katie, lalu mengekor di belakang Sherly.
***
"Ini ...." Sherly tertegun ketika mobil yang dikendarai oleh James berhenti di depan klinik gigi.
"Klinik Laureen," jawab James, "Jimmy meninggal di sini. Asisten Laureen yang menemukan tubuhnya yang telah kaku di dekat pintu. Sepertinya ia mencoba mencari pertolongan."
Air mata mengalir dari sudut mata James. Pemuda itu meraih tisu dan mengusap wajahnya. "Maaf, aku sedikit emosional, kehilangan Jimmy rasanya seperti kehilangan separuh jiwaku. Kami telah hidup bersama begitu lama. Aku tak sanggup kehilangan dia."
"Apa ibumu ada di dalam?" Katie membuka pintu mobil dan keluar. Ia menunggu James berjalan lebih dulu di depannya.
"Seharusnya ada. Mungkin petugas polisi masih menanyainya di dalam." James mendorong pintu dan melangkah masuk. "Tenang saja, aku sudah memberitahu mereka perihal kemungkinan kedatanganmu ini."
Katie mengangguk dan mengikuti James ke dalam. Ia mengawasi dua orang polisi yang sedang menginterogasi Dr. Laureen di ruang prakteknya. Setelah kedua petugas itu selesai mengerjakan tugasnya, Katie menghampiri mereka dan memperkenalkan diri. Gadis itu meminta dua orang polisi itu untuk tetap tinggal sebagai saksi.
Katie meminta izin untuk berkeliling sebentar. Dr. Laureen menemaninya melihat-lihat sambil berbincang singkat. Tempat ini lebih mirip rumah dari pada klinik. Ada beberapa ruangan yang terpisah oleh pintu yang memiliki kuncinya masing-masing. Ada kamar tidur, kamar mandi, dapur, bahkan kolam renang kecil di bagian belakang.
"Anda pencinta binatang berbisa?" tanya Katie ketika melihat seekor tarantula yang terperangkap dalam tabung kaca. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hampir dipenuhi tabung-tabung sejenis dengan beragam hewan berbahaya di dalamnya.
Dr. Laureen tampak gugup. Ia mengusap lengannya beberapa kali sebelum menjawab, “Hanya hobi. Ini semua diberikan oleh suamiku sebelum ia meninggal. Ia tahu aku menyukai hewan-hewan eksotis.”
“Begitu ....” Katie mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sepertinya Tuan Jason sangat menyayangi Anda, Dokter.”
“Bisa dibilang begitu.” Dr. Laureen tersenyum kikuk.
“Sepertinya usia Anda dan si Kembar tidak beda jauh?”
“Kami memang seumuran. Aku menikahi ayah mereka ketika masih di bangku kuliah.”
“Sepertinya peliharaan Anda ada yang menghilang, Dokter.”
Dr. Laureen terpaku karena perubahan topik pembicaraan yang tiba-tiba ini. Ia menatap ke arah Katie dengan waspada, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.
“Memang ada yang hilang.” Dr. Laureen menatap lurus ke arah Katie. “Lukas, seekor ular kecil, sejenis Calliophis intestinalis. Bagaimana Anda bisa tahu?”
“Warna meja di sekitar sini lebih cerah dari sekitarnya, sepertinya ada tabung yang baru saja diambil tidak lama ini,” jawab Katie enteng. “Kenapa Anda mencoba menghilangkan barang bukti?”
“Aku ... aku ... itu, aku tidak ....”
“Lalu kenapa tidak Anda laporkan kepada pihak kepolisian? Jangan coba berbohong, saya sudah berbicara dengan dua petugas tadi.”
“Ada apa ini?” tanya James yang masuk dalam ruangan itu, disusul Sherly dan dua polisi yang menunjukkan raut bertanya-tanya.
“Apa ada yang tahu, seekor Calliophis intestinalis hilang dari sini?”
“Apa itu?” tanya James.
“Namanya Lukas, seekor ular kecil yang bisanya sama dengan enam kali racun kobra. Aku sarankan kalian melakukan uji toxic, pasti hasilnya akan sama.” Katie berjalan keluar, menuju taman bunga di samping klinik.
“Seharusnya Lukas masih ada di sana, di dalam kandangnya,” ujar Katie sembari menunjuk rumpun bambu cina yang berwarna kekuningan.
“Jangan bicara omong kosong lagi! Aku akan menuntutmu jika bicara tanpa bukti!” bentak Dr.Laureen dengan suara bergetar.
“Tenang saja, ada cukup banyak bukti di dalam sana, termasuk sarung tangan karet untuk menutupi jejak. Pak Polisi, tolong panggilkan pawang ular.”
“Jangan ada yang bergerak!”
Sherly dan dua orang polisi yang berdiri di sampingnya terkejut ketika Dr. Laureen merebut pistol dari pinggang salah seorang polisi dan mengarahkan benda itu ke kepalanya sendiri.
Katie mendengkus dan menatap Dr.Laureen dengan tajam, “Jangan bodoh, apakah pengorbananmu ini sesuai?”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Katie berbalik dan meringkus James yang berada di sisi kanannya dengan satu gerakan cepat. Kemampuan bela dirinya sangat membantu dalam keadaan terdesak seperti sekarang ini.
“Apa ... apa yang terjadi?” Sherly terkejut hingga mematung beberapa saat.
“Cepat borgol dia!” teriak Katie ketika melihat dua orang polisi yang masih termangu di depannya. “Tenang saja, wanita itu tidak akan melukai dirinya. Tombol pengaman masih terkunci.”
“Jangan tangkap dia! Aku! Aku yang membunuh Jimmy! Tangkap aku!” Dokter Laureen menjerit histeris. Ia menerjang membabi-buta ke arah Katie.
“Dia tidak pernah mencintaimu, kau hanya diperalat. Sadarlah.” Katie menangkis serangan Dr. Laureen dan memeluk wanita itu erat-erat. “Di hatinya hanya ada Jimmy.”
Suara kekehan yang dalam dan pilu terdengar dari mulut James, “Jimmy, si Bodoh itu ingin menikah dan meninggalkanku, hanya demi seorang gadis bodoh yang tak pantas untuknya. Hehehe ... si Bodoh itu memang pantas mati. Kini, tidak ada seorang pun yang akan berebut denganku. Hehehe ....”
Suara tawa yang mengerikan itu masih terdengar meski tubuh James tak lagi terlihat.
“Kamu ... bagaimana bisa tahu?” Meski telah bekerja bersama Katie selama beberapa tahun, Sherly masih terus dikejutkan oleh kemampuan sahabatnya itu.
“Tatapannya ketika melihat foto Jimmy di dasboard mobil, itu bukan tatapan seorang saudara,” jelas Katie. “Luka gores di pergelangan tangannya, juga sehelai daun bambu cina yang menempel di rambutnya ketika ia datang ke rumah tadi pagi. Selebihnya aku hanya perlu menemukan benang merah. Lagipula, jika memang Dokter Laureen ingin membunuh Jimmy karena warisan, tidak mungkin ia lakukan di tempat prakteknya sendiri.”
“Kalau begitu, menurutmu bagaimana cara James menghabisi saudara kembarnya itu? Bukankah tidak ada bekas gigitan di tubuhnya?”
“Obat bius yang disebutkan oleh James, ingat? Kita bisa meminta pihak forensik untuk mengkonfirmasi dugaanku. Kalau benar, pasti ada bekas pagutan ular di rongga mulut atau lehernya."
End.