Malam yang begitu dingin diiringi dengan hujan yang mengalir deras tak membuat langkah kaki Subaru dipercepat, malah sebaliknya ia tampak menikmati setiap tetes air hujan yang jatuh itu.
Dengan payung di tangan ia berjalan seperti biasa menuju rumahnya. Seharian ini ada begitu banyak hal yang harus diselesaikannya di kantor.
Terlalu banyak masalah yang bermunculan dan membutuhkan penyelesaian secepatnya. Bahkan ia sendiri baru bisa pulang ke rumah di jam yang sudah menunjukkan lebih dari tengah malam seperti ini.
Meski begitu, ia sepertinya menikmati hari-harinya yang seperti ini. Ia hampir tidak pernah mengeluhkan apa yang terjadi padanya karena ia sadar bahwa ini adalah apa yang ia pilih.
Sebenarnya yang membuatnya bisa bertahan adalah karena sepucuk surat yang akan selalu ada di depan pintu rumahnya setiap kali dia selesai bekerja.
Awalnya ia tak mengetahui siapa mengirimnya, tapi melihat apa yang ditulis dan juga karakter tulisan juga tata bahasanya ia menduga jangan-jangan surat itu adalah yang dikirim oleh seseorang dari masa lalu?
Karena di era sekarang ini sangatlah jarang ada yang menggunakan tata bahasa seperti itu. Oh mungkin terkecuali mereka yang chuunibyou.
Yang sepertinya justru orang ini bukan chuunibyou karena tidak pernah membahas hal-hal yang berbau otaku dan sebagainya. Malah lebih sering menceritakan beberapa peristiwa yang memang terjadi di masa lalu.
Surat itu pertama kali didapatkan oleh Subaru sekitar 3 bulan lalu. Sejak saat itu ia selalu menerima surat-surat seperti itu setiap harinya.
Lama kelamaan ia merasa bahwa setiap surat yang ia terima menambah energi untuk menghadapi hari-harinya yang menantang itu.
Ia sendiri mulai mencoba membalas surat itu setelah seminggu menerimanya. Ia iseng mencoba menaruh surat balasan di pagi hari sebelum berangkat bekerja di tempat yang sama dengan ia mendapatkan surat setiap malam.
Benar saja di malam harinya ia tidak menemukan surat balasannya tadi pagi dan malah menemukan surat baru darinya di depan pintu rumahnya itu.
Awalnya ia mengira suratnya terbang terbawa angin dan tidak mungkin sampai ke sana jadi dia memutuskan untuk tidak membalas surat lagi.
Namun balasan surat di hari berikutnya cukup mengejutkannya, karena dia membalas surat balasan yang Subaru tulis sebelumnya.
Di surat itu dia menjelaskan bahwa dia memang berasal dari era yang disebut era Taishou, namanya sendiri adalah Fumiko.
Ia mengirim surat seperti ini hanya karena iseng saja. Tidak tahu mengapa surat ini bisa sampai ke dirinya dan mendapati balasan yang menanyakan soal dirinya.
Selama ini dia mengira mengirim surat itu seperti menulis buku harian yang tak pernah dapat dilihat lagi karena selalu menghilang.
Makanya mendapati ada surat balasan itu tentu saja ia menjadi sangat senang dan berharap mulai sekarang bisa menjadi teman berbicara dan berbagi keluh kesah masing-masing lewat surat.
Hal itu yang disetujui langsung oleh Subaru dan dia pun sejak saat itu mulai membalas setiap surat yang masuk lewat pintu rumahnya setiap malam.
Begitulah awal mula yang terjadi sampai secara tidak sadar Subaru sepertinya mulai menaruh hati pada lawannya menulis surat itu.
Ia sedang bingung bagaimana cara mengungkapkan bahwa ia memiliki rasa suka pada seseorang yang tidak pernah bertemu dengannya?
Terlebih lagi ini interaksinya hanyalah lewat surat bukan sosial media yang sudah menjadi candunya manusia di zaman ini.
Tak terasa, Subaru telah sampai di depan rumahnya. Tentu saja hal pertama yang ia lakukan adalah mencari surat yang biasanya terdapat di depan pintu rumahnya.
Yang membuatnya heran adalah, tidak ada surat di depan pintu. Ia bahkan sampai mencari-cari di setiap sudut pekarangan rumah miliknya dan tetap tidak menemukannya.
Menghela napas lelah, ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah dan menulis surat untuk Fumiko menanyakan mengapa ia tidak mengirim surat hari ini?
Keesokan harinya ia berangkat bekerja dengan lesu. Tidak ada surat yang menjadi penyemangatnya kemarin cukup berpengaruh pada mood milik Subaru pagi ini.
Ia menaruh suratnya seperti biasa sebelum berangkat, dalam hatinya semoga hari ini ia bisa mendapatkan penjelasan seperti ia terlalu sibuk hingga tak dapat menulis surat atau yang lainnya.
Akhirnya ia pergi berangkat kerja dengan hati yang sulit untuk dijelaskan.
Sayangnya harapan tinggallah harapan. Nyatanya surat balasan Fumiko bukan hari itu saja yang tidak ada. Namun juga hari-hari berikutnya.
Surat dari Subaru memang masih terkirim sepertinya karena selalu menghilang setiap dia pulang kerja. Namun surat balasan Fumiko tidak kunjung tiba.
Seminggu pun berlalu tanpa ada satu pun surat dari Fumiko dan Subaru pun selalu dalam suasana hati yang buruk. Untungnya ia cukup profesional sehingga tak mengganggu ke pekerjaannya.
Malam itu ia mulai kehilangan harapan dan berencana untuk tidak menulis surat lagi ke Fumiko. Namun semua itu buyar begitu saja ketika ia mendapati sepucuk surat di depan pintu rumahnya seperti sebelum seminggu ini.
Dengan antusias dan rasa senang yang begitu terlihat di wajahnya juga dengan gerakan sangat cepat ia mengambil surat itu, masuk ke dalam rumah dan mengunci terlebih dahulu rumah.
Baru setelah itu ia membersihkan diri dan mulai membuka surat itu dengan perasaan yang berdebar.
Kepada Subaru yang selama lebih dari 3 bulan ini menjadi teman berbicaraku. Aku mohon maaf apabila sekitar seminggu ini tak mengirim surat lagi padamu. Aku tak menyangka kau akan begitu konsisten tetap mengirim surat padaku selama seminggu ini padahal aku tak ada membalasnya. Sebenarnya bukan karena aku tidak ingin membalasnya, namun sesuatu yang besar telah terjadi di sini dan aku tidak tahu apakah aku masih bisa melihat hari esok atau tidak. Aku menulis ini hanya untuk mengabarimu. Kurasa ke depannya aku tak akan bisa lagi berbicara denganmu lewat surat-surat seperti yang telah kita lakukan selama 3 bulan lebih ini. Aku minta maaf Subaru. Kuharap kau bisa menemukan kebahagianmu di sana. Dan yang terakhir aku ingin mengatakan bahwa aku sepertinya telah jatuh hati padamu. Maafkan aku, tapi aku juga tidak tahu mengapa bisa begini padahal kita hanya sering bertukar surat dan belum pernah saling melihat rupa satu sama lain. Maafkan aku, aku hanya ingin menyampaikan saja tidak berharap kau membalasnya terlebih lagi sebentar lagi mungkin aku akan berhadapan dengan kematian. Jadi aku sangat berharap dan menginginkan kau bahagia. Terimakasih untuk tiga bulan yang berharga ini, Subaru. Selamat tinggal.
Tes. Tes. Air mata Subaru muncul begitu saja setelah ia selesai membaca surat yang sepertinya akan menjadi akhir dari segalanya ini.
"Bodoh, aku juga mencintaimu gadis masa lalu. Bagaimana bisa kau berkata begitu? Padahal aku juga ingin mengaku padamu tapi sekarang apa yang harus kulakukan? Oh megami-sama*, kumohon tolong pertemukan aku dengan dirinya. Huhuhu." Pada akhirnya Subaru bermolonog sambil menangis. Ia berharap megami-sama akan mengabulkan keinginannya ini.
Tanpa terasa ia terus menangis hingga jatuh tertidur. Saat itulah ia merasa ia telah masuk ke alam mimpi namun yang membuatnya bingung adalah dimana ia berada saat ini? Mengapa semuanya terlihat seperti lorong kosong?
Tiba-tiba saja di hadapannya muncul seberkas cahaya yang mulai mewujudkan dirinya menjadi bentuk sesosok wanita cantik yang melayang-layang dan berkata,
"Subaru, aku sebagai megami-sama telah mendengar permintaanmu. Sekarang jika kau ingin menemuinya pergilah ke pintu besar sana dan berlarilah terus menerus. Kau tidak diizinkan untuk berhenti ataupun menoleh ke belakang. Jika kau melakukannya sekali saja maka semua akan hancur dan kau tak akan bisa bertemu dengannya lagi."
Subaru yang mendengar itu pun segera menganggukkan kepalanya dengan wajah bahagia.
"Baiklah, sekarang kau pergilah ke pintu itu. Dan ingatlah pesanku." Sekali lagi megami-sama mengingatkan pesannya itu dan menunjukkan sebuah pintu besar yang harus dilalui Subaru.
"Terimakasih megami-sama. Terimakasih telah mendengarkan permintaan egoisku ini." Dengan mata berkaca-kaca ia mengucapkan terimakasih. Setelah mendapatkan anggukan, ia segera berlari ke arah pintu besar yang mulai terbuka.
Ia berlari dan terus berlari. Sepanjang lorong yang aneh dan mulai bersuara membuatnya takut, tapi ia teringat pesan megami-sama jadi ia menguatkan dirinya.
Demi bertemu dengan pujaan hatinya, apapun akan dilakukan oleh Subaru. Karena itu, ia akan terus berlari walau semua yang ada di lorong itu menggodanya untuk berhenti atau menoleh. Ia tetap fokus pada tujuannya.
Akhirnya setelah perjuangan panjang ia mulai melihat setitik cahaya yang sepertinya menjadi ujung dari lorong ini. Ia terus melangkahkan kakinya ke sana dan mencapai cahaya itu.
Benar saja ia tiba di sebuah tempat sejuk yang banyak pohon juga tanaman seperti rumput hijau. Udaranya segar dan bersih sangat berbeda dengan kota tempatnya berasal.
Ketika ia menoleh, betapa terkejutnya ia mendapati seorang wanita cantik di sebelahnya dengan pakaian kimono berwarna merah berpaduan dengan putih dan pink yang terlihat kaget sama seperti dirinya.
"Ah dimana aku?" Perkataan itu keluar dari mulut keduanya yang sama-sama mengejutkan keduanya.
Membuat mereka saling tunjuk dan berkata, "Kau?"
Ah akhirnya, Subaru mengalah dan berkata, "Namaku Subaru, aku tidak tahu mengapa tapi sepertinya megami-sama telah mengirimku ke sini."
Seketika wanita itu membulatkan matanya mulutnya ternganga seakan tak mempercayai apa yang didengarnya itu. Setelah bangkit dari kekagetannya, wanita itu membenarkan ekspresinya sebelum menjawab, "Ah jadi kau juga dikirim megami-sama rupanya. Aku juga, namaku Fumiko, aku tiba-tiba dipanggil megami-sama padahal di tempatku tinggal sedang kacau karena ada peristiwa besar yang terjadi."
"Tunggu, kau bilang Fumiko? Apa kau Fumiko yang dari zaman Taishou itu?" Subaru bertanya dengan mata penuh harapan.
Melihat wanita di sebelahnya mengangguk dengan kening berkerut heran, Subaru langsung memeluknya sambil mengucapkan terimakasih pada megami-sama.
"Terimakasih megami-sama, terimakasih telah mempertemukan kami."
Mendengar itu, akhirnya si wanita sadar apa yang telah terjadi. Pantas saja ia tak asing dengan nama Subaru. Ternyata memang Subaru yang selama ini mengisi hatinya lah yang ada di hadapannya.
Ia tentu balas memeluk Subaru dan mereka pun menangis bahagia sambil terus mengucapkan terimakasih pada megami-sama.
FIN~~~
A/N :
Baiklah melihat tag #Cinta Beda Era ini membuat saya teringat lagu Taishou Roman milik yoasobi yang sempat membuat saya tergila-gila. Dan tentu saja cerpen ini tercipta dari lagu itu. Jadi jangan heran ya kawan. Btw kalo kalian penasaran boleh di cek aja yutubnya langsung jangan lupa cari yang sudah ada terjemahannya biar ngerti. Hahaha. Saya sendiri sempat bingung mencari nama tokoh wanitanya yang cocok. Setelah diskusi sana sini akhirnya diputuskanlah seperti yang ada di atas. Semoga kalian juga bisa menikmati sepenggal kisah mereka ya :)