Masih seperti biasanya, dipenghujung senja menuju pekatnya malam kembali ku termenung di sudut jendela kamarku. Dengan segala pikiran yang bermain di dalam lamunanku.
Samar kudengar suara pintu yang di ketuk dan memanggil namaku.
"Ra.. Ra.. Rara... Apa kamu ada di dalam Ra? Aku masuk ya...? teriak Fiqa sahabatku.
Tanpa menunggu jawabanku Fiqa membuka pintu kamarku.
"Raa.. kamu kenapa?" sapa Fiqa ketika mendapati aku sedang termenung.
"Eehh.. Fiqa.. Aku gapapa kok.. hanya sedang merindukan dia yang di sana." sahutku pada Fiqa.
"Kamu kangen Mas Endi ya Raa..?" tanya Fiqa.
"Iyaa.. aku sangat-sangat merindukannya." jawabku.
Entahlah.. sebenarnya aku ingin marah pada Mas Endi, setelah tanpa sengaja aku melihatnya sedang bermesraan dengan seorang perempuan. Aku diam. Tak sanggup untuk menanyakan padanya. Aku takut.. takut dia akan pergi meninggalkanku. Bodoh.. ya aku begitu bodoh.
"Telponlah dia Raa, atau kau bisa chat dia lewat WA kan. Bukankah biasanya seperti itu." saran Fiqa padaku.
"Sudah aku chat Fiq, tapi tanpa balasan." jawabku.
"Entahlah.. aku merasa kini dia sangat jauh. Padahal aku sangat merindukannya. Aku rindu dia yang seperti dulu. Aku mencintainya Fiq.. aku sayang dia." ucapku pada Fiqa.
Bahkan rasa sayang dan cintaku pada Mas Endi mampu mengalahkan rasa marah dan cemburuku.
"Fiqa.. kenapa Mas Endi mengabaikan ku. Apa dia sudah tidak menyayangiku lagi? Atau.." tak sanggup untuk ku teruskan kata-kata itu.
"Fiq.. aku harus gimana? Aku sedih. Sangat sedih.." tanpa kusadari bulir airmata mengalir begitu saja.
"Sabar Ra. Kau pasti akan bahagia di akhir hidupmu ini." Hibur Fiqa padaku.
"Waktuku tidak banyak lagi Fiqa. Aku ingin dia tau bahwa sayangku padanya melebihi apapun." seketika kembali ku terbayang kemesraan Mas Endi dengan perempuan itu.
"Fiqa.. Minggu depan aku akan melakukan operasi. Jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, tolong kau sampaikan ini pada Mas Endi ya.." pintaku pada Fiqa sambil memberikan amplop yang berisikan surat.
Dengan berat Fiqa menerimanya. Karena rasa sedih sahabatnya itu dapat ia rasakan.
"Ra.. maaf.. tapi kenapa tidak kau cerirakan saja tentang penyakitmu ini dengan Mas Endi." saran Fiqa padaku.
"Tidak Fiq.. Aku hanya mengharapkan cinta dan kasih sayang yang tulus darinya. Bukan belas kasihan." ucapku.
"Tapi dia berhak tau Ra.." jawab Fiqa.
"Semula aku ingin memberi taunya Fiq. Tapi setelah pulang dari Dokter minggu lalu dan tanpa sengaja aku melihatnya. Seketika aku urungkan niat itu." jawabku.
Hatiku hancur ketika itu. Disaat bersamaan ketika Dokter memvonis sakitku dan ketika itu juga aku melihat Mas Endi sedang bermesraan dengan seorang perempuan di sebuah Cafe. Tak sengaja aku melihatnya, dengan niat hati ingin sedikit menenangkan diri di Cafe itu. Tapi sebuah kejutan yang kulihat. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah.
"Ra.. aku tau kamu orang yang sangat kuat dan sabar.. kamu pasti bisa melewatinya Ra.." ucap Fiqa sambil memelukku.
"Terima kasih Fiq, kau sahabat terbaikku." balasku.
***
Hari yang ditentukan itu tiba. Hari dimana Rara akan menjalani operasinya. Rara hanya ditemani Fiqa sahabatnya. Tepat pukul 10 pagi Rara dibawa masuk ke ruang operasi.
Setelah menunggu hampir 2 jam di depan ruang operasi dan Fika mempunyai firasat yang ga enak. Dengan berat hati akhirnya Fika mencoba menghubungi Mas Endi.
Ra.. maafkan aku.. aku terpaksa menghubungi Mas Endi.
"Hallo.. Mas Endi.. ini Fiqa Mas.. maaf kalau Fiqa mengganggu waktunya.." ucap Fiqa ketika sambungan telpon itu dijawab oleh Endi.
"Ohh iya Fiqa.. kamu tidak mengganggu waktuku kok. Ada apa Fiqa, tumben sekali kamu menelponku" jawab Endi.
"Maaf Mas.. aku ingin memberitahukan kalau saat ini Rara ada di RS dan sedang menjalankan operasi." ucap Fiqa.
"Haaa.. apa.. ???" ucap Endi yang saat itu kaget mendengar ucapan Fiqa.
"Aku tidak bisa menceritakannya di telpon Mas. Sebaiknya kau segera kesini. Di RS xx" jawab Fiqa.
"Baiklah, aku segera ke sana." dengan tergesa-gesa Endi melajukan kendaraannya menuju RS xx.
Setibanya di rumah sakit Endi langsung menuju tempat yang disebutkan Fiqa tadi. Dari kejauhan dilihatnya Fiqa sedang terduduk di kursi depan ruang operasi sambil menangis dengan tatapan kosong.
"Fiqa.. kenapa kau menangis seperti ini..? Gimana Rara.. udah selesai Operasinya? Rara baik-baik saja kan Fiq?" pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan Endi dengan perasaan yang bimbang.
"Maaf Mas.. Rara tidak dapat diselamatkan karena pendarahan yang hebat dan tensi yang tinggi" dengan terisak Fiqa menyampaikan kabar itu pada Endi.
Seperti disambar petir ketika Endi mendengarkan apa yang disampaikan Fiqa. Tertunduk lesu dan meneteskan airmata Endi memandangi lantai rumah sakit. Seperti mimpi. Dan berharap ini mimpi. Tapi ini semua nyata.
"Sabar Mas.." ucap Fiqa menenangkan Endi.
"Apa yang sebenarnya terjadi Fiqa? Kenapa Rara sampai dioperasi?" tanya Endi penasaran.
"Rara menitipkan ini untukmu Mas. Sebaiknya kau baca saja surat ini. Aku yakin dalam surat itu Rara mengatakan semuanya." jawab Fiqa sambil memberikan surat yang dititipkan oleh Rara.
Dengan tangan yang gemetaran Endi membuka surat itu.
Assalamualaikum..
Mas Endi.. maafin Rara ya..
Saat Mas baca surat ini kita sudah di alam yang berbeda.
Mas.. Maafin Ra yang tidak menceritakannya pada Mas. Dua minggu yang lalu Ra ke Dokter karena sakit kepala ini sudah tidak bisa Ra tahan. Dan dokter memvonis ada penyumbatan di kepala Ra dan harus segera dioperasi. Sepulangnya dari RS Ra mampir ke sebuah Cafe untuk menenangkan diri sejenak dan bermaksud untuk menyampaikan berita ini ke Mas. Tapi Ra batalkan masuk ke Cafe itu, tanpa sengaja Ra melihat mas sedang bermesraan dengan seorang wanita.
Maafin Ra ya Mas.. jika Ra ada salah selama ini.
Ra cemburu.. Ra marah.. Ra sedih Ra kecewa.. entah rasa apalagi yang Ra rasakan saat itu.
Tapi semua itu terkalahkan dengan rasa sayang dan cintaku pada Mas Endi yang begitu besar melebihi apapun.
Mas.. Ra rindu Mas Endi seperti dulu. Ra sayang Mas. Cinta Ra untuk Mas Endi Ra bawa hingga napas terakhir.
Terima kasih untuk waktu dan sayangmu selama ini Mas.
Maafkan Rara..
Ra pamit Mas..
I Love You More Than You Think
Dengan airmata yang mengalir tanpa henti Endi bersimpuh tak berdaya disamping makam Rara. Dengan Rasa sesal yang teramat sangat ia harus ikhlas melepaskan kepergian Rara.
Rara.. maafkan Mas.. Mas juga sangat menyayangi dan mencintaimu Ra..
Endi tak mampu lagi untuk berkata-kata. Hanya rasa sesal dan sedih yang mendalam kini ia rasakan.
'Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang dan kesetiaan.'
Jangan Menunggu Sampai Kehilangan Untuk Menyadari Bahwa Sesuatu Tersebut Begitu Berharga.
__SEKIAN__