Karya : Roselia Dufan
Sore hari setelah aku pulang sekolah, seperti biasa aku berjalan menuju rumahku melewati sebuah jalan raya besar. Setelah itu aku masih harus melewati beberapa gang sempit untuk bisa sampai di rumahku.
Saat aku hendak menyeberang jalan, aku melirik ke arah kanan dan kiri dan memastikan bahwa jalan raya itu memang sudah sepi. Beberapa anak lainnya terlihat menyebrang terlebih dahulu, akupun berniat menyusul dan melangkahkan kakiku ketengah jalan dengan cepat.
Tiiittt tittt....!!!!
Dengan cepat aku melirik ke arah sumber suara dan mendapati sebuah mobil mini bus tengah melaju cepat kerahku.
Kaget karena melihat kejadian itu akupun hanya dapat terdiam, kakiku begitu kaku untuk bergerak, kalaupun aku berlari untuk menghindar sepertinya tidak akan sempat.
Akhirnya aku hanya pasrah.
Mobil itu pun sudah begitu dekat, sangat dekat, hingga berhenti tepat 3 centimeter di dekatku.
Decit suara rem mobil itu menggema di telingaku, deru jantungku dan aliran darahku mengalir dengan deras, aku tidak percaya ini, mobil itu sudah sangat dekat tapi bisa berhenti dengan tepat tanpa melukaiku sedikitpun.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang didekatku.
Aku melirik kearahnya dan ternyata ada seorang lelaki tinggi dan gagah berdiri disana. Aku juga menyadari sesuatu bahwa waktu di sekitarku saat itu benar-benar terhenti.
"Sepertinya aku sudah mati," gumamku kemudian terduduk lemas.
Setelah itu dia membawaku pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari sana, keadaan pun menjadi normal kembali, semuanya tidak lagi diam.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi kepadaku, dan terus memegangi dadaku yang tidak henti-hentinya berdegup dengan kencang.
"Lain kali kalau nyebrang jangan bengong yah," ujarnya padaku.
Aku mengangguk saja sambil melirik kearahnya. Ternyata dia memakai sebuah topeng yang menutupi seluruh wajahnya, melihat itu membuatku sedikit merasa takut, tetapi apa yang harus aku takutkan, dia adalah orang baik, buktinya saja dia menyelamatkanku.
"Terimakasih," ucapku sambil tersenyum tipis kearahnya. Setelah aku mengucapkan itu dia tiba-tiba menghilang dari pandanganku dengan cepat.
Sudah tiga tahun berlalu semenjak kejadian itu dan kini aku sudah duduk di bangku kelas tiga SMA, namun aku sama sekali belum melupakan kejadian itu, andai saya aku menemukan orang itu lagi aku akan sangat berterima kasih padanya.
Malam harinya saat aku keluar rumah untuk belanja di minimarket seseorang yang terlihat familiar berlari di depanku sambil dikejar beberapa massa.
Tubuhnya tumbang ketika sebuah peluru mendarat dikakinya. Dengan sigap aku menolong lelaki itu karena dia terlihat sedang kesusahan, aku pun membantunya berjalan dan bersembunyi di tempat sepi.
Setelah kerumunan itu pergi barulah aku menyadari sesuatu, aku baru menyadari bahwa aku telah menolong orang asing, bisa saja dia adalah narapidana yang kabur, pencuri atau penjahat kelas kakap lainnya.
"Terimakasih banyak Nona," katanya sambil meringis kesakitan.
"Tidak-tidak bukan waktunya aku berpikiran negatif, siapapun orangnya aku harus menyelamatkan nyawanya dulu!" Tekadku dalam hati.
Aku pun membawa lelaki itu ke dalam rumahku untuk diobati. Ibu dan ayahku terlihat heran sekaligus takut, tetapi mereka tidak melarang aku untuk menolong pria itu.
Untung saja aku adalah seorang IPA yang cukup pintar dan aktif dalam mengikuti kegiatan PMR jadi aku tahu cara mengobati luka tembakan semacam ini.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" Tanyanya.
"Tidak perlu ada alasan untuk menyelamatkan seseorang yang butuh bantuan selama itu masih bisa kulakukan," jawabku sambil menatap pria itu, aku sedikit tersentak karena aku baru mengingatnya, ternyata dia adalah laki-laki yang selama ini aku cari.
Karena tadi aku terlalu fokus, aku tidak menyadari bahwa pria itu adalah sosok manusia bertopeng yang menyelamatkanku dulu.
"Kenapa? Padahal semua manusia itu jahat, mereka suka mengambil barang seenaknya saja, pelit, dan serakah."
Aku tertegun, kenapa dia berkata seperti itu? Apakah dia bukan manusia?!
"Tidak semua orang seperti itu walaupun memang ada tapi kan manusia itu beragam sifatnya dan masih banyak orang lain yang berhati baik." Jawabku sambil tersenyum kecil.
"Jadi selama ini aku sudah salah menilai yah..."
"Emang kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanyaku heran.
"Aku bukanlah seorang manusia seperti kalian, karena sesuatu yang berharga dari planet kami dicuri oleh manusia, maka aku datang kemari untuk mengambilnya lagi, ohh iya lagian aku juga sudah berhasil mendapatkannya," katanya sambil menunjukkan jari jempolnya
"Ohh begitu," kataku yang sebenarnya tidak percaya. Haha mana mungkin dia itu alien, dia cuma ngarang, kayaknya otaknya kebentur deh. Batinku.
Ketika aku sudah membalut luka itu dengan kain, aku merasa sangat senang bisa sedikit membalas perbuatannya dulu, akhirnya akupun menyuruhnya untuk istirahat sebentar tapi dia menolak dan mengajakku untuk berbicara di luar rumah.
"Terimakasih telah menyelamatkanku, padahal kau sebenarnya takut tapi kau memang benar-benar manusia yang berani dan berhati mulia, aku pasti tidak akan melupakan kebaikanmu,"
Aku terdiam sambil menatapnya dengan heran, mau bilang apa lagi dia?
Lelaki itu melepaskan topengnya lalu tersenyum simpul, membuatku sedikit terkesima dengan wajahnya yang rupawan dan matanya yang berwarna hijau kebiruan.
Saat jarum panjang jam dinding menunjukkan angka 12, ia pun menghilang dari hadapanku bersamaan dengan munculnya hembusan angin malam yang dingin menerpa kulit wajahku, ketika ku menengadah wajahku keatas langit, bintang pun begitu banyak bertaburan diangkasa tidak seperti biasanya.
Aku menghembuskan nafasku pelan, semua kejadian ini membuatku merasa seperti bermimpi, aku diselamatkan oleh seseorang yang bukan manusia dan juga menyelamatkannya. Meskipun aku tidak mempercayai perkataannya dan dia juga tidak mengingatku tetapi aku kini mulai sedikit yakin bahwa semua yang terjadi padaku ini adalah kenyataan.