Matahari tak selamanya menemani,cahaya bulan tak selamanya memberikan keindahan.Hari tak selamanya berjalan baik dan waktu tak selamanya begitu pahit.Dibalik cangkangnya,siput hanyalah hewan yang begitu lemah.Dibalik keindahannya,katak emas begitu beracun.
Tak semua yang kita lihat sesuai dengan ekspektasi kita.Ada kalanya yang terlihat kuat begitu lemah dan yang terlihat lemah rupanya seorang munafik.
Begitulah pelajaran hidup yang sering terlupakan.Banyak manusia terbuai keindahan dari seorang penipu.Banyak manusia yang termakan amarah tanpa tahu apa yang sebenarnya.
***********
Matahari telah menyingsing begitu lama,pagi telah lalu berjam-jam yang lalu.Nyanyian burung telah lama usai.Dan pekerjaan rumah pun telah lama beres.Namun,seorang gadis berusia delapan belas tahun masih saja terbujur di kasurnya yang empuk.
"Sunny,sunny!!"Suara menggelegar seorang ibu yang marah terdengar menyeruak ke seluruh penjuru rumah.
Ia kesal anaknya masih belum bangun.
"Haish...anak itu selalu saja seperti itu.Kebiasaan!"Keluh wanita paruh baya tersebut.
Ya,bukan hari ini saja Sunny anaknya belum juga bangun dari tempat tidur.Hampir setiap hari gadis itu tidak bangun pagi,padahal jam sudah melewati pukul sembilan.Bu Ros ibunya sudah pusing dan geram dengan kebiasaanya tersebut.Dan hampir tiap waktu Bu Ros memarahinya karena berbagai hal.
Ketika ia bangun,Sunny biasanya hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang disisakan ibunya untuknya tanpa berkata sepatah kata pun.Setelah selesai ia pergi mandi tanpa peduli dan kembali ke kamar.Ya,hampir seluruh bagian dari harinya ia habiskan dikamar.Ia jarang keluar rumah karena ia tak punya seorang pun teman yang bisa dia ajak mengobrol dan sebagainya.Karena 6 tahun terakhir ia hidup di asrama sekolah sehingga ia kehilangan teman-teman yang ada di kampung halamannya.Meskipun hidup dengan teman seasrama, kenyataannya ia benar-benar jarang sekali bersosialisasi walaupun itu di medsos.Ia hanya menghabiskan waktunya dengan tidur lagi dan menonton beberapa film di handphonenya.
Di keluarganya,ia dikenal dengan gadis yang pintar,cerdas dan cerewet.Namun, beberapa tahun terakhir ia dikenal dengan gadis pemarah dan sangat sensitif jika tersinggung.
"Nizam,bangunkan kakakmu,cepat!"teriak Bu Ros pada anak keduanya yang masih berusia delapan tahun.
Nizam pun segera berlari menuju ke kamar Sunny untuk membangunkan kakaknnya tersebut.
"Kak,bangun.Sudah siang!Ibu sudah marah-marah tuh!kak bangun!"ujar anak kecil tersebut sembari mengguncang-guncangkan badan kurus kakaknya tersebut.
Namun,Sunny masih tak bangun.
Melihat kakaknya tak bangun juga,Nizam berteriak pada ibunya memberitahu bahwa kakaknya masih tidak mau bangun.
"Ma.....kakak Sunny-nya enggak mau bangun!"
"Haish...."keluh Bu Ros geram.Ia meninggalkan pekerjaannya,ia berjalan cepat menuju kamar anak pertamanya tersebut bersiap memarahinya.
"SUNNY!!BANGUN!!"sentak perempuan paruh baya tersebut dengan amarah yang meluap-luap.Namun,gadis itu tidak bangun juga.
"BANGUN!!"teriaknya lagi kini sembari mengguncangkan tubuh gadis tersebut.Namun,aneh.Putri Bu Ros tersebut tidak bereaksi sama sekali.
Bu Ros terdiam sejenak,ia heran dengan apa yang dialaminya.Seketika,fikiran-fikiran buruk menyelimuti fikirannya.Namun,ia segera menepisnya dan menggelengkan kepalanya bahwa semua hal buruk yang ada dipikirannya tak mungkin terjadi.Sampai ia pun akhirnya memberanikan diri untuk mengecek nafas dan nadi putri sulungnya tersebut.
Dan,
"SUNNY........!!!!!"Bu Ros berteriak histeris.Ia benar-benar mendapati Sunny yang tidak lagi bernafas dan nadinya yang tidak lagi berdetak.Ia memeluk erat putrinya yang sudah tiada tersebut.
Sampai kemudian Bu menemukan butiran obat penenang di telapak tangan putri sulungnya tersebut,yang rupanya adalah obat yang selama ini ia konsumsi untuk menenangkan mentalnya yang mulai kurang normal.Ia juga menemukan surat diagnosa mental yang jatuh dari meja yang menyatakan kondisi psikologis Sunny bermasalah,dan secarik kertas yang bertuliskan "maafkan Sunny bu,Sunny belum bisa menjadi putri ibu yang baik".
Ia kini menyadari bahwa putrinya tak seperti ekspektasinya dan ia pun akhirnya tahu kenapa Sunny menjadi orang yang sangat sensitif,pemarah dan pemalas.Semua itu rupanya karena tekanan batin yang Sunny alami.Ia mengingat ocehan Sunny dahulu tentang masalah di asrama.Namun,Bu Ros dan keluarga Sunny seringkali malah menanggapi ocehan Sunny dengan terus menyalahkan,memarahi dan memojokkannya,bukan merangkulnya supanya tidak semakin tertekan.Padahal Sunny-lah yang menjadi korban dan ocehannya selama ini tidaklah bohong.Akhirnya ia sadar bahwa tindakannya pada Sunny itu salah.Orang seperti Sunny seharusnya diperlakukan dan dinasehati bukan dengan cara yang kasar.Namun,mereka harus dirangkul dan dinasehati dengan penuh kasih sayang.
Seketika membuncahlah tangisnya mengingat apa yang ia lakukan dan ucapkan pada putrinya.Hatinya benar-benar sakit.Ia merasa menjadi seorang ibu yang gagal dan lalai hingga ia tak mengetahui kondisi dan masalah anaknya sendiri.Ia kini hanya bisa menyesali perbuatannya sembari memeluk putrinya yang sudah tak bernyawa karena tekanan mental yang seringkali tersakiti oleh teman-temannya,ibu,dan keluarganya sendiri.
Putrinya yang tak pernah didengar curahan hatinya oleh satu orang pun walaupun anggota keluarganya.Putrinya yang selalu ia biarkan menangis dikamar sendirian sambil memeluk bantal.Dan putrinya yang selalu menyembunyikan perasaan sedih,kesal,dan kecewanya dibalik tawa lepasnya.Putrinya itu kini benar-benar telah tiada.
"Seperih dan seberapa berat lukamu,nak.Hingga menjadikanmu seperti ini?"tanya Bu Ros pada tubuh yang tak bernyawa tersebut sembari memegangi surat diagnosa dengan air mata yang mengalir deras.Fikirannya memutar kenangan,menunjukkan Sunny kecil yang lucu dan lugu.Fikir itu memutar memori manis saat Sunny masih belajar banyak hal.Sunny yang baru belajar berkata-kata.Sunny yang belajar berjalan.Sunny yang baru memulai sekolah.Sampai Bu Ros menyadari bahwa semua Sunny itu kini hanya sebuah tubuh tanpa arwah.
Bu Ros memandangi wajah Sunny yang telah pucat.Ingin rasanya Bu Ros yang sebagai ibunya mengulang waktu dan memeluk putrinya dikala menangis.Mendengarkan curahan hatinya disaat ia terluka.Menenangkannya disaat dia marah.Dan merangkul dan menjaganya disaat ia baik-baik saja.
Namun,semua penyesalan dan keinginan Bu Ros itu sekarang tiada artinya lagi dan takkan pernah bisa terjadi.Karena bagaimanapun Sunny telah terlanjur pergi dengan luka-luka yang ia pikul untuk selamanya.Yang tersisa sekarang hanyalah kenangan dan masa lalu yang hanya bisa dibayangkan tak bisa digapai.
"Sunny, seharusnya ibu yang meminta maaf"
Tamat
~Terimaksih banyak untuk para pembaca~
📌jangan lupa kasih heart dan komentar kalian disini☺️