Aku selalu ingin mencapai bintang-bintang. Tapi aku belum tahu bagaimana harus kesana. Belum, bukan tidak bisa, itu artinya ada kemungkinan aku masih bisa kesana.
Bintang itu tempatku berasal. Aku terbentuk oleh debu bintang. Teman-temanku disana, menungguku. Aku harus kesana. Bagaimanapun caranya.
Aku mengatakan pada orang-orang sekelilingku bahwa aku ingin kembali ke rumah asalku. Ke bintang-bintang. Tapi, mereka bilang aku gila. Atau, aku bermimpi terlalu muluk-muluk.
Aku tidak gila dan aku tak bermimpi. Rumahku di sana. Kenapa mereka tak percaya? Bahkan orang tuaku pun berkata begitu. Aku menangis. Aku tak bisa pulang. Aku hanya ingin pulang ke rumahku, ke bintang-bintang. Teman-temanku menungguku.
Baiklah, aku akan membuat kedua sayap agar aku bisa terbang ke sana. Hari demi hari, sayapku mulai terbentuk. Tapi ketika orang-orang disekitarku mengetahuinya. Mereka menertawakanku dan menghina. Aku menangis lagi dan lagi seiring semakin seringnya terdengar hinaan-hinaan itu.
Hingga suatu hari, mereka menghampiriku. Aku diam. Dan yang mereka lakukan sungguh membuatku hancur.
Mereka menghancurkan sayapku yang masih setengah jadi.
Aku menjerit dalam diam setelah mereka pergi. Aku ingin pulang ke bintang-bintang, ke teman-temanku, ke tempatku berasal. Tapi mereka menghancurkan semuanya. Keinginanku, harapanku dan kedua sayapku.
Kenapa mereka tak mengerti? Aku hanya ingin terbang dan pulang. Kenapa harus menghalangiku?
Aku hanya punya satu langkah terakhir, untuk mengakhiri semuanya.
"Halo rumah, saat malam ternyata sedingin ini, ya? Padahal dulu aku hidup disini. Sekarang malah menjadi tempat yang mengancam nyawa."
Angin laut yang dingin seakan menusuk kulitku. Tapi Aku tak mau kembali ke tempat asing itu lagi. Jiwaku tenang memandangi tempatku berasal. Dan teman-temanku pasti sedang memperhatikanku di atas sana. Di kerlap-kerlip itu.
Aku menghela napas,"Aku lelah..."
"Aku ingin kembali padamu, laut. Itulah kenapa aku disini"
Aku menatap ke bawah dari tepian tebing. Kulihat ombak saling mengejar dan membentur dinding tebing. Aku menatap bintang-bintang, tersenyum,"Aku pulang."
Dan tanpa kedua sayap, Aku terbang bebas. Hingga sesuatu terasa menghantamku, membuat semuanya gelap.
Ya, Aku telah kembali pada bintang-bintang.