~ Happy Reading ~
✓Cinta Corn Dog✓
“Maaf Rima ... aku tak bisa melanjutkan hubungan ini!”
“Karena Ali?”
“Salah satunya!”
“Aku suka kejujuranmu, Mas! Kalau itu keputusanmu, aku hanya bisa berdoa semoga kau mendapatkan yang terbaik!”
Lagi dan lagi , cintaku kandas karena ... Ali. Adik semata wayangku itu, di mata kebanyakan orang adalah aib karena mengidap autis.
Jenis autis Ali adalah sindrom Rett atau kelainan genetis yang mengakibatkan penderita mengalami gangguan mengucapkan kata.
Tidak hanya gangguan berbicara, Ali juga mengalami gangguan pertumbuhan. Meski usianya 13 tahun tapi tingginya mirip anak 7 tahun. Sindrom Rett mempengaruhi perkembangan otak yang membuat kemampuan komunikasi tidak sebaik anak seusianya.
Ku tatap Ali yang sedang tertidur pulas di kontainer booth, tempat kami berjualan corn dog. Nyenyak sekali. Dia lelah seharian membantuku melayani pembeli yang datang silih berganti.
Tempat ini hanya beberapa meter dari rumah peninggalan orang tua kami. Di sana hanya tinggal berdua. Setiap harinya aku dan Ali menjajakan dagangan di tepi jalan. Lumayan bisa menyambung hidup.
“Dek ... dek ... ayo bangun. Saatnya pulang!”
Ali menggeliat ringan. Aku membiarkannya sembari memasukkan banner ke dalam, menutup pintu booth dan merapikan peralatan memasak.
“Kak ... Hulang!”
“Ayok!”
Setelah memastikan terkunci rapat, kami berjalan berpegangan.
Beberapa dagangan sekitar mulai tutup. Jalanan cukup sepi. Kulirik arloji, pukul 21.30 malam.
“Kak ... Kak ... Kak ....!”
Ali mengarahkan telunjuknya ke arah seberang. Ia menunjuk seorang pesepeda yang di hadang 3 pemuda.
“Ga usah peduli! Itu urusan mereka.”
Aku menarik tangan Ali. Tapi ia enggan beranjak.
“Kak ... kak ... kak ....!”
Ia masih menunjuk situasi yang mulai panas.
Sepertinya pesepeda itu di palak karena kantongnya sempat di gerayangi dan helmnya dipukul.
Ku ajak Ali menyebrang jalan
“Hei ... Ada apa ini?”
“Jangan ikut campur! Mendingan pulang sana!”
Seorang pemuda kutaksir 18-an tahun mengusirku.
“Seenaknya saja minta uang dengan maksa! Kerja bos!! Jangan malas! Ga pernah di ajarin orang tua untuk nyari uang halal?”, aku memancing mereka agar menjauhi pesepeda itu.
Sangat ampuh! Karena ketiganya mendekat.
“Cantik juga lu! Temenin kami malam ini dong!”
Ali bersembunyi dibalik punggungku.
Aku melangkah ke depan, begitu jarak kami kian dekat, kuayungkan tendangan dengan punggung kaki ke rahangnya
Bukk!
Ia terjerembab.
Keduanya tak menyangka gerakanku secepat itu.
“Mau lagi?”
Keduanya menggeleng cepat, lalu menggendong temannya pergi menjauh.
“Makasih, Mbak!”
“Sama-sama Mas!”
“Aku Farid!” ia menjulurkan tangannya.
“Rima! Ini adikku, Ali!”
“Kalian tinggal sekitar sini? “
“ Itu rumah kami, sedikit masuk lorong” aku menunjuk lorong sekitar 300 meter di depan.
“Boleh kutemani jalan?”
“Silahkan, Mas!”
Kami bertiga berjalan bersisian sambil mendorong sepeda.
“Malam- malam begini dari mana, Mbak?”
“Kami dari jualan corn dog. Kebetulan Adek saya melihat Mas sedang di palak, jadinya kami bantu”
“Sekali lagi terima kasih! Tendangan Mbak barusan luar biasa. Mbaknya, belajar bela diri?”
“Iya. Taekwondo sabuk hitam!”
“Wow. Tidak semua wanita mau mempelajari itu”
“Biasa aja, Mas!”
“Kalau tidak keberatan, saya ingin tukeran nomor HP. Ga ada yang marah kan?!”
Aku tersenyum mengangguk ringan. Malam itu sebuah kontak baru bernama FARID tersimpan di HP ku.
Kehadiran seseorang yang baru dalam hidupmu selalu memberi warna. Apalagi bila orang itu memberi kesan sopan dan baik dalam berbicara.
“Bolehkah Mas mengajak Rima dan Ali makan di luar malam ini?”
Sore itu Mas Farid menelponku setelah sekian sering kami berkomunikasi melalui media sosial.
“Maaf Mas! Rima harus berjualan malam ini. Soalnya malam minggu banyak pembeli.”
“Kalau begitu, Mas ikut bantuin ya di kontainer!”
“Eh, ga usah Mas! Kami berdua bisa handle kok!”
“Gapapa! Mas ga punya acara juga malam ini”
“Tapi Mas!”
Sia-sia menahannya karena Mas Farid ngotot membantu. Alhasil malam ini kami berdua mendapatkan tenaga ekstra.
Mas Farid cukup cekatan mencatat pesanan pelanggan. Sesekali ia mencelup keju mozarella ke tepung yang telah di campur air. Lalu membalurnya dengan tepung roti, lalu di goreng dan di beri toping sesuai keinginan pelanggan.
Cukup sering dalam prosesnya kami beradu pandang, atau bersentuhan. Kami cukup kikuk dalam situasi yang ... romantis ini.
“Ali!! Jangan main jauh!”
Meski sibuk melayani pembeli, aku tetap mengawasi Ali yang bermain mobil-mobilan.
“Ali itu autis?”
“Iya Mas!”
“Tidak berobat?”
“Tidak Mas. Khawatir biayanya mahal!”
“Kita berdua bisa kok sembuhin Ali. Cuman prosesnya mungkin lama”
“Kita berdua?”
“Iya. Masa ga lihat tepung ini?”
Ku baca tulisan yang Mas Farid bentuk di atas tepung ' Aku menyukaimu!’
Aku tertawa sambil menutup mulut. Ku balas dengan tulisan di atas tepung ‘Bicara langsung dong’
Mas Farid tertawa.
“Baiklah! Mas menyukaimu. Boleh kah Mas mengisi hatimu?”
Balasannya ku tulis di atas tepung ‘Boleh’
“Ih curangg!!!”
“Haha ... Haha!”
Kami berdua tertawa.
Setelah kosong pembeli, kami memutuskan memasang kata ‘Close’. Tapi pintu booth masih dibiarkan terbuka.
Kursi tunggu di susun rapi, menyisakan dua kursi untuk kami.
“Ali, mau permen?” Mas Farid merogoh kantongnya dan memberikan permen lolipop.
Ali menerimanya dengan senang. Mas Farid membalas dengan belaian di rambut.
“Mas ga malu?”
“Malu kenapa?”
“Kondisi Ali! ”
“Autis itu bukan disembunyikan tapi disembuhkan”
“Tapi kata orang-orang Ali itu anak bodoh!”
“Ga usah di dengar! Itu karena mereka ga faham tentang autis!”
Aku menatap sendu mas Farid. Dari sekian banyak orang yang menilai Ali , hanya Mas Farid yang menghargai.
Ia tak jijik. Bahkan begitu sayang kepada Ali.
“Besok kan hari minggu. Yuks jalan-jalan ke pantai!”
“Ali?”
“Dia ikut dong! Masa di tinggal?”
Aku mengangguk setuju. Ali pasti senang bermain-main air di sana.
“Kak ... Hulang!”
Seketika Ali menarik tanganku.
“Ayok pulang!”, Mas Farid faham dengan keinginan Ali.
Kami bertiga berjalan menuju ke rumah.
“Kak ... Hobil Ayi!”
“Mobil Ali mana? “
“Tuhh ....!”
Mobil-mobilan Ali tertinggal di kontainer booth. Ia berlari mengambil kembali.
Mas Farid mengikutinya dari belakang.
Aku tersenyum melihat kedua orang yang kucintai bisa bersama.
Tiba-tiba lampu jauh sebuah mobil menyilaukan pandanganku. Gerakannya oleng ke kiri dan ke kanan.
Aku mulai panik.
“Ali hati-hati!”
Mas Farid yang menyadari, segera berlari mendekati Ali. Tapi mobil itu justru mengarah ke arah mereka berdua. Dengan jelas, pemandangan yang menyesakkan dada terjadi di depanku langsung.
“Brakkk ....!”
Tamat.