Halo, Gaes. Bantu love, follow dan komennya, ya. Terima kasih.
Selamat membaca!
"Jenny!" Soraya memanggil nama Putri sulungnya. Ia cemas karena putrinya tak kunjung pulang. Padahal, hari hampir gelap.
Wanita paruh baya itu berkeliling di sekitar halaman rumah. Dan mendatangi rumah tetangganya satu per satu.
"Jenny! Di mana kamu," rintih Soraya. Ia menangis dan menyeka air matanya.
"Kenapa, Dek?" Norman baru saja pulang dari sawah. Ia meletakkan arit dan ceret minum di atas meja.
"Mas ... Jenny belum juga pulang!" Soraya berlari ke arah Norman---suaminya.
"Mungkin di tempat mamak." Norman menenangkan Soraya. Ia berusaha tenang.
"Sudah. Tapi, tidak ada di sana," balas Soraya.
Peluh belum juga kering Norman ikut mencari Jenny.
"Jenny!" Norman menyusuri sungai di belakang yang tak jauh dari rumahnya.
Soraya memanggil beberapa orang untuk melakukan pencarian. Mereka pun menelusuri di berbagai tempat. Hari kian gelap. Jenny tak juga ditemukan.
Pencarian dilanjutkan besok lagi.
Soraya merasa tak tenang jika belum mendapatkan Jenny. Ia tidak berhenti menangis bahkan ia pun belum makan.
Beberapa tetangga menemani Soraya dan Norman. Mereka membujuk Soraya untuk makan. Sayangnya, ia enggan.
Pukul 02:00 WIB.
"Mama ... Tolong Jenny!" teriak Jenny di antara kabut.
"Nak, kamu di mana?" Soraya mengejar langkah Jenny. Ia menghilang di balik pepohonan dan kabut tebal.
"Mama." Suara itu kian lirih dan semakin jauh.
Soraya mencari di setiap pepohonan yang rimbun. Ia pernah melihat tempat ini. Tapi, di mana?
"Jenny! Pulang yuk, jangan bikin khawatir, Mama." Soraya berlari bolak-balik ke depan lalu, ke belakang. Mencari setiap pohon.
"Mama! Dingin, Ma ...." Suara itu kian menghilang.
"Jenny! Kembali, Nak."
"Jenny!"
"Nak!"
"Astaghfirullah! Bangun, Mbak." Seseorang menepuk pipi Soraya. Kelihatannya ia bermimpi buruk.
Soraya terperanjat. Ia tampak ngos-ngosan. Peluhnya sebesar biji jagung pada dahinya. Mimpi itu terasa nyata baginya.
"Mimpi apa, Nduk?" tanya Ratih. Ibunya Norman. Ia dengan lembut membelai rambut Soraya.
"Jenny, Bu. Jenny ada--,"
Kalimatnya terputus.
Ia tak sanggup berkata-kata. Soraya kembali menangis.
"Diminum dulu, Nduk." Ratih menyodorkan segelas air putih.
Glek!
Glek!
Air mengalir ke tenggorokannya. Habis tak bersisa.
Norman menghampiri istrinya. Kemudian ia memeluknya dengan erat.
"Kita cari lagi besok pagi."
"Adek lihat dia, Mas. Dia ada di antara hutan pinus dan pohon kemiri," ucap Soraya yakin.
"Kamu mimpi, Dek."
"Tapi terasa nyata, Mas!"
"Sudah. Sabar, sabar. Besok kita cari sama-sama," kata Bu Yati.
*
*
*
Pukul 07:00 WIB.
Semua telah berkumpul dan siap-siap mencari Soraya.
"Jenny!" teriak serempak beberapa orang.
"Di mana, kamu!"
"Jenny. Pulang, Nak!" Soraya berulang kali menyeka air matanya.
"Pak, Mak. Tunggu!" Suara seseorang menggelegar.
Semua tertuju ke sumber suara.
"Ada apa, Dul?" tanya Halim--ayahnya Abdul.
"Kemarin--,"
"Iya, Dul."
"Jenny sama teman-t--teman --,"
"Ngomong yang jelas, Le. Jangan putus-putus!" bentak Halim.
"Sabar. Jangan dimarahin," kata Norman menengahi.
"Lanjut, Le. Ada apa?" tanya Soraya.
"Kemarin kami main jelangkung." Abdul menunduk. Ia memainkan jarinya.
"Jelangkung?!!" ucap mereka serentak.
Mereka sontak terkejut semua sebab, itu adalah permainan terlarang untuk dimainkan di desa tersebut.
"Di mana?"
"Di kebun Pak Jamal."
"Waktu itu ...." Abdul bercerita.
Flashback
Ada lima anak berkumpul di depan masjid. Tak jauh dari mereka berkumpul ada hutan dan kebun milik salah satu warga.
"Kita main ini yuk, di sana!" pinta Joko. Ia anak laki-laki beda usia diantara keempat teman-temannya yang masih kelas 3 SD.
Ia menunjukkan sebuah boneka terbuat dari kayu dan tempurung kelapa. Boneka tersebut diberi pakaian layaknya anak kecil.
"Takut!" teriak Jenny dan teman-temannya.
"Tidak usah takut. Kan, nggak bakalan datang."
"Beneran, Mas?"
"Iya. Kan, bohongan," sahut Joko.
"Ya sudah, ayuk!"
Akhirnya, mereka pun bersedia dengan ajakan Joko. Mereka bersiap-siap dan menyediakan tempat.
Setelah berkumpul dengan duduk membentuk lingkaran. Mereka duduk di atas rerumputan beralaskan sendal. Di kelilingi pohon pinus dan pohon kemiri.
Joko memulai ritual pemanggilan roh.
Jleb!
Boneka kayu itu ditancapkan ke tanah.
"Jelangkung jelangkung, datang tak diantar. Pulang tak dijemput," ucap Joko.
"Jelangkung jelangkung, datang kemari. Di sini ada pesta kecil-kecilan. Datanglah." Joko dan teman-temannya saling menggenggam erat tangan satu ke tangan lainnya.
Kelima anak tersebut terdiam beberapa saat.
"Jelangkung jelangkung, datang tak diantar pulang tak dijemput." Joko kembali membaca mantra pemanggilan roh. " Di sini ada pesta kecil-kecilan, datanglah!"
Wush!
Wush!
Angin bertiup kencang. Meniup dedaunan nan rindang dengan kencang.
Tiba-tiba Jenny melepaskan pegangannya.
"Sudah, ah! Takut." Jenny berdiri. Ia pun meninggalkan teman-temannya.
"Kok, pulang sih. Tanggung nih, mainnya!" bentak Joko kesal.
Jenny menoleh, "Aku takut mau pulang aja."
"Huuu ... Penakut!"
Flashback off
"Gitu, ceritanya." Abdul menunduk ia merasa bersalah karena membiarkan Jenny pulang terlebih dahulu.
"Ayuk, kita cari!" ajak Halim. "Sebelum terlambat." Halim berjalan di barisan paling depan.
Semua orang menyusuri hutan dan sungai. Tapi, belum juga mendapatkan Jenny.
Tiga jam pencarian akhirnya membuahkan hasil.
"Astaghfirullah!" pekik Soraya ia menemukan Jenny dalam kondisi tak bernyawa di pinggir sungai. Tubuhnya di balik batu-batu yang besar.
"Jenny!" Soraya menangis pilu. Dan ia pun limbung tak kuasa menahan kepedihan.
Norman pun berlari sekuat tenaga. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping mayat Jenny. Ia peluk tubuh putrinya yang sudah terbujur kaku. Pakaiannya terkoyak dan dari kedua celah pahanya mengalir bekas darah yang sudah mengering.
"Astaghfirullah, Jenny." Segera Norman menutupi tubuhnya dengan sisa helaian rok panjang yang robek miliknya.
Malang nian nasib bocah kelas 3 SD tersebut.
"Bapak, akan balas kan dendam mu, Nduk." Norman mengepalkan tangannya.
*
*
*
Setelah pemakaman Jenny. Norman berniat akan mencari tahu misteri kematian Jenny. Mustahil, dibunuh jelangkung.
Tersiar kabar bahwa Jenny dibunuh oleh jelangkung. Kabar ini terdengar hingga ke desa sebelah
Bisik-bisik terdengar di telinga Norman dan Soraya.
"Kasihan, ya. Jenny tewas setelah bermain jelangkung,"
"Masa sih?"
"Makanya, jangan sembarang main gituan."
Hati kecil Norman berkata bahwa, kematian putrinya bukan karena jelangkung. Tapi, ada manusia-manusia yang melecehkan putrinya.
Dengan berbekal sebilah celurit dan ilmu beladiri. Ia mencari seorang diri dan berkeliling ke setiap desa.
Ia merasa lelah dan putus asa. Ketika hendak kembali ke rumahnya. Samar-samar Norman mendengar pembicaraan orang.
"Kau tahu. Gadis yang kita perk*sa Minggu lalu, dikabarkan kalau ia mati oleh jelangkung. Hahahaha!" Pria berbadan besar itu tertawa lepas.
"Kita aman dong, Kang," seloroh pria berkumis itu.
"Pasti. Hahahaha!"
"Kurang ajar!" Norman menerjang pria besar itu hingga terjengkang.
Bugh!
Bugh!
Norman menendang si pria berkumis.
"Manusia laknat!"
Plak!
Satu tamparan melayang ke pipi pria berkumis.
Bugh!
Bogem mentah melayang pula ke wajah si pria besar.
Emosi membara serangan membabi-buta. Tiada ampun.
Sleeert!
Celurit di cabut dari pinggang Norman.
Crash!
Satu kepala menggelinding.
"Ampun ... Jangan bunuh aku," iba pria berkumis.
Norman mengacungkan celuritnya ke atas.
"Aku bersalah. Telah memperk*sa dan membunuhnya." Pria berkumis itu bersimpuh dengan memegangi kedua kaki Norman.
Norman diam sesaat. Senyum kengerian tersungging di bibirnya.
"Maaf, tiada ampun bagimu."
Crash!
Pluk!
Kemudian ....
Dua mayat itu dibuang dan dihanyutkan ke dalam sungai.
Byur!
"Jenny. Matilah dengan tenang. Sudah bapak balas kan, dendam mu."
Tamat