Angin kering kencang menerpa jubahku. Membuatnya melambai perlahan. Aku tetap diam di tempat sesaat setelah menjejak ke bumi, memperhatikan seorang pria yang sedang duduk sambil memperhatikan gawai di tangannya.
Beberapa temanku bersama dengannya, namun pria itu tidak menyadarinya. Dia lebih fokus ke arah handphone yang menyala, entah apa yang tertulis di sana
Kecemasan terlihat di wajahnya. Namun aku lebih mempedulikan lentera yang berada di atas kepalanya. Lentera itu masih terang benderang
Aku mendesah perlahan "Aku akan kembali 21 menit lagi."
Aku melompat ke udara dan mengepakkan sayapku. Dengan kekuatan yang dianugerahkan kepadaku, aku mampu pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat
Tugasku lumayan banyak untuk ukuran manusia, mengunjungi puluhan orang hari ini. Namun bagiku, semua itu hanya seperti secepat kedipan mata
**
Aku kembali menjejak di sebuah kamar pengap. Bau minuman keras dan asap rokok banyak mengepul di sana. Terlihat musuhku sedang menari-nari sambil membisikkan sesuatu di telinga para pria yang sedang mengelilingi sebuah meja bundar.
Di sana kulihat hanya ada teman-teman ku yang sibuk mencatat di lembaran. Terlihat seperti lembaran, namun bila dibentangkan seluruh bumi akan tertutup
Mataku melihat seorang pria yang sedari tadi selalu mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak pantas. Matanya merah akibat banyaknya minuman keras yang di tenggaknya. Musuhku pun mengelilinginya sambil tertawa-tawa bahagia
Bibirku tertarik ke atas. Lentera pria itu sebentar lagi padam. Teman-temanku pun sudah meninggalkannya. Aku bergerak ke arah pria itu. Para musuhku melihat diriku sambil berlari dan tertawa
"Kita kedatangan teman baru..kita kedatangan teman baru.." Begitu yang kudengar
Aku tidak peduli.
Aku melihat pria tadi terkejut melihatku. Dirinya terjatuh dari kursinya dengan wajah ketakutan dan nafas tersengal-sengal
Semua orang terkejut dan mengerumuninya. Ada yang menepuk-nepuk dadanya, ada yang mengguncang bahunya. Tapi itu semua tidak menghalangiku mendekati pria tersebut
Aku segera menegang ubun-ubun pria tadi. Terlihat raut kesakitan dari wajahnya. Matanya melotot ke arahku
"KELUARLAH!" Bentakku kasar
Aku mulai menariknya dengan keras. Mulai dari kaki terus mengalir hingga ke atas kepalanya. Terdengar suara seperti orang mengorok dari mulutnya
Aku tidak peduli
Aku sudah menjalankan tugasku. Sesaat kulihat orang tadi terduduk di sebelah tubuhnya dengan bingung, sementara teman-temannya mengelilinginya sambil menangis
Aku segera mengepakkan sayapku pergi dari sana. Satu tugas telah tertunaikan.
***
Kali ini aku mendarat di sebuah rumah besar. Seseorang tampak keluar dari sebuah mobil. Wajah yang teduh dan bercahaya
Aku tidak perduli.
Aku melihat lentera di kepalanya sedikit meredup. Bibirku tertarik ke atas.
"Tunggu sebentar lagi." Desisku sekering angin
Terlihat teman-temanku masih setia mengikutinya. Akupun mengikutinya.
Terlihat orang tampan itu duduk di sofa sambil menelepon seseorang
"Benar ini dengan Priyono?"
"..."
"Ini aku, Hendra Setiawan."
Terlihat mimik ceria dari orang tampan itu
"Apa kabar, Pri? Lama nggak ketemu sejak lulus kuliah dulu. Ibu bapak gimana, sehat?"
Ck..aku mendesah. Lentera di kepalanya kembali bercahaya terang.
"Belum saatnya." Desisku lagi.
Teman-temanku melihat ku sambil tersenyum lalu melambaikan tangan mereka ke arah ku. Aku segera pergi dari sana
***
Kali ini aku berada di sebuah rumah sakit. Seorang wanita terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kulihat beberapa dokter mengelilinginya.
Aku tidak peduli. Aku hanya mempedulikan lentera di atas kepalanya yang hampir padam
Seorang dokter memanggil sanak keluarga wanita tadi. Serempak mereka mengelilingi wanita tadi sambil terus melantunkan ayat-ayat suci
Seorang gadis berbisik di telinga wanita itu
"Ikuti aku ya nenek.. Laa ilaaha illallah.. Laa ilaaha illallah.. Laa ilaaha illallah..."
Mata wanita itu mengikuti gerakan ku yang menuju kepalanya. Bibirnya tersenyum seolah menyambut kedatanganku
"Laa ilaaha illallah.. Muhammadur Rasullullah.."
Aku bergetar. Aku harus berhati-hati mengeluarkannya, aku harus menggunakan cara yang paling lembut
Aku memegang ubun-ubun wanita tadi seraya berkata
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya..."
Wanita itupun keluar. Semua teman-temanku berebut menyambutnya.
Aku menyunggingkan senyuman saat wanita itu melihatku dengan pandangan teduhnya
Aku kembali mengepakkan sayapku dan pergi dari sana. Lamat-lamat kudengar isak tangis para kerabat wanita tadi
***
Aku..
Disinilah aku, berdiri diam menanti tugas selanjutnya
Banyak yang mengatakan aku tidak memiliki hati
Namun kejadian hari ini sedikit banyak mempengaruhiku
Aku selalu berkunjung sebanyak 21 kali, namun tidak ada yang memperhatikan kedatanganku hingga datang ketetapan Tuhan
Akulah sang pemutus kesenangan
Akulah sang pembatas angan-angan
Bersiaplah, cepat ataupun lambat kalian pasti akan bertemu denganku
Ngomong-ngomong, kalian tahu kan siapa aku?
[END]
Maafkan atas segala kekurangan penulis. Cerita diatas murni karangan penulis semata dengan mengacu beberapa referensi 🙏
#horor