"Kanker? Penyakit menular? Atau apa? Kenapa aku bisa mati muda?" Tanya gadis itu padanya.
"Kenapa kau harus tahu? Sisanya 17 tahun lagi. Ingat ini baik-baik." Katanya sambil menunjuk kan jari telunjuknya yang menyeramkan.
"Pada usiaku yang menjadi 25 tahun... tapi, kenapa?" Tanyaku.
"Kau mati. Itulah jawaban yang kau inginkan bukan?" Katanya. "Kau memanggil ku karena hal seperti ini. Harusnya kau tidak boleh melakukan nya." Lanjutnya.
"Yah, ini melanggar aturan. Tapi, aku masih tidak tahu kalau percobaan kali ini akan berhasil." Kata gadis itu merajuk.
"Aku pergi. Selamat dan semoga sukses." Dia perlahan mulai menghilang.
"Tunggu, tunggu!" Dia mencegahnya tapi, sia-sia.
Gadis kecil itu kemudian menendang kertas hasil proyeknya sendiri.
Beberapa waktu berlalu,
Filsy Teilny. Gadis jenius abad ini. Usia muda sudah bisa menciptakan berbagai macam sihir. Baik yang sederhana maupun rumit. Pikirannya juga acak. Bisa jadi dia sangat ceria atau pemalas. Tapi, sekalinya diam dia akan melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Sekarang, gadis kecil itu, mengharapkan lebih banyak dari biasanya. Itu setelah dia mengetahui usianya yang kian menipis.
Mengapa? Mari kita mundur sedikit.
Saat itu Filsy masih berusia 8 tahun. Tahun yang dimana ia mengetahui tahun kematiannya sendiri.
Filsy turun dari kamarnya dan berlari kecil. Setelah itu dia duduk dengan wajah paling masam yang pernah ia tunjukkan.
"Ada apa?" Tanya pria tua yang duduk disampingnya.
"Huff... aku benci." Kata Filsy dengan menopang dagunya.
Pria tua itu batuk beberapa kali.
"Hah... seandainya aku punya waktu lebih. Aku juga ingin melakukan orang dewasa lakukan..." kata gadis itu merajuk.
"Kau punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu." Katanya. "Yang perlu kau pikirkan adalah apa yang kau inginkan." Lanjut pria tua itu.
"Kakek salah besar kalau aku punya waktu yang panjang untuk menghabiskan sisa umurku. Salah-besar!" Ketusnya.
Kakek itu bertanya padanya apa yang terjadi. Dengan menghembuskan nafas beratnya, gadis itu memberitahu sang kakek tentang sisa usianya. Kakek itu bilang tidak percaya dan gadis itu meyakinkannya lagi. Dengan berkata bahwa dia boleh mengambil barang bekas dan kertas bekas kakek yang ada di loteng.
Sejak kapan aku memberikannya? Pikir sang kakek.
"Jadi aku coba-coba melakukan eksperimen lagi dan lagi. Lalu hasilnya... aku malah mengundang malaikat maut yang berbaik hati memberitahukan berapa sisa usiaku." Ceritanya.
Sang kakek hanya menghela nafas.
"Aku tidak berbohong kek." Dia diam sejenak. "Ah! Kakek tolong rahasiakan ini dari siapapun! Bisa-bisa umurku berkurang!" Katanya memohon.
"Tenang saja." Kata sang kakek. Filsy bernafas lega.
Jadi dia benar-benar berhasil memanggil kawan lama ya... pikir sang kakek.
Keduanya terdiam. Tatapan mereka kosong atau sesekali memandang taman yang kian berbunga di tiap sudutnya. Filsy tumbuh layaknya memiliki pemikiran orang dewasa. Namun, itu tidak membuatnya berhenti bersikap seperti anak kecil pada umumnya.
"Kek. Seandainya sisa umurmu sudah ditetapkan, apa yang akan kakek lakukan?" Tanya Filsy.
"Aku? Menjalani hidup sebagaimana mestinya." Jawab sang kakek.
"Tapi, bisa saja kan besok aku tiada?" Filsy kini khawatir.
"Kau tidak perlu takut akan kematian. Mereka ada disisimu atau bisa jadi jauh darimu." Sang kakek mencoba menenangkan sang cucu.
Filsy diam sejenak.
"Tapi, kek! Batas waktunya saja sudah ditetapkan. Bagaimana caraku untuk melakukan apa yang biasanya orang dewasa lakukan nanti?" Filsy masih saja merajuk.
"Memangnya dari pandanganmu, apa yang orang dewasa lakukan sampai-sampai kau merajuk seperti ini?" Tanya sang kakek.
"Cinta!" Teriak Filsy antusias. Sang kakek tersenyum hangat pada cucunya.
"Kau sudah mendapatkan nya, Filsy." Ucap kakeknya. Filsy menatap penuh tanda tanya. "Dari kakek mu ini, Filsy. Juga dari semua orang yang kau temui. Juga orang tuamu." Lanjutnya.
"Benarkah? Jadi... itu artinya kasih sayang?" Kakek menggangguk dengan penuh keyakinan.
Filsy tersenyum bahagia mengetahui semua orang juga mencintainya. Bahkan kakek pun melakukannya. Tapi, wajah itu kembali mengkerut. Bukan wajah masam namun, wajah yang sedikit murung. Kakek yang melihatnya ikut sedih.
"Ada apa sekarang?" Tanya sang kakek.
"Aku... cuma sedih, tahu bahwa aku mendengar hal yang tidak seharusnya." Ucapnya. Kakek menarik nafasnya cukup panjang.
"Kau tahu," katanya dengan keraguan. "Kakek juga melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Memanggil malaikat maut dengan sengaja." Filsy kaget mendengar fakta tersebut.
Tapi, benar juga ya. Penemu pertama lingkaran sihir pemanggil malaikat kematian tentu saja kakek. Pikir Filsy.
"Lalu kakek melakukan hal yang sama pada nenekmu. Dan..." dia berhenti sejenak. "Kakek menyesal." Filsy juga ikut murung.
"Lalu... apa yang kakek lakukan setelahnya?" Tanya Filsy.
"Kakek dulu merasa terpuruk. Telah menjadi manusia yang bodoh seperti itu. Tapi," sang kakek menatap Filsy. Filsy pun menatap penasaran kelanjutan ceritanya.
"Kakek tidak menyerah. Nenekmu berpesan pada kakek untuk menjalani hidup dengan baik. Lebih baik. Maka, kakek melakukan kebaikan sebanyak mungkin agar kakek juga ikut bahagia." Katanya. Filsy ikut tersenyum.
"Kalau kakek melakukannya, berarti kakek memiliki sisa waktu berapa...?" Tanya Filsy ragu.
"Rahasia." Kata sang kakek tersenyum dan mencubit hidung cucunya, Filsy. Sementara Filsy hanya tertawa cekikikan.
"Kalau begitu aku akan melakukan apapun yang bisa aku lakukan!" Teriak Filsy antusias.
Lalu mereka melihat kereta kuda yang biasanya di kendarai oleh kedua orang tua Filsy. Filsy berlari dan berhenti di tengah jalan.
"Kek! Yang tadi... akan menjadi rahasia kita berdua!" Kata Filsy berbisik dan berbalik menuju kereta kuda tersebut.
Mereka turun dari kereta kuda. Kedua orang tua Filsy, Tuan dan Nyonya Tielny. Filsy langsung memeluk kaki ayahnya sebagai sambutan hangat.
"Filsy?! Tidak biasanya kau menyambut kami. Bukankah kau malas jika harus menyambut ibu?" Tanya ibunya.
"Aku sayang ayah!" Lalu dia memeluk kaki ibunya. "Aku juga sayang ibu!" Katanya lagi.
"Lihatlah tingkah mu ini. Bukankah kau sudah berumur 8 tahun? Kau bersikap baru berusia 5 tahun saja." Kata ayahnya.
"Hihi! Aku menyayangi kalian semua!" Teriak Filsy.
Sementara sang kakek bergumam,
"Hiduplah dengan baik dan bijaksana. Bangkit dan pergilah ke manapun yang kau inginkan. Berbahagialah dan manfaatkan kebahagiaan mu untuk berbagi kembali pada semua orang. Cucuku." Katanya.
"Karena lingkaran itu adalah kutukan bagi kita yang telah memanggil kawan lama. Dewa kematian."
Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan sekaligus bermakna bagi Filsy Tielny, si gadis jenius yang menginginkan kebahagian untuk semua orang.
End...~
Sangat berterima kasih lah pokoknya sama yang udah baca sampai akhir! Suatu kebahagiaan tersendiri bagiku untuk membagikan percakapan kecil ini di waktu senggang milik kalian. Mudah ditebak namun, aku suka.
Terimakasih banyak!
Sudah... membaca... nya...!