"Hei, aku menemukan... tulang nih!" Kata salah seorang.
"Benarkah? Selamat, ya. Kau tidur dengan mayat." Kata seseorang yang berjemur di bawah matahari.
"Hah... apa-apaan itu? Aku hanya terkesima akan keberadaan tulang ini." Keluhnya.
Disana terdapat debu, debu dan debu. Tapi, ada juga matahari. Lalu mayat. Dan juga dirinya. Tempat yang pantas untuk nya. Tapi... seberapakah pantas dia tetap berdiam diri disana?
Dia duduk-duduk dan bersenandung seakan-akan tidak mempedulikan kondisinya saat ini. Dia menatap lubang kecil dengan pembatas besi. Hanya ada sinar matahari di sana.
"Hei, mengapa kau ada disini?" Tanyanya.
"Jangan katakan hei. Aku punya nama, kau tahu." Katanya.
"Apa namamu?" Tanyanya lagi.
"Bukan apa namamu, tapi siapa namamu! Astaga... apa kau tidak berpendidikan?" Lalu dia menggeleng. "Terserah. Namaku Heralis. Kau?"
"Ya... beritahu atau tidak ya...?" Godanya pada Heralis.
"Sia-sia saja aku mengobrol dengannya." Lalu Heralis membalikkan badan padanya.
"He-hei... oke-oke. Namaku Allisert. Puas?" Tanyanya.
Allisert, perempuan yang mulutnya tidak bisa berhenti, terus berkata hal-hal basi. Sementara Heralis hanya diam atau bahkan terkesan mengabaikan mulut yang seperti kereta api itu.
"Dan, kau tahu--" Allisert tiba-tiba berhenti dan itu membuat Heralis meliriknya, tertarik.
Sebuah buku usang berwarna coklat tersembunyi ada di pojok ruangan tersebut. Tenggelam oleh debu. Allisert meraihnya dan menepuk-nepuk benda usang itu.
Heralis bertanya apa yang ia temukan. Namun, Allisert malah mengabaikannya dan membuka buku itu tiap lembaran demi lembaran. Ada kertas yang hampir terlepas dari benda tersebut. Heralis mencoba mentoleransinya.
"Fuuh... lihat apa isinya," Allisert memberikan buku dengan kumpulan debu yang tidak bisa di bersihkan lagi pada Heralis. "Itu ditulis lima puluh tahun lalu. Itu buku harian Lho!" Lanjutnya.
Heralis perlahan membuka sampulnya agar tak terlepas dari yang semestinya.
~
1322. Tahun kekaisaran Beldof.
Kuasa perlahan mencekam
Penuh luka pada rakyat
Kaisar yang makmur
Pengorbanan rakyat
- Pendosa ke 15 dan bisingnya hidup dengan keluhan.
~
"Apa ini semacam puisi?" Tanya Heralis.
"Entah." Allisert mengangkat bahunya.
Heralis mengabaikan kalimat panjang setelah puisi tersebut. Membalik kertas dengan penuh kehati-hatian. Sekarang semua tampak seperti buku harian seseorang
~
1325. Tahun kekaisaran Beldof.
Jari jemari mengeras
Tiap nafas menjadi uap
Malam dan angin dingin
Tak hilang rasa mati
- Pendosa ke 73 dan kehangatan yang menghilang.
~
Heralis menutup buku tersebut. Meski tidak semua ia lihat, hanya dua deretan angka itu dan tulisannya saja yang membekas diingatannya. Duduk bersila, Allisert hanya memperhatikannya. Penasaran dengan apa yang akan Heralis keluarkan dari mulutnya.
"Ya," katanya, memecah keheningan. "Ini puisi dari para pendosa yang hidupnya tak lebih dari sepuluh menit di sini." Kata Heralis.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Allisert sambil menopang dagunya dengan kedua tangan yang penuh debu.
Heralis menatapnya dan hanya diam, memberi kode bahwa bukankah sudah jelas dari cara mereka menulis. Tapi, Allisert tidak mengerti. Dengan nafas berat Heralis membuka mulutnya.
"Sudah jelas mereka mengakui kesalahan mereka. Ditambah... tunggu, sebenarnya aku juga tidak tahu." Dia berhenti.
Hening. Angin berhembus menemani keheningan mereka. Awal musim hujan selalunya seperti ini.
Heralis membuka lagi buku tersebut.
"Kau mengabaikanku?!" Suara Allisert meninggi dengan irama jari Heralis saat membuka lembaran lainnya.
"Ya." Singkatnya. "Oh, ini bukan lagi puisi. Tapi... prosa? Apa ini?" Heralis mencoba mencerna tiap kata yang terukir dalam kertas yang rapuh itu.
~
1348. Tahun kekaisaran Bilseiq.
- Pendosa ke 1176 dan hal yang pantas ditunggu.
Mendengar suara dari mulut ke mulut. Orang-orang menilai keburukan yang telah kulakukan. Kepercayaan runtuh pada saat itu juga. Mungkin terlalu percaya juga adalah sebuah kesalahan. Mungkin juga bantuan yang telah kuberikan setulus hati adalah sebuah kesalahan.
Tak ada kunjungan. Tak ada jamuan. Ancaman selalu berkata padaku. Tiap-tiap hinaan datang tanpa sebab. Bisakah aku menahan semua ini sebentar lagi?
Sampai aku benar-benar bisa memaafkan kesalahan para pendosa.
Kini malam datang dengan rembulan. Tanpa hujan dan petir, kulihat banyak bintang yang terabaikan oleh ke egoisan kita sendiri. Dingin menyeruak di balik jendela kecil itu. Datangnya angin di segala arah. Tanpa kehangatan, aku disini.
Menunggu apa yang pantas kutunggu.
Mungkinkah mereka kan memanggilku dan berkata 'iblis yang terlahir dari iblis'? Atau 'topeng yang hancur, menunggu siksaan'? Aku bertanya-tanya. Membayangkan setiap apa yang pantas kutunggu.
Bisa saja serat-serat dari tali menemaniku beberapa detik sampai akhir. Bisa saja besi yang tipis nan dingin membelah segalanya saat aku menutup mata. Bisa saja rasa pahit yang akan menertawakanku sampai ia keluar lagi dalam perut.
Sekarang, mereka menyeretku dan---
~
Heralis terdiam. Allisert mengangkat alisnya. Ingin sekali dia berteriak untuk mengomentari isi kertas yang menguning. Menghela nafas panjang dan berpikir jernih kembali. Kini Heralis tahu siapa para pendosa ini.
"Itu seperti... buku harian jika kau melihat ada banyak tanggal setelah mereka berpuisi." Allisert memecah keheningan yang dibuat-buat.
"Kau tahu kisah tentang 'tiga kali iblis bereinkarnasi'? Yang sekarang tengah dibicarakan orang-orang?" Tanya Heralis sambil menutup buku itu. Allisert mengangguk.
"Harusnya mereka mengubah judulnya menjadi 'keluh kesah malaikat setengah iblis' kan?" Katanya.
"Tulang itulah miliknya." Kata Heralis. Allisert tak percaya dan membulatkan matanya.
"Hah?!"
"Mereka, seluruh dunia mencari keberadaannya dan karya terakhir miliknya. Karya yang bisa menyadarkan mereka, orang-orang yang tersesat akan tenggelamnya dalam opini publik." Heralis menerangkan.
Allisert masih tak percaya namun, anggukannya menjelaskan bahwa ia mengerti. Buku itu kembali pada tangannya.
"Oh! Ada kalimat terakhir dalam buku ini!" Katanya.
"Bacakan." Perintah Heralis. Terdengar Allisert mendengus.
Kalimat itu berisi,
Jadi, apa yang kau tunggu? Tulislah apa yang menjadi tulisan terbaikmu. Meski hujatan dan pengabaian dari orang-orang terus ada dibenakmu.
Dan meski itu terjadi, suatu hari kau akan tahu bahwa kau dibutuhkan.
Suatu hari bahkan kau akan menyadari bahwa kau adalah diriku. Seorang pendosa.
- Dari diriku untuk diriku di masa depan. Pendosa ke 3345, tahun kekaisaran Dermilios de alters.
Mereka tak bergeming, tak bergerak sama sekali. Tanpa suara. Lagi dan lagi dan lagi.
"Mungkin itu untukmu." Kata Allisert.
"Tidak. Takdir akan selalu tepat sasaran. Jika kita ingin takdir itu berubah, berusaha dan takdir berubah sedikit dari yang kau bayangkan. Itu untukmu." Kata Heralis.
"Dengarlah suaramu sendiri! Aku saja tidak mengerti apa yang kau katakan! Ini untukmu!" Teriak Allisert.
"Aku bilang itu untukmu!" Heralis membalas teriakannya agak geram. Suaranya mencekam.
"Oh..." Allisert gemetar, sementara Heralis melihatnya merasa bersalah.
"Ah, maaf. Aku memang seorang pendosa." Allisert cemberut. Kini Heralis menyadari hal itu. "Baiklah. Mungkin itu memang untukku." Katanya.
Mereka, kedua orang itu kembali bercengkrama seperti tidak terjadi apapun. Berusaha merahasiakan apa yang terjadi sampai akhir hayat adalah sumpah mereka.
Hanya Heralis yang tahu apa yang telah ia lakukan.
Dibalik jeruji besi yang mengurung dirinya dari kebebasan.
End...
...
...
...
'Bagaimana bisa?' Itulah kata orang-orang yang tidak bingung saat membaca ceritanya. Mungkin?
Tapi aku juga bingung. 😅
Terima kasih sudah membaca!